Drama #Romance

Tiba-tiba Cinta _Seonggok Sampah_Bab 31

Penulis MIA
19 December 2025

Ketika membuka matanya, Maya mendapati bahwa dirinya saat ini telah berbaring nyaman di balik selimut tebal. Dan dirinya sangat mengenal tempat di mana saat ini ia berada.

Kamar Adrian!

Ya, Maya berada di kamar Adrian. Dan ketika nama Adrian bergema di dalam hatinya, ingatan kejadian semalam pun bergulir perlahan, bagaikan rekaman video yang diputar-putar berulang kali. Jantung gadis itu langsung berdebar sangat keras. Pun dengan tubuhnya yang langsung refleks bangkit, menyibakan selimut tebal yang menindihnya, lalu berusaha beranjak dari tempat itu.

Tetapi Maya terlalu naif. Hingga ia tak pernah menyangka, bahwa percobaan pelariannya telah dipatahkan seketika itu juga. Ia terpaku ketika sebelah kakinya bahkan tak dapat ia langkahkan lagi melewati batas yang ditentukan. Kakinya diikat dengan rantai perak, di mana rantai itu terhubung dan terkait erat dengan kaki ranjang.

Tubuh Maya bergetar, sementara hatinya seakan membeku. Tak merasakan apapun lagi. Dia pasrah lalu terduduk di lantai. Dan menunduk sangat dalam. Menjatuhkan air matanya dalam diam.

Mungkin, Adrian telah menduga hal pertama yang akan dilakukan Maya setelah sadarkan diri adalah kabur meninggalkan tempat itu. Sehingga sebagai antisipasi, lelaki itu memutuskan untuk mengikat kaki Maya dan tak membiarkan talinya lebih panjang dari luas kamar itu sendiri.

“Maya,” panggil Adrian. Suara itu menggema lirih, ringan dan tanpa beban.

Maya menengadah. Dan deraian air mata yang basah di pipinya itu, terlihat jelas oleh Adrian.

“Maya, jangan menangis.” Adrian menjatuhkan lututnya dan mengusap lembut pipi istrinya itu.

“Maya maukah kau mendengarkan penjelasan ku?” tambahnya lagi dengan suara sangat lembut.

Bila saja Maya tak melihat kekejaman Adrian dengan mata kepalanya sendiri malam itu, mungkin Maya akan membiarkan lelaki itu menjelaskan. Atau bahkan tanpa penjelasan pun, Maya akan langsung mempercayainya.

Akan tetapi, tidak dengan sekarang!

Bagi Maya saat ini, Adrian bukan lagi manusia lembut hati seperti sebelumnya. Adrian adalah iblis!

Maya berdiri dengan cepat. Menepis kasar tangan berotot yang menyentuh pipinya. Lalu ia memundurkan langkahnya dan menjauhi Adrian seolah ia menghindari wabah.

“Aku ingin bercerai,” celetuknya dengan suara bergetar.

Maya ingat, bahwa paman dan bibinya sempat tak menyetujui bila dirinya menerima lamaran Adrian saat itu. Akan tetapi demi kesejahteraan keluarganya dan demi rumah yang menjadi satu-satunya yang dimiliki oleh pamannya untuk mengenang masa kecil bersama ibunya, Maya telah mengambil keputusan yang tak bisa dibantah. Maya telah bersikap keras kepala dan tak mengindahkan nasihat serta peringatan bibinya saat itu.

Dan kini, Maya tahu apa yang saat itu telah dikhawatirkan oleh paman dan bibinya.

Kamar yang dingin itu terasa sesak, walaupun terbilang luas dan tak ada siapa pun selain Adrian dan Maya. Tetapi kebisuan yang kemudian terbentang di antara jarak mereka, membuat keduanya merasa sama-sama tertekan penuh kesesakan di dalam dada.

Adrian hanya diam ketika Maya melontarkan keinginannya untuk bercerai bahkan tanpa memberi kesempatan bagi Adrian untuk menjelaskan. Lelaki itu mematung, tak bisa berkata-kata. Netranya tak mampu berkedip, dan otaknya menjadi tumpul seketika.

Tentu saja permintaan Maya tak pernah sekalipun terlintas di dalam benaknya.

“Maya–” Adrian berusaha mendekat, akan tetapi Maya lebih dulu menjauh. Seolah berbagi udara yang sama dengan Adrian adalah sebuah kesialan.

“Aku tidak butuh apapun. Aku hanya ingin bercerai darimu,” celetuk gadis itu lagi tanpa ekspresi.

Kali ini, Adrian mengangkat sudut bibirnya. Membentuk sebuah senyum misterius yang tak dapat ditafsirkan oleh Maya.

Apa maksud senyuman itu?!

“Tidak mungkin, Maya. Aku tidak akan pernah melakukannya,” katanya dengan senyum yang semakin lebar.

Adrian melangkah perlahan, mendekati Maya tanpa ragu. Tanpa peduli sejauh apa Maya akan menghindarinya.

Toh Maya tidak akan sampai ke mana-mana, sebab kakinya telah terikat oleh rantai perak yang didesainnya khusus melingkar sesuai pergelangan kaki Maya.

“Diam di sana! Atau aku akan–” Membentak Adrian, Maya menoleh ke sembarang arah, seakan ia mencari sesuatu.

Tetapi dengan instingnya yang kuat, Adrian dengan kilat mencekal lengan Maya. Menghentikan semua tindakan bodoh yang mungkin akan dilakukan oleh Maya.

“Jode!” Adrian memanggil anak buahnya itu dengan suara tegas.

“Singkirkan semua benda tajam di kamar ini!” perintahnya kemudian, ketika Jode masuk ke ruangan itu.

Pun, tanpa pikir panjang, lelaki dengan kacamata itu langsung membersihkan ruangan kamar tuannya dari benda-benda yang disebut oleh sang tuan.

Maya menghempaskan tangannya. Berusaha melepas cengkraman Adrian yang rupanya cukup menyakitkan seiring berubahnya ekspresi lelaki itu.

“Lepaskan!” ronta Maya tampak sangat kesal.

“Maya, mendengarkan penjelasanku akan lebih mudah bagimu. Tetapi kau memilih untuk tidak memberiku kesempatan. Kalau sudah begitu, jangan salahkan aku memaksamu.”

Sorot Mata Adrian yang tajam berkilat membuat Maya takut. Ia tak pernah melihat Adrian semurka ini sebelumnya.

Lelaki itu biasanya akan langsung meminta maaf bila sedikit saja membuat Maya takut. Tetapi kali ini, Maya benar-benar telah melihat Adrian yang lain. Seakan-akan ia bukanlah sosok Adrian yang selama ini dikenalnya.

Tak peduli bagaimana Maya meronta dan berusaha menolak untuk disentuh olehnya, Adrian mendesak, menyentuh dengan kurang ajar dan memaksakan kehendaknya kepada Maya.


Maya terdiam, menatap nyalang pada langit langit di kamar itu dengan netranya yang basah. Ia memang menangis, tapi tak ada suara, pun ekspresi kesedihan yang semestinya dimiliki oleh orang yang terluka, tak ada pada Maya. Rautnya datar, seakan sangat lihai memendam kepedihan.

Sementara itu, ada Adrian di bahu kirinya. Berbaring menghadap padanya dengan sebelah tangan merangkul erat tubuhnya yang kecil.

Adrian tak mengenakan pakaiannya, hanya selembar selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Tetapi Maya tahu betul, gaun tidur yang menempel pada tubuhnya adalah ulah Adrian.

Lelaki itu cukup bertanggungjawab dengan memakaikan pakaian pada Maya, setelah apa yang ia lakukan pada gadis itu. Walau setelahnya, dia memilih kembali berbaring di ranjang bersama Maya, daripada harus membersihkan diri dan meninggalkan wanitanya itu di sana.

Cukup lama mereka saling berdiam, tak selayaknya dua insan yang usai bercinta, mereka membisu seakan tak ada lagi yang harus diucapkan. Sampai ketika Adrian menggerakkan jarinya hendak membawa wajah Maya menoleh padanya, Maya menepis tangan itu.

“Aku ingin ke kamar mandi,” katanya pelan tanpa ekspresi.

Adrian melepaskannya dengan berat hati. Tahu bahwa wanita itu akan semakin marah padanya, bila dia menahannya.

“Au!” Maya merintih, saat ia merasakan kakinya tak dapat berdiri dengan benar.

“Maya, apa kau baik-baik saja?” tanya Adrian seraya menyentuh tangan Maya. Berusaha membantu Maya menjaga keseimbangan tubuhnya.

Tetapi Maya menepisnya lagi dan lagi, dengan rautnya yang curam diam-diam dirinya mengutuk Adrian, karena membuatnya nyaris tak bisa bergerak seperti ini. Tubuhnya terasa sakit di mana-mana, dan sekujur kakinya terasa remuk dari pangkal paha sampai ujung jari.

Lelaki itu tak pernah sekasar ini sebelumnya. Tak pernah menyentuh Maya selayaknya pemerkosa berantai yang menyiksa korbannya dengan jahat lalu membuangnya bagaikan seonggok sampah.

“Aku akan melakukannya untukmu,” tukas Adrian. Tak menunggu Maya menjawab, lalaki itu merengkuh tubuh kecil Maya, dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.

Kemerincing suara rantai yang mengikuti di belakangnya terdengar nyaring, seolah-olah membantu Adrian untuk tak mendengarkan sekecap pun penolakan Maya.

Lelaki itu bahkan tak repot menutup pintu kamar mandi walaupun dirinya dan Maya telah berada didalamnya.

Bersambung ….

Buah Nangka Dicampur Roti

Dituang Pula Kuah Santan

Akhirnya Gak Ngegantung Ni …

Besok Balik Baca Lagi ‘kan?

Istri Tercinta