“Ada apa kesini?” tanya Nindy dengan suara yang sedikit lemah, matanya masih merah seperti baru saja menangis. “Bukannya kakak bilang tidak percaya padaku? Katanya aku hanya mengada-ada dan ingin merusak nama baik Rayyan yang sudah dikenal baik di kota ini.”
Keisha menghela napas panjang, “Bagaimanapun kamu adalah adikku… Aku tidak bisa tinggal diam melihatmu seperti ini, terkurung sendirian di tempat ini."
“Aku tidak perlu dilihat seperti orang yang lemah!” Nindy mendorong tubuhnya dari tembok, matanya menyala dengan semangat yang tidak padam meskipun wajahnya masih menunjukkan rasa lelah yang mendalam. “Aku bisa sendiri menangani semuanya, kak. Kamu tidak perlu terlibat dan merusak hubunganmu dengan orang-orang di sini hanya karena aku!”
“Aku memikirkan kata-katamu sejak kemarin malam…” ucap Keisha sambil duduk di atas tikar bekas yang ada di sudut kamar, menjaga jarak yang cukup agar Nindy tidak merasa tertekan. “Kamu bilang gali lah yang lebih dalam sebelum menyalahkan seseorang atau menyatakan sesuatu sebagai kebenaran mutlak.”
“Oh, itu…” Nindy menurunkan pandangannya ke tangan yang bergelut di pangkuannya. “Aku tidak berpikir kakak akan benar-benar mendengarnya. Semua orang hanya mau mempercayai kata-kata Rayyan karena dia adalah dokter hewan yang sukses, punya klinik yang terkenal, dan pacarnya Ruby yang dari keluarga bermartabat.”
“Kamu begitu yakin menyebut Rayyan sebagai penjahat.” Keisha mengangkat suara sedikit, tidak bisa menyembunyikan kebingungannya. “Banyak orang yang menyukainya, termasuk Ruby yang sudah bertunangan dengannya. Bagaimana bisa kamu mengatakan dia jahat tanpa bukti yang jelas?”
“YA karena dia memang jahat!” Nindy berdiri dengan tiba-tiba, membuat Keisha terkejut dan sedikit mundur. “Aku melihatnya sendiri, kak! Aku tidak bohong! Dia menyembunyikan sesuatu di belakang kliniknya. Aku tidak bisa menjelaskan secara rinci karena aku tidak bisa masuk ke dalam ruangan itu, tapi aku tahu ada yang salah!”
“Tapi bagaimana bisa menggali jika aku saja tidak bisa kesana?” Keisha juga berdiri, menatap mata adiknya dengan penuh perhatian. Dia tahu Nindy tidak akan bohong tentang hal semacam ini, tapi dia juga tidak bisa begitu saja mempercayainya tanpa bukti.
“Karena itu kita harus bicara pada Ruby, buat dia mengikuti apa yang kita katakan kak..” Nindy mendekat ke arah Keisha, matanya penuh harapan. “Dia saat ini adalah satu satunya orang yang bisa membuat kita membongkar kejahatan Rayyan. Sebagai calon istri, Ruby pasti punya akses ke semua bagian klinik, bahkan ke tempat-tempat yang tidak diketahui orang lain. Jika dia mau membantu kita, kita bisa mendapatkan bukti yang kita butuhkan!”
“Tapi..” Keisha mengerutkan kening, memikirkan bagaimana cara menghadapi Ruby. “Ruby pastinya sangat mencintai Rayyan, dia bahkan rela meninggalkan kota besar untuk tinggal di sini hanya untuknya. Bagaimana mungkin dia akan mau mempercayai kata-katamu yang tidak memiliki bukti sama sekali? Dia pasti akan berpikir kamu hanya iri atau ingin merusak hubungan mereka.”
“Jangan ada korban lagi kak..” Nindy mengingatkan dengan suara yang kembali lemah, matanya mulai berkaca-kaca lagi. “Aku tidak bisa melihat orang lain menderita karena kebohongan dia. Sudah ada tiga orang anak yang aku tahu hilang tanpa jejak setelah datang bermain ke klinik hewan itu. Tidak ada yang tahu kemana anak-anak itu menghilang."
“Bagaimana membuat Ruby akan mengikuti apa yang kamu katakan sedang dia tak percaya padamu..” Keisha menyentuh bahu Nindy dengan lembut, mencoba menenangkannya. Dia merasa bingung antara keinginan untuk melindungi adiknya dan rasa tidak percaya yang muncul karena tidak adanya bukti. “Kita butuh sesuatu yang bisa membuat Ruby mau mendengarkan kita, sesuatu yang bisa membuat dia meragukan kebenaran apa yang dia ketahui tentang dokter Rayyan.”
“Kak Raissa..” Nindy mengangkat wajahnya, ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih tegas. “Dia bisa menjadi kuncinya.”
“Raissa?” Keisha mengerutkan kening lebih dalam, tidak mengenal nama yang disebutkan adiknya. “Siapa dia? Aku tidak pernah mendengar namanya sebelum ini. Apakah dia temanmu di sekolah atau staff dokter Rayyan?"
“Ya, kak Raissa..” Nindy mengangguk dengan cepat, matanya mulai bersinar kembali dengan harapan. “Pelanggan tetap di klinik. Selain itu, dia juga temannya Rayyan dari masa sekolah. Aku rasa dia sangat menyukai dokter. bahkan mungkin lebih dari sekadar teman.”
“Bagaimana bisa meminta Raissa sedangkan dia menyukai Rayyan?” Keisha tidak bisa menyembunyikan rasa tidak percaya dalam suaranya. “Jika dia benar-benar menyukainya, dia pasti akan membelanya dan tidak akan mau membantu kita. Bahkan mungkin dia akan memberitahu.Rayyan tentang rencana kita dan membuat situasimu semakin sulit!”
“Dia bermusuhan dengan Ruby, kak!” Nindy menjelaskan dengan cepat, menggerakkan tangannya untuk menekankan setiap kata yang dia ucapkan. “Aku rasa karena mereka menyukai laki-laki yang sama. Jika Ruby tak bisa membantu kita, maka dia pasti akan membantu kita. Setidaknya dia akan mau mendengar apa yang kita punya untuk dikatakan, karena dia tidak ingin Ruby bahagia dengan Rayyan!”
“Bagaimana aku menghubunginya?” Keisha menghela napas lagi, mulai merenungkan kemungkinan yang ada. Meskipun dia merasa tidak nyaman dengan rencana yang menggunakan permusuhan antar orang, dia juga tidak punya pilihan lain untuk membantu adiknya. “Aku tidak punya nomor teleponnya atau tahu di mana dia tinggal. Bagaimana cara aku bertemu dengannya dan menjelaskan semua ini?”
“Ada di handphone ku..” Nindy menjawab dengan cepat, lalu tiba-tiba menyadari sesuatu dan menepuk dahinya dengan tangan kanannya. “Ah benar.. Pasti laki laki itu menyembunyikan handphoneku!"
“Aku akan kesana meminta handphone kamu..” Keisha berdiri dengan tegas, wajahnya menunjukkan ketegasan yang tidak pernah ada sebelumnya. Dia menyatukan kedua tinjunya di depan dadanya, matanya menyala dengan tekad yang kuat. “Aku tidak peduli apa yang dia katakan atau lakukan padaku. Kamu adalah adikku dan aku akan melindungimu dengan segala cara yang bisa kulakukan. Jika dia tidak mau memberikan handphonemu kembali dengan sukarela, aku akan mencari cara lain untuk mendapatkannya!”
"Sebentar kak, aku ingat nomornya. Sini Handphone kakak," ucap Nindy.
Keisha memberikan handphonenya agar Nindy bisa menyimpan nomor Raissa.
“Terimakasih kak, mau membantuku.” Nindy menangis dengan tiba-tiba, menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis terisak-isak. “Aku tahu aku membuatmu kesulitan dan mungkin kamu juga tidak sepenuhnya mempercayai aku, tapi terima kasih sudah mau mencoba. Aku tidak bisa melakukan ini sendirian.”
“Aku akan ikut gila setelah ini karena sudah membantumu,” Keisha berkata dengan nada yang sedikit lucu meskipun wajahnya masih menunjukkan ketegasan. Dia mengelus punggung Nindy dengan lembut sebelum berbalik untuk pergi keluar dari kamar. “Jangan khawatir ya, aku akan melakukan yang terbaik. Sekarang kamu istirahat saja dan jangan keluar dari sini sampai aku kembali. Aku tidak ingin kamu dalam bahaya lagi.”
“Terimakasih kak..” Nindy merengkuh tangan Keisha dengan erat sebelum dia keluar, mata yang masih berkaca-kaca penuh dengan rasa syukur. “Hati-hati ya kak, dia orangnya tidak baik dan bisa melakukan apa saja untuk melindungi namanya sendiri.”
Keisha mengangguk dan segera keluar dari kamar itu. Dia berjalan cepat menuju tempat parkir motornya. Sebelum menjalankan motornya, dia mengambil handphonenya dari kantong roknya dan mencoba menghubungi nomor Raissa yang sudah tercatat di memori handphonenya setelah Nindy memberitahukannya beberapa waktu yang lalu.
Setelah beberapa kali bunyi dering, akhirnya teleponnya diangkat. “Hallo..” suara seorang wanita yang terdengar cukup dingin terdengar dari ujung sambungan.