Drama

Meminta Bantuan Raissa

Penulis sanzfy
19 December 2025

“Raissa..?” Keisha bertanya dengan hati-hati, memastikan dia menghubungi orang yang tepat.

“Siapa ini?” suara wanita itu kembali terdengar, kali ini dengan nada yang lebih tidak sabar. “Aku sedang sibuk dan tidak punya waktu untuk bicara dengan orang yang tidak dikenal.”

“Kakaknya Nindy..” Keisha menjawab dengan cepat, tidak ingin ada kesalahpahaman dari awal. “

“Oh, ada apa?” Raissa menjawab dengan nada yang tetap dingin. Keisha bisa mendengar suara-suara bising dari latar belakang, mungkin dia sedang berada di tempat ramai atau sedang melakukan sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan.

“Nindy tadi bercerita padaku tentangmu..” Keisha mulai menjelaskan dengan hati-hati, mencoba memilih kata-kata yang tepat agar tidak membuat Raissa marah atau merasa terancam. “Dia bilang kamu adalah teman baik dari dokter Rayyan dan juga pelanggan tetap di kliniknya. Dia sangat menghargai kamu dan berpikir kamu adalah orang yang bisa dipercaya.”

“Lalu?” Raissa terlihat tak mau menanggapi, tidak menunjukkan minat yang sama sekali. “Apakah ada sesuatu yang kamu mau katakan?"

“Dia minta aku menghubungimu..” Keisha mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan pembicaraan. Dia tahu bahwa ini adalah momen yang sangat penting dan dia tidak bisa membuat kesalahan dalam setiap kata yang dia ucapkan. “Ada sesuatu yang sangat penting yang perlu kita bicarakan, sesuatu yang berkaitan dengan dokter Rayyan. Nindy berpikir kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membantu kita.”

“Untuk apa?” Raissa bertanya dengan nada yang semakin dingin. Keisha bisa merasakan bahwa dia mulai marah dan mungkin akan segera memutus sambungan jika dia tidak cepat menjelaskan semuanya.

“Begini..” Keisha mulai menjelaskan dengan cepat tentang dugaan Nindy terhadap Rayyan, tentang anak-anak yang hilang tanpa jejak, dan tentang kebutuhan mereka untuk mendapatkan bantuan dari Ruby atau Raissa sendiri. Dia berusaha menjelaskan semuanya dengan jelas dan jujur, tidak ada yang ditutupi atau diperbesar.

Namun sebelum dia bisa menyelesaikan penjelasannya, suara Raissa yang meningkat tajam terdengar dari ujung telepon. “Jika ini masalah kegilaannya aku tidak mau ikut campur!” ucap Raissa datar namun penuh dengan kemarahan. “Aku sudah cukup mendengar omong kosong tentang bagaimana Nindy mencoba merusak nama baik Rayyan. Dia sudah terlalu jauh dalam kegilaannya dan seharusnya kamu sebagai kakaknya menghentikannya, bukan mendukungnya!”

“Tapi..” Keisha mencoba untuk menjawab, tapi langsung diinterupsi oleh Raissa.

“Aku tidak ingin terlibat!” Raissa mengangkat suaranya lebih tinggi lagi.

“Ruby tak mungkin membantu Nindy untuk membuktikan kebenaran kata-katanya.” Keisha mencoba lagi dengan suara yang lebih tenang. “Menurut Nindy, kamu tidak akur dengan Ruby, jadi mungkin jika Ruby menolak maka kamu akan..”

“Rayyan itu temanku!” Raissa meneriakkan dengan sangat keras hingga Keisha harus menjauhkan handphonenya dari telinganya sebentar. “Aku tahu karakternya sejak lama! Dia adalah orang yang baik dan selalu siap membantu orang lain. Tidak mungkin aku akan mengikuti kegilaan Nindy dan menjatuhkan temanku! Kalian tidak berpikir pakai otak ya? Bagaimana bisa kamu mempercayai kata-kata seorang gadis yang jelas sudah kehilangan akal??"

Sebelum Keisha bisa menjawab apa pun, suara klik terdengar dan sambungan telepon terputus. “Hallo.. Hallo..” sapa Keisha dengan cemas, mencoba menghubungi kembali tapi hanya terdengar suara pesan rekaman bahwa nomor yang dia hubungi tidak bisa dijangkau saat ini.

“Dia sangat tidak sopan sekali,” gerutu Keisha dengan marah, menyimpan handphonenya ke dalam kantong roknya. Dia melihat motornya yang sudah siap digunakan, tapi perasaan frustasi yang besar membuatnya tidak bisa langsung pergi. “Pantas saja Rayyan tidak memilih dia untuk menjadi istri. Ruby sangat sopan saat bicara bahkan ketika dia tidak setuju dengan sesuatu.”

Keisha menyimpan handphonenya dengan hati-hati, lalu naik ke atas motornya. Dia menyalakan mesin dan mulai mengendarainya dengan kecepatan sedang menuju arah klinik Nemo. Pikirannya penuh dengan berbagai macam pemikiran dan perasaan bercampur aduk. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya atau bagaimana cara mendapatkan bantuan untuk membantu Nindy.

“Nanti saja aku pikirkan, aku bisa gila gara-gara Nindy.” Keisha berkata pelan-pelan sendirian sambil mengendarai motornya melalui jalan raya yang mulai gelap karena malam sudah mulai menjelang. Dia melihat langit yang mulai penuh dengan bintang-bintang kecil, berharap bahwa ada jalan keluar dari masalah yang semakin kompleks ini dan bahwa dia bisa menemukan cara untuk membuktikan bahwa adiknya tidak bohong.


Di klinik..

“Selamat malam kak Jessika..” sapa Leon.

“Hai, Leon.. Dengan siapa kesini?”

“Di antar papa, nanti papa menjemput Leon lagi kesini. Om dokter ada?”

“Sedang operasi.. Kenapa sayang?”

“Tidak apa-apa..” leon mengeluarkan permen dari sakunya.”ini buat kak Jessi..”

“Terimakasih..” Jessika tersenyum.

“Sama-sama..” leon tersenyum.

“Sore..” sapa Raissa yang baru masuk.

“Ah tante ini lagi..” gerutu Leon.

“Apa kamu bilang?” Raissa membelalakkan matanya.

“Serem..” Leon berlari ke belakang Jessika.

“Anak ini benar benar ya?”

“Namanya anak anak kak..” jessika tersenyum.

“Om Dokter sedang sibuk.. Tante pulang saja..” kata Leon sambil tetap bersembunyi di belakang Jessika.

“Eh, anak ini..”

“Sabar kak..” kata Jessika.

“Nanti Leon bilang sama tante Ruby kalau tante sering kesini mencari om dokter, padahal tidak bawa kucing untuk diobati”.

“Kamu sendiri ngapain disini? Kamu juga tidak bawa anjing kamu kesini?” tanya Raissa. “Dan ini sudah malam”.

“Suka-suka..” leon menjulurkan lidahnya.

“Eh, kurang ajar.. sini kamu, aku ajari sopan ya?”

“kak Jessi..” Leon memeluk Jessika.

“Makanya jangan membuat tante Raissa marah..” jessika tersenyum.”Sudah kak..”

“Bikin emosi saja anak ini.” Gerutu Raissa.

Leon duduk di samping Jessika.

“Masih lama gak ya kira-kira operasinya?” tanya Raissa.

“Sebentar lagi mungkin selesai kak..”

“Dokter sudah makan malam?” tanya Raissa.

“Leon belum..”

“Aku tidak tanya!” kata Raissa. “Siapa yang mau membelikan makan malam untuk anak nakal seperti kamu?”

“Ada.. Kak Jessi dan om dokter,” Leon kembali menjulurkan lidahnya.

“Eh, nanti aku gunting ya lidahmu itu!” ancam Raissa.

“Ada apa?” tanya Rayyan yang datang menghampiri ke ruangan itu.

“Om dokter... Ada nenek sihir,” Leon berlari memeluk Rayyan.

“Kamu bilang aku nenek sihir?” tanya Raissa.

“Iya.. Nenek sihir kan jahat. Suka mengganggu anak-anak..”

“Heh, kamu lihat baik baik ya wajahku.. Mana ada nenek sihir yang cantik seperti aku? Nenek sihir itu sudah tua, jelek, ompong!”

“Kak Jessika dan dokter Amanda lebih cantik,” balas Leon.

“Aku bisa gila dengan anak ini..” Raissa menghela nafas.

Rayyan tertawa.

“Sudahlah, hanya anak kecil..” kata Nemo.

“Ok, aku menurut kamu nenek sihir, lalu bagaimana dengan tante Ruby?” tanya Raissa.

Leon memandang Rayyan.

“Tidak usah memandang om dokter seperti itu, keluarkan saja isi hati kamu. Biar om dokter dengar,” kata Raissa.

“Tante Ruby juga tidak cantik..” ujar Leon.

Raissa langsung tertawa.

“Berarti nenek sihir juga dong..” kata Raissa.

“Tidak.. karena tante Ruby tidak jahat pada anak-anak seperti tante,” ucap Leon.

“Apa?”

“Tapi dia tetap tidak cantik..”

“Biar tidak cantik tapi dia baik kan?” kata Rayyan.

“Ah sudah, malas meladeni anak ini, aku bisa meninggal,” kata Raissa. “Kamu sudah makan, Ray?”

“Leon belum..” kata Leon.

“Aku tidak tanya kamu!” tukas Raissa. “Pulang sana, sudah jam 9 malam masih keluyuran”.

“Papa belum menjemput Leon! Mungkin masih antri di barber shop,” tukas Leon.

“Nah, bapakmu kan keluar juga. Kenapa kamu tidak ikut dengan bapakmu malah kesini?” tanya Raissa.

“Bapak siapa?”

“Orangtua kamu yang laki-laki!”

“Itu papa, bukan bapak! Sembarangan tante ini”.

“Bapak itu kan sama dengan papa, bodat!” hardik Raissa.

“Raissa..” tegur Rayyan

“Memang membuat emosi saja anak ini!” gerutu Raissa.

“Orang bilangnya sama om dokter,kok.. Kenapa tante sewot kalau Leon bilang belum makan?” tanya Leon.

“Sekali lagi kamu menjulurkan lidah aku ambil gunting ya?” potong Raissa.

“Om..” Leon memeluk Rayyan. “Nenek sihir ngamuk!”

“Sudahlah..” kata Rayyan.

“Kesal sekali setiap bertemu anak-anak penggemar kamu ini,” gerutu Raissa.”Kamu istirahat kan? Ayo kita makan.. tinggalkan saja anak itu”.

“Biar jessika yang pesan..” kata Rayyan.

“Biar leon yang lihat menu..” Leon berlari menghampiri Jessika.

Rayyan tersenyum.

"Kakaknya Nindy tadi menelponku," cerita Raissa.

"Kak Keisha? Ada apa?"