Drama

Taman Belakang

Penulis sanzfy
19 December 2025

Handphone raissa berdering.

“Ah, orang kantor ini sepertinya tidak bisa membiarkan aku bahkan hingga waktu jam kantor sudah tidak ada..” Raissa keluar untuk menerima telpon.

“Om mau kemana?” tanya Leon.

“Om istirahat sebentar ya di lantai atas.. kamu dengan kak Jessi saja ya,” Rayyan meninggalkan tempat itu.

“OK,boss..” kata Leon. “Ayo kak, pesan makanan..”

“Sebentar ya?”

Pintu kembali terbuka.

“Pasti nenek sihir..” gerutu Leon.

“Jangan begitu..” tegur Jessika.”Harus sopan..”

“Nenek sihir?”

Jessika menoleh ke pintu.

“Kak Ruby..” sapa Jessika.

“Adduh, kenapa tante ini datang juga?” tanya Leon.

Ruby memandang Leon.

“Apa aku datang pada waktu yang tidak tepat?”

“Leon..” panggil seorang laki-laki membuat Leon tak jadi menjawab pertanyaan Ruby.

“Ya pa..”

“Ayo pulang..”

“ok.. Bye kak Jessi, salam untuk dokter Rayyan ya?” Leon segera berlari untuk mengikuti papanya keluar.

Jessika tersenyum.

“Sudah pulang kak?”

“Tadi sore.. Dokter ada?”

“Di lantai atas, kak.. sepertinya lelah. Dari tadi pasien tidak berhenti”.

“Kalau begitu, lebih baik tutup saja. Kasihan kalau masih dibuka nanti pasiennya datang lagi..”

“Iya sih kak,” kata Jessika. “Kalau begitu saya selesaikan laporan ini dulu lalu pulang”.

“Aku ke atas ya?” kata Ruby.

“Ya kak.. Nanti pintunya saya kunci saja ya."

“Ya..”

Ruby segera melangkah ke lantai atas.

Raissa melangkah masuk.

“Loh, Rayyan kemana?”

“istirahat kak di atas..”

“Tapi dia belum makan?” tanya Raissa.

“Iya..”

“Biar aku susul ke atas ya? Aku ajak makan keluar saja.. Klinik tutup saja, kasihan, dia pasti sangat lelah..”

“Kak.. Ada kak Ruby di atas..” panggil Jessika.

“Ruby?”

“Ya, barusan masuk dan naik ke atas, waktu kakak keluar menerima telpon. Gak enak kak karena di atas sudah privacy mereka..”

“Privacy bagaimana? Mereka kan belum menikah? Masa berduaan di atas??”

“Kak.. itu urusan mereka kak..” Jessika mengingatkan.

“Ya sudah, aku pamit saja kalau begitu..” Raissa bergegas menaiki tangga.

Di lantai atas, Ruby melihat Rayyan yang sedang tertidur sambil menonton televisi. Ruby tersenyum dan perlahan menghampiri.

“Selamat malam sayang..” Ruby mengalungkan lengannya di leher Rayyan sambil mencium pipinya, membuat lelaki itu terbangun.

“Ruby?”

“Maaf membangunkanmu..”

“Kapan datang? Bukannya kamu bilang akan pulang hari minggu?”

“Aku hanya bercanda..”

“Kenapa tidak bilang? Biar aku jemput..”

“Tidak usah.. Aku sengaja ingin membuat kejutan,” Ruby duduk disamping Rayyan.

Rayyan tersenyum.

“Pasti hari ini sangat melelahkan sampai kamu tertidur..”

“Sudah beberapa hari ini Amanda sakit dan pasien juga banyak.. Aku mengerjakan semuanya sendiri,” ucap Rayyan.

“Kasihan.. Pasti lelah,” kata Ruby memijat bahu Rayyan.

“Terimakasih.. ini membuat aku merasa lebih baik,” ucap Rayyan. “Leon masih di bawah?”

“Sudah dijemput ayahnya saat aku datang tadi..”

“Jessika sudah pulang?”

“Masih mengerjakan laporan.”

Rayyan merengkuh pinggang Ruby dan memeluknya.

“Aku merindukanmu..” bisiknya.

Ruby tersenyum.

“Aku juga, rasanya waktu berjalan begitu lama. Padahal baru beberapa hari..” ucap Ruby. “Ayo bangun. Kamu pasti melewatkan makanmu lagi kan? Kita pergi makan.. Aku tidak mau calon suamiku tumbang."

Rayyan membelai rambut Ruby.

“Bolehkah beberapa saat disini dulu sebelum keluar makan?”

“Maksudmu?”

“Ray..” panggil Raissa yang masuk ke ruangan itu.

“Raissa? Ngapain kamu kesini?” tanya Ruby sambil melepaskan pelukan Rayyan.

“Loh, kamu sendiri ngapain?” tanya Raissa.

“Aku pikir kamu sudah pulang..” kata Rayyan.

“Aku ingin pamit pulang padamu, karena aku pikir kamu pasti butuh istirahat”.

“Oh..”

“Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu sejak tadi..”

“Soal apa?” tanya Nemo.

“Tadi kan aku bilang, kakaknya Nindy menelponku."

“Soal apa?”

“Dia memintaku untuk bekerjasama menyelidiki kamu tentang cerita yang disebut sebut Nindy."

“Masalah itu lagi. Aku sudah bosan," keluh Rayyan.

“Ya, tapi kan..”

“Ok, sampai besok..” potong Ruby.

“Apa-apaan kamu?” tanya Raissa.

“Dia butuh istirahat, Raissa!”

“Kalau begitu kenapa kamu masih disini?”

“Itu bukan urusan kamu!” tukas Ruby.

“Kalian belum menikah ya? Ngapain juga berduaan disini?” ejek Raissa.

“Aku akan pulang!” kata Ruby.

Raissa tersenyum.

“Besok kita bicarakan ya Ray.. Aku pulang,” Raissa segera meninggalkan tempat itu.

“Rasanya aku ingin menggulainya!” gerutu Ruby.

Rayyan tertawa.

“Jangan..”

“Kenapa?”

“Aku tidak suka..”

“Aku bisa gila kalau dia selamanya menjadi klien kamu..”

“Sudahlah, jangan merusak suasana hati..” Rayyan kembali menarik Ruby dalam pelukannya. “Buatlah aku merasa nyaman dengan adanya kamu disini.. bukan merasa lelah karena mendengar omelanmu..”

“Kamu ini..”


Pagi itu, Ruby terbangun dari tidur ketika mendengar handphone berdering. Ia segera meraih handphonenya.

“Hallo..”

“Ruby.. sudah bangun?”

“Papa.. Kalau belum bangun tidak mungkin bisa menerima telpon papa..”

Papa tertawa.

“Kamu aman kan disana?” tanya Papa.

“Aman, papa jangan khawatir. Santai saja di rumah kak sofie ya?”

“Iya..”

“Cium hangat untuk Atta ya, Pa..”

“Ok, jangan lewatkan makan pagi..” papa menutup pembicaraan.

Ruby tersenyum. Papa memang tak pernah lupa menelponnya saat sedang tak berada di rumah.

Ruby bangkit dari tempat tidur. Hari ini minggu. Sebenarnya tidak perlu buru buru untuk bangun karena ia tak perlu ke kantor. Namun ia punya rencana lain. Buru-buru mandi dan bersiap-siap, segera meluncur dengan mobilnya menuju klinik milik Rayyan.

Jam menunjukkan pukul 7 pagi ketika ia sampai di depan klinik itu. Ia mengeluarkan kunci dari dalam tas nya. Sejak resmi melamar Ruby, Rayyan memang memberikan kunci tempat tinggalnya itu pada Ruby.

“Meeong..” seekor kucing menghampiri.

Sepertinya sangat lapar.

“Aku tidak punya makanan untukmu.. tunggu disini,” kata Ruby sambil membuka pintu.

Kucing itu terus mengeong, ia terlihat menyeret kaki belakangnya.

“Kamu luka?” tanya Ruby. “Ya sudah, ayo masuk..”

Ruby menggendong kucing yang sepertinya baru berusia 4 bulan itu masuk. Ia meletakkan kucing itu dalam sebuah kandang kosong dan mengisi makanan di mangkok.

“Tunggu disini, nanti dokter akan menangani kamu..” ujar Ruby sambil kemudian menaiki tangga menuju lantai atas. Membuka pintu kamar Rayyan dengan perlahan dan berjalan menghampiri lelaki yang masih tertidur pulas itu.

“Pagi, sayang..” bisik Ruby.

Rayyan tak bergeming.

“Sudah pagi..” ucap Ruby sambil mengusap rambut Rayyan.

Lelaki itu membuka matanya dan kembali melanjutkan tidurnya.

"Sayang.. ini sudah lewat jam 7. Ayo bangun..”

“Sebentar lagi..” Rayyan menarik selimutnya.

“Kamu tidur jam berapa tadi malam?” tanya Ruby.

“Ada pasien darurat tadi malam.. Aku harus melakukan operasi,” jawab Rayyan.

“Oh..”

“Pagi sekali kamu kesini?”

“Pagi apanya? Ini sudah lewat jam 7 kan tadi aku bilang?”

“Tetap saja pagi.. bahkan klinikku belum buka..”

“Karena libur dan kebetulan papa juga menginap di rumah kak Sofie, jadi aku pikir hari ini mau menyiapkan sarapan untukmu..” kata Ruby. “Bangun dan mandilah.. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu..”

“Terimakasih, istri..”

“Belum..”

“Hanya tinggal 2 bulan lagi..” kata Nemo.

Ruby tersenyum sambil meninggalkan ruangan itu.

Berjalan menuju dapur dan mengeluarkan beberapa bahan yang sudah ia beli tadi malam untuk mengisi lemari es Rayyan.

Handphone Ruby kembali berdering.

“Hallo..” sapa Ruby.

“Sedang apa kamu di tempat Rayyan sepagi ini?” tanya Raissa.

“Apa urusan kamu? Bisa yah tahu aku berada disini? Stalker yang hebat. Kamu fans berat aku?” ejek Ruby.

“Aku kebetulan lewat karena ada acara di kantor!”

“Kantor kamu dan rumah kamu tidak melewati jalan ini.. Kenapa sih rela memutar arah hanya untuk lewat sini? Apa sebegitu bahagianya kamu hanya dengan melihat klinik hewan milik Rayyan?” tanya Ruby.

“Jangan bilang kamu tadi malam tidur disana."

“Kalaupun aku tidur disini apa masalahmu?”

“Curang sekali menyerahkan diri agar Rayyan tak lagi bisa lepas darimu?” ejek Raissa.

“Meski aku tinggal 4 tahun di benua Eropa.. Aku tak pernah berpikir untuk tidur dengan laki laki yang belum menjadi suamiku! Dasar otakmu kotor!” Ruby menutup pembicaraan.

“Heran, sebegitu cintakah dia dengan Rayyan sehingga semua harus tahu?” gerutu Ruby sambil melanjutkan memasak.

“Ada apa?” tanya Rayyan.

“Penggemarmu.. Sudah gila aku rasa”.

“Siapa?”

“Raissa..” jawab Ruby. “Bisa ya lewat disini hanya untuk melihat mobilmu yang terparkir?”

“Dia bilang apa? Kenapa sih begitu kesal?”

“Katanya aku tidur disini untuk menyerahkan diri padamu agar kamu tak bisa melepaskanku. Apa gak gila? Dasar otak mesum! Aku memang cukup lama tinggal di eropa tapi aku bukan orang yang bisa dengan gampang menyerahkan diriku meski pada laki laki yang sebentar lagi akan menjadi suamiku!

Rayyan tertawa.

“Apa aku harus mengatakan padanya bahkan untuk menciummu saja aku tak bisa sesuka hatiku..” kata Rayyan.

Ruby mendorong tubuh Rayyan.

“Tapi aku lega..” kata Rayyan.

“Kenapa?”

“Artinya tidak ada yang pernah menyentuh calon istriku sejauh ini..” Rayyan mengedipkan matanya.

"Aku hanya bisa menyiapkan nasi goreng untukmu..” Ruby menghidangkan sepiring nasi goreng ke hadapan Rayyan.

“Kelihatannya enak..”

“Di makan.. ini sudah lewat jam 8,” kata ruby.

“Mari makan..”

“Bagaimana?” tanya Ruby.

Rayyan memandang Ruby.

“luar biasa.. Ini enak sekali."

“Benarkah..?”

“Terimakasih sayang..” Rayyan mencium pipi Ruby. “Kamu tidak makan?”

“Melihatmu saja aku sudah kenyang..” Ruby tertawa.

“Kenapa tidak dari dulu saja kita menikah ya? Sebelum kamu berangkat study?”

“Halah.. Waktu itu kamu kan tidak memandangku..” ejek Ruby.

“Bukan tidak memandangmu.. Kita ada dalam status berteman, rasanya khawatir jika meminta teman mau menjadi istri..”

“Kalau aku tidak duluan menembakmu, kamu juga tidak akan melamarku hingga hari ini bahkan tahun depan, iya kan?”

Rayyan tertawa.

“Eh. Iya..” ucap Ruby.

“Ada apa?”

“Tadi aku melihat seekor kucing di depan..kakinya luka seperti bekas ditabrak dan dia bernafas sangat cepat..” kata Ruby.

“Dimana kucingnya?”

“Aku letakkan di kandang..”

“Biar aku lihat..” Rayyan berdiri.

“Habiskan sarapannya dulu..”

“Sudah selesai..” kata Rayyan.

Ruby menghela nafas dan berjalan mengikuti Rayyan yang turun ke lantai 1.

“Itu..” Ruby menunjuk kucing yang tadi ia selamatkan.

“Kakinya patah..” kata Rayyan setelah memeriksa kaki kucing tersebut.

“Kasihan, masih kecil..”

Rayyan memandang Ruby.

“Aku melihat ada sedikit perubahan padamu? Kamu sebelumnya tak menyukai hewan jenis apapun.. Apa karena sebentar lagi akan menjadi istri seorang dokter hewan lalu kamu mulai mencoba menyukai pekerjaanku?”

“Aku tidak bilang aku menyukainya.. Aku hanya kasihan padanya”.

Rayyan tersenyum.

“apa yang akan kamu lakukan padanya?” tanya Ruby.

“Tunggu Raffi datang untuk membantuku nanti..”

“oh.. Kalau begitu aku pulang ya?”

“Buru-buru sekali?”

“Aku tidak mau menggangu pekerjaanmu..”

“belum ada yang datang.. “ kata Rayyan. “Aku belum bisa bekerja..”

Ruby tersenyum dan mencium pipi Rayyan.

“Semoga harimu menyenangkan..”

“Ruby..” Rayyan menarik tangan Ruby.

“Ada apa?”

Rayyan mengajak Ruby agar duduk di bangku di taman belakang.

“Apakah kamu meragukanku?”

“Maksudmu?”

“Kamu sudah bertemu Nindy dan kakaknya.. Nindy selalu meracuni pikiranmu..”

“Tidak. Tidak ada yang bisa mempengaruhi pikiranku..” kata Ruby. “Aku jauh lebih mengenal pribadimu dibanding mereka”.

Rayyan tersenyum.

“Terimakasih..”

“Tidak akan menyurutkan keputusanku untuk menjadi istrimu..” kata Ruby sambil memeluk Rayyan.

“Permisi..” terdengar sebuah sapaan di depan.

“Ada yang datang..” kata Rayyan. “Aku lihat ya?”

Rayyan bergegas meninggalkan tempat itu.

Ruby tersenyum sambil tetap duduk di bangku itu, mencoba menikmati duduk di taman itu.

“Cobalah duduk di taman itu saat malam hari..” ucapan Nindy tiba-tiba melintas di kepala Ruby.

“Apa maksudnya?” gumam Ruby.

“Ah kenapa aku memikirkan dia lagi? Bukankah aku sudah memutuskan untuk tida peduli pada apapun yang mereka ceritakan. Rayyan bukanlah seperti yang diungkapkan Nindy. Itu hanya sebuah cerita yang ia tulis dan membuat dia hanyut dalam cerita khayakannya sendiri..”