“Aku menghubungi kamu beberapa kali,tapi sepertinya kamu sangat sibuk..” kata Keisha.
Ruby baru saja pulang dari kantornya ketika kakak Nindy itu menelponnya. Masih duduk di dalam mobil yang sedianya akan ia kemudikan. Sangat lelah dan sudah membayangkan nikmatnya berbaring di kamar tidur.
“Bukan sibuk tapi aku memang tak ingin diganggu oleh cerita Nindy..” ucap Ruby.
“Aku sebenarnya juga tidak enak..”
“Kak.. Pernikahanku sudah dekat, aku tidak mau semua berantakan..”
“Nindy bilang, dia ingin menyelamatkanmu. Dia bilang tidak ada niat menghalangi pernikahanmu dengan Rayyan karena cemburu, tapi lebih kepada keinginan untuk menyelamatkanmu."
“Saya tanya pada kakak.. Apakah menurut kakak apa yang dikatakan Nindy benar?”
“Sebenarnya..”
“Baiklah, kita bertemu di klinik.. Kita akan menggali taman belakang itu!"
“kita?”
“Aku lelah, kak! Ayo kita buktikan apa yang dikatakan Nindy!”
“Tapi..”
“Aku yang akan bertanggung jawab."
Ruby menutup telpon. Ia menyalakan mesin dan segera meninggalkan parkiran kantor.
Butuh waktu 20 menit bagi Ruby untuk sampai di depan klinik milik Rayyan. Keisha terlihat duduk di atas motornya. Ia langsung turun saat melihat Ruby keluar dari dalam mobilnya.
"Ayo," ucap Ruby.
Keisha berjalan mengikuti Ruby yang melangkah masuk. Ada beberapa pasien yang menunggu disana.
“Kak..” sapa Jessika.
“Dokter di dalam?” tanya Ruby.
“Ya, sedang mengobati Mona anjingnya pak Wanda..”
“Aku tunggu di belakang..” Ruby meninggalkan tempat itu bersama Keisha.
“Itu siapa,mbak Jessi?” tanya seorang wanita cantik.
“Calon istri dokter..” jawab Jessika.
“Oh.. Dokter Rayyan sudah ada calon?”
“2 bulan lagi menikah..”
“Ohh..”
Ruby sampai di taman belakang.
“Dimana kita akan memulai menggali?” tanya Ruby.
“Rayyan bisa marah jika taman sebagus ini dirusak..” Keisha merasa tidak enak.
“Bukankah hanya ini cara untuk membuktikannya?”
“Tapi..”
Ruby meraih cangkul dan mulai menggali.
“Biar sama-sama kita lihat apa yang dituduhkan Nindy."
“Ruby..”
Ruby tak menjawab terus menggali tanah di di taman itu.
Seorang lelaki yang baru keluar dari toilet mendengar keributan di taman itu, menyempatkan diri berjalan ke taman belakang untuk melihat. Ia memutuskan untuk kembali ke ruang administrasi.
“Ada apa di belakang?” tanya lelaki itu.
“Kenapa, pak?”
“Taman belakang di rusak oleh seorang wanita..”
“Wanita?” kata Jessika. “Sebentar saya lihat..”
Jessika bergegas ke taman belakang dan ia hanya bisa tercengang melihat taman itu sudah terlihat rusak oleh Ruby yang sedang menggali.
“Ruby, sudah..” kata Keisha. “Kamu sudah lelah”.
“Biar aku selesaikan biar cerita itu terbuka atau harus kita tutup selamanya!” tukas Ruby
“Tidak perlu..”
Jessika bergegas menuju ruang periksa dan mengetuk pintunya.
“Masuk..” kata Rayyan.
Jessika membuka pintu dan melangkah masuk.
“Maaf mengganggu sebentar dok..” kata Jessika.
“Ada apa?”
“Itu.. Kak Ruby."
“Ruby kenapa?”
“Gak tahu kenapa, merusak taman belakang dan marah-marah. Kalau dilihat pasien kan ga enak..”
“Dokter Amanda sudah selesai kastrasi?”
“Sudah dok..”
“Pasien tolong oper ke Amanda ya..”
“Baik dok..”
“Sebentar ya Bang..” kata Rayyan sambil meninggalkan ruangan itu.
Wanda memandang Jessika.
“Kenapa? Berantem?”
“Gak tahu, pak.. Rasanya sampai kemarin baik baik saja,” kata Jessika.
Rayyan berjalan menuju taman belakang.
“Ruby..” panggil Rayyan.
Ruby tak menoleh.
Rayyan menghampiri Ruby.
“Ruby, sudah!” Rayyan menarik tangan Ruby. “Cukup!”
“Lepaskan!”
“Ruby, apa yang kamu inginkan?”
“Aku lelah, Ray! Aku ingin membuktikan semua yang dikatakan Nindy! Aku ingin menggali sedalam apa pun untuk menemukan apa yang disebut oleh Nindy!”
“Ruby, hentikan..” kata Keisha.”Kita selesaikan semua ini."
“Biar Nindy berhenti mengganggu pikiranku!” ucap Ruby.
“Ruby, sudah..” Rayyan menarik Ruby ke dalam pelukannya. “Aku yang akan menggalinya nanti jika memang kamu meragukan aku karena cerita Nindy.. Tidak perlu melakukannya dengan tanganmu..”
“Aku lelah selalu dihubungi Nindy tentang kamu..” tangis Ruby.
“Maafkan kakak, Rayyan. harusnya memang kakak tak membuat Ruby bingung. Waktu pernikahan kalian cukup dekat, pastinya ia sangat bingung dengan mendengar cerita Nindy yang berulang-ulang ditambah aku juga memintanya untuk membantu membuktikan kata-kata Nindy, membuat dia menjadi seperti ini..”
“Kak.. Aku sudah bilang, jika ada yang dirasa sangat mengganggu, hubungi aku saja. Jangan membuat Ruby menjadi panik!” tegur Rayyan.
“Maafkan aku..”
“Bisa kakak tinggalkan kami..??”
“Ya.. dan maaf sudah membuat kacau taman ini..”
“Tidak masalah.. Jika memang mau melihat, boleh membongkar taman ini besok dan melihat apa yang ada di dalamnya”.
“Aku pulang..” pamit Keisha sambil meninggalkan tempat itu.
Rayyan menghela nafas.
“Ayo..” ia menggandeng lengan Ruby agar mengikutinya menuju ruang istirahat.
“Duduklah..” Rayyan membantu Ruby duduk di sofa.
“Ini dok..” Jessika menyodorkan segelas air pada Rayyan.
“Terimakasih..”
“Permisi dok..” Jessika meninggalkan ruangan itu dan menutup pintu.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Rayyan.
“Ada apa sebenarnya denganmu dan Nindy?” tanya Ruby.
“Apa maksud kamu?” tanya Rayyan.
“Kamu pernah menjanjikan apa padanya sehingga ia seperti ini padamu? Dan dia terus menerorku”.
“Aku tidak pernah menjanjikan apapun padanya”.
“Dia menyukaimu sejak dia berusia 10 tahun.. Dia selalu memikirkan dan memujamu”.
“Apa?” Rayyan terkejut.
“Kamu tidak tahu?” tanya Ruby.
“Maksud kamu apa?”
“Dia bertemu kamu saat berusia 10 tahun.. katanya kamu menolongnya menyelamatkan seekor kucing. Baginya kamu seperti malaikat”.
“Oh.. lalu apa hubungannya?”
“Dia terus mengikuti semua aktifitas kamu. Saat kamu mendirikan klinik ini.. ia langsung memutuskan untuk bekerja denganmu. Menurutmu kenapa? Agar dia bisa selalu di dekatmu!”
“Lalu masalahnya apa? Salahku dimana Ruby?”
“Tidak pernahkah kamu memperhatikan perasaannya?”
“Aku mana tahu.. Urusan pekerjaan sudah menyita waktuku."
“Tapi banyak wanita yang dekat denganmu. Thalia, Diana.. Raissa."
“Aku hanya berusaha bersikap baik pada siapapun.. Apa salahnya?”
“Kamu mengabaikan dia!”
“Aku tidak pernah mengabaikannya. Kamu bisa tanya pada staf disini. Pernahkah aku bersikap buruk pada karyawanku?”
“Kamu tidak melihat hatinya! Sehingga dia menjadi seperti sekarang. Dan akhirnya bagaimana? Dia melihatmu ingin menikahi aku dan akibatnya aku menjadi sasaran terror darinya”.
“Ok, lalu maunya kamu sekarang apa? Aku harus mendatangi dia dan mengatakan apa? Apa aku harus bilang padanya maafkan aku sudah mengabaikanmu, bisakah kita menjalin hubungan seperti yang kamu inginkan? Begitu?” tanya Rayyan.
“Bukan begitu!”
“Lalu apa, Ruby? Kenapa sikap kamu jadi seperti ini? Kamu ingin aku pergi darimu? Begitu?” tanya Rayyan.
Ruby terdiam.
Rayyan menghela nafas. Tangannya memegang kedua pipi Ruby.
“Aku mencintaimu.. Tidak mungkin aku akan menukar tempatmu hanya untuk menyenangkan orang yang mengalami gangguan jiwa. Dia tak perlu mendapatkan apa yang ia inginkan. Dia hanya perlu perawatan untuk kesehatan jiwanya”.
“Ray..”
“Aku masih ada pasien, istirahatlah disini.. Nanti aku akan melihatmu,” janji Rayyan.
“Maafkan sudah merusak taman belakangmu..”
“Tidak apa apa.. Asal kamu merasa lebih baik, tidak masalah jika kamu menghancurkannya..”
“Terimakasih, sayang..”
Rayyan mencium kening Ruby.
“Nanti aku kesini..” ia meninggalkan tempat itu.
“Nindy dan Keisha.. Kalian sepertinya tidak bisa aku biarkan lagi..” gumam Rayyan.