Rayyan masuk ke ruangannya, dimana Wanda masih menunggu. “Ada apa?” tanya Wanda. Rayyan menghela nafas dan duduk di hadapan Wanda. “Masih masalah Nindy, bang..” “Dia masih menyebut masalah itu?” “Sebenarnya jika dia terus mengganggu hidupku tidak masalah. Aku tidak peduli karena aku sudah tahu siapa dia. Tapi dia mengusik hidup Ruby yang belum paham akan siapa Nindy. Dia masih labil”. “Kasihan Ruby.. Lalu bagaimana kondisi Ruby?” “Aku memintanya istirahat. Bisa minta tolong bang?” “Bisa saja, soal apa?” “Antarkan Ruby pulang, aku tidak mau dia pulang dengan kondisi seperti ini..” “Baiklah..” “Aku bilang pada Ruby ya?” “Tapi sebaiknya tunggu pasien agak sepi biar tidak menjadi pertanyaan. Santai saja.. Aku tidak sedang buru-buru. Lagipula biarkan Ruby istirahat sejenak..” “Baiklah..” “Urus saja pasienmu..” “Terimakasih bang..” “Sudahlah tidak usah sungkan.. Aku tunggu di depan ya..” “Baik..” Wanda berjalan keluar, ia tadinya hendak menuju ke depan namun akhirnya berubah pikiran, ia berjalan menuju ruang istirahat dimana Ruby berada. Wanda mengetuk pintu sebelum membukanya. “Hai..” sapa Wanda. Ruby menoleh. “Bang Wanda..” “Boleh duduk disini? Aku menunggu sepi .. masih ingin ngobrol dengan dokter..” kata Wanda. “Duduk saja..” Wanda melangkah masuk dan duduk di samping Ruby. “Apa kabar?” “Baik..” “Kenapa calon pengantin marah-marah? Apa ada yang membuatmu kesal pada dokter? Katakan padaku. Aku akan membelamu dan membalaskan kekesalan padanya”. “Tidak apa-apa..” “Apa aku harus menjewer kupingnya karena sudah membuatmu kesal?” tanya Wanda. Ruby tersenyum. “Tidak..” jawab Ruby. Wanda tersenyum. “Rayyan itu sudah seperti adikku sendiri..” cerita Wanda. “Kami adalah dua orang yang sudah tidak punya keluarga lagi, jadi kami saling memperhatikan satu sama lain”. Ruby menatap Wanda. “Apa apa? Apa yang membuat kamu begitu kesal dan menghancurkan taman di belakang?” tanya Wanda. “Apa karena cerita Nindy?” “Ya..” jawab Ruby singkat. “Dia terus menghubungi kamu dan mengikuti kemanapun kamu pergi sehingga kamu yang tadinya percaya pada Rayyan mulai meragukannya?” “Ya..” “Lalu apa yang kamu dapatkan setelah menggali tadi? Lelah?” Ruby mengangguk. “Mau aku bantu menggalinya?” Ruby kembali menatap Wanda. “Aku juga penasaran.. Aku juga ingin membuktikan”. “Kenapa?” “Agar tahu siapa yang benar dan siapa yang berbohong”. “Tapi..” “Kenapa?” “Jika Nindy benar..” “Ya gampang.. Tinggal menyeret Rayyan ke polisi”. “Maksud abang?” “Ya.. Bukannya tudingan Nindy dia melakukan banyak pembunuhan. Artinya jika kita bisa membongkar kebenaran.. Tentunya Rayyan harus diserahkan ke polisi. Dan kamu selamat dari pernikahan yang mengerikan”. Ruby terdiam. “Ayo..” Wanda berdiri. “Jika perlu kita hancurkan taman itu”. Ruby mengikuti Wanda ke taman belakang. Wanda meraih cangkul. “Kita mulai dari mana ya? Disana sudah.. disana juga sudah.. Hm, kalau begitu kita coba ke sisi utara”. “Gak perlu bang..” “Kenapa?” “Kasihan hewan yang di kuburkan disana ikut tergali..” kata Ruby. “Maksud kamu?” “Tadi beberapa kali menggali dan hanyaa menemukan tulang belulang hewan. Mungkin semua itu adalah hewan yang pernah mati di klinik ini..” “Nah... Itulah jawabannya,Ruby,” kata Wanda. “Benar kalau Rayyan berlumuran darah, kadang dia harus membelah perut seekor kucing.. Kadang harus memotong bagian yang sudah membusuk dari seekor anjing.. Dan ketika mati dan hewan yang mati itu tidak diambil owner ataupun memang hewan yang terlantar.. Tentunya Rayyan akan menguburnya di belakang sini. Lalu ia berpikir untuk menjadikan tempat itu taman. Kenapa taman? Ia ingin beberapa orang melepas stress dan lelah disini. Siapapun bisa beristirahat disini. Karyawan klinik ini.. Bahkan klien klinik bisa duduk dengan nyaman disini saat menunggu hewan peliharaan mereka di operasi”. “Abang benar..” “Mau pulang? Biar aku antar,” tawar Wanda. “Tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri bang..” tolak Ruby. “Baiklah..” “Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk menenangkan aku,” kata ruby. “Aku senang membuat orang bisa merasa lebih baik”. “Sampai jumpa lain waktu, bang..” pamit Ruby. “Ayo kita ke depan..” kata Wanda. Keduanya berjalan menuju ke depan. “Hai, Ruby..” sapa Raissa. “Bang Wanda..” “Hai, Raissa..” sapa Wanda. “Rocco sakit..” kata Raissa. “Bilang dokter, aku pulang..” kata Ruby pada Jessika. “Ya kak..” “Ya, memang sebaiknya ketika sedang stress jangan kesini.. Kamu membuat keributan dan orang jadi bertanya-tanya kenapa kamu menghancurkan taman di belakang..” kata Raissa. “Ruby..” Wanda menarik lengan Ruby dan menggeleng. “Pamit, bang..” Ruby segera berjalan keluar. “Jangan begitu, Raissa..” tegur Wanda. “Kesal aku,bang.. Bodoh sekali dia! Sudah banyak yang mengatakan kalau Nindy itu GILA, tapi dia masih saja mendengarkan cerita khayalannya itu. Rayyan sengaja memasukkan dia ke rumah sakit jiwa, bukan ingin membuat dia benar benar gila, tapi agar dia segera sembuh. Dan kak Keisha juga harusnya sadar. Gak semua yang dibawa ke rumah sakit jiwa itu gila. Mereka terkadang hanya butuh sedikit keteangan agar bisa berpikir dengan lebih baik. Siapa juga yang akan membuat orang menjadi gila?” tukas Raissa. “Wajar jika Ruby bingung karena hampir setiap hari dikontak oleh kedua kakak beradik itu”. “Tinggal mengabaikan saja bukannya gampang? Ngapain juga dia meladeni telpon dan pesan chat dari mereka?” “Namanya juga bingung..” “Bodoh, itu yang lebih tepat Bang.. Dia kenal Rayyan sudah lama, masa dia tak bisa memahami masalah yang terjadi pada Rayyan?” tanya Raissa. “Sebenarnya ini hanya kesalahpahaman..” “Tidak..” “Maksud kamu?” “Dia tidak percaya pada Rayyan, itu intinya”. “Bukan tidak percaya.. mungkin ada kecemburuan ketika melihat begitu banyak anita yang ada di dekat Rayyan”. “Cemburu? Halah.. alasan itu,bang,” kata Raissa. “Lalu harus bagaimana?” “Aku katakan padanya jika tak sanggup, mundur..” kata Raissa sambil tertawa. “Aku yang maju”. “Kamu cari kesempatan..” ejek Wanda. “Terimakasih,dok..” seorang wanita tionghoa pamit pada Rayyan yang mengantarnya keluar dari ruangan. “Minggu depan kesini ya ce..” kata Rayyan. “Baik..” Rayyan memandang Wanda. “Abang masih disini? Belum jadi mengantar Ruby? Kalau begitu aku saja yang mengantarnya.. Kebetulan sudah tidak ada pasien..” “Rocco mau berobat..” kata Raissa. “Dengan dokter Amanda saja ya, Raissa..” “Tidak mau.. Rocco sudah biasa denganmu,” tolak Raissa. “Tapi..” “Ruby sudah pulang, tadi pamit. Tanya aja bang Wanda dan Jessika..” Rayyan memandang Wanda. “Ya, dia bilang bisa pulang sendiri, tidka perlu diantar..” jelas Wanda. “Oh..” “Berarti bisa ya periksa Rocco?” tanya Raissa. “Masuklah..” “Terimakasih..” Raissa tersenyum sambil mengikuti Rayyan masuk. Jessika mendengus kesal. “kenapa?” tanay Wanda. “Benci sekali melihat tingkah sok manjanya itu.. Perasaan kak Ruby aja yang calon istri gak seperti itu”. Wanda tertawa. “Kadang yang asli memang lebih biasa dari pada yang ngaku-ngaku..” ujar Wanda. “Entah bagaimana besok kalau dokter sudah menikah.. Apa dia masih genit seperti ini? Cantik sih.. tapi akhlaknya kurang..” ujar Jessika.