“Hari ini lelah sekali.. Kita sampai harus tutup lebih malam dibanding biasa..” kata Rayyan. “Untungnya Amanda besedia menunda jam pulangnya.. Terimakasih ya Amanda..” “Kita semua kan team, dokter..” kata Amanda. “Tapi besok kami minta ditraktir ya, dok?” kata Jessika. “Malam ini juga bisa, masih ada cafe yang buka kan?” “Serius dok?” tanya Amanda. “Ayo.. Nanti aku antar kalian pulang,” kata Rayyan. “Asiik..” Jessika dan Amanda segera mengikuti Rayyan masuk ke mobil. “Makan dimana?” tanya Rayyan. “Boleh makan besar ya, dok? Laper banget..” kata Jessika. “Anak ini..” kata Amanda. “Tidak apa-apa dong kak.. Sesekali,” ucap Jessika. Rayyan tertawa. “Boleh.. nanti bisa pesan apa saja yang kamu mau..” kata Rayyan sambil mengeluarkan handphonena. “Di tempat bang Wanda aja,dok.. dia kan buka sampai tengah malam..” usul Amanda. “Boleh juga..” kata Rayyan sambil menelpon. “Hallo..” tedengar suara Ruby. “Belum tidur?” tanya Rayyan. “Belum..” “Aku jemput ke rumah ya?” “Kenapa?” “Makan malam..” “Aku sudah makan..” “Sudah lama tidak keluar karena kesibukan..” “Baiklah..” “15 menit lagi aku sampai..” “Ok..” Rayyan meletakkan handphonenya. “Kita mampir ke rumah Ruby dulu ya?” “Oh, dokter mau mengajak kak Ruby?” tanya Amanda. “Ya.. Beberapa hari ini dia terlihat sangat stess..” “Hari ini puncaknya..” kata Jessika. “Kasihan kak Ruby..” “belum lagi stress memikirkan pernikahan yang sudah direncanakan dan dia terpaksa harus mengurus semuanya sendiri..” ujar Rayyan. “Tidak apa-apakan mengajak Ruby?” “Tidak apa-apa dong dok..” jawab Jesika. Mobil itu akhirnya berhenti di depan pagar rumah Ruby. “Aku sudah di depan..” Rayyan menelpon Ruby. “Sebentar..” kata Ruby. Pintu rumah itu terbuka, terlihat Ruby berjalan cepat membuka pagar. “Saya pindah ke belakang..” kata Amanda. “Tidak usah, tidak apa-apa kok duduk disana..” kata Rayyan sambil membuka kaca mobil. “Gak enak dok..” “Sudahlah..” kata Rayyan. Ruby memandang ke dalam mobil. “Rame?” “Dokter mau traktir makan, kak..” kata Jessika. “Kakak.. Duduk di depan saja,” kata Amanda. “Tidak apa-apa,” kata Ruby. Amanda segera turun dan duduk di samping Jessika. Ruby tersenyum sambil masuk ke dalam mobil. “Ada ada saja..” kata Ruby. “Gak enak kak.. sudah di traktir, eh duduknya disamping dokter pula..” kata Amanda. Rayyan tertawa. “Kamu tidak cemburu kan sayang dengan staf ku?” tanya Rayyan sambil memandang Ruby. Ruby tersenyum. “Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?” tanya Rayyan. “Ya.. Maaf, aku sudah membuat kekacauan di klinikmu,” sesal Ruby. “Tidak apa-apa.. Aku bisa mengerti apa yang kamu rasakan. Maaf tidak bisa banyak membantumu menyiapkan pernikahan kita.. Padahal yang menikah bukan hanya kamu..” “Tidak apa-apa..” “Love you, sayang.. Ini yang membuat aku pernah bisa melihat wanita lain karena aku tahu kamu adalah orang yang paling mengerti aku..” kata Rayyan. “Ehem... “ kata Jessika. “Ada kami loh dok, disini.. Jangan anggap patung”. Rayyan tertawa. “Pejamkan saja mata kalian dan dengarkan lagu lewat Handsfree..” kata Rayyan. Jessika tertawa. “Senang melihat dokter bahagia..” tambah Amanda. Handphone Ruby berdering. “Siapa?” tanya Rayyan. “Tidak tahu.. Nomor tidak dikenal,” jawab Ruby. “Tidak usah diangkat, siapa tahu Nindy..” “Kalau relasi ku bagaimana?” “Ini sudah jam berapa sayang?” "Jam 10..” “Masa relasi kamu menelpon jam segini?” “Kamu juga sering di telpon tengah malam..” “Kasusnya beda.. Aku di telpon karena mereka butuh pengobatan darurat untuk peliharaan mereka”. “Mungkin relasi ku juga butuh sebuah jawaban malam ini..” “Sini..” Rayyan meraih handphone Ruby. “Jangan.. kalau itu relasiku nanti bagaimana?” “Kalau dia laki-laki akan aku katakan padanya jangan menelpon istriku malam hari untuk konsultasi. Pagi saja”. “Rayyan, sini..” Ruby merebut Handphone kembali dan segera mengangkat telpon. “Hallo..” “Lama sekali mengangkat telponnya..” “Nindy?” “Tadi kak Keisha cerita padaku kalau kamu menggali di taman belakang..” “Ya..” “Sudah menemukan jawabannya?” “Tidak..” “Pasti kamu hanya menggali dengan emosi! Mana bisa kamu mendapatkan bukti? Aku bilang gali yang dalam, bukan merusak taman itu! Bodoh sekali..” “Apa katamu?” “Kamu tolol! Buat apa sekolah tinggi dan jauh sampai ke luar negeri tapi sangat tolol!” Rayyan menghentikan mobilnya. “Sini..” Rayyan merebut handphone itu dari tangan Ruby. “Rayyan..” “Nindy! Aku tahu kakakmu sudah mengeluarkanmu dari sana dengan alasan kamu akan berobat jalan saja! OK, tidak masalah! Tapi kamu harusnya berhenti meneror Ruby!” “Meneror? Kamu kira aku penjahat?” “Berhentilah membuat cerita yang tidak masuk akal! Jika itu pikiranmu, tulis dan bukukan saja!” “Kamu takut jika Ruby tahu hal jahat pada dirimu lalu dia meninggalkanmu? Iya kan? Aku tahu apa yang ada di kepalamu saat ini. Aku sudah menyelidiki siapa Ruby. Ayahnya sangat kaya. Kamu bisa membuat klinik mu menjadi klinik hewan paling lengkap dan paling besar di kota ini. Iya kan?” “Jangan membuat aku nekat, Nindy! Aku bisa membunuh saat aku muak demi kenyamanan Ruby!” ancam Rayyan. “Ahaa.. Aku merekamnya, Rayyan! Aku bisa menjadikan ini sebagai bukti”. “Lakukan saja dan besok orang akan melihat..” “Rayyan..” Ruby menarik handphone itu. “Kamu adalah pembunuh Rayyan!” “Nindy! Berhentilah mengusik hidupku,” Ruby mematikan handphonenya. Ruby memandang Rayyan. “Kenapa bicara seperti tadi? Ini bukan kamu yang aku kenal?” tanya Ruby. Rayyan tak menjawab, wajahnya terlihat masih menyimpan kekesalan. Ruby menggenggam tangan Rayyan. “Aku percaya padamu.. Aku tak akan terpengaruh oleh ucapan Nindy lagi. Kamu tak perlu terpancing emosi,” kata Ruby. “Maaf kak.. Ikut bicara,” kata Jessika. “Ada apa?” tanya Ruby. “Dokter tidak salah jika sampai terucap seperti tadi. Siapapun kesal dengan apa yang dikatakan Nindy. Melihat kakak tadi di klinik seperti itu.. Saya bisa merasakan bagaimana perasaan dokter. Ia melihat kepanikan dan keributan yang terjadi ketika kakak terlihat begitu stress. Ingin menemani kakak untuk mengatasi kepanikan kakak tapi pekerjaan tak mungkin ditinggal..” kata Jessika. “Dokter juga menyimpan amarahnya namun tetap harus terlihat tersenyum di depan klien”. “Jessi benar kak.. Ada beberapa operasi hari ini, butuh konsentrasi dan dokter sangat profesional bekerja”. “Maafkan aku sudah membuat kamu panik.” Kata Ruby. “Kita lanjutkan saja, lupakan kejadian ini,” kata Rayyan sambil menghidupkan mesin mobil. “Aku tak akan melepaskan pegangan tanganku..” bisik Ruby. “Terimakasih..” kata Rayyan. Ruby tersenyum. Sebuah pesan dari Nindy masuk. Ruby langsung menghapus pesan itu tanpa membacanya. “Tidak usah pedulikan lagi, Ruby.. Dia hanya wanita yang cemburu karena cinta masa kecilnya kamu ambil..” batin Ruby.