Kamu mau aku antar pulang langsung?” tanya Rayyan. “Kenapa?” tanya Ruby sambil memandang Rayyan. Mereka baru saja selesai mengantar Amada dan Jessika pulang setelah selesai makan malam. “Tidak apa-apa..” jawab Rayyan. Ruby melihat jam. “Sudah hampir jam 12 malam..” “Ya sudah, aku antar kamu pulang,” kata Rayyan. “Masih bisa jika kamu ingin mengajakku kencan malam ini..” kata Ruby. “Berkeliling menyusuri sepanjang kota juga boleh..” Rayyan tersenyum. "Nanti papa mencarimu".
Sebuah pesan kembali masuk ke handphone Ruby. “Pasti dari Nindy.. “ kata Ruby. “Tidak membacanya?” “Tidak.. Setiap pesannya masuk langsung aku hapus saja”. “Oh..” “Setelah aku pikir-pikir kenapa juga aku harus mendengarnya?” kata Ruby. “Sebenarnya.. Aku kasihan padanya," ungkap Rayyan. “Dia.. sudah lama mencintaimu," ucap Ruby. “Masa?” “Apa aku pernah bilang padamu kalau dia sudah mengenalmu saat berusia 10 tahun?” “Aku tidak ingat..” “Ah,kamu ini.. Selalu tidak ingat,” gerutu Ruby. Rayyan tertawa. “Lalu?” tanya Rayyan. “Kamu pasti tak pernah melihatnya..” “Melihat bagaimana?” “Dia begitu memperhatikanmu hingga hal-hal kecil, tapi kamu tidak peka. Kamu memperlakukan dia sama seperti yang lainnya”. “Habis mau bagaimana? Aku tak sempat memperhatikan hati seseorang”. “Oh, begitu.. Pantas kamu juga tidak peka dengan perasaanku”. “Apa?” “Benarkan?” tanya Ruby. “Kamu bicara apa sih? Dimananya letak aku tidak peka padamu?” “Buktinya sejak dulu aku suka denganmu tapi kamu tidak pernah peduli, hanya menganggapku teman..” “Ya, kamu juga hanya menunjukkan kalau kamu menganggapku teman”. “Tapi aku berani menembakmu,” kata Ruby. Rayyan tiba-tiba mengerem mobilnya dengan mendadak, membuat Ruby spontan menjerit. “Ada apa?” tanya Ruby. “Tunggu disini..” Rayyan turun dari mobil. “Rayyan..” panggil Ruby. Dua orang pemuda yang mengendarai motor terlihat menunggu Rayyan. “Bang, hati-hati dong bawa mobil, lihat kami sampai terjatuh,” ucap salah satu dari mereka. “Yang tidak hati hati itu siapa? Kalian tiba-tiba muncul! Jika tidak pijak rem kalian mungkin sudah terpental jatuh!” tukas Rayyan. “Abang jangan sok merasa benar,bang!” “Lalu maunya kalian apa?” “Abang sepertinya mau cari perkara dengan kami? Jangan memancing emosi,bang..” “Kalian mau meminta ganti rugi?” “Rayyan, sudah..” kata Ruby. “Kamu di dalam saja, tutup kacanya!” perintah Rayyan. Ruby menutup kaca dan meraih handphonenya. “Hallo..” tedengar suara Faishal, adiknya Ruby. "Kamu dimana?" “Di luar kak, sama Doni”. “Ini ada yang nyari ribut dengan..” Ruby menghentikan ucapannya ketika melihat Rayyan memukulkan tongkat baseball pada salah satu pemuda itu. “Kak..” panggil Faishal. Ruby melihat kedua lelaki itu bergegas naik ke motornya dan segera meninggalkan tempat itu. Salah seorang yang tadi dipukul Rayyan terlihat memegang kepalanya yang berdarah. Rayyan masuk ke dalam mobil. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Ruby. “Hanya membela diri..” “Kamu memukul kepalanya sampai berdarah seperti itu, Rayyan.. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?” “Para berandalan yang ingin memeras seperti itu memang perlu dihajar,” jawab Rayyan datar. "Tidak perlu mengkhawatirkan mereka". “Aku baru saja akan memanggil Faishal agar dia datang kesini”. “Terlalu lama jika harus menunggu kedatangan polisi sementara nyawa kita terancam”. “Tapi belum tentu mereka itu berandalan..” “Kita perlu waspada dan membela diri di jam seperti ini. Kamu pikir bisa meminta pertolongan di saat jalan yang kita lalui ini sepi?” “Tapi tidak perlu..” “Aku hanya melindungimu! Harus bergerak lebih cepat jika tak ingin sesuatu terjadi padamu”. “Tapi kamu terlalu kejam memukul mereka sampai kepalanya bocor seperti itu..” Ruby tak setuju. “lalu mau kamu apa?” bentak Rayyan. “Aku hanya mencoba membela kehormatanmu, tapi tidak kamu hargai?!” Ruby terdiam. Rayyan kembali mengemudikan mobil meninggalkan jalan itu. Ruby tak mampu berkata sepanjang perjalanan. Hanya duduk terdiam. Entah kenapa tangannya terasa dingin dengan sikap Rayyan. Mengingat tatapan tajam Rayyan ketika membentaknya. Handphone Rayyan berdering. “Hallo..” kata Rayyan. “Hallo,dok.. Boleh saya minta bantu? Saya tahu ini sudah malam dan dokter pasti sudah tutup, tapi saya butuh sekali bantuan dokter..” “Kenapa?” “Saya tidak sengaja menabrak kucing saya sendiri.. Tolong ya dok? Saya sudah di depan klinik..” “Tapi saya sedang di luar..” “Tolong dok.. please..” “Ok, tunggu disana..” Rayyan meletakkan handphonenya. “Kita ke klinik dulu.. Ada pasien,” kata Rayyan. Ruby tak mau menjawab, membiarkan Rayyan memutar balik perjalanan mereka menuju klinik. Dan Ruby masih terduduk di klinik itu menunggu Rayyan yang sedang melakukan pertolongan pada kucing malang itu. Duduk di ruang istirahat itu tak sengaja Ruby membuka laci meja itu. Ia melihat photo Rayyan saat masih kuliah di fakultas kedokteran disana dan tak sadar Ruby tersenyum. Pintu ruangan itu terbuka. “Sedang apa?” tanya Rayyan. “Melihat photo kamu..” “Photo ku?” “Ya.. aku menemukannya di laci meja”. “Oh.. itu bukan aku..” “Bukan kamu?” “Lihat saja tulisan di belakangnya..” Ruby membaca tulisan di balik photo itu. Elnino.. “Oh, kamu dipanggil Elnino saat di kampus?” “Tidak..” “Lalu?” “Sudah aku bilang itu bukan aku..” “Jangan bercanda, Rayyan..” “Itu Nino, saudara kembarku”. “Jangan bohong. Aku tahu kamu adalah anak tunggal”. “Serius, dia itu saudara kembarku. Saat aku pindah tinggal di sebelah rumah kamu, aku hanya berdua ibuku. Sedangkan Nino ikut dengan ayahku. Mereka bercerai dan mengambil masing masing satu anak”. “Kamu tidak pernah bilang.. Lalu, dimana Nino sekarang? Apa dia juga kuliah di fakultas kedokteran hewan seperti kamu juga?” “Ya.. hanya beda kota”. “Oh.. Lalu dimana dia sekarang?” “Di.. hatimu,” kata Rayyan. “Maksud kamu?” Rayyan tertawa. “Sepertinya memang mudah sekali membuat kamu panik, tidak heran Nindy mampu mengacak acak hatimu”. “Apa?” “Aku hanya bercanda.. photo itu sudah jelas adalah photoku”. “Kamu terlalu,” kata Ruby. Rayyan duduk di sofa. “Sudah terlalu malam, aku harus pulang..” kata Ruby. “Tidurlah disini malam ini..” “Maksudmu?" “Aku terlalu lelah untuk mengantar kamu pulang.. Ini diluar perkiraanku”. “Tidak usah dipikirkan, aku sudah menelpon Faishal, dia sedang dalam perjalanan kesini". "Maaf jadi merepotkan Faishal dan maafkan juga sikapku tadi.. Aku sudah membentakmu..” “Tidak apa-apa.. Meskipun aku merasa kamu berbeda, tapi aku juga tahu kalau apa yang terjadi tadi memang kamu lakukan untukku”. Rayyan membelai pipi Ruby dengan lembut. “Aku mencintaimu..”
"Kak.." terdengar sebuah panggilan. "Kak Ruby.." "Faishal.." Ruby segera keluar diikuti Rayyan. "Sudah datang," sapa Rayyan.
Faishal, pria muda yang berusia 22 tahun, adik bungsunya Ruby itu menyalami tangan Rayhan.
"Tuan putri ini kalau tidak dijemput, papa bisa ngamuk, bang.." ujar Faishal. Rayyan tertawa. "Hati-hati ya?" "Kamu istirahat ya.." ucap Ruby "Siap Nyonya". Ruby melangkah keluar bersama Faishal. "Aku pikir kakak akan tidur disini malam ini," ucap Faishal. "Kau pikir aku sudah gila?" Faishal tertawa. "Shal.."panggil ruby. "Ya.." "Apakah pilihanku akan Rayyan sudah benar?" "Kenapa?" "Tidak apa-apa.. Ayo kita pulang"