Ruby terbangun karena handphonenya berdering. “Hallo, pa..” “Ruby dimana, nak?” tanya Papa. "Di rumah dong, Pa.." "Nanti siang papa pulang, kamu jangan berantem ya sama Faishal". "Iya.." "Jangan lupa sarapan." "Siap komandan." Ruby meletakkan handphonenya. Seseorang melingkarkan tangannya memeluk pinggang Ruby. “Papa sepertinya akan terus mengawasimu hingga pernikahan..” bisik Rayyan. Ruby menoleh dan terkejut. "Kamu kenapa disini? Kapan kesini?" "Apa maksudmu?" "Ngapain kamu di kamarku? Kalau Faishal melihatmu gimana?" "Ini kamarku, Non.." "Masa?" Ruby melihat sekeliling. "Tapi kapan aku kesini? Aku kan sudah pulang dijemput Faishal?" "Kamu mimpi?" tanya Rayyan. "Masa lupa dengan apa yang terjadi malam tadi?" "Apa yang sudah kita lakukan?" Ruby terkejut. "Menurut apa yang terjadi jika laki-laki dan perempuan ada di satu ranjang?" "Kamu..? Kenapa tidak bisa menunggu untuk bisa memiliki hingga hari H?" "Kamu tidak menolakku." "Kamu keterlaluan..!" Ruby memukul bahu Rayyan. Rayyan tertawa. "Mana ada Faishal menjemputmu? Kamu tertidur di sofa ketika aku naik setelah menyelesaikan operasi. Tidak tega mengganggumu, aku memindahkanmu ke tempat tidur." "Benarkah? Jadi tidak terjadi apa-apa tadi malam?" "Tidak,sayang.. Aku tak akan menyentuhmu hingga tiba saatnya." "Tapi.. Aku yakin sekali sudah pulang bersama Faishal". "Mimpimu sungguh seperti nyata." “Aku harus pulang, pagi ini ada meeting di kantor..” “Kunci mobil di ruang praktek..” kata Rayyan. “Jangan lupa sarapan..” kata Ruby sambil berjalan keluar. “Ya, nyonya..” Ruby menuruni tangga, matanya kembali tertuju pada ruang yang selalu digunakan Rayyan saat letih setelah melakukan operasi. Ia membuka pintu itu, menyalakan lampunya dan berjalan menuju meja. Membuka lacinya. “Kemana photo kemarin?” tanya Ruby. Ia kembali membongkar laci itu namun tak menemukan photo tersebut. “Kenapa photo itu menghilang? Apa Rayyan menyimpannya? Kenapa di belakang photo itu tertulis Elnino sedangkan selama ini aku tak pernah tahu kalau Rayyan punya nama panggilan Elnino?” gumam Ruby. Ruby kembali membongkar laci itu, memeriksa satu persatu kertas yang ada di dalam laci itu. “Aku pikir kamu sudah pulang, ternyata masih disini..” kata Rayyan yang sudah berdiri di pintu. “Oh, itu..” “Ada apa? Mencari sesuatu?” tanya Rayyan. “Aku kehilangan bross yang kemarin aku pakai. Itu hadiah dari kak Sofie, kamu tahu betapa cerewetnya dia saat benda yang dia hadiahkan hilang..” “Kamu tidak memakai bross..” Rayyan mengingatkan. “Aku..” “Kamu tak pernah pandai berbohong, Ruby..” ucap Rayyan. “Kamu mencari photo yang kamu lihat tadi malam kan?” Ruby terdiam. "Kamu mencari photo yang kamu lihat tadi malam?" "Aku tidak bermimpi melihat photo itu..? Tadi malam aku melihat photo itu lalu saat kita bicara Faishal datang dan aku segera pulang". "Kamu memang melihatnya, kita sempat bicara sebelum tiba-tiba ada pasien yang datang dan aku meninggalkanmu di ruangan ini." "Benarkah? Kok.aku tidak ingat?" "Kenapa tiba-tiba mencari photo itu?” tanya Rayyan sambil berjalan menghampiri Ruby. Ruby terdiam. "Aku.. hanya penasaran, aku pikir itu mimpi.. tapi.." "Kenapa kamu sepertinya tidak percaya padaku? Kamu meragukanku?” tanya Rayyan. “Karena.. Aku pikir aku tahu semua tentang kamu.. Karena kamu selalu menyebutku stalker yang handal. Aku tahu semua tentangmu..” “Kamu memang tahu semua tentangku sampai kamu bertemu dengan Nindy dan merubah semuanya. Kamu mulai meragukanku dan berpikir kalau apa yang dikatakan Nindy mungkin ada benarnya,” ucap Rayyan datar. Lelaki itu menarik kursi dan duduk di hadapan Ruby. “Aku sengaja meletakkan photo itu semalam.. Aku tahu kamu akan penasaran saat melihat photo lelaki yang mirip aku tetapi bertuliskan nama yang lain..” “Jangan bercanda, aku tidak suka!” kata Ruby. “Aku juga tidak suka kamu terus menyelidiki tentangku hanya karena cerita dari Nindy!” tukas Rayyan. “Jika kamu tidak melakukan kesalahan kenapa kamu khawatir aku menyelidikinya?” “Aku bukan khawatir, aku hanya tidak suka!” “Dan karena tidak suka kamu bisa dengan seenaknya mempermainkan aku? Membuat aku melihat photo itu dan berpikir siapa.. lalu kamu katakan kalau itu adalah saudara kembar kamu? Kalian berpisah karena kedua orangtuamu bercerai? Lalu kamu merubah cerita lagi dan berkata kalau itu adalah kamu. Tapi aku merasa tak pernah mendengar siapapun memanggil kamu dengan sebutan Elnino! Apa aku salah?” “Lalu?” “Sejak kejadian malam tadi sebenarnya aku merasa asing denganmu Rayyan..” ujar Ruby. “Asing bagaimana? Maksud kamu?” “Cara kamu memukul orang tadi malam seperti ingin membunuhnya saja..” “Siapapun akan melakukan hal seperti tadi malam saat melindungi diri..” ucap Rayyan. “Tapi kamu yang aku lihat tadi malam itu berbeda! Kamu melihat mereka dengan tatapan kejam!” “Kamu mimpi apa tadi malam? Kenapa tiba-tiba seperti ini?” “Sekarang jujur saja! Apa maksud kamu membuat cerita seolah olah kamu punya kembaran?” tanya Ruby. “Jangan memancing keributan, Ruby”. “Mana photo itu? Kenapa kamu memindahkannya?” tanya Ruby. “Kenapa mempertanyakannya?” “Aku hanya ingin melihatnya..” “Tidak ada yang aneh pada photo itu”. “Jika tidak ada yang aneh lalu kenapa kamu menyembunyikannya, Rayyan?” “Aku tidak menyembunyikannya”. “Lalu kenapa tidak ada?” “Pikiran kamu itu yang sedang kemana? Aku tidak memindahkan photo itu”. “Tidak ada disini..” Ruby menghentikan ucapannya saat menemukan photo itu dalam sebuah buku agenda. “Itu apa?” “Tadi tidak ada..” Ruby meraih photo itu. “Sejak tadi photo itu disana, tidak kemana-mana.. Kamu kenapa?” “Jadi sebenarnya ini photo siapa?” “Sepertinya memang tidak bisa bicara denganmu saat ini,” kata Rayyan. “Jika begitu kita tidak usah menikah saja!” Ruby melangkah keluar dari ruangan itu. “Sekarang masalahnya apa? Kamu tiba-tiba membahas hal yang tak penting.. Kamu bilang kamu tidak suka dengan caraku bercanda,” Rayyan mengikuti Ruby. “Kamu juga tidak suka aku bicara dengan Nindy kan? Kamu tidak suka atau kamu khawatir? Jujur saja!” “Ruby!” “Bukankah pernah aku tanyakan padamu, apakah kamu tahu kalau Nindy adalah anak kecil yang pernah kamu tolong?” “Tidak..” “Aku pernah mengatakan padamu kalau dia sebegitunya mengagumi kamu sehingga..” “Sehingga dia membuat sebuah cerita seolah olah aku adalah lelaki yang mengerikan dan membuat wanita yang akan menikah denganku menjauhiku? Membuat aku menjadi sebuah tokoh khayalan yang ia ciptakan dan hanya ia yang bisa menguasaiku? Fix, dia sudah sangat gila!” Pintu klinik terbuka, dan jessika yang baru masuk hanya bisa terpaku melihat Ruby dan Rayyan yang sedang bertengkar hebat. “Maaf..” kata Jessika. “Aku pulang!” pamit Ruby sambil berjalan ke pintu. Namun ia berbalik. “O iya.. Tidak usah mengambil undangan ke percetakan! Aku akan bilang ke papa kalau kita tidak jadi menikah..!” “Ruby..” panggil Rayyan sambil menarik tangan Ruby. “Lepaskan!” tukas Ruby. “Jangan seperti ini..! Ruby..!” panggil Rayyan, tapi perempuan yang sedang dilanda emosi itu sudah menghilang secepat angin. Rayyan memandang Jessika yang terlihat pura-pura sibuk seakan tak melihat dan mendengar kejadian apapun. “Jessi.. Telpon Amanda, minta tolong dia datang pagi ini,” kata Rayyan. “Baik..” Rayyan segera meninggalkan tempat itu. Pintu dibuka, Amanda melangkah masuk. “Kak.. kebetulan kakak datang. Dokter minta aku menghubungi kakak untuk menggantikannya pagi ini”. “Oh, aku kebetulan mau mengambil handphoneku yang tertinggal. Makanya pagi datang kesini.. Kenapa? Dokter sakit?” “Pusing sepertinya..” jawab Jessika. “Pusing?” “Sepertinya berantem sama kak Ruby,” cerita Jessika. “Tak sengaja tadi melihat mereka bertengkar ketika aku masuk”. “Sepagi ini?” “Ya..” Amanda tersenyum. “Kenapa kak?” tanya Jessika. “Sindrom sebelum resepsi pernikahan.. Padahal tadi malam terlihat sangat mesra,” kata Amanda. “Pasti gara gara Nindy.. Aku melihat kak Ruby sepertinya sangat terganggu oleh cerita Nindy”. “Ya..” Terdengar langkah kaki menghampiri disusul kemunculan Rayyan. “Dokter..” sapa Amanda. “Kamu sudah datang?” “Kebetulan handphone ketinggalan dok..” “OK tolong digantikan sebentar ya, saya ada urusan..” “Baik, saya ambil handphone dulu..” Amanda meninggalkan ruangan tersebut. “Selamat pagi..” seseorang masuk menghentikan ucapan Rayyan. “Nindy?” Rayyan memandang gadis itu. “Apa kabar dokter?” sapa Nindy. “Mau apa kesini?” tanya Rayyan. “Say hello..” Nindy melangkah mendekat. “Tadi malam mencoba membuat sebuah kejutan untuk memancing sisi jahatmu keluar, dan aku berhasil merekamnya”. “Apa?” Nindy tersenyum. “Kamu sebenarnya ingin apa?” tanya Rayyan. “Aku hanya ingin melihatmu dari dekat.. begitu dekatnya,” Nindy semakin dekat dengan Rayyan. “Dokter hati-hati.. Dia menyembunyikan pisau,” teriak Jessika. Rayyan menoleh ke belakang punggung Nindy, namun gadis itu tiba-tiba sudah menusukkan pisau ke arah Jessika. Begitu cepatnya hingga Jessika tak bisa mengelak. “Jessika..” Nindy tersenyum. “Oops..” “Kamu Gila,Nindy..” “Sampai kamu mengakui dosamu, satu persatu aku akan melukai orang di sekitarmu. Tidak apa jika aku masuk penjara.. asal bersamamu,” Nindy tertawa sambil segera meninggalkan tempat itu. “Jessi..” Rayyan cepat menggendong tubuh Jessika yang berlumuran darah. “Amanda..! Amanda..!” “Ya, dokter..” Amanda bergegas menghampiri. “Ya Tuhan.. Jessika kenapa,dok?” “Nanti di perjalanan saja kita bercerita. Ambil kunci mobil..” perintah Rayyan. “Ya.” Amanda bergegas mengambil kunci mobil. “Kamu saja yang bawa mobil agar nanti sesampai di rumah sakit aku bisa langsung melarikan Jessi ke UGD..” “Baik dok..” kata Amanda sambil mengunci pintu klinik. “Bertahan ya jessika..” kata Rayyan pada Jessika yang menahan sakit.