“Dia butuh banyak darah..” kata Rayyan. “Ibunya Jessika bisa panik kalau mendengar anaknya terluka seperti ini dok..” kata Amanda. “Belum saya beritahu..” “Nanti biar aku yang bicara, lagi pula ibunya tidak berada disini kan?” “Ya, dok..” “Coba share, untuk mencari siapa yang bisa mendonorkan darah untuk Jessika..” “Baik, dok..” Handphone Rayyan berdering. “Hallo..” sapa Rayyan. “Kamu dimana? Aku di depan klinik tapi tutup..” kata Raissa. “Ada apa?” “Rocco susah pipis." “Aku tidak praktek. Klinik kami tutup hari ini.” “Kenapa?” “Ada sedikit masalah.” “Masalah apa? Ada 2 orang juga disini menunggu..” “Ada kecelakaan saat kerja.. Tolong bantu beritahu juga pada klien yang datang bersamaan denganmu. Jika urgent, ke klinik lain saja.” “Kamu dimana?” “Di rumah sakit.” “Siapa yang sakit? Kamu?” “Sudah ya?” Rayyan menutup pembicaraan. Rayyan memandang Amanda yang sepertinya menunggnya untuk bicara. “Bagaimana?” tanya Rayyan. “Aman, dok..” jawab Amanda. “Syukurlah..” Rayyan terlihat lega. “Apa tidak sebaiknya klinik kita buka saja dok?” “Tidak usah sampai kondisi Jessi baik. Bagaimanapun dia adalah anggota di klinik. Kita semua satu keluarga. Orangtua Jessika tidak ada disini, jadi kita sebagai keluarganya yang akan menjaga dia." “Tapi kenapa Jessika bisa terluka dok?” “Nindy masuk dengan membawa pisau.” “Apa?” “Gadis itu sudah tak bisa dibiarkan. Dia akan berbahaya untuk yang lain.” “Kita laporkan saja dok, karena dia sudah mulai meresahkan. Awalnya kita sudah berusaha mendiamkan masalah ini.. Tapi sekarang Jessi jadi korban.. Saya juga tahu kalau dokter dan kak Ruby sering bertengkar sejak dia selalu menghubungi kak Ruby." “Kadang aku sampai berpikir.. Apa yang salah, kenapa Nindy sepertinya ingin sekali menghancurkan hidupku?" “Namanya juga ada gangguan dok, sabar saja..” kata Amanda. “Kasihan Jessika..” kata Rayyan. “Aku mau mengurus administrasi, kamu tunggu disini.” “Baik, dok.” Rayyan meninggalkan tempat itu. “Eh, handphone dokter tinggal. Yach, sudah pergi. Aku simpan saja..” kata Amanda. “Dokter Amanda..” panggil Raissa. Amanda menoleh. “Astaga.. Cepat sekali dia sampai disini? Bahkan kak Ruby saja belum muncul,” gumam Amanda. “Daebak.. Dia penyidik yang luar biasa." Raissa berjalan menghampiri. “Mana Rayyan?” tanya Raissa. “Mengurus administrasi..” jawab Amanda. “Itu handphone dia kenapa dengan kamu?” Raissa memandang curiga. “Tertinggal.” “Sini,” kata Raissa. “Jangan kak..” cegah Amanda. “Aku mau iseng mengerjai Ruby.” “Jangan kak.. Mereka lagi ada masalah, nanti makin runyam..” “Halah, masa bercanda tidak boleh..” Raissa mengeluarkan handphonenya. “Jessika sedang dalam kondisi serius kak, dokter lagi pusing.. Jangan membuat dia makin mumet”. “Otak dan pikirannya perlu disegarkan dengan candaan..” kata Raissa. “Hai, Ruby..” “Ada apa? Aku sedang sibuk. Sebentar lagi mau meeting”. “Sebentar saja, kita ngobrol..” “Aku tidak punya waktu! Sudah ya?” “Ya sudah, tadinya aku mau bilang, di klinik sedang ada masalah.. Rayyan sepertinya sedang panik, kamu harusnya datang menemani dia. Tapi karena kamu sibuk ya sudah.. Biar aku gantikan kamu menemani dia..” “Apa?” “Bye..” “Awas kamu kalau berani merayu calon suamiku”. “Sebentar lagi juga tamat kisahmu dengan dia.. Aku yakin tak lama lagi dia bosan denganmu..” Raissa menutup pembicaraan. “Mampus!” Handphone Rayyan yang berada di tangan Amanda berdering. “Ya, kak.. Ini Amanda, handphone dokter ketinggalan, dia sedang mengurus administrasi”. “Oh..” “Nanti saya suruh telpon balik ya kak..” “Perempuan itu ada disana? Ngapain dia?” tanya Ruby. “Tidak tahu kak.. tiba-tiba muncul." “Siapa yang sakit?” “Jessika kak. Nindy tiba-tiba datang tadi ke klinik dan menusuk Jessika”. “Lalu bagaimana?” “Masih dalam penanganan.. Lukanya cukup dalam dan dia banyak kehabisan darah..” “Oh, baiklah.. Nanti setelah meeting aku kesana." “Ya kak..” Amanda menutup pembicaraan dan memandang Raissa yang menatapnya. “Kenapa kak?” tanya Amanda. “ Ruby mau kesini?” tanya Raissa. “Mungkin.. Dia masih ada meeting,” kata Amanda. Handphone Rayyan kembali berdering. “Dari siapa?” tanya Raissa. “Tidak tahu.. namanya Faishal,” kata Amanda. “Ternyata sudah 3 kali menelpon dari tadi”. “Angkat saja.. Atau aku saja yang angkat?” “Tidak usah, kak.. Itu dokter sudah datang,” kata Amanda. Raissa menoleh, melihat Rayyan yang berjalan menghampiri. “Kenapa bisa kejadian seperti ini?” tanya Raissa. “Tidak tahu, tiba-tiba saja..” jawab Rayyan. “Maaf,dok.. Tadi handphone dokter ketinggalan, ada panggilan 3 kali dari Faishal..” potong Amanda sebelum Raissa bicara. “Tidak kamu angkat?” tanya Rayyan. “Sudah aku bilang tapi dia takut..” kata Raissa. “Itu dari Adiknya Ruby yang polisi..” jelas Rayyan. “Tapi kamu tidak apa-apakan? Apa dia ingin membunuhmu tapi Jessika yang kena?” tanya Raissa. Rayyan tak menjawab saat melihat sosok Faishal adiknya Ruby. “Shal.. Disini,” panggil Rayyan. Faishal menoleh dan segera berjalan menghampiri. “Aku tadi sedang rapat waktu abang menelpon..” kata Faishal. “Tapi aku telpon-telpon tidak diangkat, lalu aku membaca WA abang dan langsung kesini”. “Ya..” “Tangkap saja perempuan itu, dia benar benar sudah gila!” kata Raissa kesal. “Kita bicara di tempat lain.. Amanda, kamu tunggu disini,” kata Rayyan. “Baik, dok..” “Ayo..” Rayyan mengajak Faishal menjauh dari tempat dimana Amanda dan Raissa menunggu. “Duduk kak.. Jika ingin menunggu,” kata Amanda. “Apa kakaknya Nindy sudah tahu?” tanya Raissa. “Entahlah, kami tidak sempat memikirkan untuk menghubunginya”. Raissa duduk di samping Amanda. “Ceritanya berawal bagaimana?” Raissa penasaran. “Ya, saya tidak tahu juga kak.. Semua terjadi begitu cepat. Saya malah tidak tahu Nindy tadi datang karena tidak berada di ruangan..” jawab Amanda. “Oh..” “Kasihan Jessika.. Sepanjang jalan merintih kesakitan”. “Dokter Amanda..” panggil Keisha. Amanda dan Raissa menoleh. Keisha buru buru menghampiri keduanya. “Apa saja yang kakak lakukan? Kakak tahu seperti apa Nindy?” tanya Raissa. “Dia sekarang nekat melukai orang!” “Dokter Rayyan mana?” tanya Keisha. “Itu.. sedang bicara dengan polisi,” kata Amanda. Keisha bergegas menghampiri Rayyan yang sedang bicara dengan Faishal. “Maaf, dokter..” sapa Keisha. Rayyan dan Faishal menoleh. “Tolong, jangan laporkan perbuatan Nindy..” pinta Keisha. “Dia tidak sadar saat melakukannya..” “Jika kakak tahu dia sakit dan ketika aku mengantarnya ke rumah sakit.. Kenapa kakak berjuang mengeluarkannya?” tanya Rayyan. “Sebenarnya.." “Jujur saya sebenarnya sangat marah kak.. Sudah mulai merasa kenyamanan saya terganggu. Kemarin kakak meminta atau mungkin lebih tepatnya meracuni pikiran Ruby hingga membuat sedikit masalah di klinik. Lalu pagi ini tiba tiba Nindy muncul dan melukai salah satu karyawan saya. Ini sudah tidak bisa dibiarkan kak..” protes Rayyan. “Aku tahu ini salah..” “Hari ini Jessika yang menjadi korban.. kakak tahu apa yang diucapkannya pada saya ketika melukai Jessi?” tanya Rayyan. Keisha menggeleng. “Dia berkata, sampai aku mengakui dosa yang aku perbuat, dia akan terus melukai orang di dekatku satu persatu..” kata Rayyan. “Apa itu bukan hal yang gila?” “Dosa apa maksudnya, bang?” tanya Faishal. “Dia selalu menuduh dokter Rayyan melakukan pembunuhan yang tak pernah terbukti..” jawab Keisha. “Kamu ingatkan Ruby untuk tidak keluar sendirian..” kata Rayyan. “Khawatirnya Nindy akan terus berkeliaran..” “Baiklah, aku balik ke kantor dulu bang..” pamit Faishal. “nanti kita ngobrol lagi bang..” “OK..” Faishal meninggalkan tempat itu. “Rayyan, kamu tidak melaporkan Nindy ke polisi kan?” “Maaf kak.. aku masih ada urusan..” Rayyan meninggalkan Keisha. Keisha menghampiri Amanda. “Bantu bicarakan pada dokter untuk tidak memperkarakan Nindy..” kata Keisha. “Masalahnya Jessi luka parah oleh perbuatan Nindy, kak..” kata Amanda. “Harusnya kakak bisa menjaga Nindy!” kata Raissa. “Sudah tahu dia gila!” “Dia tidak gila, hanya terlalu terobsesi pada cerita yang ia buat.. dan mungkin ada kecemburuan dan kekecewaan juga..” “Apapun itu yang jelas dia sudah melukai orang lain,” kata Raissa. “Dan dia sendiri mengatakan kalau dia menjanjikan akan terus melukai siapapun orang yang di dekat Rayyan sampai Rayyan membuat pengakuan!” tukas Raissa. “Pikirkan hidup orang-orang yang tak bersalah itu kak”. “Apa ada saksinya kalau Nindy mengatakan hal itu?” tanya Keisha. “Maksud kakak?” “Apa bukan hanya ucapan Rayyan agar bisa menjebloskan Nindy ke penjara?” “Kakak mencurigai dokter?” tanya Amanda. “Tidak ada saksinya yang menguatkan kata-kata Rayyan”. Amanda dan Raissa saling pandang. “Ada.. Jessika adalah saksi kunci,” kata Raissa. “Dan pastinya dia akan menjawab keraguan kakak”.