“Kamu sudah gila, Nindy?” tanya Keisha. Ia baru saja tiba di rumah. “Kenapa sih Kak? datang datang marah?" tanya Nindy. Perempuan itu bicara tanoa menoleh, sibuk membuat gambar di buku sketsa miliknya. “Bagaimana bisa kamu melukai karyawan di klinik Rayyan? Aku tadi lewat di klinik itu lalu melihat ramai orang disana, aku mendengar orang orang bicara kalau ada yang terluka dan dilarikan ke rumah sakit." “Oh, Jessika?” wajah Nindy terlihat datar. “Ya..” “Rayyan yang harus bertanggungjawab.” “Bagaimana kamu bisa begitu tenang ketika ada orang yang terluka parah akibat perbuatanmu?” tanya Keisha. “Pertanyaan itu harusnya kakak tujukan pada Rayyan. Kenapa dia begitu tenang setelah membunuh orang dengan sadis? Dan itu seorang anak kecil.” “Tidak ada pembunuhan disana. Semua itu hanya khayalan kamu saja!” “Aku sudah muak kak! Suatu hari aku akan mampu membongkar semuanya!” Nindy masuk ke kamarnya sambil membanting pintu. Keisha duduk di sofa. “Apa yang harus aku lakukan pada Nindy?” keluh Keisha. Handphonenya Keisha berdering. “Hallo..” “Kak Keisha,” sapa Raissa. “YA, ada apa Raissa..?” “Ada yang ingin aku katakan, bisakah kita bertemu?” “Tidak sekarang, Raissa.. Aku sedang pusing." “Baiklah.. Istirahat saja yang cukup." “Terimakasih..” Keisha menutup telponnya. “Apa yang harus aku lakukan?” keluh Keisha.
Di rumah Sofie.. Dari mana saja kamu?” tanya Ruby. “Dari tadi kami semua berkumpul disini”. “Aku sedang banyak pekerjaan..” jawab Faishal . “Tapi kamu kan tahu kalau hari ini papa ulang tahun? Papa sampai bosan menunggu kamu dan pergi keluar”. “Sudahlah, Ruby..” kata Sofie. “Papa keluar bukan karena bosan menungguku, tapi karena omelan panjangmu itu kak..” kata Faishal. “Semoga saja bang Rayyan kuat menghadapi sikapmu..” “Apa kamu bilang?” tanya Ruby. “Sudah tahu pekerjaanku adalah penyidik,” Faishal duduk di sofa. “Dan aku bukan polisi yang berpangkat hebat..” “Sudahlah, kalian ini selalu saja tidak pernah akur,” tegur Sofie. “Papa kemana, kak?” tanya Faishal. “Ngambek.. Dia mau merayakan ulang tahunnya sendiri,” kata Ruby. “Punya anak laki-laki hanya satu tapi tak pernah bisa meluangkan waktu untuk papanya”. “Dan apa kabar anak perempuannya yang masih sendiri tapi bisa tidak pulang selama 4 tahun, apa tidak rindu rumah?” “Aku study ya.. kalau pulang berat di ongkos,” kata Ruby. "Sudah.. Jangan bertengkar," lerai sofie. “O iya, karyawannya bang Rayyan ditusuk orang. Bang Rayyan bilang, kakak kalau keluar hati-hati. Kalau perlu biar diantar jemput saja”. “Kok kamu tahu?” tanya Ruby. “Tadi bang Rayyan menelponku..”jawab Faishal. “Bagaimana kondisi Jessika?” “Korban masih dalam penanganan tadi. Kehilangan banyak darah..” jawab Faishal. "Nindy menusuknya sangat dalam". Ruby termenung sesaat. “Faishal, bisa kita bicara serius?” tanya Ruby. “Kenapa?” “Nindy si pelaku penusukan sering kali meneror aku..” cerita Ruby. “Oya? Kenapa kakak tidak pernah bilang?” “Aku pikir dia hanya berhalusinasi”. “Dia bilang apa?” “Katanya Rayyan sudah melakukan pembunuhan. Di klinik itu dia banyak menguburkan korbannya. Aku mencoba menggalinya..” “Lalu?” “Aku tidak mungkin sanggup melakukannya..” “Nindy itu siapa?” tanya Sofie sambil duduk di samping Ruby. “Dia karyawannya Rayyan, hanya bekerja 4 bulan..” “Pendapat yang lain bagaimana?” “Semua karyawan disana menyebut Nindy ada masalah kejiwaan.. Mereka mengatakan kalau Nindy terlalu menjiwai cerita bergambar yang ia tulis..” “Ia penulis cerita misteri?” tanya Faishal. “Sepertinya begitu..” “Dia punya bukti?” “Jessika pernah bilang, sudah pernah dilakukan pembongkaran disana, dan polisi tidak menemukan apapun disana selain bangkai hewan yang mungkin mati di klinik itu dan tidak diambil pemiliknya.. Itu juga sepertinya sudah lama. Sebelum dijadikan taman untuk tempat istirahat bagi klien yang menunggu..” cerita Ruby. “Pastinya polisi sudah memeriksa jika ada orang yang hilang, bagaimanapun jika memang Rayyan melakukan hal yang dituduhkan Nindy, pasti akan terbongkar dari pencarian orang hilang. Tapi jika kasus itu ditutup pastinya memang Nindy memiliki daya khayal yang luar biasa..” timpal Sofie. Ruby memandang Sofie. “Jadi menurut kakak?” “Kamu kenal Nindy dimana?” tanya Sofie. “Kebetulan.. waktu itu tidak sengaja mobil Rayyan hampir menabrak dia. Dan sejak saat itu dia terus mencoba menghubungiku dengan cerita-cerita yang mengerikan”. “Dia suka dengan bang Rayyan?” tanya Faishal. “Aku rasa begitu.. Bertemu Rayyan umur 10 tahun dan sangat mengaguminya. Lalu bekerja di klinik Rayyan tapi hanya bertahan 4 bulan. Dia bilang dia keluar karena merasa Rayyan berbeda dari yang ia lihat dulu”. “Aduh, ini sepertinya berawal dari masalah cinta..” kata Sofie. “By the way.. Papa kenapa belum pulang ya?” "Coba ditelpon..” kata Faishal. “Sebentar..” kata Ruby. “Bagaimana?” “Tidak diangkat..” “Kakak berdua juga aneh.. Bagaimana bisa membiarkan papa keluar sendirian?” tanya Faishal. “Kamu seperti tidak kenal papa saja.. Papa itu selalu menyebut dirinya kuat”. “Tapi umur papa sudah berapa? Sudah berapa kali kukatakan.. Jangan biarkan papa keluar sendiri!" geruu Faishal. “Papa tidak mau dikawal kalau bepergian.. Dia bilang seperti orang sakit saja, aku kuat.. Begitukan?” kata Ruby. “Tetap saja.. Papa itu sudah berapa usianya?” tanya Faishal sambil mencoba menghubungi nomor handphone papa. “Tidak diangkat..” “Jadi bagaimana?” tanya Sofie cemas. “Tidak terjadi sesuatu kan dengan papa?” “Sekarang kalau sudah seperti ini mau cari papa kemana? Masa kalian tidak bertanya kemana papa pergi?” “Aku sedang mengurus Atta yang rewel..” kata Sofie. “Jangan menyalahkan aku”. “Lalu aku yang salah?” tanya Ruby. “Lalu siapa yang mau disalahkan?” tanya Sofie. “Aku baru pulang dari kantor setelah meeting. Masih sangat lelah. Jadi aku gak kepikiran kalau papa akan nekat keluar sendirian.. Lagi pula selama ini papa keluar tidak pernah ada masalah..” “Tapi kakak selalu tahu kan kemana papa pergi walau sendirian? Tahu kemana mencarinya?” tanya Faishal. “OK, aku salah!” “Sudah, aku cari papa..” kata Faishal. “Aku ikut..” kata Ruby. “Kak Sofie tetap di rumah ya.. coba telpon papa terus menerus..” “Ok..” “Ayo kak..” Handphone Faishal berdering. “Ini papa menelpon..” kata Faishal.“Hallo Pa..” “Selamat malam, kami dari pihak rumah sakit Anugrah.. Ini dengan pak Faishal?” “Ya.. benar,” kata Faishal. “Baru saja terjadi kecelakaan dan korban berusia 68 tahun.. Di handphone nya kami melihat kalau nomor telpon yang barusan menghubungi nomor beliau adalah nomor pak Faishal..” “Barusan saya mencoba menelpon papa tapi tidak diangkat..” “Benar.. Dan karena itu kami langsung mencoba menghubungi nomor bapak”. “Baiklah saya akan segera ke rumah sakit”. “Baik, pak..” “Ada apa?” tanya Ruby. “Papa kecelakaan..” “Apa?” “Ayo kak.. kita ke rumah sakit,” kata Faishal. “Aku ikut..” kata sofie. “Kakak di rumah aja.. tunggu kabar dari kami..” “Kabari aku..” Faishal bergegas keluar bersama Ruby. “Bagaimana kejadiannya?” tanya Ruby setelah mereka berada di mobil. “Tidak tahu.. Aku belum sempat bertanya.. Aku pikir yang penting kita ke rumah sakit dulu,” “Semoga papa tidak apa-apa..” harap Ruby. “Aku harusnya tidak membiarkan papa pergi sendiri..” “Tenang kak.. Jangan menyalahkan diri,” hibur Faishal.