Api yang Belum Padam dalam Dada Alina
Rumah besar yang kini ditempati Alina terasa lebih sunyi dari biasanya. Malam menggantung pekat dan angin dingin menyelinap masuk lewat celah jendela yang lupa ditutup Arkanza pagi tadi. Lampu ruang tamu menyala sayup, menerangi tubuh Arkanza yang terbaring di sofa panjang. Perban di bahu kirinya sedikit bergeser, memperlihatkan memar keunguan yang masih mengeras.
Alina berjalan pelan menghampirinya dengan baskom air hangat dan kain bersih di tangan. Ia tidak berkata apa pun pada awalnya. Ia menunduk, merendam kain, memerasnya, lalu menempelkan perlahan pada pipi Arkanza yang terlihat sobek di beberapa bagian.
Arkanza meringis kecil. “Au… pelan sedikit, Na.”
Alina tidak melihat wajahnya. “Kalau mau tidak sakit, jangan bodoh.”
Arkanza tersenyum pelan, senyum yang hanya muncul ketika ia melihat Alina marah, karena bagi Arkanza, amarah Alina adalah bentuk perhatian paling jujur yang pernah ia terima dari manusia mana pun.
“Aku tidak bodoh,” ujarnya lirih. “Aku cuma tidak mau kamu disakiti.”
“Dan kau hampir mati karenanya,” balas Alina tanpa nada simpati.
Ia menepuk pipi Arkanza sedikit keras. “Aku tidak menyuruhmu berkelahi. Aku tidak menyuruhmu menyerang Dante.”
“Kalau aku tidak menyerangnya, malam ini kamu yang mungkin.”
“Aku bisa mengurus diriku sendiri,” potong Alina cepat. Nada suaranya dingin. “Aku tidak membutuhkan siapa pun untuk menyentuh urusan dendamku.”
Namun, tangan Alina yang sejak tadi menyentuh luka-luka Arkanza justru bergerak lebih lembut sekarang.
Arkanza menatapnya. “Aku lega kamu sudah tidak bersama Dirga.”
Alina berhenti mengusap. Matanya menatap Arkanza sejenak, dingin. Namun, memantulkan sesuatu yang sulit dijelaskan, seperti pengakuan bahwa ada sedikit ruang di dirinya untuk lelaki yang kini rebah di hadapannya.
Arkanza meraih tangan Alina dan mengecupnya perlahan. “Akhirnya kamu kembali ke tempat yang benar.”
Alina menarik tangannya tanpa keras, hanya sedikit cepat. “Jangan bertingkah seolah aku milikmu. Aku belum selesai.”
“Dante?” tanya Arkanza.
“Tentu saja.”
Alina berdiri. Ia merapikan perban di lengannya. “Harta Dirga sudah dalam genggamanku, saham-sahamnya, rumah-rumahnya, bahkan aset pribadinya, tapi bukan itu yang membuatku bertahan hidup selama ini.”
“Membunuh Dante,” gumam Arkanza menebak.
“Ya.” Alina menatap jauh ke arah jendela. “Membunuh Dante adalah satu-satunya alasan aku masih berjalan di dunia ini. Tanpa itu, semua yang kulakukan hanyalah omong kosong.”
Arkanza menarik napas panjang. “Kamu tidak harus melakukannya sendiri. Ada aku.”
“Tidak,” jawabnya tegas. “Itu bukan tentang bantuan. Itu tentang keadilan yang tidak diberikan dunia padaku. Itu urusan darah yang cuma bisa selesai dengan darah.”
Arkanza tahu dia tidak akan pernah memenangkan perdebatan itu. Ia hanya bisa menatap Alina yang tampak berbeda, lebih kuat, lebih dingin dan lebih jauh dari yang ia kenal dulu.
Pagi berikutnya, seluruh lantai empat puluh gedung perusahaan sudah bersiap menyambut kedatangan pemimpin baru mereka. Para karyawan berdiri berbaris rapi, wajah-wajah gugup bercampur rasa hormat menunggu lift terbuka dan ketika pintu lift itu bergeser, Alina melangkah keluar dengan setelan jas hitam elegan yang memeluk tubuhnya sempurna. High heels-nya mengetuk lantai marmer, mengeluarkan suara yang membuat semua orang menahan napas.
Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan.
Hanya tatapan tajam yang membuat siapa pun otomatis menunduk.
Perusahaan yang dulu dipimpin Dirga kini berada di bawah kendalinya. Proses peralihan itu cepat, terlalu cepat. Namun, tidak ada seorang pun yang berani mempertanyakan kenapa. Dunia bisnis kejam dan tidak pernah menanyakan alasan selama pemilik baru bisa menunjukkan hasil dan Alina lebih dari sekadar menunjukkan hasil.
Dalam tiga bulan saja, grafik pertumbuhan perusahaan melonjak lima kali lipat. Media mulai menyebutnya “Ratu Besi Baru Dunia Korporasi.” Analis pasar menyebutnya “Keajaiban Dengan Wajah Dingin.” Dan investor besar mengakui mereka tidak pernah melihat pemimpin seagresif dan sehebat itu dalam satu generasi terakhir.
Setiap pagi rapat dimulai dengan tegang karena Alina tidak mengenal kata kompromi. Ia membongkar strategi lama, mengubah struktur organisasi, memecat dua direktur senior hanya dengan satu kalimat. “Anda tidak layak duduk di ruangan ini.”
Tidak ada yang berani menatap matanya lebih dari dua detik.
Namun, semua orang tahu satu hal. Perusahaan itu menjadi mesin uang paling buas dalam sejarahnya.
Malam itu, setelah semua karyawan pulang, Alina berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya. Jakarta tampak seperti lautan lampu yang berdenyut tanpa henti. Tangannya menyentuh kaca dingin, otaknya terus bekerja menyusun langkah-langkah berikutnya.
Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka perlahan.
Arkanza masuk dengan langkah pelan. Luka-lukanya belum sembuh, tapi ia tetap memaksa berdiri gagah di hadapan Alina.
“Kamu belum pulang?” tanyanya.
“Aku tidak butuh istirahat.”
Arkanza mendekat. “Alina… walau kamu tidak mengatakan apa pun, aku tahu kamu sedang mempersiapkan sesuatu.”
Alina menoleh. Tatapannya tenang, tapi tajam. “Aku tidak pernah berhenti mempersiapkan sesuatu.”
Arkanza menatap wajah yang dulu sering ia lihat tersenyum kecil, wajah yang kini jauh lebih dingin dan misterius. “Kamu akan mengejar Dante lagi?”
“Dia masih berkeliaran,” jawab Alina. “Dan aku tidak akan membiarkan itu.”
Arkanza mengusap dahinya sendiri yang masih memar. “Kalau dia bergerak duluan?”
Alina tersenyum tipis, senyum yang membuat siapa pun merinding. “Tidak mungkin. Dante tahu aku sedang mengincarnya, tapi dia lupa satu hal, aku tidak bekerja seperti manusia normal.”
Arkanza menelan ludah. Ia selalu tahu Alina gelap, tapi tidak pernah sedalam ini.
“Jadi, apa rencana kamu?” tanya Arkanza.
“Aku akan menghancurkan semuanya satu per satu. Dimulai dari apa yang Dante miliki sekarang.”
“Termasuk Dirga?”
Alina tidak menjawab. Namun, matanya mengabarkan sesuatu yang tak terkatakan, sesuatu yang bahkan Arkanza pun sulit menjangkaunya.
Lalu ia melanjutkan, “Dirga sudah hancur. Skandal yang kamu sebarkan bekerja dengan sempurna.”
Arkanza terdiam. “Kamu… marah soal itu?”
“Tidak.” Alina memutar tubuhnya menghadap Arkanza, “tapi aku tidak pernah meminta bantuanmu. Aku tidak pernah mempercayaimu untuk mengambil alih bagian mana pun dari rencanaku.”
Arkanza tertunduk sedikit. “Aku hanya ingin memastikan kamu bebas dari dia.”
“Kamu lupa sesuatu.” Alina meraih dagu Arkanza. “Aku tidak pernah menjadi milik Dirga. Tidak semenit pun.”
Arkanza menutup mata sejenak, membiarkan tangan Alina menyentuh wajahnya. “Sekarang kamu tidak terikat siapa pun.”
Alina mendekat. Wajah mereka berjarak hanya beberapa sentimeter.
“Aku memang tidak terikat siapa pun,” bisiknya. “Termasuk kamu.”
Arkanza tertawa pelan, “tapi kamu merawatku.”
“Karena aku membutuhkanmu tetap bernapas,” jawabnya cepat. “Setidaknya sampai urusanku selesai.”
Arkanza menatap mata itu dengan mata hitam yang tidak punya belas kasihan. “Setelah urusanmu selesai… apa kamu akan membunuhku?”
Alina tersenyum tipis. “Kenapa? Kamu takut?”
“Tidak,” jawab Arkanza tenang. “Aku hanya ingin tahu apa aku harus mati di tanganmu atau hidup di sampingmu.”
“Belum tentu keduanya,” gumam Alina.
Keesokan paginya, suasana kantor kembali normal. Para karyawan bekerja seperti mesin, tepat waktu, akurat dan dipenuhi ketakutan produktif, tapi bagi Alina, hari itu tidak sama seperti biasanya.
Hari itu ia akan memulai rencana barunya.
Ia berjalan memasuki ruang rapat utama, langkahnya mantap. Para direktur sudah menunggu. Semua berdiri saat ia masuk.
“Duduk,” perintah Alina tanpa menoleh.
Presentasi dimulai. Namun, pikiran Alina tidak pada laporan atau grafik.
Pikirannya hanya pada satu nama.
Dante Ginanjar Anshar dan cara paling elegan untuk membuat pria itu bertekuk lutut.
Arkanza memperhatikan dari sudut ruangan, paham bahwa badai besar sedang disusun oleh perempuan yang tidak pernah gagal menyelesaikan dendamnya.
Ketika rapat berakhir, Alina mengunci pintu ruangannya dan membuka laptop pribadi yang tidak tersambung ke server mana pun.
Ia membuka folder berisi file-file rahasia, rekaman, foto, laporan medis, salinan sertifikat properti dan ratusan data ilegal yang selama bertahun-tahun ia kumpulkan.
Semua tentang Dante.
Namun, ada satu folder lagi di bawahnya.
Folder itu bernama, DIRGA PRAMANA.
Arkanza yang berdiri di belakangnya terkejut melihat nama itu.
“Kamu masih menyimpan datanya?” tanya Arkanza.
Alina tidak mengangkat kepala. “Semua musuh harus dipetakan. Termasuk orang yang jatuh cinta padaku.”
“Dirga tidak akan pernah mengganggumu lagi.”
“Tentu saja tidak,” Alina menutup laptopnya. “Karena setelah ini, dia tidak punya apa pun lagi.”
“Dan Dante?” Arkanza bertanya.
Alina tersenyum gelap, senyum yang membuat Arkanza merinding meski ia mencintai perempuan itu lebih dari hidupnya sendiri.
“Dante akan kehilangan nyawanya,” jawabnya lirih, “tapi sebelum itu… aku akan mengambil seluruh dunia yang dia miliki. Aku ingin dia merasakan apa rasanya ketika hidupmu dicabik dari semua sisi.”
Arkanza menatapnya lama. “Alina…”
Alina memandang balik. “Ya?”
“Kalau kamu sudah menyelesaikan semuanya… apa kamu akan bisa bahagia?”
Alina menghela napas seakan pertanyaan itu terlalu konyol untuk ditanggapi.
“Bahagia?” Ia tertawa kecil. “Aku tidak hidup untuk bahagia, Arkanza.”
Ia berjalan ke jendela, menatap kota yang tampak mungil di bawah sana.
“Aku hidup untuk memastikan bahwa semua orang yang menyentuh hidupku dengan darah… akan membayar dengan darah.”
Dan di balik tatapan itu, rencana besar mulai menggulung, siap menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya.
Termasuk Dante.
Termasuk Dirga dan mungkin bahkan termasuk Arkanza.