“Maaf.. kami tidak mampu menyelamatkan pak Gunawan..” kata-kata itu membuat Ruby tak mampu menahan tangisannya. Faishal memeluk tubuh Ruby yang langsung melepaskan tangisnya di dadanya. Mereka baru tiba di rumah sakit ketika menerima kabar duka tentang papa. Meratapi jenasah papa yang terbujur kaku. Dan tangisan yang tak bisa berhenti hingga mereka mengantar papa ke peristirahatan terakhir. Bahkan Ruby masih terduduk di samping peristirahatan papa sambil mengusap papan nisannya. “Ruby,” panggil Rayyan. Ruby menoleh. “Ayo pulang..” “Aku masih ingin menemani papa..” “Ayolah.. “Rayyan menarik perlahan tangan Ruby. “Nanti papa tidak tenang.” Ruby mengikuti Rayyan meninggalkan perkuburan. Di dalam mobil sudah menunggu Sofie dan Atta. “Faishal mana kak?” tanya Rayyan sambil masuk ke mobil. “Sudah pulang dengan temannya..” jawab Sofie. “Oh..” Sofie memandang Ruby. “Kamu tidak apa-apa, Ruby?” tanya Sofie. “Faishal benar.. Harusnya aku temani papa keluar, aku malah membiarkan papa sendiri hanya karena selama ini papa selalu melakukan semua hal sendiri. Papa bahkan masih sering menjemputku pulang kantor sebelumnya..” sesal Ruby. “Sudahlah.. Bukan salah kamu. Kami semua tidak menyalahkanmu sedikitpun,” kata Sofie. “Ruby, papa gak akan suka kalau kamu seperti ini,” kata Rayyan. “Ikhlaskan..” “Papa begitu bersemangat ketika aku bilang akan menikah.. Dia menyiapkan segalanya. Ketika aku marah pada Rayyan dan mengungkapkan padanya kalau aku ingin membatalkan pernikahan.. Papa terus menasehatiku agar menjadi orang yang sabar dan agar aku lebih tenang.. Papa selalu bilang kalau ingin melihatku duduk di pelaminan. Setelah begitu lama pernikahan kak Sofie, dia harus menunggu hari pernikahanku.. Tapi dia pergi sebelum acara pernikahanku. Dan semua itu salahku..” tangis Ruby. “Tidak ada yang salah.. Ini semua takdir," kata Rayyan. “Tapi..” “Sudahlah Ruby,” kata Sofie. “Nanti papa jadi tidak tenang..” Ruby tak menjawab. “Nanti setelah lewat seminggu papa.. kita akan bahas pernikahanmu dengan Rayyan. Tunggu ayahnya Atta datang..” “Ayah kapan datang, Ma?” tanya Atta. “Tadi tidak terkejar pesawat penerbangan pertama.. Jadi ayah tidak bisa ikut menguburkan kakek,” jawab Sofie. “Begitu tiba-tiba, padahal ayahnya Atta baru berangkat kemarin ke kalimantan." “Sudah takdir kak..” kata Rayyan. “O iya, Faishal cerita tentang masalah penikaman terhadap karyawanmu,” kata Sofie. “Bagaimana kondisinya?” “Alhamdulillah Jessi sudah sadar kak.. Tapi masih butuh perawatan intensif”. “Kasihan..” “Kak..” Ruby memandang Sofie. “Ada apa?” tanya Sofie. “Mungkin tidak ya.. kalau Papa mengalami kecelakaan akibat ulah Nindy?” “Maksud kamu?” “Sebentar..” Ruby mengeluarkan handphonenya. “Kamu mau menelpon siapa?” tanya Sofie. “Faishal..” jawab Ruby. “Untuk apa?” Ruby tak menjawab. “Hallo..” sapa Faishal. “Kamu dimana, Shal?” “Baru sampai di rumah, mau membereskan barang barang papa..” “Kami segera kesana. Jangan kemana-mana,” Ruby menutup telponnya. “Kak..” panggil Ruby. “Kita pulang ke rumah papa ya? Nanti saja kakak sama Atta pulang ke rumah.” “Kenapa?” “Bilang saja sama ayahnya Atta untuk langsung ke rumah papa kalau dia sudah sampai disini.. Atau nanti biar Rayyan yang mengantar kakak dan Atta pulang, bagaimana?” “Tidak apa-apa. Nanti biar ayahnya Atta saja yang menyusul. Nanti kita semua tidur di rumah papa," usul Sofie. Mobil Rayyan segera meluncur ke rumah Ruby.
Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di rumah. ”Shal..” panggil Ruby. “Ada apa, kak..?” “benarkah kecelakaan yang dialami papa itu murni sebuah kecelakaan?” tanya Ruby. “Maksud kakak?” tanya Faishal. “Ingat tidak? Kamu bilang Nindy sempat mengancam Rayyan saat melukai Jessika..” tanya Ruby. Faishal memandang Rayyan. “Kemarin abang bilang agar aku mengingatkan kak Ruby untuk hati hati dan usahakan untuk menjaga kak Ruby..” ingat Faishal. “Karena Nindy mengancam akan menyakiti orang-orang yang ada di dekat abang.. Begitukan?” tanya Faishal. “Ya.. Jessika bisa bersaksi saat kalian sudah bisa menanyainya..” jawab Rayyan. “Mungkinkah dia yang membuat kecelakaan itu? Papa adalah calon mertua Rayyan.. Juga orang terdekat Rayyan kan?” kata Ruby. “Ya..” “Tapi itu mustahil,” kata Rayyan. “Nindy kan tidak kenal dan tak pernah tahu seperti apa papa..” sanggah Rayyan. “Tapi dia mampu menyelidiki. Bukankah dia selalu mengikutiku? Dia tahu semua tentangku.. Sang penguntit itu bahkan mungkin tahu saat aku ke toilet,” ujar Ruby. “Aku mencurigainya..” “Gak bisa menuduh tanpa bukti kak..” Faishal mengingatkan. “Tapi ini pasti perbuatan dia!” Faishal kembali memandang Rayyan. “Hari ketika dia melukai Jessika itu kejadiannya bagaimana?” tanya Faishal. “Pagi itu aku seharusnya praktek tapi karena ada urusan, menyelesaikan pesta pernikahan kami, aku meminta dokter Amanda datang menggantikanku. Ternyata sebelum jessika menelpon, dokter amanda sudah datang karena handphonenya ketinggalan. Semua terjadi begitu cepat. Kami juga belum sempat membuka klinik ketika tiba tiba nindy masuk dan menyapa dengan wajah penuh kemenangan. Dia mengaku telah merekam saat aku melakukan pemukulan pada seorang laki laki..” cerita Rayyan. “Pemukulan?” “Ya, malam itu aku pulang sudah terlalu malam bersama Ruby ketika ada sebuah motor yang dikendarai oleh dua orang pemuda. Terjadi keributan.. aku meminta Ruby untuk tidak keluar karena sebelum aku turun aku sudah melihat salah satu dari mereka menyembunyikan pisau. Karena itu lah saat keluar dari mobil aku sudah menyiapkan tongkat baseball untuk berjaga. Saat mereka menyerangku, aku pastinya melawan. Ada Ruby yang harus aku lindungi. Dalam keadaan terdesak akhirnya aku putuskan untuk memukulkan kepala salah satu mereka dengan tongkat baseball hingga salah satunya luka dengan kepala berdarah.. Nindy mengaku merekam semua itu.. Dia menyebut kalau dua lelaki itu adalah orang suruhannya”. “Tapi apa maksudnya membuat rekaman itu?” tanya Faishal. “Dia ingin aku mengakui dosaku. Aku sudah membunuh banyak anak-anak." “Abang tidak melaporkan dia?” “Aku sudah berusaha memasukkan dia ke rumah sakit jiwa. Agar kejiwaannya itu bisa diobati. Dia sebenarnya tidak gila.. Hanya terlalu hanyut dalam cerita yang ia tulis”. “Jadi dia seorang penulis ya?” “Ya.. Penulis cerita misteri dan pembunuhan”. “Dia itu sudah gila. Dan keluarganya terkesan membiarkan dia! Mereka tidak berpikir kalau akan banyak jatuh korban akibat ulah gila Nindy,” tukas Ruby. “Dan sekarang papa menjadi korbannya. Aku sungguh tidak terima!” “Kak, sabar.. kita tidak bisa menuduhkan kalau kecelakaan yang papa alami itu adalah akibat perbuatan Nindy”. “kamu kan polisi! Kamu selidiki penyebab meninggalnya papa. Biar papa juga tenang disana. Dan yang terpenting tangkap dan letakkan Nindy di rumah sakit jiwa. Kalau perlu selamanya! Agar dia tak pernah lagi melukai siapapun. Lihat kondisi Jesika. Kasihan kan? Tidak salah apapun tapi menjadi korban.. Bagaimana lukanya? Kamu tahu? Pisau itu nyaris membuat Jessika kehilangan nyawa”. “ya nanti akan aku selidiki..” janji Faishal. “Minumlah, aku membuat teh untuk kalian semua. Agar tenang dan tak akan gegabah menghadapi situasi sesulit apapun..” kata sofie sambil menghidangkan teh di meja. Rayyan tersenyum. “Terimakasih kak..” kata Rayyan. “Biarkan Faishal menyelidiki, Ruby.. Kamu tidak usah memikirkannya,” kata Sofie. “Pernikahan kamu sudah dekat dan kita tak mungkin mengundurnya. Semua sudah siap” “Ya..” “Jangan stress kak.. Biarkan aku yang berpikir. Begini saja, aku minta data dan semua cerita tentang hidup Nindy dari awal,” kata Faishal. “katakan saja apa yang ingin kamu ketahui, aku akan coba menjawab sejauh yang aku tahu..” kata Rayyan. “Lihat saja, jika sampai aku tahu kalau Nindy yang sudah mencelakakan papa.. Akan aku buat perhitungan langsung dengannya. Tidak perlu menyeretnya ke kantor polisi, karena aku tahu dia akan dilepaskan dengan alasan mengalami gangguan jiwa," tekat Ruby. "Ruby.." tegur Sofie. "Jaga ucapanmu!" "Jangan menghalangiku! Aku melakukan untuk papa". "Tapi.." Rayyan ingin bicara tapi Faishal menggeleng pada Rayyan. "Biarkan,bang.. kak Ruby jangan dibantah kalau sudah begini.." "Baiklah.." Ruby memandang photo papa di dinding. "Tenang ya pa.. Kami akan membuat papa pergi dengan tenang.." janji Ruby