Insiden yang Tak Direncanakan
Ruang konferensi hotel bintang lima itu masih menyisakan aroma parfum mahal, kopi hitam premium dan kesunyian tegang yang tertinggal setelah rapat panjang yang baru saja dipimpin Alina. Dindingnya berlapis marmer putih, lampunya menggantung seperti kristal yang dipaksa tunduk oleh cahaya yang lebih dingin dari tatapan Alina.
Para direktur yang hadir meninggalkan ruangan itu dengan langkah cepat, ingin menjauh dari sosok pemimpin baru yang memandang mereka seperti objek yang bisa ia singkirkan kapan saja jika tidak lagi berguna.
Alina merapikan jas hitam elegannya, mengambil tas tangan, lalu melangkah keluar ruangan dengan gaya tenang dan langkah yang membuat seluruh staf hotel otomatis menunduk tanpa berani menatap langsung.
Ia baru saja keluar ke koridor utama ketika sesuatu yang tak terduga terjadi.
Seseorang berbelok terlalu cepat di tikungan dan dalam sepersekian detik tubuh mereka bertabrakan cukup keras.
Sebuah tangan panjang dan kokoh spontan meraih lengannya agar ia tidak jatuh.
“Maaf!” suara lelaki itu terdengar panik, tapi berat, agak serak dan terlalu indah untuk telinga manusia biasa.
Alina menoleh dengan wajah datar. Ia tidak suka disentuh, apalagi oleh orang asing.
Pria itu tampak masih muda, mungkin pertengahan dua puluhan, ia membeku ketika melihat wajah Alina dari jarak dekat. Mata pria itu seolah kehilangan fokus sesaat, bibirnya sedikit terbuka, seakan ia baru saja melihat sesuatu yang menghentikan seluruh alam semesta.
“Aku… aku tidak melihat kamu,” katanya terbata. “Maaf sekali, aku benar-benar.”
Alina menarik lengannya dari genggaman pria itu tanpa ekspresi.
“Jangan menyentuhku,” ujarnya dingin, datar, tajam.
Pria itu langsung mundur setengah langkah. “Maaf… sungguh.”
Alina hendak berjalan pergi, tapi pria itu, entah karena bodoh atau terlalu terpukau, justru melangkah lagi ke arah yang sama sehingga tubuh mereka hampir kembali bersentuhan.
Pria itu buru-buru menyingkir dan mengangkat kedua tangan. “Aku tidak bermaksud ya Tuhan, hari ini benar-benar buruk untukku. Aku.”
Alina tidak memberi satu detik pun untuk drama itu.
Tanpa memandang lagi, ia melanjutkan langkahnya.
Namun, pria itu tidak berhenti memandang punggung Alina menjauh dengan tatapan yang benar-benar aneh, campuran terpesona, penasaran dan terpukul oleh sesuatu yang tidak ia pahami.
Pria itu menyeka rambut hitamnya yang sedikit berantakan ke belakang. Managernya yang sejak tadi mencarinya muncul dari salah satu ruangan suite.
“Aksara! Kau ke mana saja? Kita terlambat ke wawancara selanjutnya,” ujar sang manager sambil memegang ponsel dan headset.
Aksara masih memandang ke arah Alina yang berjalan anggun menuju lift.
“Siapa dia?” gumamnya tanpa sadar.
“Siapa siapa?” tanya sang manager.
Aksara tidak menjawab. Ia hanya menatap Alina sampai pintu lift menutup sepenuhnya, menyembunyikan sosok itu seperti menghilangkan warna dari dunia.
Lift turun perlahan.
Alina berdiri tegak dengan ekspresi yang tidak menunjukkan apa pun. Bagi orang lain, insiden barusan mungkin cukup untuk membuat jantung berdegup kencang, ditabrak aktor terkenal yang wajahnya ada di papan-papan billboard seluruh kota, tapi bagi Alina, hal itu tidak lebih dari gangguan kecil.
Aktor, selebritas, popularitas dansemua itu tidak berarti apa-apa baginya. Dunia hiburan adalah hal yang terlalu remeh untuk masuk dalam radar perhitungannya dan pria tadi hanya salah satu dari sekian banyak yang akan terpesona oleh hal yang mereka tidak pernah mengerti.
Alina tidak memikirkan Aksara lagi.
Pikirannya tetap fokus pada Dante. Pada langkah berikutnya. Pada strategi yang semakin matang.
Lift berdenting, pintu terbuka dan ia melangkah keluar menuju lobby hotel yang luas.
Namun, seseorang memanggilnya atau lebih tepatnya, berusaha memanggilnya.
“Permisi!”
Alina tidak berhenti.
Suara langkah cepat mendekat.
“Permisi… Nona!”
Alina berhenti hanya karena ia benci dipanggil berkali-kali.
Ketika ia menoleh, pria itu adalah Aksara yang sudah berdiri satu meter darinya dengan wajah sedikit terengah. Managernya di belakang tampak stres, jelas tidak ingin aktor itu membuat masalah di tempat umum.
“Ya?” tanya Alina, suaranya datar seperti air yang membeku di musim dingin.
Aksara menarik napas, mencoba tersenyum.
“Aku ingin minta maaf sekali lagi. Aku… tidak sengaja menabrakmu tadi.”
“Sudah,” balas Alina pendek. “Tidak perlu diulang. Sekarang permisi.”
Ia berbalik, tapi entah kenapa, Aksara berkata sesuatu yang membuat langkah Alina terhenti tanpa ia sadari.
“Aku… boleh tahu namamu?”
Manager Aksara langsung menutup wajah dengan kedua tangan. “Astaga… Aksara, tidak sekarang…”
Alina menoleh perlahan.
Pandangan matanya dingin. Menakutkan bagi orang yang tidak mengenalnya, tapi bagi Aksara, tatapan itu seperti gerbang menuju dimensi lain yang memaksanya tetap di tempat.
“Untuk apa kau ingin tahu namaku?” tanya Alina.
Aksara menelan ludah. Matanya jujur, tanpa topeng dunia hiburan yang biasanya melekat pada aktor kelas atas seperti dirinya.
“Aku… hanya ingin tahu.”
“Anda tidak perlu tahu.”
Aksara sedikit tersenyum, bukan senyum playboy atau selebritas, tapi lebih seperti seseorang yang baru terpukul sesuatu yang membuat dunianya tidak seimbang.
“Usiaku memang jauh lebih muda darimu,” ucap Aksara, “tapi usiamu juga tidak membuatmu boleh sekejam itu.”
Alina menatapnya. Diam. Tidak tersinggung, tapi juga tidak peduli.
“Dan itu urusanmu?” tanya Alina.
Aksara mengangkat kedua tangan, menyerah, namun tersenyum lagi. “Tidak. Bukan urusanku, tapi kurasa aku belum pernah melihat seseorang seperti kamu.”
“Karena kamu tidak cukup banyak melihat.”
“Justru karena aku melihat terlalu banyak,” balas Aksara pelan.
Alina tidak punya waktu untuk permainan semacam ini.
“Jaga dirimu sendiri,” katanya pendek. “Jangan berdiri terlalu dekat denganku.”
Ucapan itu dingin, tapi Aksara malah terlihat semakin tertarik.
Namun, Alina sudah berbalik, melangkah menuju mobil hitam dengan supir yang sudah siap membukakan pintu untuknya.
Ia masuk tanpa memandang ke belakang.
Aksara berdiri di lobby itu cukup lama, memandang mobil Alina yang melaju keluar area hotel.
Managernya menepuk bahunya dengan frustrasi. “Serius, Aksara? Kau jatuh hati pada wanita asing yang bahkan tidak mau menyebutkan namanya?”
Aksara tersenyum kecil, menatap kaca besar hotel yang memantulkan wajahnya sendiri.
“Tidak asing,” gumamnya. “Hanya berbahaya.”
Manager-nya mendecak. “Berbahaya? Kau baru tabrakan kecil dengannya. Bukan duel pedang.”
Aksara tidak menjawab. Baginya, auranya Alina bukan sekadar keanggunan seorang wanita dewasa yang berkuasa. Ada sesuatu yang gelap. Dalam. Memikat. Menarik seperti jurang, meski semua orang tahu jatuh ke jurang berarti mati.
Ia memegang dadanya pelan, “tapi… kenapa aku merasa aku harus mengenalnya?”
Managernya menatapnya dengan tatapan tolong jangan bikin masalah baru, tapi Aksara sudah berjalan, pikirannya berputar liar.
“Ia bahkan tidak menoleh padaku,” gumam Aksara, “tapi kenapa… aku merasa dia akan menjadi seseorang yang penting?”
Manager mengangkat bahu. “Aksara… fokus pada rating drama barumu saja,” tapi Aksara menggeleng, matanya masih terpaku pada jalan keluar hotel.
“Tidak,” ucapnya. “Perasaan ini tidak normal.”
Ia menatap jauh ke tempat mobil Alina menghilang.
“Aku akan bertemu dia lagi.”
Dan entah kenapa ia yakin.
Yakin dengan cara yang bahkan membuat bulu kuduknya sendiri meremang.
Sementara itu, di dalam mobil, Alina menatap keluar jendela tanpa ekspresi. Mobil melewati jalanan Jakarta yang ramai, lampu-lampu kota memantul di kaca.
Supirnya melirik lewat kaca spion.
“Bu… Anda tidak apa-apa?”
“Tidak.”
Jawaban itu begitu jelas dan begitu jujur.
Karena satu hal mengganggunya.
Bukan karena Aksara menabraknya.
Bukan karena tatapan pemuda itu, tapi karena sesuatu yang sangat kecil dan remeh.
Saat mereka bertabrakan, Aksara sempat memegang lengannya dan entah bagaimana itu adalah sentuhan pertama sejak lama yang tidak terasa seperti ancaman.
Alina membenci fakta itu.
Ia memejamkan mata.
“Aksara,” gumamnya pelan. “Aku tidak punya waktu untuk gangguan baru.”
Ia membuka mata lagi. Tatapannya kembali dingin.
“Jangan ada yang berani menghalangiku.”
Termasuk lelaki muda bernama Aksara.
Jika ia muncul lagi maka ia akan menjadi bagian dari permainan gelap yang bahkan ia sendiri tidak siap memasukinya.