Seira menaikkan tangannya, jemarinya menyusup ke rambut hitam Ezra yang sedikit berantakan. Dengan lembut, dia menarik wajah suaminya lebih dekat, lalu menempelkan ciuman singkat di rahang kokoh itu.
Ezra tidak bergerak. Dia membiarkan istrinya menebar sentuhan, seolah menguji kesungguhan Seira. Ciuman itu bergerak perlahan ke garis dagunya, lalu turun ke leher. Seira tahu apa yang ia lakukan, ia memainkan peran wanita patuh, istri yang hanya ingin menenangkan suami yang murka. Ada jeda panjang. Ezra menatapnya, mencoba membaca ketulusan dari sikap Seira. Yang ia lihat hanyalah perpaduan antara rasa takut, cinta, dan ambisi. Tangan Seira menyapu dada Ezra, sementara ciumannya bergerak turun, lebih dalam, lebih berani. Dalam hati, Seira menelan bulat-bulat kenyataan getir. Jika ini harga yang harus dibayar demi mengembalikan kontraknya, maka dia akan melakukannya.
Bibirnya akhirnya menemukan bibir Ezra. Ciuman itu dalam, penuh desakan, bukan sekadar rayuan. Ada kebutuhan di dalamnya. Kebutuhan untuk kembali bisa berambisi, kontrak itu. Apa sulitnya melayani Ezra, Seira sudah mahir melakukannya. Mengetahui setiap titik tubuh Ezra yang akan membuatnya lemah.
Ezra merespons, tapi dengan cara yang berbeda. Ia tidak membiarkan Seira memimpin. Tangannya mencengkeram pinggang istrinya, menariknya lebih dekat, hingga tubuh mereka benar-benar jadi satu.
Seira mendesah, terkejut oleh kekuatan genggaman itu. Tapi ia tidak melawan. Ia tahu, malam ini, melawan bukan pilihan. Ezra menekan bibirnya lebih keras, lidahnya mendominasi, seakan ingin menegaskan siapa yang berkuasa di antara mereka. Tubuh mereka bersatu di antara bayangan malam, suara-suara tertahan memenuhi ruang penthouse yang luas. Seira mengambil kendali. Dia mendorong tubuh Ezra hingga jatuh ke sofa single. Tanpa sepatah kata pun, Seira melangkah mendekat. Dengan gerakan yang anggun, dia melewatkan kakinya ke pangkuan Ezra, duduk mengangkangi pria itu. Menyisir rambutnya ke sisi samping agar Ezra bisa melihat lehernya. Seira mengangkat kedua tangannya, menangkup rahang Ezra, jemarinya mengusap garis tajam itu dengan lembut sebelum menarik wajah suaminya ke dalam ciuman.
Hangat.
Dalam dan membakar. Ezra tidak menolaknya. Sebaliknya, dia membalas dengan lebih liar, lebih menuntut. Tangan Ezra meremas pinggang Seira, memperdalam ciuman mereka dengan cara yang membuat napas Seira tercekat di tenggorokan. Mereka bukan lagi pasangan yang penuh kemesraan manis, tetapi saat seperti ini, mereka memahami satu sama lain dengan baik. Ezra hanya rindu. Dia hanya menginginkan Seira .
Ezra menggeram rendah, jemarinya menyentuh ikatan tipis di bahu Seira , melepaskannya hingga gaun tidurnya jatuh melewati bahu, memperlihatkan kulit pucat yang tersingkap di bawah cahaya temaram. Bibir Ezra bergerak turun, meninggalkan jejak panas di sepanjang bahunya, membuat tubuh Seira bergetar.
Seira memejamkan mata, tangannya meremas dalam rambut hitam Ezra, sementara pria itu terus mengeksplorasi, menuntut, dan menegaskan bahwa pada akhirnya, dia masih memiliki kendali atas diri Seira.
Seira menatap mata Ezra, mencari sesuatu di sana, kemarahan, hasrat, atau mungkin keduanya. Tantangan dalam tatapan suaminya membuat Seira semakin berani. Dengan gerakan halus, jemarinya meloloskan kemeja yang dikenakan Ezra, membuat dada bidangnya terbuka di depan mata. Seira meremas rambut Ezra, membuatnya berantakan, berjatuhan ke dahinya dalam cara yang menawan, menambah aura liar dan maskulin yang selalu melekat padanya. Seira tersenyum tipis. Dia masih mengingat segalanya tentang Ezra, setiap lekukan tubuhnya, setiap titik lemah yang bisa membuatnya menyerah dalam kenikmatan.
Tanpa mengalihkan pandangan, Seira menundukkan kepalanya, membiarkan bibirnya menyapu perlahan di sepanjang leher Ezra, turun ke tulang selangkanya. Lembut, tapi membakar.
Dia merasakan napas Ezra tercekat sesaat ketika bibirnya bergerak lebih rendah, menelusuri setiap inci kulit yang sudah begitu familiar. Seira tahu, dia masih mahir dalam hal ini. Tangannya bergerak lincah, menyentuh, menuntut, hingga Ezra secara refleks menyandarkan kepalanya ke belakang, menikmati setiap sensasi yang Seira berikan. Senyum puas tersungging di bibir Seira sebelum dia melanjutkan lebih jauh. Tangannya turun, mulai sibuk membuka gesper celana Ezra. Terburu tapi tenang.
Pandangannya bertemu dengan mata tajam Ezra yang kini tertutup setengah, napasnya terdengar lebih berat.
Seira menurunkan tubuhnya, merosot melalui dada, perut dan pusat kenikmatan Ezra. Dan tanpa ragu, Seira berlutut di hadapan suaminya.
Seira tahu, dia sudah lama tidak melakukannya. Sesuatu yang bisa memunculkan sorot mata membara Ezra yang penuh kendali dan otoritas.
“Ah..” Suara desah Ezra terdengar ketika Seira mulai bekerja di bawah sana. Panas dan basah. Tubuh Ezra hanya bisa diam menegang, sementara bibirnya terbuka melepaskan napas pendek-pendek. Matanya menatap langit dan Seira di hadapannya bergantian.
Memandangi bibirnya yang basah dengan mulut yang penuh. “This so good,” kata Ezra, sebelum kembali menyandar dengan gerakan cepat ketika Seira mulai bermain dengan mengulum dan menyesap. Tempo gerakannya dipercepat dan itu membuat seluruh otot tubuh Ezra menegang. Ezra membuang napas, seakan dia begitu gusar. Dia mengangkat tubuh Seira untuk kembali ke hadapannya, Dengan kasar dan menuntut mendesakkan lidahnya ke mulut Seira , melumat aroma manis disana.
Ezra mencengkram kuat pinggang wanita itu. Sorot matanya masih dipenuhi kemarahan yang bercampur dengan hasrat yang bergejolak.
Tanpa peringatan, bibir Ezra kembali menuntut ciuman yang panas, tidak sekadar mencium, tapi menuntut, mengklaim, memastikan bahwa Seira masih miliknya sepenuhnya.
Seira terkejut sesaat, tapi tidak melawan. Ini adalah cara Ezra mengungkapkan emosi yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Dalam satu gerakan kuat, Ezra mengangkat tubuh Seira dan membawanya ke sofa panjang, tanpa sekalipun melepaskan cumbuannya. Seira mendesah tertahan saat punggungnya menyentuh permukaan sofa, sementara tubuh Ezra menindihnya dengan dominasi penuh. Tangan Ezra mulai bergerak, menjelajahi tubuh Seira yang selalu terawat sempurna. Setiap lekuk, setiap inci kulit yang sudah dihafalnya.
Tubuh ini miliknya.
Hanya miliknya.
Bahkan jika dunia luar mengagumi kemolekan Seira, hanya Ezra yang berhak menikmati semuanya.
**
Ruang penthouse masih setengah gelap. Tirai tebal hanya menyisakan celah kecil, di mana cahaya lampu jalan menembus, mengguratkan garis samar di dinding.
Ezra Xavier terlelap, tubuhnya tengkurap diatas ranjang. Dada bidangnya naik turun teratur, napasnya dalam dan berat, tidur yang jarang sekali dia nikmati. Tubuhnya terkuras, amarahnya ditumpahkan, energinya terkikis, hingga akhirnya dia terlelap dalam istirahat singkat yang nyaris seperti koma.
Suara dering memecah keheningan. Handphone di nakas bergetar, dentumannya menusuk gendang telinga, memaksa Ezra membuka mata. Sorot gelapnya mengeras, dia mengulurkan tangan, meraih perangkat itu dengan gerakan malas.
Di layar, nama Nael muncul. Ia menggeser ikon hijau. “Apa?” suaranya berat, serak, masih berbalut sisa tidur.
[Pesawat sudah menunggu, Ezra.]
suara Nael terdengar tenang di seberang. Tidak pernah ada nada tergesa pada pria itu, bahkan saat menyampaikan sesuatu yang mendesak. [Kau harus bersiap dalam setengah jam.]
Ezra melirik ke arah arlojinya yang terletak di nakas. Jarum panjang sudah melewati angka sepuluh. Ia mengerutkan alis. “Sudah lewat sejam dari jadwal yang kau atur.”
[Aku tahu.] Jawaban Nael singkat, padat.
Alis Ezra bertaut lebih rapat. “Kau sengaja?”
[Aku tahu kau takkan bisa istirahat dalam dua jam penuh… terutama kalau kau bersama Seira.] Nael menyebut nama itu dengan nada netral, tanpa penekanan, seakan hanya menyebutkan fakta. [Jadi, aku atur ulang jadwal. Masih aman. Kita bisa berangkat sesuai rencana ke Shanghai.]
Ezra terdiam sejenak, menimbang. Nael jarang salah hitung. Pria itu selalu menyusun rencana cadangan untuk setiap celah.
“Aku akan bersiap dalam setengah jam,” ucap Ezra akhirnya.
Sambungan terputus.
Ezra meletakkan handphone di meja, lalu menyandarkan punggungnya kembali. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum, lebih tepatnya pengakuan dingin dalam hati.
Namun sebelum pikirannya melayang lebih jauh, sudut matanya menangkap gerakan dari arah kamar mandi.
Seira melenggang keluar. Tubuhnya lembap, masih berkilau sisa air. Rambut panjangnya basah, meneteskan butiran ke leher dan jatuh ke dress satin yang kini menempel seperti kulit kedua.
Cahaya lampu temaram memantulkan kilaunya, menegaskan keindahan yang membuatnya dijuluki titisan bidadari.
Ezra menatapnya, sorot mata tetap segelap malam di luar sana. Seira berhenti beberapa langkah darinya. Tatapan matanya tegas, tapi bibirnya gemetar samar. Lalu ia membuka suara.
“Kau harus penuhi janjimu.” Kalimat itu meluncur pelan, tapi mengandung tuntutan yang jelas. Ezra bangkit. Gerakannya tenang, tapi penuh otoritas. Tubuhnya masih telanjang, memperlihatkan otot-otot yang terbentuk dari disiplin keras. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya berat, menekan udara di sekitar.
“Aku tidak menjanjikan apa pun padamu,” ucapnya dingin. Seira menelan ludah. Nafasnya tercekat, tapi ia tidak mundur. “Kontrakku, Ezra. Itu sudah seperti mimpiku sejak kecil. Aku ingin wajahku ada di majalah itu. Aku ingin..” suaranya bergetar, nyaris pecah, “aku ingin seluruh dunia melihat aku pantas ada di sana.” Sorot mata Ezra menyipit.
Tatapannya tajam, menusuk, seolah berusaha menguliti isi hati istrinya. Dia melihat sesuatu yang jarang sekali Seira tunjukkan: kerendahan hati, bahkan permohonan.
Seira, sang supermodel yang dielu-elukan, kini menundukkan dirinya. Demi mimpi. Demi karir. Ezra berdiri di hadapannya, diam. Ia menikmati pemandangan itu, wanita yang biasanya keras kepala, kini berani merendahkan diri. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang meremas dadanya.
Tangisan.
Ia tahu, jika ia biarkan, Seira bisa menangis. Dan Ezra Xavier benci air mata. Bukan karena ia tidak peduli, justru sebaliknya: karena setiap tetesnya bisa menembus pertahanannya. Terutama jika keluar dari wajah Seira.
“Ok.”
Satu kata itu meluncur dari bibirnya, datar.
Seira mengangkat wajahnya, mata bundarnya melebar. Senyuman merekah, seperti anak kecil yang mendapat permen setelah menunggu lama. Senyum itu murni, sederhana, meski tak ada perayaan berlebihan.
“Terima kasih,” katanya lirih.
Ezra hanya mengangguk tipis, seakan kata itu tidak berarti banyak. Padahal ia tahu, dengan mengucapkan “ok”, ia sudah menurunkan sebagian egonya. “Kau harus pergi dengan Nael, kan?” Seira bertanya, suaranya lembut.
“Ya.”
“Kapan kau pulang?”
“Tiga sampai seminggu lagi.”
Seira mengangguk. Bibirnya melengkung, kali ini lebih tenang.
“Aku akan ada saat kau pulang. Kabari kalau kamu sudah mau pulang.”
Ezra menatapnya lama, menilai kesungguhan di balik kalimat itu. Seira terlihat begitu rapuh, begitu manusiawi.
Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik. Melangkah menuju kamar mandi. Tubuhnya yang telanjang sama sekali tidak mengurangi wibawanya. Justru setiap garis ototnya menegaskan kuasa yang ia miliki.
Saat tangannya meraih pintu, ia sempat menoleh sekilas. Seira menjatuhkan diri di sofa. Gerakannya tidak elegan, tidak seperti seorang supermodel. Lebih mirip wanita biasa yang akhirnya bisa bernapas lega. Tangannya menutup wajahnya sesaat, lalu terkulai, tubuhnya seperti boneka yang kehilangan energi.
Pintu kamar mandi menutup, menyisakan suara air mengalir. Seira menatap langit-langit dengan mata kosong. Dia berhasil mendapatkan kembali janji untuk mimpinya. Tapi entah mengapa, ada rasa perih yang menekan dadanya.
**