“Ada apa?” tanya Nindy. “Sebaiknya kamu jujur, Nindy! Kamu kan yang mencelakakan papaku?” tanya Ruby. “Papa kamu?” “Ya..” “Gila, kenal saja tidak!" “Papa ku meninggal karena kecelakaan!" “Ya, itu mungkin sudah takdirnya. Kenapa tanya aku?” “Bukankah kamu yang mengatakan kalau kamu akan melukai orang yang ada di dekat Rayyan hingga dia mengakui dosanya?" “Aku bilang seperti itu?” “Ya..” “Apa buktinya? Aku bisa membantah jika itu yang dikatakan Rayyan.!" “Jessika tidak meninggal, Nindy! Dia bisa bersaksi!" “Ok, aku memang melukai Jessika untuk mengancam Rayyan. Agar dia tak lagi menjadi orang pengecut dan sembunyi di balik senyumnya. Psikopat!” “Kamu yang terganggu tapi malah menuduh orang!” tukas Ruby jengkel. “Calon suami kamu itu Psikopat! Apa kamu harus menunggu korban terus berjatuhan untuk bisa percaya? Lihat! Ayahmu pun menjadi korban! Dan kamu tak juga menyadari kalau orang yang akan menikahimu itu adalah iblis yang sebenarnya?" ucap Nindy. “Tidak ada bukti yang menunjukkan kalau Rayyan itu pembunuh seperti yang kamu tuduhkan!” tukas Ruby dengan wajah merah menahan marah. “Kenapa begitu banyak orang tolol di atas dunia ini? Bisa bisanya percaya sepenuhnya pada penjahat itu!” gerutu Nindy. “Dan yang lebih parah, kenapa ada yang mau menikah dengannya? Karena dia tampan? Dia terlihat sangat sopan? Sangat ramah dan baik hati? Tidak tahukah kalau semua itu topeng? Ketika dia melepaskan topengnya dan menunjukkan sisi aslinya.. kalian pasti akan menyesal mengenal dan memuja dia! Terutama kamu. Saat kamu menjadi istrinya dan mengetahui aslinya dia seperti apa.. mungkin dunia kamu akan runtuh!” “Cukup!” “Kamu masih punya waktu untuk membatalkan penikahanmu. Mungkin memang akan menyakitkan dan sedikit menahan malu. Tapi akan lebih baik seperti itu dari pada keluargamu satu persatu dipaksa meninggalkanmu dengan cara sadis!" “Aku bilang cukup!” Nindy tertawa. “Kenapa kamu tertawa?” tanya Ruby. “Aku mentertawakan penyesalanmu jika endingnya seperti yang aku duga. Dan mungkin saat itu kamu akan menelponku dan berkata.. ternyata kamu benar soal Rayyan. Dia memang seorang pembunuh,” jawab Nindy. “Dengar Nindy! Adikku akan menyelidiki penyebab kecelakaan pada ayahku. Dan perlu kamu ingat! Saat kamu terbukti sebagai pelaku beberapa tindakan kriminalmu, saat itu dunia khayalanmu akan berakhir!”ancam Ruby. “Ada apa sih disini?” tanya Raissa yang datang menghampiri. “Kamu..” “Kak Raissa, apa kabar?” sapa Nindy. “Baik..” “Aku pulang!” Ruby bergegas meninggalkan meja dimana ia dan Nindy sebelumnya duduk berhadapan beradu argumen. Raissa tersenyum meremehkan. “Kakak kenapa kesini?” “Kebetulan lewat dan melihat kamu duduk bersama Ruby. Aku yakin pasti ada masalah seru yang akan kalian bahas dan itu pasti soal Rayyan." “Tuh kakak tahu..” kata Nindy. “Tidak bosan kah kalian terus beradu mulut?” tanya Raissa. “Kakak sendiri?” Nindy balik bertanya. Raissa menatap Nindy. “Maksud kamu?” tanya Raissa. “Kakak sudah berapa tahun lulus SMA? Tapi kenapa masih saja mencari ribut dengan Ruby?” tanya Nindy. “Apa?” “Jangan bilang kakak memusuhinya karena Rayyan." “bukan urusanmu!” Nindy tertawa. “Berhentilah memaksa Rayyan mengakui perbuatannya!” “Aha... Sekarang kakak sudah percaya apa yang aku katakan?” tanya Nindy. “Siapa yang percaya padamu!” bantah Raissa. “Aku hanya tidak suka kamu menyudutkan Rayyan dan mencelakakan orang disekitarnya!" “Lalu?” wajah Nindy terlihat sangat tenang. “Hentikan semua yang kamu lakukan!” tukas Raissa. “Tidak mau!” tolak Nindy. “Kamu tak akan berhasil!” “Tuhan pasti membantuku!" Raissa menghela nafas. “sekarang aku tanya.. Apakah kamu terlibat dengan peristiwa meninggalnya papa Ruby?” “Jika ya?” “Sebenarnya aku tidak peduli. Tapi kamu semakin terlihat gila. Bisa jadi aku akan menjadi korban selanjutnya”. Nindy tertawa. “Berhentilah tertawa, Aku tidak suka!" “Kak..” panggil Nindy. “Apa lagi?” tanya Raissa kesal. “Bagaimana kalau kita singkirkan bersama-sama..” “Apa maksudmu?” “Kita jadikan Ruby sebagai sasaran untuk membuat Rayyan mengakui dosanya?" “Jika dia mengakuinya? Lalu apa yang kamu inginkan..? Kamu ingin dia di penjara, begitu?” Nindy menggeleng. “Terlalu enak untuk di penjara, dia bisa keluar kapan saja pengacaranya berjuang untuk membersihkan namanya dari tudingan." “Lalu?” “Aku ingin membuat dia mendekam di rumah sakit jiwa. Karena orang gila tempatnya adalah disana!" “Jaga mulut kamu!” tukas Raissa. “Lalu apa namanya jika membunuh dengan sadis? Tak punya perasaan.. seperti tak merasa kalau itu perbuatan yang salah? Bukankah itu gila? Seorang psikopat seperti dia harusnya diobati jangan dibiarkan berkeliaran!" “Bukannya kamu yang sakit jiwa?” tanya Raissa datar. “Aku?” Raissa tak menjawab. Nindy tertawa. “Aku sakit jiwa itu hanya ucapan Rayyan belaka. Dia membuat aku seolah olah orang yang terlalu menjiwai cerita yang aku buat!” “Entahlah.. Aku tidak tahu siapa sebenarnya yang berbohong antara kamu dan Rayyan. Siapa diantara kalian yang sebenarnya psikopat. Siapa yang sakit jiwa diantara kalian berdua? Aku tidak peduli dan tak akan mencari tahu!" “Kenapa?” “Tidak ada hubungannya denganku.. Bagiku Rayyan tetaplah Rayyan." “Cinta membuat kakak tak bisa berpikir!" “Justru bagiku inilah cinta yang sebenarnya.. Menerima apapun kondisinya. Sekalipun dia psikopat seperti yang kamu tuduhkan, aku tak akan pernah meninggalkannya." “Dan akhirnya mati di tangan dia?” “Menurutmu?” “Terserah kakak..” Raissa tersenyum.
Di rumahnya, Ruby duduk di sofa dengan kesal. “Ada apa?” tanya Sofie. “Faishal mana kak?” “Tadi pulang lalu pergi lagi ke kantor sekalian mengantar Atta les”. “Oh..” “Kenapa?” “Aku ingin dia menyelidiki satu hal..” “Satu hal?” “Entah kenapa tiba-tiba aku teringat satu hal yang ingin aku tanyakan pada papa, tapi papa sudah tidak ada”. “Hal apa?” “Kakak ingat tidak? Saat Rayyan pindah tinggal di sebelah rumah kita.. Papa kita dan mamanya Rayyan kerja dalam satu kantor kan?” “Ya..” “Pasti papa sedikitnya tahu tentang keluarga Rayyan.. Kemana ayahnya ketika Rayyan kecil?” “Seingat aku, mamanya Rayyan dan papanya sudah berpisah.. Rayyan dan mamanya pindah ke rumah di sebelah rumah kita”. “Apakah Rayyan punya saudara kembar?” “Kata siapa?” tanya Sofie. “Tidak apa-apa..” “Sudah jelas dia anak tunggal.. Jika dia punya saudara kembar mana mungkin tidak hadir saat mamanya meninggal? Aku ada saat pemakaman itu”. “Oh..” “Kenapa?” “Tidak apa-apa”. “Jangan ikut stress gara-gara Nindy. Faishal pasti akan menyelidiki Nindy..” kata Sofie sambil meninggalkan ruangan itu. “Ah benar.. Kenapa aku jadi seperti ini? Sudah pasti Rayyan hanya bercanda soal photo dan cerita saudara kembar itu. Aku sudah lama mengenal dia bahkan keluarga ini. Mustahil kami tidak tahu hal sekecil itu,” gumam Ruby. Ruby menghela nafas. “Tenang Ruby.. Jangan panik dan mengikuti halusinasi Nindy..”