“Aku belum sempat mengucapkan turut berduka cita meninggalnya papa kamu..” kata Raissa. “Kita mungkin sepanjang masa bermusuhan, tapi yang aku musuhi adalah kamu bukan orangtua dan keluargamu. Jadi aku ikut sedih dengan kepergian ayahmu yang sangat mendadak”. “Terimakasih..” kata Ruby. Hari itu mereka tak sengaja bertemu di sebuah cake shop “Bagaimana kejadiannya?” tanya Raissa. “Papa sedang keluar seperti biasanya,” jawab Ruby. “Bagaimana kamu bisa membiarkan papa yang sudah tidak muda lagi keluar sendirian? Bukannya papamu tinggal bersamamu?” “Ya, tapi papa adalah sosok yang sangat kuat.. Beliau tak pernah mau dianggap lemah. Selalu ingin mengerjakan semuanya sendiri”. “Tetap saja..” “Baiklah.. itu memang salahku!” tukas Ruby. “Lalu bagaimana dengan pernikahanmu? Kamu akan menundanya?” tanya Raissa. “Aku ingin seperti itu tapi kak Sofie tidak setuju, menurutnya.. Acara tidak boleh dimundurkan. Tetap seperti yang sudah direncanakan. Apalagi semua sudah disiapkan. Hanya tinggal menyebarkan undangan,” jawab Ruby. “Pasti sedih..” kata Raissa. Ruby tak menjawab. “Lalu apa yang kamu bicarakan dengan Nindy kemarin?” “Kenapa ingin tahu?” tanya Ruby. “Tidak apa-apa,” Raissa mengalihkan pandangannya sesaat, lalu kembali memandang Ruby dengan tatapan serius. “Karena aku kemarin membahas tentang meninggalnya papamu dengannya,” ucap Raissa. “Kamu?” Ruby menatap Raissa heran. “Ntah kenapa aku merasa dia ada hubungan dengan kecelakaan yang menimpa papa..” “Kamu berpikir seperti itu?” tanya Ruby. “Hari dimana Rayyan dan Amanda melarikan Jessika ke rumah sakit.. Aku juga berada disana. Aku mendengar kalau Jessika terluka oleh perdebatan Nindy. Dan yang aku tahu adalah.. Nindy berkata akan terus melukai orang orang yang ada di sekeliling Rayyan sampai Rayyan menyerah dan mengakui dosanya.. Mengakui rentetan kejahatan yang ia lakukan”. “Aku tak bisa berhenti memikirkannya meski kak Sofie mengatakan kalau kecelakaan yang menimpa papa memang adalah kesalahan kami semua. Karena membiarkan papa yang sudah tua untuk bepergian sendiri, menyetir mobil sendiri”. “Aku terus berpikir.. siapa lagi yang mungkin akan menjadi korban Nindy. Ada banyak orang berada di sekeliling Rayyan.. Amanda, kamu.. dan Aku..” ucap Raissa. “bang Wanda?” tanya Ruby. “Nah, benar.. Bang Wanda juga harus diperingatkan,” Raissa setuju. “Selamat sore tante Ruby dan tante Raissa..” sapa Leon. “Hai..” sapa Ruby. “Leon.. dengan siapa?” tanya Raissa. “Dengan papa..” Ruby dan Raissa menoleh. Lelaki yang berdiri menunggu Leon tersenyum pada mereka. “Om Rayyan mana?” “Pastinya di klinik.. Sedang bekerja,” jawab Ruby. “Ok, besok Leon akan kesana membawa anjing Leon untuk vaksin..” “Wah sama.. sampai bertemu besok,” kata Raissa. “Besok Leon ulang tahun, Leon antar kue untuk om Rayyan dan yang lain.. Tante berdua juga datang ya?” “Ok..” “Bye..” Leon berlari ke arah papanya yang sedang menunggu. Sambil melambaikan tangan ia pergi meninggalkan tempat itu. “Untuk masalah Nindy sepertinya kita harus berdamai sesaat..” ujar Raissa. “Karena Nindy terlihat semakin berbahya. Dia bisa mengancam aku, kamu atau siapapun”. Ruby terdiam sesaat. Apa yang diucapkan Raissa memang benar. “Sejak awal bertemu denganku, dia terus mengikutiku. Meninggalkan nomor handphonenya dan memaksaku untuk mendengarkan ceritanya..” ungkap Ruby. “Itu juga yang pernah dia lakukan padaku”. “Benarkah?” “Tapi aku tidak sebodohmu yang langsung panik dan mengacaukan semuanya”. “Apa maksudmu?” “Sudah lama aku tahu cerita yang dia sampaikan, tapi aku tak mau menanggapinya”. “Kenapa?” “Apakah menurutmu Rayyan orang yang mengerikan?” “Ntahlah.. Kadang aku terpengaruh ucapan Nindy. Saat sendiri aku terus berpikir, aku bertahun tahun mengenalnya. Hanya 4 tahun kami tak pernah bertemu karena aku memang tak pernah pulang meski aku mengaku padanya aku selalu pulang tiap tahun..” cerita Ruby. “Kadang aku berpikir.. apakah masa 4 tahun itu telah membuat aku kehilangan beberapa hal tentang Rayyan? Kenapa Nindy seperti jauh lebih mengenal Rayyan? Sedekat apa hubungan mereka dahulu? Apakah Rayyan pernah menjanjikan sebuah kebahagiaan untuk Nindy?” “YA, dia tak sadar sudah melakukannya pada Nindy”. “Maksudmu?” “Dia membuat Nindy membangun sebuah impian tentang pangeran sempurna, malaikat pelindung yang penuh kasih sayang..” Ruby memandang Raissa serius. “Impian itu yang ia bangun sejak bertemu Rayyan saat ia berusia 10 tahun, begitu terobsesi untuk memiliki. Lalu saat ia dewasa, ia melihat klinik Rayyan membuka lowongan. Pengagum seperti Nindy pastinya sepanjang hidupnya selalu mengikuti perkembangan hidup pangeran impiannya. Impiannya terhenti ketika cinta itu tidak berbalas..” “Apa Rayyan dulu punya pacar? Aku ingat ada wanita bernama Thalia yang sangat dekat dengannya”. “Thalia?” “Ya.. Aku pernah menelpon Rayyan beberapa kali.. dan selalu Thalia yang mengangkatnya”. “Aku tidak pernah mengenal nama Thalia..” “Benarkah?” “Ya.. Kamu tahu aku juga stalker Rayyan..” “Perempuan yang mengaku bernama Thalia itu sering kali mengangkat telpon Rayyan, hingga akhirnya aku putuskan untuk tak lagi menghubungi Rayyan, hingga akhirnya aku kembali kesini”. Raissa tertawa. “Kenapa tertawa?” “Aku sekarang mengerti..” “Maksud kamu?” “Pasti Nindy sudah lama tahu tentangmu. Dia melihat kedekatanmu dengan Rayyan.. Dan aku yakin kalau dia adalah yang mengaku sebagai wanita bernama Thalia”. “Masa?” “Ah kamu ternyata memang sangat bodoh! Bagaimana bisa kamu percaya begitu saja,” ejek Raissa. “Bicaramu sangat menyakitkan!” “Tapi apa lagi namanya jika bukan bodoh?” “Aku kan tidak pernah pulang. Mana aku tahu Thalia itu ada atau tidak?” Raissa masih tertawa. “Rasanya aku ingin menangis melihat kebodohanmu itu. Entah kenapa Rayyan bisa lebih memilihmu dari pada aku yang nyata-nyata lebih pintar. Sekolahmu jauh sampai ke Eropa tapi pikiranmu hanya sampai kampung kecil..” “Kurang ajar sekali.” Gerutu Ruby. “Sudah, nanti saja kamu bahas masalah THALIA itu dengan Rayyan, sekarang kembali pada ancaman Nindy. Siapa lagi kira-kira yang harus kita peringatkan untuk berhati-hati?” “Almeera.. Dia selalu muncul di klinik mencari Rayyan. Bahkan hampir setiap hari..” “Ya, Nindy mengenalnya..” “Mungkin bisa mengingatkan orangtuanya untuk tak membiarkan anaknya pergi sendirian dari rumah ke klinik meski jaraknya tidaklah jauh”. “Aku kenal ibunya.. Teman arisanku. Aku akan bicarakan soal ini padanya”. “YA, itu lebih baik.. Baiklah, aku pulang dulu”. “Bilang saja kamu ingin ke klinik dan bertemu Rayyan untuk bertanya tentang Thalia..” “Bisa jadi yang mengaku Thalia itu adalah kamu. Bukankah kamu adalah musuh bebuyutanku yang sangat menyukai Rayyan?” “Aku bukan orang yang suka melakukan kecurangan ya?” Ruby dan Raissa sama-sama tertawa sesaat, lalu keduanya sama-sama terdiam. “Kenapa?” tanya Raissa. “Tidak apa-apa..” jawab Ruby. Raissa tersenyum. “Seingatku ini pertama kalinya kita tertawa bersamaan..” kata Raissa. “Ya..” jawab Ruby singkat. “Ok, sampai lain waktu..” Raissa melambaikan tangannya. “Aku mau ke rumah Almeera”. “Baik..” Ruby melangkah namun sesaat kemudian ia berhenti dan menoleh ke belakang. “Raissa..!” panggilnya. “Tunggu!” Raissa menoleh. “Ada apa?” tanya Raissa. Ruby bergegas menghampiri Raissa. “Kita melupakan seseorang..”