Drama

Halusinasi Ruby

Penulis sanzfy
20 December 2025

“Kita melupakan seseorang..” “Siapa?” tanya Raissa. “Leon..” jawab Ruby. “Bukankah anak itu juga orang yang selalu ada di dekat Rayyan?”


Ruby memarkir mobilnya di depan klinik dan segera keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu klinik yang sudah terkunci. Masih pukul 8 malam dan sepertinya klinik itu tutup lebih awal. Ruby mengeluarkan kunci dari dalam tasnya dan membuka pintu itu. Menyalakan lampu dan kembali mengunci pintu. Ia melangkah masuk. Sepi sekali ruangan itu. Mungkin Rayyan sedang berada di lantai atas. Ruby segera menaiki tangga. “Rayyan..” panggil Ruby. Tidak ada jawaban. Ruby membuka pintu lantai atas. Seekor kucing berkaki 3 berlari menyambutnya. “Hai.. Luna,” sapa Ruby. Kucing itu adalah kucing yang ditemukan Ruby di depan klinik dengan kondisi tertabrak. Luna mengusap-usapkan kepalanya di kaki Ruby. “Kamu lapar?” tanya Ruby. “Wah, lihat kamu semakin cantik.. Maaf ya aku tidak bisa membawamu pulang, aku tak punya waktu untuk mengurus hewan..” Ruby menuangkan dry food ke mangkok milik Luna dan kucing itu langsung makan dengan lahap. Ruby memandang sekeliling ruangan itu. “Sepi sekali.. Apa Rayyan pergi? Tapi aku melihat mobilnya tadi parkir di luar..” gumam Ruby. “Rayyan..” panggil Ruby . “Kamu dimana?” Tidak ada jawaban apalagi sosok Rayyan yang datang menghampiri. Ruby mengeluarkan handphonenya dan mencoba menelpon Rayyan. Terdengar getaran dari atas meja. Ruby menghampiri meja. Handphone Rayyan terletak di atas meja itu. “Handphonenya ada..” gumam Ruby. Bergegas Ruby menuruni tangga dan mencoba memeriksa setiap ruangan. Namun ia tak menemukan siapapun. Ruby mencoba menelpon Amanda. “Hallo kak..” sapa Amanda. “Tadi kamu praktek?” tanya Ruby. “Iya kak.. kenapa kak?” “Sampai jam berapa?” “Tadi kami tutup lebih cepat kak.. jam 19.00,” kata Amanda. “Kenapa?” “Ada berita duka dari ayahnya Leon..” “Leon?” “Anak yang sering datang ke klinik kak..” “Kenapa dia?” “Ada yang menemukan dia tenggelam di kolam renang,” kata Amanda. “Apa?” “Dia pergi berenang bersama teman teman seumuran dia, dan dia adalah yang terakhir kali keluar dari kolam renang." “Rayyan pasti ke rumah Leon dan melupakan handphonenya..” “Tadi sama-sama ke rumah Leon, kak.. Tapi aku pulang lebih awal dan dokter Rayyan masih disana berbincang dengan orangtua Leon..” “Ok, terimakasih infonya ya?” “Sama-sama kak..” Terdengar pintu depan dibuka, Ruby segera melangkah menuju ruang depan. “Sudah pulang?” tanya Ruby. “Aku melihat mobilmu terparkir di depan. Aku yakin kamu masih ada di dalam..” jawab Rayyan. “Aku heran karena klinik tutup begitu cepat, aku melihat ada mobilmu di depan, aku pikir mungkin kamu sedang tak enak badan, jadi aku masuk saja.. Tapi aku tidak menemukanmu dan aku juga melihat handphone kamu tertinggal”. “Ya. Aku baru pulang ketika Amanda mengabarkan berita duka tentang Leon.. Karena aku membawa kotak yang berisi undangan pernikahan kita, jadi aku naik.. Bang Wanda menelponku untuk membuat jadwal. Mungkin setelah itu aku lupa dan meninggalkan handphoneku karena buru-buru turun untuk ke rumah Leon”. “Aku rasanya tak percaya mendengarnya..” “Aku juga..” “Aku baru saja bertemu dengannya tadi di cake shop Dia datang menyapaku dan Raissa,” cerita Ruby. “Jam berapa kamu bertemu dia?” “Jam 4 sore..” “Tidak mungkin.. Mungkin kamu salah." “Salah bagaimana?” “Jam 4 itu Leon pergi berenang bersama teman-temannya di kolam renang dekat sini. Mereka biasa pergi bersama berjalan kaki.. Biasanya sepulang dari sana, Leon akan mampir kesini. Aku sudah hapal jadwal Leon..” ujar Rayyan. “Apa?” “Rasanya tidak mungkin kamu bertemu dia..” “Aku bersama Raissa.. Tidak mungkin aku salah. Kalau kamu tidak percaya, aku akan menelpon Raissa,” kata Ruby. “Kamu bertemu Raissa? Apa dia sudah pulang?” “Pulang bagaimana?” “Raissa masih berada di Manado, dia bilang ada pekerjaan dan akan pulang lusa”. “Tidak mungkin, aku jelas jelas berbincang dengannya tadi.. Aku akan menelponnya,” Ruby mengeluarkan handphonenya untuk menelpon Raissa. Sengaja ia menyalakan speaker agar Rayyan bisa ikut mendengarkan. “Hallo..” “Raissa..” sapa Ruby. “Tumben kamu menelponku. Ada apa?” tanya Raissa. “Rindu?” “Raissa.. Bukankah tadi sore kita bertemu? Kamu bilang maaf terlambat mengucapkan belasungkawa untuk papa..” “Bertemu bagaimana? Kapan?" tanya Raissa. “Tadi sore di Naura Cake Shop.. Kita bicara cukup lama, membahas masalah Nindy. Lalu tiba-tiba Leon datang dan..” “Kamu mimpi?” tanya Raissa. “Kapan kita bertemu? Aku saja sedang berada di Manado!” “Tapi..” “Sudahlah! Mengganggu waktuku saja!” Raissa menutup pembicaraan. “Raissa..!” panggil Ruby. Rayyan memandang Ruby. “Kamu baik baik saja?” tanya Rayyan. Ruby terdiam. Rayyan meletakkan tangannya di dahi Ruby. “Badanmu sedikit panas.. Kamu dari mana?” “Aku..” Ruby terlihat bingung. “Ruby..” “Aku sangat yakin kalau tadi aku dan Raissa duduk bersama dan membahas masalah Nindy. Kami sedang berpikir siapa saja orang orang yang dekat denganmu selain Jessika dan Amanda..” “Ruby, dengar.. Kamu sedang dalam situasi yang berat. Sejak papa meninggal aku melihat kamu sedikit terguncang. Aku tahu kamu sedih, kamu sangat kehilangan papa dan juga sangat menyesal sudah membiarkan papa pergi sendiri. Tapi itu semua bukan salah kamu sayang.. Semua itu sudah takdir dari Allah,” Rayyan berusaha menenangkan hati Ruby. “Tapi aku yakin..” “Raissa tidak sedang berada disini..” Rayyan mengingatkan. “Aku sudah bilang padamu..” “Tidak, Rayyan.. Raissa pasti sedang berbohong, kamu tahu dia sangat membenciku.. Kau seharusnya tadi berpikir ketika dia bersikap seakan akan aku dan dia bisa berteman..” “Kamu butuh istirahat, ayo aku antar ke kamar..” Rayyan menggandeng Ruby menaiki tangga. “Aku tidak mungkin berhalusinasi.. Semua itu terlihat nyata." Mereka tiba di kamar, Rayyan membantu Ruby duduk di tempat tidur. “Aku tidak gila kan?” ucap Ruby. “Apa maksud kamu?” Ruby memandang Rayyan. “Apakah aku sudah ikut gila karena masalah yang dibuat oleh Nindy? Apakah aku sudah tak bisa lagi berpikir jernih? Aku sudah mulai mengikuti apa yang teradi padanya..” “Ruby, dengar.. Tidak ada yang menyebut kamu gila,” tegur Rayyan. “Tapi aku sudah berhalusinasi tingkat tinggi, Rayyan! Aku merasa bertemu Raissa dan berbincang dengannya. Lalu bertemu Leon dan ayahnya.. sementara kenyataanya adalah.. Leon sedang pergi berenang dengan teman-temannya dan Raissa sedang berada jauh di manado..” “Itu hanya satu kebetulan.. Mungkin kamu terlalu lelah. Beban pekerjaan, pernikahan yang tinggal menghitung hari, belum lagi meninggalnya papa yang begitu tiba-tiba akibat kecelakaan, membuat kamu merasa hidup kamu sedang benar benar dalam himpitan batu yang sangat besar”. Ruby mengusap dahinya. Rayyan membantu Ruby untuk berbaring dan menyelimuti tubuhnya. “Istirahatlah.. Kamu sedikit demam. Aku akan menjagamu,” janji Rayyan. “Terima kasih sayang..” kata Ruby. Ruby memejamkan matanya. Rayyan duduk disampingnya. Handphone Rayyan berdering. “Ya kak.. “ jawab Rayyan. “Rayyan, kamu tahu dimana Ruby? Aku menelponnya dan tidak diangkat,” kata Sofie. “Dia baru saja tidur kak. Badannya agak panas. Sepertinya demam dan mulai agak kacau. Jadi aku suruh istirahat. Malam ini biar disini dulu. Nanti kalau ada apa-apa biar aku antar ke dokter,” jelas Rayyan. “Demam? Aduh.. Aku sudah khawatir. Untungnya dia sekarang bersama kamu.. Apa aku minta Faishal menjemputnya saja? Tidak enak merepotkanmu.. Kamu pastinya juga lelah. Sejak papa meninggal, Ruby terlihat sangat terpukul..” cerita Sofie. “Ya kak.. Aku juga merasakannya. Kasihan Ruby, dia merasa sangat bersalah..” “Aku dan Faishal sudah bilang kalau itu bukan salahnya. Jikapun dugaan dia benar kalau ini semua adalah perbuatan Nindy, Faishal yang akan mengurusnya..” “Seiring waktu semua akan baik baik saja kak..” “Semoga.. Aku akan suruh Faishal kesana,” kata Sofie. “Tidak usah kak.. Biar saja Ruby istirahat, kasihan kalau harus dibangunkan lagi untuk pulang..” “Tapi nanti merepotkanmu..” “Kakak.. Bagaimanapun Ruby akan menjadi istriku, aku harus belajar untuk menjaganya dalam kondisi apapun..” “Baiklah.. Terimakasih selalu ada untuk Ruby ya?” “Kakak juga istirahat, nanti malah sakit..” “Ya kamu juga.. Ok, sampai besok ya?” “Ya..” Rayyan meletakkan handphonenya di meja. Ia menatap wajah Ruby yang terlihat tidur dengan gelisah. Dibelainya wajah Ruby dan mengusap-usap kepalanya. Rayyan tersenyum. “Tidurlah dengan nyenyak, sayang..”