Drama

Staf bernama Thalia

Penulis sanzfy
20 December 2025

“Amanda..” panggil Rayyan. “Ya, dok..” “Saya mau ke rumah sakit melihat Jessika, nanti mungkin akan ada seorang dokter baru yang akan melakukan interview. Tolong kamu yang handle ya..” “Baik dok..” “Saya pergi..” pamit Rayyan. “Hati hati dok..” pesan Amanda pada Rayyan yang berjalan ke pintu. “O iya, di atas ada kak Ruby, dia sedang tidak enak badan. Nanti tolong dilihat ya? Tanyakan jika dia ingin sarapan dan tolong dibelikan ya?” “Baik dok, amaaan.. tenang saja,” kata Amanda. “Terimakasih..” Rayyan berjalan keluar. Pintu klinik dibuka, Almeera melangkah masuk. “Pagi dokter Amanda..” sapa Almeera. “Pagi sayang..” “Kak Jessika masih sakit?” “Iya, masih dirawat di rumah sakit, kenapa sayang?” “Ini..” Almeera menyerahkan keranjang berisi buah. “Apa ini?” “Nanti kalau dokter melihat kak Jessika bilang ya.. Ini Meera belikan buat untuk kak Jessika, Belinya pake uang jajan Meera ditambah uang di celengan,” kata Almeera. “Wah, so sweet..” kata Amanda. “Semoga kak Jessika cepat sehat dan bisa duduk disini lagi.. Rindu,” kata Almeera. Amanda tersenyum. Pintu dibuka, Nindy melangkah masuk. “Pagi..” Amanda menoleh. “Nindy?” Nindy memandang Almeera. “Hai..” sapanya sambil tersenyum. Almeera langsung bersembunyi di balik punggung Amanda. “Lho kenapa?” tanya Nindy. “Anak kecil saja takut denganmu, Nindy!” tukas Ruby yang tiba-tiba sudah berada di ruangan itu. “Kak..” sapa Amanda. Nindy tersenyum. “Tidurmu nyenyak?” “Jika aku tahu kalau kamu terlibat dengan kecelakaan yang menimpa papa, kamu tak akan kulepaskan! Tunggu saja, Faishal sedang menyelidiki kasus ini!” “Aku bertanya baik-baik tapi kamu malah emosi.. APAKAH TIDURMU NYENYAK?” “Tidak ada urusannya denganmu!” “Pasti tidak kan?” “Ya, karena kamu adalah mimpi burukku! Kamu pasti juga terlibat dengan meninggalnya Leon kan?” “Meera main di belakang ya, ada bang Fiko..” kata Amanda. “Ok..” Almeera berlari meninggalkan ruangan itu. “Kenapa menuduhku?” tanya Nindy. “Apa sebenarnya masalahmu denganku? Aku sudah tahu kalau kamu menjadi penguntit hidupku sejak dulu! Kamu adalah wanita yang mengaku bernama Thalia kan?” tanya Ruby. “Thalia? Omong kosong apa ini?” “Itu kamu kan? Setiap aku menghubungi Rayyan selalu ada Thalia yang mengangkatnya!” “Bukan aku! Sepertinya kamu sudah mulai tidak waras atau sudah terlalu stress karena akan menikah dengan psikopat?” “Aku sudah muak Nindy!” “Nindy, sebaiknya kamu keluar, tidak enak kalau ribut disini. Nanti kalau ada yang datang gak enak..” kata Amanda. “Lagi pula kamu ngapain kesini? Sudah jelas kamu tidak cocok dengan orang –orang di klinik ini”. “Ya, karena semua orang disini BODOH! Aku memperingatkan agar kalian hati hati tapi tidak ada yang percaya padaku!” tukas Nindy. Amanda memandang Ruby. “Kakak baik baik saja?” “Sepertinya aku sudah gila.. Aku kemarin begitu yakin kalau aku bertemu Raissa dan bicara banyak tentang Nindy. Sementara Raissa sedang tidak berada di kota ini.. Aku juga merasa bertemu Leon, sementara Leon disaat yang aku katakan bertemu aku sedang berenang bersama teman temannya. Lalu Thalia.. Aku yakin sekali kalau kemarin mendengar Raissa menduga kalau Thalia yang aku maksud itu pastilah kamu Nindy.. Tapi memang sepertinya itu hanya pikiranku saja..” “Thalia itu..” kata Nindy. Ruby memandang Nindy. “Dia karyawan pertama dokter Rayyan, saat mereka membuka lowongan lagi, aku dan Jessika pun masuk..” “Dimana dia sekarang?” tanya Ruby. “Kenapa mencarinya?” Nindy balik bertanya. “Bukan urusanmu!”. “Bicaralah yang lebih sopan agar orang bisa memberikan info dengan nyaman”. “Kamu benar-benar..” “Dia sudah meninggal,” jelas Nindy. “Apa?” “Ditemukan bunuh diri di taman belakang..” cerita Nindy. “Jangan bercanda Nindy!” kata Amanda. “Tanya saja Jessika,” kata Nindy. “Bunuh diri? Kenapa?” tanya Ruby. “Depresi.. tapi aku tidak yakin. Menurutku dia dibunuh”. “Dibunuh? Maksud kamu.. Kamu mau menuduh Rayyan lagi?” “Menurutmu?” tanya Nindy. “Ada dendam apa kamu dengannya? Kenapa kamu begitu ngotot menyebut dia pembunuh? Menyebut dia psikopat?” “Aku tidak dendam”. “Lalu? Kenapa? Karena cintamu tidak berbalas?” tanya Ruby. “Kamu sepertinya merasa menang. Tahukah kamu kalau kamu sedang menggali kuburanmu sendiri?” tanya Nindy. “Aku suka dengan sebuah tantangan..” Ruby menatap Nindy tajam. Nindy tertawa. “Aku rasa kamu sudah mulai gila,” Nindy meninggalkan tempat itu. Ruby menghela nafas. “Rayyan kemana?” Ruby memandang Amanda. “Ke rumah sakit.. Kakak mau makan? Biar aku pesankan,” kata Amanda. “Aku pulang saja,” pamit Ruby. “Hati-hati kak..” “O iya.. saat Meera pulang nanti, jika ada waktu sebaiknya temani dia pulang. Jangan biarkan dia sendiri..” pinta Ruby. “Baik kak..” Ruby tersenyum dan segera keluar. Ia masuk ke dalam mobilnya. Memeriksa jok belakang. Seingat Ruby saat berada di toko roti ia sempat membeli donat dan roti untuk Atta. Tapi tidak ada apapun di jok itu selain berkas berkas pekerjaan yang ia bawa pulang. “Apakah aku memang tidak ada ke Naura Cake shop? Lalu apa yang aku lakukan selama beberapa jam? Apa aku melamun di dalam mobil atau aku memang duduk di suatu tempat..?” Handphone Ruby berdering. “Hallo..” “Ruby..” sapa Raissa. “Ada apa?” tanya Ruby. “Kamu punya waktu untuk bertemu denganku?” “Bukannya kamu sedang ke luar kota?” “Sore ini sudah pulang.. Nanti kita bertemu di cafe bang Wanda..” “Ini benar telpon dari kamu?” “Maksud kamu?” “Tidak apa-apa..” “Ok sampai nanti..” “Sebentar..” “Apa lagi?” “Kenapa kamu ingin bertemu aku?” tanya Ruby. “Aku tiba-tiba memikirkan telpon dari kamu tadi malam.. Kamu bilang kita bertemu di Naura dan membahas masalah Nindy cukup lama..” “Ya, kita membahas masalah Nindy.. lalu mencoba mengingat siapa saja orang yang berada di sekeliling Rayyan karena Nindy mengancam akan melukai mereka hingga Rayyan membuat satu pengakuan dosa. Lalu saat kita berbincang, Leon datang menghampiri kita..” “Leon sudah meninggal kan? Dia tenggelam di kolam renang?” “Ya.. Dan disinilah aku merasa kenapa aku seperti berhalusinasi? Aku pikir semua terlihat seperti nyata.. bertemu denganmu sedangkan kamu tidak berada disini. Lalu di jam yang sama, aku bertemu Leon sedangkan dia sedang pergi berenang dengan teman-temannya. Lalu pagi ini aku sampai pada satu kesimpulan.. Aku sepertinya mengalami masalah. Mungkin stress, ntahlah.. Saat aku berpikir sedang bicara denganmu, mungkin sebenarnya aku sedang duduk sendirian..” ungkap Ruby. “Kamu lelah..” ucap Raissa. “Kita bahkan sempat bicara tentang Thalia..” “Thalia?” “Kamu kenal?” “Tidak..” “Nindy bilang Thalia itu karyawan pertama Rayyan..” Raissa tertawa. “Aku rasa kamu sudah ikut gila karena terlalu banyak mendengar cerita Nindy”. “Apa maksud kamu?” “Tidak ada yang bernama Thalia!” “Maksud kamu?” “Aku selalu bersama Rayyan. Kami kuliah di universitas yang sama. Aku adalah pelanggan pertamanya ketika ia membuka klinik. Aku bahkan orang yang diawal awal membantu dia ketika dia belum punya karyawan. Mustahil aku tidak tahu siapa saja yang bekerja disana”. “Benarkah?” “Sudah aku pastikan kalau tidak ada yang bernama Thalia disana..” “Nindy bilang Thalia meninggal di taman belakang. Dia dianggap depresi dan bunuh diri. Tapi Nindy meyakinkan kalau dia percaya sebenarnya Thalia itu dibunuh..” “Sudah jelas dia itu gila! Ntah apa obsesinya selalu menyebut taman belakang itu aneh dan menjadi sebuah kuburan masal”. “Dan aku mulai gila setelah terus diikutinya dengan deretan cerita yang ia rangkai menjadi sebuah misteri yang harus aku pecahkan?” “Kamu saja yang bodoh..” “Apa katamu?” “Akui saja kalau kamu mau dibodohi olehnya. Aku heran, sekolah tinggi sampai ke eropa tapi kamu tidak pintar sedikitpun saat menghadapi cerita bersambung yang ditulis Nindy. Aku saja yang hanya kuliah lokal bisa menangkap ketidakwajaran pikiran Nindy”. “Bicaramu sangat menyakitkan”. “Aku bicara apa adanya. Kamu memang sangat bodoh mengikuti permainan Nindy. Sudah berapa tahun kamu mengenal Rayyan? Sudah kamu pahami kan sifat calon suami kamu itu? Bagaimana kamu bersikap seolah olah juga mencurigai dia? Mana bisa menikah jika pikiranmu seperti itu. Lebih baik dibatalkan saja”. “Enak saja.. Itu kan memang yang kamu inginkan,” Ruby menggerutu. “Sudah, nanti sore kita lanjutkan pembicaraan. Byee...” Raissa menutup pembicaraan. “Kenapa ucapannya sama seperti dalam pikiranku tadi malam?” gumam Ruby. “Ah aku ini kenapa? Sepertinya aku ini sudah terlalu stress..”