Pagi hari, di lantai tertinggi gedung Xavier Corporation. Di sebuah ruangan dengan aura kuasa yang kental dan Ezra Xavier duduk dengan sikap tenang.
Pria itu mengenakan setelan abu-abu arang yang membentuk tubuhnya dengan sempurna. Kemeja putihnya tak berkerut sedikit pun, dasinya hitam pekat, wajahnya dingin, berbahaya. Jemarinya panjang memainkan pena perak, mengetuk-ngetuk permukaan meja seirama dengan detak jam dinding.
Hingga. Pintu ruangannya terbuka dengan hentakan keras. Dua langkah terburu-buru. Ezra menatap sekilas sosok pria yang berusaha menahan laju langkah high heels dilantai marmer. Ezra memberikan isyarat untuk pria itu pergi saja.
Setelah kepergian Nael. Seira melanjutkan menghentak kakinya dengan langkah panjang, wajahnya memerah karena amarah. Rambut panjangnya berantakan, tidak seanggun biasanya, tapi dimata Ezra itu hanya menambah intensitas pesonanya. Dia melempar sebuah map tebal ke arah Ezra, hingga benda itu jatuh tepat di pangkuan pria itu.
“Apa kau puas sekarang?!” teriak Seira, suaranya bergetar antara marah dan sakit hati.
Ezra mengangkat alis, menunduk sebentar, lalu memungut map itu dengan tenang. Gerakannya lambat, mengintimidasi, seakan ingin menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak terusik oleh emosi yang meledak-ledak di hadapannya.
Dibukanya map itu, dan dia membaca sekilas. Surat resmi pembatalan kontrak dengan sebuah majalah fashion internasional. Stempel merah besar bertuliskan TERBATALKAN menempel di sana.
Seira mengepalkan tangannya. “Aku terbang ke Bangkok semalam, Ezra. Begitu sampai, mereka bahkan tidak mau menemuiku dengan baik. Hanya menyodorkan surat itu dan mengatakan…” suaranya tercekat, lalu dia melanjutkan dengan gusar, “..bahwa pembatalan itu atas perintah Ezra Xavier. Kau.”
Ezra mengangkat pandangannya, mata kelamnya menatap Seira seperti predator yang baru saja merobek mangsanya. Dia menyandarkan tubuh ke kursi, menyilangkan tangan, dan tersenyum tipis, dingin.
“Bagus,” ucapnya datar. “Sekarang kau tahu. Aku bisa menghancurkan kariermu hanya dengan satu panggilan telepon. Dan lihat… dalam waktu kurang dari dua belas jam, semua itu sudah jadi kenyataan.”
Seira menelan ludah, wajahnya berubah pucat, tapi emosinya lebih kuat. “Kau kejam, Ezra. Apa yang kau lakukan ini… kau pikir hanya permainan? Kau tahu berapa lama aku berjuang untuk sampai ke titik itu?! Kau tahu berapa banyak pengorbanan yang aku lakukan?!”
“Ya,” potong Ezra dengan sinis, suaranya tenang tapi penuh tusukan. “Aku tahu. Sama seperti aku tahu betapa mudahnya menghancurkan semua itu. Kau bilang aku tidak bisa mengatur hidupmu?” Dia condong ke depan, menatapnya tajam. “Aku tidak mengatur, sayang. Aku mengendalikan.”
Seira mengembuskan napas keras, tangannya gemetar karena marah. “Kenapa, Ezra?! Kenapa kau tega melakukan semua ini padaku?! Hanya karena aku tidak melayanimu semalam?!”
Ezra mendengus, wajahnya menegang, lalu perlahan berdiri. Tingginya menjulang menyamai Seira yang memakai heels delapan centi, bayangannya menelan Seira yang berdiri di depan meja. Dia melangkah mengitari meja, hingga jarak mereka hanya beberapa inci. Tatapannya gelap, mengintimidasi.
“Kau tahu persis, ini bukan sekedar soal ranjang,” katanya pelan, namun penuh tekanan. “Ini soal prioritas. Aku suamimu. Aku seharusnya menjadi yang pertama dalam hidupmu. Bukan kontrak, bukan kamera, bukan yang memujamu di dunia luar. Aku.” Tangannya menunjuk ke dada.
Seira mundur selangkah, tapi matanya tetap menantang. “Kau tidak bisa meminta aku menyerahkan semuanya padamu. Aku tidak akan pernah rela hidup hanya sebagai pajanganmu. Aku punya nama, Ezra! Aku punya panggungku sendiri!”
“Tapi panggungmu ada karena aku membiarkan itu,” balas Ezra tajam. “Dan panggungmu akan runtuh kapan pun aku mau. Kau milikku. Dan aku tidak berbagi tempat di hatimu dengan siapa pun, bahkan dengan ambisi bodohmu.”
“Ambisi bodoh?!” Seira tertawa getir, suaranya pecah. “Itu hidupku! Itu mimpiku sejak kecil! Kau tahu apa? Kau tidak tahu rasanya berdiri di bawah sorotan lampu, melihat ribuan mata menatap kagum? Itu bukan hal yang bisa kau dapatkan begitu saja.”
“Dan kau tahu apa rasanya duduk di sini, menunggu istriku kembali, hanya untuk ditinggalkan?” suara Ezra meninggi, kini penuh ledakan emosi. “Kau pikir aku akan diam saja melihatmu lebih memilih dunia itu ketimbang aku? Tidak, Seira. Aku tidak bisa kau abaikan seenaknya.”
Hening sejenak. Nafas mereka berat, ruangan terasa semakin kecil oleh tensi yang menyesakkan.
Seira menggertakkan gigi, air mata kini menetes tanpa bisa ditahan. “Kau menghancurkan aku, Ezra. Kau tahu itu?”
Ezra menunduk sedikit, jemarinya mengangkat dagu Seira dengan kasar, memaksa wanita itu menatapnya. Tatapannya begitu dalam, seakan bisa menembus ke dalam jiwa.
“Tidak, sayang. Aku tidak menghancurkanmu. Aku hanya menunjukkan bahwa tanpa aku, kau bukan apa-apa. Kau harus belajar menempatkan aku di atas segalanya.”
Seira menepis tangannya dengan kasar, wajahnya penuh luka dan kemarahan. “Kau monster.”
Ezra tersenyum tipis, dingin. “Mungkin. Tapi aku monster yang kau pilih untuk kau nikahi. Kau ada disini, karena kau bersedia menjadi miliku, aku tak memaksa.”
Seira terisak. “Kenapa, Ezra?” suara Seira parau, penuh getir. “Kenapa kau begitu jahat padaku?”
Ezra mengangkat kepalanya perlahan, sorot mata dinginnya menembus Seira. Senyum tipis menghiasi wajahnya, bukan manis, melainkan penuh ironi. “Aku tidak jahat. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak lama. Membawamu kembali menjadi istri yang dulu.”
Seira setengah langkah maju, tumit sepatunya mengetuk lantai marmer dengan suara tegas. “Istri yang dulu? Istri seperti apa? Yang duduk di rumah, menunggumu pulang, seperti boneka? Aku bukan itu, Ezra. Aku tidak bisa kembali ke sana.” Nadanya gemetar, menyadari sedang menantang pria paling berpengaruh di kota ini.
“Aku tidak minta kau menyerahkan semuanya,” Ezra bersuara berat, mengendalikan nada. “Aku hanya ingin ketika aku pulang setelah hari yang penuh penat, kau ada!. Aku hanya ingin ada seseorang yang menungguku, meski kau sibuk seharian dengan kamera dan seruan orang-orang. Itu perjanjian kita dulu..” Suara Ezra melambat di kalimat terakhir.
Nada suaranya tajam, nyaris seperti perintah.
Seira menggeleng, menahan napasnya yang tersengal karena emosi. “Belakangan aku sibuk.. memang aku akui. Karena karierku sedang di puncak, Ezra. Brand internasional menginginkanku, majalah-majalah besar memujiku. Ini masa keemasanku. Dan kau… kau ingin aku melepaskan itu hanya untuk menunggu di rumah?!”
“Aku tidak butuh istri yang dikejar ribuan mata. Kau cukup duduk, aku bisa berikan semua yang kamu mau. Kau… hanya cukup menurut, patuh padaku,” balas Ezra, suaranya merapal. Posturnya yang menjulang membuat bayangan besar jatuh menelan sosok Seira. “Aku butuh istri yang tahu siapa pusat hidupnya. Kupikir kau sudah cukup mengenalku. Kupikir kau bisa paham.”
Seira menatapnya, kedua tangannya mengepal kuat. “Kau terlalu kekanak-kanakan! Kau pikir aku tidak tahu? Semua ini hanya karena kau merasa tidak diperhatikan. Kau hanya ingin diperhatikan, Ezra. Kau hanya ingin jadi pusat duniamu sendiri.”
Ezra mendekat, suaranya menurun tapi penuh tekanan. “Apa salahku? Apa salah aku meminta perhatian… dari istriku sendiri?”
Seira tercekat, matanya melebar. Suara itu, dingin, tenang, tapi menyakitkan. Ada luka yang ia coba torehkan kembali dengan kata-kata.
Ezra menunduk, menatapnya dari jarak dekat. “Kau tahu alasannya tidak seremeh ini? Pernikahan kita tidak bisa dijalani seperti ini…”
Suasana membeku.
Seira menelan ludah, tubuhnya kaku. “Lalu mau kau apa…?”
“Sudah jelas, Seira.. berhenti dari semua ini, aku bisa berikan apapun yang kau mau. Kembali jadi istriku..” nadanya tidak memohon, tapi memerintahkan.
Seira menelan ludah. Berusaha keras mempertahankan airmata dan harga diri. “Ezra.. aku lakukan apapun, tapi jangan memintaku berhenti.”
“Tak ada pilihan lain kalau masih peduli dengan pernikahan ini.”
Seira terdiam, tubuhnya lunglai. “Aku akan berhenti, jika mimpiku sudah selesai.”
Ezra menarik napas, melangkah mundur, mengambil rokok dari saku jasnya, menyalakannya dengan gerakan tenang yang kontras dengan badai dalam ruangan itu. Asap putih mengepul, menyelimuti wajahnya yang dingin.
“Aku hanya butuh kau mengerti. Tidak ada satu pun yang lebih penting dari aku. Tidak kontrak, tidak sorakan, tidak panggung. Aku.”
Seira mengusap air matanya dengan kasar, wajahnya merah karena amarah. “Kau gila, Ezra. Kau benar-benar gila. Dunia tidak berputar hanya untukmu!”
Ezra menghembuskan asap perlahan, senyum sinis terlukis. “Tapi duniamu… seharusnya memang berputar hanya untukku.”
Suara itu menghancurkan. Seira memalingkan wajah, tidak ingin menampakan airmata di depan Ezra,
“Kau menyakitiku, Ez. Kau akan kehilanganku..”
Ezra menatapnya, tatapannya tajam tapi ada kilatan rasa sakit di dalamnya, sekilas, sebelum kembali tenggelam dalam dingin. “Kalau aku kehilanganmu, Seira… aku akan memastikan kau tidak punya apa pun sampai kau kembali. Aku pastikan kau datang padaku lagi, meski dengan menyeret harga dirimu.”
Seira menoleh dengan wajah penuh air mata, lalu berlari keluar, membanting pintu sekali lagi. Suara itu bergema, meninggalkan kesunyian di ruangan luas itu.
Ezra berdiri mematung. Dia mengambil rokok dengan tenang dan duduk kembali ke singgasananya sambil menatap tajam kearah perginya Seira.