“Apa kabar calon pengantin.. Sudah mendekati waktunya masih berkeliaran?” ejek Wanda. “Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan,bang.. Biar nanti cutinya enak,” jawab Ruby. "Lagi pula, masih tersisa waktu 1 bulan lagi." “Honeymoon sepuasnya ya? Kemana?” “Aku ingin ke Scotlandia.. Tapi Rayyan tidak mau, dia bilang cukup honeymoon di dalam negeri saja. Kalau perlu di kota ini saja..” Ruby duduk di kursi. Wanda tertawa. “Mungkin dia berat meninggalkan pasiennya..” kata Wanda. “Lama lama aku yang gila karena selalu dijadikan yang kedua." “Sendirian? Tidak bersama pak dokter?” “Aku dari kantor bang. Janji bertemu teman disini,” kata Ruby. “Nah.. itu dia." Wanda menoleh, tampak Raissa yang melangkah masuk. “Raissa..” panggil Ruby sambil melambaikan tangan. Raissa menoleh dan segera datang menghampiri. “Aku ontime kan?” “Ya..” Raissa duduk. “Bang.. kopi yang biasa ya?” kata Raissa. “ok.. Kamu, Ruby?” “ Coffee latte bang..” “Ok ditunggu ya.. Silakan ngobrol,” Wanda meninggalkan meja dimana kedua wanita itu duduk berhadapan. “Aku menepati janjikan?” kata Raissa. “Tapi ini nyata kan? Aku takut ini lagi lagi sebuah halusinasi yang aku ciptakan..” ujar Ruby. Raissa mencubit lengan Ruby. “Aduh! Sakit.. Kamu sudah gila??” “Jika sakit artinya ini real. Kamu memang sedang duduk berhadapan denganku." “Tapi tidak perlu mencubit dengan begitu keras!” “Biar kamu cepat menyadari kalau ini bukan mimpi atau apapun. Ini real..” “Dasar..!” Raissa tertawa. “Oya, sebelumnya aku ingin mengucapkan belasungkawa atas papa kamu.. Aku belum sempat mengucapkannya. Meski kita bermusuhan tapi aku tak memusuhi almarhum papa kamu..” Ruby terdiam, menatap wajah Raissa. “Kenapa?” tanya Raissa. “Aku sudah pernah mendengar kata-kata seperti ini kemarin..” ucap Ruby. “Apa?” “Kamu juga mengucapkan ini saat kita bertemu di Naura Cake shop..” “Benarkah? Wah hebat.. Selamat, kamu menjadi seorang paranormal," Raissa bertepuk tangan. “Aku serius.. Semua ini akhirnya membuat aku bingung antara realita dan pikiran." Raissa tertawa. “Ini kopinya, nona nona cantik.. dan ini ada cemilan untuk kalian berdua,” kata Wanda sambil menghidangkan di meja. “Makasih,bang.. Saranghaeyo,” Raissa mengedipkan sebelah matanya. “Sama-sama..” “Abang sibuk?” tanya Raissa. “Tidak.. Kenapa?” “Duduklah,bang.. temani kami bercerita. Karena kami tak mungkin hanya duduk berdua dan bertatapan seperti ini, nantinya.. Jika tidak berujung dengan perkelahian pastinya akan berujung dengan kekakuan”. Wanda tertawa. “Baiklah.. two princess,” Wanda duduk di sebelah Ruby. “Begini,bang..” kata Raissa. “Biar aku yang bercerita..” kata Ruby. “Aku saja..” “Aku! Aku lebih paham..” “Tapi kamu tidak ada di rumah sakit seperti ketika kami sedang menunggui Jessika! Kamu tidak tahu cerita nekat yang dilakukan Nindy”. “Cerita nekat?” tanya Wanda. “Begini bang.. Apa abang sudah dengar soal penusukan yang dilakukan Nindy terhadap Jessika?” tanya Raissa. “Ya.. tapi aku belum sempat menjenguknya di rumah sakit..” jawab Wanda. “Dan aku juga belum menanyakan kronologinya pada Rayyan..” “Jadi begini bang.. Nindy mulai mengancam akan melukai orang orang di dekat Rayyan, mulai dari Jessika.. Alasannya, ingin membuat Rayyan mau mengakui dosa yang ia lakukan”. “Dosa apa?” tanya Wanda. “Menghilangkan banyak nyawa dan menghilangkan jejaknya..” jawab Ruby. “Ah, masalah ini kenapa tidak pernah tuntas? Keluarga Nindy harusnya bisa membuat Nindy lebih baik. Mereka harusnya mengobati kejiwaannya dan tidak membiarkan seperti ini. Semakin lama dia semakin kacau, apalagi belakangan ini”. “Mungkin dia baru akan diam kalau Rayyan menikahinya,” Raissa tertawa. “Hussh..” kata Wanda. “Hargai calon istrinya disini”. “Biar adil, bang.. jadi tidak ada yang dipilih Rayyan diantara kami berdua”. Wanda tersenyum. “Sudah waktunya berdamai.. Masa kalian mau terus bermusuhan?” tanya wanda. Raissa dan Ruby saling pandang. “Dia terlalu iri padaku karena aku ini sangat cantik, bang.. Siapapun akan jatuh cinta setiap melihatku. Dan dia khawatir Rayyan akan berhenti di aku”. “Kata siapa aku iri? Justru aku melihat kecemburuan itu padamu. Aku bisa mendapatkan apa saja yang aku mau..” “Kalian berdua sama-sama istimewa, punya kelebihan masing-masing”. Ruby dan Raissa tak sadar sama tersenyum. “Nah.. akur." Ruby memandang Raissa. “Baiklah, untuk menghadapi Nindy, aku siap berdamai denganmu,” kata Ruby. “Deal.. Untuk masalah Nindy kita berhenti sampai disini dulu,” Raissa setuju. “Maksudku.. kita berhenti sejenak untuk saling memusuhi, marilah kita bersama-sama bergandengan tangan untuk menyelamatkan nyawa siapapun yang terancam. Terlepas dari dia sadar mengucapkannya atau tidak.. yang jelas dia mengincar hidup orang yang didekat Rayyan. Dimulai dari menikam Jessika, misteri tenggelamnya si kecil Leon.. keduanya adalah orang yang terhubung dengan Rayyan. Kasihan Leon menjadi korban.. dia masih anak-anak." “Ya..” “Abang juga orang yang dekat dengan Rayyan..” Ruby mengingatkan. “Aku akan berhati hati..” janji Wanda. “Kalian juga..” “Ya, itu pasti.. Lalu ada Amanda, dan beberapa karyawan di klinik..” kata Raissa. “Semua harus diingatkan juga..” “Almeera..” tambah Ruby. “Benar.. anak itu bersama Leon, hampir setiap hari dia datang ke klinik..” ingat Wanda. “Aku merasa kecelakaan yang menimpa papa juga ulahnya, tapi dia tak akan mau mengakuinya”. Raissa meneguk kopinya. “Tapi bagaimana jika yang dikatakan selama ini oleh Nindy itu benar?” tanya Ruby. Wanda dan Raissa memandang Ruby. “Aku pernah melihat dia memukuli seorang preman yang menghentikan mobilnya. Dia memukul kepala orang itu sampai berdarah.. Hingga hari ini aku masih mengingatnya”. “Pastinya itu pembelaan diri..” kata Raissa. “Kamu yakin?” tanya Ruby. “Jika kamu meragukannya lalu kenapa menikahinya?” “Adakah diantara kalian yang tahu.. apakah Rayyan punya saudara kembar?” tanya Ruby. “Apa?” tanya Wanda. “Aku tidak tahu.. Dia terlihat begitu serius saat bilang kalau photo itu adalah photo saudara kembarnya..” “Kamu kan kenal dia dari kecil? masa tidak ingat dia punya saudara lain?” “Aku pikir selama ini ia hanya anak tunggal dari seorang single mom.. Awalnya saat aku bertanya dia menjawab serius, tapi setelah itu dia mengakui kalau semua hanya bercanda. Lelaki di photo itu adalah dia. Tapi anehnya.. paginya aku tak menemukan photo yang bertuliskan nama Elnino.. Kenapa dia menyimpannya setelah berlaku seolah olah dia memang punya saudara kembar?” “Apakah papamu tidak mengenal ibunya Rayyan?” tanya Raissa. “kenal.. Mereka bekerja dalam satu kantor..” “Artinya papa kamu pasti tahu..” kata Wanda. “Tapi papa sudah tidak ada..” Ruby menunduk sedih. “Aku yakin dia hanya ingin mengerjaimu saja..” ucap Wanda. Ruby memandang Wanda dan Raissa. “Mungkinkah kalau Rayyan yang sudah membuat kecelakaan yang menimpa papa? Mengingat aku akan bertanya pada papa tentang saudara kembarnya?”