Drama

Ungkap Kasus 1

Penulis sanzfy
20 December 2025

Raissa tertawa. “Kenapa tertawa?” tanya Ruby. “Aku melihat kamu sudah ikut gila seperti Nindy..” jawab Raissa. “Apa maksud kamu?” “Jika kamu mencurigai Rayyan dan terus berpikir mungkinkah dia seperti yang dituduhkan Nindy? Buat apa menikah? Tidak takut jika semua itu benar lalu kamu akan menjadi korban dia selanjutnya?” tanya Raissa. Ruby terdiam. “Lihat saja, kamu sekarang mulai aneh.. Kamu berpikir sudah bertemu aku dan bicara tentang Nindy denganku juga membahas siapa orang yang ada di dekat Rayyan. Sedangkan kita baru bertemu hari ini dan berbincang..” kata Raissa. "Raisa.." tegur Wanda. “Apa kamu tidak merasa kalau kejiwaanmu sudah mulai terganggu?” tanya Raissa. “Pasti saat ini kamu banyak berpikir kalau semua yang terjadi ini seperti mengulang sebuah kejadian.. seakan kamu bermimpi lalu mimpi itu ternyata jadi nyata?” “Harusnya kamu tidak usah mendengarkan Nindy, Ruby..” nasihat Wanda. “Lihat, kamu sekarang menjadi bingung.. Stress, memikirkan semua yang diucapkan Nindy sementara pernikahanmu juga sudah semakin dekat”. “Begini saja.. Aku akan beri kamu saran yang terbaik. Kamu tidak usah kemana-mana lagi. Cukup pergi dan pulang kantor saja, selebihnya duduk manis di rumah menanti hari pernikahanmu tiba. Jika Nindy menelpon kamu tidak usah diangkat..” “Benar, jika perlu blokir saja..” saran Wanda. “Jika tidak.. ya jangan menikah,” tambah Raissa. “Biar aku yang menggantikan." “enak saja!” tukas Ruby. “Habis gimana? Aku tidak rela Rayyan menikahi orang pintar tapi bodoh seperti kamu!"0 “Apa katamu?” “Eh.. Sudah,” kata Wanda. “Abang juga.. Harus jaga diri. Hati hati karena Nindy sepertinya semakin gila,” Raissa mengingatkan. “Siaap." Terlihat Faishal melangkah masuk bersama beberapa temannya. “Faishal..” panggil Ruby sambil melambaikan tangan. Faishal menoleh. “Siapa?” tanya Wanda saat melihat Faishal yang berjalan menghampiri. “Adikku, Bang..” jawab Ruby. “Adikmu ganteng..” puji Raissa. “Aku melihatnya saat ia bertemu Rayyan di rumah sakit soal Jessika." “Aku kan juga cantik..” ucap Ruby. “Tidak pernah ada yang menyebut kamu cantik. Aku yang selalu menjadi primadona di sekolah,” bantah Raissa. “Kamu benar-benar ya?” “Kak..” sapa Faishal. “Hai, polisi ganteng..” sapa Raissa. “Kalau semua polisi ganteng begini, aku betah urusan ke kantor polisi." Faishal tertawa. “Kita belum sempat kenalan.. Aku mungkin jauh lebih tua darimu tapi semangatku sama dengan yang seusiamu..” Raissa mengedipkan mata. “Apaan sih kamu?” tanya Ruby. “Ada apa, kak?” tanya Faishal sambil memandang Ruby. “Aku sedang dengan teman-temanku." “Tidak apa-apa, hanya menyapamu saja." “Oh.. kakak ini”. “Bagaimana dengan Nindy? Sudah kamu selidiki soal ancamannya dan kecelakaan yang menimpa papa?” “Belum bisa membuktikan kalau dia terlibat kak.. karena dia punya alibi..” “Lalu Leon? Dia kan pernah mengancam..” “Tidak usah terlalu dipikirkan kak, nanti stress..” kata Faishal. “Nah, benar..” Raissa setuju. “Nanti ikutan gila." “Aku tinggal ya kak?” “Ya..” Faishal meninggalkan meja itu. “Lebih cerdaslah dalam berpikir, Ruby..” kata Raissa. “Diam saja! Bicaramu sangat menyakitkan!" tukas Ruby. Raissa tertawa. “Aku sudah bilang.. Kita berdamai soal Nindy." “Aku mau pulang..” Ruby berdiri. “Pamit, bang..” “YA, memang itu yang terbaik agar kamu tidak berhalusinasi lagi..” ujar Raissa. Ruby tak menjawab berjalan meninggalkan tempat itu. “Sudah.. jangan membuat dia semakin stress..” kata Wanda. Raissa tersenyum. “Aku suka.."

Ruby sampai di rumah dan langsung berbaring di sofa. Ia menyalakan televisi. Sebenarnya tidak ada yang menarik perhatiannya untuk menonton tapi ia tak ingin memikirkan semua yang disampaikan Nindy. Handphone Ruby berdering. “Hallo..” sapa Ruby. “Ruby..” terdengar suara Keisha. “Ah.. Kenapa sih keluarga mereka ini suka sekali menggangguku?” gerutu Ruby dalam hati. “Ada apa lagi, kak?” tanya Ruby. “Aku sedang tidak dalam mood yang bagus." “Aku ingin minta tolong padamu, sekali ini saja..” “Soal nindy?” “Ya..” “Aku bukan siapa-siapa kak..” “Nindy tak pernah melakukan hal jahat. Aku tahu kamu mencurigainya soal kecelakaan ayahmu. Tadi Raissa juga menelponku. Dia curiga kalau Nindy adalah orang yang sudah menyebabkan Leon meninggal. Tapi aku bisa menjamin dia tidak melakukan hal itu.. Tolong hentikan terus mencurigai Nindy." “Bukannya Nindy sendiri yang mengancam akan melukai orang disekitar Rayyan." “Dia mungkin mengancam, tapi dia tak akan mampu melakukannya..” “Kak..” “Ya..” “Aku pernah diberitahu.. orang yang menulis cerita biasanya akan sangat mendalami karakter tokoh yang ia tulis. Seakan itu adalah dia. Bukankan Nindy kakak katakan menulis cerita dan terlalu menjiwainya?” “Sebenarnya.. Dia bukan penulis cerita." “Lalu?” “Dia hanya lah seorang wanita yang sangat suka menggambar sejak kecil." “Kenapa sekarang mendadak jadi berubah? Apa karena kami mulai ingin memperkarakan dia?” “Dia tidak bersalah..” “Dia sakit kak! Jiwanya butuh diobati! Apa kakak tidak sadar? Dia mulai mengacau?” “Tapi..” “Dan aku pun ikut gila karena dia!” Ruby menutup telpon. “Ruby..” panggil Sofie. “Kak Sofie..? Kapan datang?” tanya Ruby. “Sejak tadi, tapi kamu terlihat sangat serius bicara di telpon..” Sofie duduk di samping Ruby. “Atta mana? Kakak sendirian kesini?” “Atta tidak ikut.. Dia bermain di rumah tetangga." Ruby mematikan televisi. “Ada apa?” tanya Sofie. “Teman kakak, yang psikiater itu.. siapa namanya?” “Sandra?” “Ya, kak Sandra..” “Kenapa?” “Apa aku boleh konsultasi dengannya?” “Kenapa?” “Aku merasa aku sedikit terganggu kak.. Aku mulai sering berhalusinasi. Sebelum aku menjadi sosok yang berbeda.. Aku sepertinya lebih baik konsultasi dengan dia..” “Ya Allah, Ruby..” Sofie merentangkan tangannya untuk memeluk Ruby. “Aku sudah mulai aneh kak.. Aku merasa aku berbicara dengan orang yang sudah meninggal.. Aku seperti sedang bicara dengan orang lain sementara orang itu tidak disini.. Aku kadang seperti merasa ketakutan.. Apalagi sejak papa pergi..” “Kamu hanya sangat terpukul dengan kepergian papa.. Sudahlah, papa pergi itu sudah takdir dari Allah.. bukan salahmu,” hibur Sofie.”Waktu pernikahanmu sudah menghitung hari.. Nanti kalau kamu sakit semua bisa kacau..” “Aku mau membatalkan pernikahanku dengan Rayyan kak..” “Apa? Tapi kenapa?” Sofie terkejut. “Aku takut, kak..” “Kenapa?” “Ntahlah.. Aku tiba-tiba menjadi orang yang berbeda.. Aku tidak seperti diriku sendiri”. “Ruby.. Sudahlah, jangan kamu pikirkan lagi. Pergilah ke kamarmu dan istirahat..” “Tapi..” “Istirahatlah.. Sini handphonemu, biar aku yang pegang sampai Faishal pulang." “Ya..” Ruby segera beralan menuju kamarnya. Sofie membuka nomor kontak di handphone itu dan mencari nama Keisha. Ia mencoba menghubungi nomor itu. “Hallo, Ruby?” sapa Keisha. “Keisha?” tanya Sofie. “Ya.. ini siapa? Bukan Ruby?” tanya Keisha. “Aku Sofie, kakaknya." “Oh.. ada apa?” “Bisakah kalian berhenti mengganggu hidup adikku? Sebelum dia bertemu adikmu dan kamu, hidup Ruby sangat baik..” kata Sofie. “Maksudmu?” “Berhentilah menghubungi Ruby. Apapun itu! Jika kalian punya masalah dengan Rayyan, selesaikan dengannya. Jangan menarik Ruby dalam masalah kalian!” “Aku tidak bermaksud menyakiti Ruby, namun Ruby sepertinya juga sangat ingin membuat Nindy menjadi orang yang dituduh bersalah. Dia kan belum tahu cerita sebenarnya apa? Aku hanya ingin melindungi Nindy. Dia adikku. Kami melewati banyak hal bersama,” jelas Keisha. “Jika kamu ingin melindungi adikmu.. Akupun melakukan hal yang sama!” balas Sofie. “Apapun yang ingin kalian lakukan dan tuduhkan pada Rayyan, kalian tak perlu menarik Ruby dalam masalah. Jika kalian memang menganggap Rayyan salah, buktikan dan hadapi dia tanpa perlu membawa-bawa Ruby!” “Aku ingin meralat kata katamu, kak Sofie..” “Siapa ini?” tanya Sofie karena tiba-tiba suara di seberang sana berubah. “Nindy..” “Bagus, kamu berani menerima telpon ini. Aku bisa bicara langsung padamu!” “Bukan setelah bertemu aku, hidup Ruby berubah! tapi sejak ia kembali dan memutuskan menikah dengan Rayyan. Hidupnya berubah drastis." “Tidak akan berubah jika dia tak bertemu kamu! Ruby sudah lama mengenal Rayyan! Kami semua kenal dia." “Tapi 4 tahun ini kalian semua kemana? Pernahkah bertemu Rayyan? Aku kenal dia sejak usiaku 10 tahun. Dan aku ternyata tertipu oleh wajah malaikatnya.. Wajah teduh dan senyum yang membuat siapapun yang mengenalnya merasa dia adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan ke dunia. Tapi kita semua salah.. Dia bukan malaikat.. Dia adalah setan yang dikirimkan ke bumi ini untuk menjadi algojo bagi kita semua!” “Kamu memang gila!” “Bukan aku yang gila, bodoh! Rayyan adalah orang yang sebenarnya sakit jiwa. Entah dia sosiopat atau psikopat.. aku tidak tahu bedanya! Tapi dia adalah pembunuh jahat!” “Jaga ucapanmu! Tidak sopan sekali menyebut orang yang lebih tua dengan kata-kata bodoh!” sofie menutup telpon dengan geram. “Ada apa, kak?” tanya Faishal yang baru masuk. “Kenapa marah?” “Aku rasa, Nindy itu memang orang gila." Faishal menghela nafas. “sudah aku katakan, biar aku yang menyelesaikan masalah ini.. Kak Ruby sudah cukup terganggu.. kak sofie jangan ikutan stress,” kata Faishal. “Kadang aku merasa kamu jauh lebih dewasa dari kami berdua.. Papa mendidik kamu menjadi pria hebat." “Ah.. aku tersanjung,” kata Faishal. “Aku pulang dulu.. “ “Hati hati ya kak..” “O iya, ini handphone Ruby tolong kamu simpan.. Biarkan dia istirahat. Dia sudah sangat terusik oleh Nindy dan kakaknya. Sampai berhalusinasi.. kata Rayyan”. “Siap boss..” Sofie segera meninggalkan tempat itu. Faishal memandang handphone Ruby yang ada ditangannya. “Sebenarnya siapa yang sedang dalam masalah? Semua terlihat sama.. Baik kak Ruby ataupun Nindy,” gumam Faishal