Bab 3. Rencana Dimulai

Penulis alend_
20 December 2025

Sudah 2 hari Noah memikirkan, apakah melanjutkan rencana dengan melibatkan Leona atau mencari wanita lain saja?

Namun, dia tidak menemukan jawaban yang tepat. Tambah lagi, dia seperti diburu waktu saja.

“Bagaimana mungkin wanita berusia 18 tahun terlibat denganku?!” Noah mengacak-acak rambutnya dengan kasar.

Kepalanya sudah mau pecah saja. Tepat saat itu, ponselnya pun berdering. Satu nomor yang tidak pernah disimpan, tetapi dia sudah sangat mengenal pemilik nomor itu.

Tanpa berbasa-basi, Noah menolak panggilan dan menelepon Kevin.

“Selamat malam, Pak,” jawab Kevin dari seberang.

“Lanjutkan rencanamu!” tegas Noah menjawab Kevin.

Untuk sesaat, Kevin terdiam dan kemudian menjawab, “Baik, Pak.”

Untuk Kevin, tidak mungkin Noah mengambil keputusan secara impulsif. Bosnya itu sudah berpikir dengan keras.

“Selama 2 hari dan langsung memerintahkan melanjutkan?! Sepertinya ada sesuatu, tapi apa?!”

Sepanjang malam, Kevin masih mencari jawaban. Sayang sekali, tidak bisa menemukan jawaban yang pas.


Rencana Kevin adalah mengundang Leona untuk hadir sebagai calon penerima beasiswa dari Grup Jasper.

Undangan untuk melakukan rangkaian tes sudah masuk ke surel. Leona tidak percaya kalau dia memiliki kesempatan untuk mengikuti tes penerimaan beasiswa lagi.

“I-ini?” Leona terbata. “Apa ini mungkin?” Tidak percaya dengan apa yang dilihat dan dibacanya.

“Ada apa?” tanya Karina Lana, sahabat Leona Iris.

“A-aku.” Leona masih terbata saat mengalihkan pandangannya kepada Karina. “Aku menerima undangan dari Gurp Jasper untuk mengikuti tes sebagai calon penerima beasiswa.”

Karina yang mendengar pun ikut terkejut dan tentu saja ikut berbahagia. “Benarkah? Apa kali ini Grup Jasper akan memberikan beasiswa di bidang seni?”

“Hah?!” Leona menyadari sesuatu.

“Kenapa?” Karina pun tidak menyangka reaksi Leona yang tiba-tiba berubah.

“Aku tidak pernah mengirimkan berkas lamaran ke Grup Jasper. Sejak tiga tahun lalu, aku memutuskan untuk menyerah dari grup itu. Tapi, kenapa mereka mengirimkan undangan ini?” Leona tahu ada yang salah.

“Apa mungkin itu penipuan?” Karina tentu saja khawatir. “Coba periksa domain pengirim posel.” Cepat-cepat Leona memeriksa. “Tidak ada yang salah, pengirimnya dari Grup Jasper.” Kemudian membaca dengan teliti. “Nama pengirimnya pun Kevin Dorian.”

Karina ikut memeriksa. Benar saja, posel dengan domain Grup Jasper dan nama Kevin tertera sebagai pengirim. Masih ada keraguan dari Karina, hingga memeriksa sendiri dengan ponselnya. Membuka halaman situs Grup Jasper dan menemukan posel pengirim itu benar dari Kevin Dorian.

“Leona, jangan berpikir lagi, siapkan saja semua berkasmu. Hari ini!” kata Karina penuh semangat.

“Tapi, Karina. Apa ini mungkin?” Masih ada keraguan dalam benak Leona.

“Tentu saja, Leona. Kapan lagi kamu akan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi?” bujuk Karina dengan keyakinan penuh. “Kamu selama ini belajar dengan keras dan mengincar beasiswa dari luar negeri, tapi tak satu pun yang menyediakan beasiswa seperti yang kamu butuhkan. Itu artinya, saat ini, Grup Jasper menyadari keberadaanmu dan kemampuanmu.”

Leona menatap Karina. Sahabatnya itu yang paling tahu dengan semua perjuangannya demi mimpi dan cita-citanya.

Karina meraih kedua tangan Leona dang menggenggamnya, kuat dan hangat. Memberikan dukungan seutuhnya dan Leona pun mengangguk.

“Lalu, bagaimana dengan pekerjaanku hari ini?” tanya Leona pun mulai khawatir.

“Tenang saja, semua ini bisa kuatasi,” jawab Karina dan bergegas mengambil ponselnya. Leona bekerja di Kafe Luxy, pemiliknya adalah Irvin Marcel. Irvin adalah sepupu Karina dari pihak ibunya.

Karina menghubungi kakak sepupunya itu dan meminta izin untuk Leona. Tidak lupa juga menjelaskan dengan rinci alasan Leona izin dari pekerjaannya.

Irvin tipikal pria yang sangat baik, memahami Leona adalah seorang pekerja keras dan juga pegawai yang paling bisa diandalkan, termasuk pegawai jujur yang pernah dimilikinya. Tentu saja, Irvin memberikan izin untuk Leona mempersiapkan diri untuk tes penerimaan beasiswa, apalagi pemberi beasiswa itu adalah perusahaan raksasa dan sudah berekspansi ke berbagai negara besar.

Setelah itu, Leona pun mulai menghubungi 3 tempat kerjanya yang lain dan meminta izin. Sama seperti Irvin, dengan mudah mereka memberikan Leona untuk izin dari pekerjaan.

Seharian Leona mempersiapkan semua, tentu saja dengan Karina yang membantunya.

Dan hari itu pun tiba. Lagi-lagi Karina membantu Leona mempersiapkan semua dengan baik. Mulai dari pakaian, make-up hingga ke hal-hal kecil seperti alat-alat tulis.

“Terima kasih, Karina,” ucap Leona tulus. “Padahal, semua alat tulis ini tidak perlu karena mereka sudah pasti mempersiapkan semuanya.”

“Biar saja, aku tidak peduli. Bisa saja ada yang berbuat curang, kan?” Karina mengangkat bahunya.

“Situasi seperti ini sangat pantas kita mencurigai orang dalam di sana.” Leona tersenyum untuk pikiran buruk Karina itu. Namun, dia pun membalas dengan pelukan hangat.

“Doakan aku ya,” pinta Leona tulus.

“Sudah pasti. Pergilah, kutunggu di kafe seberang,” tunjuk Karina ke arah barisan ruko yang berisi jejeran tempat makan dan tempat nongkrong di area perkantoran itu.

Leona keluar setelah mengangguk dengan pasti. Berjalan dengan penuh percaya diri menuju ke lobi utama Grup Jasper.

Setelah menunjukkan surel undangan yang diterimanya, Leona pun dilayani oleh petugas keamanan. Dengan ramah pria berseragam dan bertuliskan security dengan tinggi badan kira-kira 170 cm itu membawa Leona ke aula tempat pelaksanaan tes penerimaan beasiswa.

“Silakan masuk, Nona,” kata petugas itu dengan ramah setelah membukakan pintu.

“Terima kasih, Pak,” jawab Leona dengan sopan dan ramah pula.

Petugas pria itu pun terpukau. Sejak tadi, sejak para calon penerima beasiswa datang, tak satu orang pun yang memperlakukan mereka, front liner dengan baik. Hanya Leona saja yang melakukannya.

Semua itu jelas sekali terlihat. Mereka yang ikut dalam tes ini adalah anak-anak dari para orang kaya, mulai dari kelas menengah hingga kelas atas.

Panitia pun mempersiapkan peralatan untuk ujian tertulis. Setelah Leona menyerahkan berkas, dia pun menerima tanda pengenal sebagai peserta dan petugas tadi membawanya ke meja dengan nomor peserta miliknya.

Leona duduk tepat di depan, di baris pertama dan posisi tengah. Meskipun ada rasa tak enak, tapi dia harus menghadapi ujian ini dengan baik.