Ujian Terakhir, Wawancara

Penulis alend_
20 December 2025

Dua minggu sudah Leona menunggu pengumuman.

“Ini saatnya, Leona.” Karina yang merasakan gugup dan kedua tangannya pun gemetar.

“Tenanglah, Karina. Yang ujian itu aku, kenapa kamu yang gugup?” Leona terkekeh melihat reaksi sahabatnya itu.

“Tentu saja aku ikut gugup. Ini mimpi kamu, ini cita-citamu. Lagipula, kenapa juga kamu ambil jurusan yang mahal sekali?” gerutu Karina.

Leona tertawa, tidak tersinggung sama sekali. Dia tahu ucapan barusan bukanlah hinaan, melainkan sebuah pujian untuknya yang berani mengambil keputusan untuk masa depannya.

“Ayo, buka,” desak Karina sambil menyodorkan ponsel milik Leona. Leona mengangguk dan cepat-cepat membuka kotak pesan daring. Belum terbuka, Leona menutup mata dan menarik napas dengan berat.

“Aaaa ….” Karina berteriak dan membuat Leona sontak terkejut. Mata Leona bukannya membaca pesan masuk, tapi menonton Karina yang melompat dengan girang.

“Leona … kamu memang hebat!” puji Karina setengah berteriak. Leona terperangah, masih belum memahami. Kali ini, otaknya berpikir dengan lambat.

“Ah, kamu ini,” geram Karina dan mencubit dengan gemas sahabatnya itu. “Itu kamu lulus, Leonaaa.”

“Iya, Karina, aku tahu. Tapi, itu masih pengumuman untuk tahap berikutnya, bukan yang berhasil mendapatkan beasiswa.” Leona mencoba menyadarkan Karian.

“Tetap, saja-”

“Karina,” sela Leona lalu menurunkan kedua tangan Karina. “Kita sama-sama tahu, kalau tahap ini justru bukan tahap yang baik untukku. Apa mereka benar-benar menyediakan beasiswa untuk seni?

Semua orang juga tahu kalau semua bisnis milik Grup Jasper tidak ada yang bergerak di bidang seni.”

Karina melihat Leona yang tiba-tiba pesimis. “Sayangku, dengar! Terserah apa pun yang akan kamu pikirkan, tapi kali ini firasatku sangaaat baik.”

Leona membuka mulut dan bersiap untuk bicara. Tapi, melihat Karina yang begitu bersemangat, dia memutuskan menelan semua kata-katanya dan ikut bergembira bersama dengan Karina.

Waktu wawancara pun tiba.

Masih dengan bantuan Karina, Leona memakai pakaian yang sangat tepat untuk wawancara kali ini.

“Karina, terima kasih ya, kamu sudah membantuku sampai sejauh ini. Dan aku harap kamu tidak akan kecewa kalau saja hasilnya aku gagal lagi nanti.” Leona semakin terlihat ragu untuk hasilnya nanti.

“Mmm … tidak, aku cukup percaya diri kalau kamu akan mendapatkan kesempatan kali ini.” Karina benar-benar sangat percaya diri.

Dengan mengangguk, Leona menerima energi positif yang diberikan oleh Karina padanya. Lalu, dengan sangat percaya diri pun dia keluar dari mobil Karina dan melangkah menuju gedung pusat Grup Jasper.

Setelah menunjukkan kartu peserta pada security, dia dibawa ke meja resepsionis dan dilayani dengan baik. Resepsionis yang menerimanya pun membantu membukakan lift dan menekan tombol untuk lantai yang dituju.

“Waktu itu, mereka tidak menunjukkan sikap ramah padaku,” lirih Leona setelah pintu lift tertutup.

Dia pun melihat penampilannya yang ada di cermin panjang lift. “Ternyata, pakaian mahal membuat orang lain benar-benar menghormatimu.”

Sampai di lantai 22, pintu lift terbuka. Leona pun keluar dan berjalan menuju meja resepsionis lagi. Kali ini, seragam wanita yang menyambutnya berbeda. Terlihat sangat mewah, di belakang wanita itu tertulis Resepsionis Lantai Eksekutif dengan tulisan berwarna emas.

‘Sebelumnya, wawancara tidak di lantai ini,’ kata Leona dalam hati. ‘Apa memang mereka melakukan perubahan? Atau berencana untuk membuka bisnis di bidang seni?’

Tentu saja Leona terkesima dengan kemewahan lantai tempatnya berpijak. Ruangan kerja untuk para eksekutif memanglah berbeda. Dan yang bekerja di dalam pun bukanlah pegawai biasa.

“Selamat pagi, Bu,” sapa Leona pada resepsionis yang menyambutnya.

“Selamat pagi, Bu. Boleh saya meminta kartu pseserta Anda?” balas si resepsionis dengan sopan dan ramah.

Sempat gugup dan bingung, walau sebentar, tapi Leona berhasil menguasai diri dan menyerahkan kartu peserta.

Resepsionis menerima dan mencatat identitas Leona berdasarkan kartu itu. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia mengantar Leona ke ruang tunggu.

“Silakan masuk, Bu,” ucap resepsionis setelah membukakan pintu.

“Terima kasih, Bu,” kata Leona sambil sedikit menundukkan kepala dan tersenyum.

Di dalam, sudah menunggu 9 orang yang menjadi saingan Leona saat ini. Melirik Leona sekilas dan tentu saja dengan sikap sombong masing-masing. Hanya dia yang terlihat berbeda, selalu tersenyum dan menunjukkan hormatnya pada orang lain.

“Silakan dinikmati kopi, teh dan makanan ringannya, Bu. Sambil menunggu nomor Anda dipanggil.

“Terima kasih sekali lagi, Bu,” ucap Leona dengan ramah.

Resepsionis pun keluar.

Awalnya, Leona cukup ragu untuk menikmati hidangan. Namun, 9 orang di dalam justru bersikap seolah-olah mereka sudah terbiasa ada di tempat ini. Mengambil minuman dan makanan ringan yang mereka mau tanpa peduli dengan etika sopan santun.

Dengan percaya diri, Leona pun ikut menikmati hidangan. Toh, semua yang ada di sini disajikan untuk mereka.


Wawancara sesi pertama langsung diisi 3 orang, sesi ke-dua pun 3 orang dan pada saat sesi ketiga pun dilakukan dengan cara yang sama.

Saat sesi ketiga berlangsung, Leona menyadari kalau dia akan diwawancara seorang diri.

Langsung saja jantung Leona berdetak tak karuan. Rasanya dia ingin melarikan diri. Saat ini, rasa percaya dirinya pun perlahan menghilang, berganti menjadi perasaan tidak enak.

Peserta sesi pertama dan ke-dua tidak langsung pulang, mereka sedang menunggu instruksi. Wajah yang tadinya tersenyum dan merekah berubah sangat dingin, datar dan menahan marah dan kecewa yang luar biasa.

“Untuk apa wawancara dilakukan di sini kalau Tuan Muda Jasper saja tidak ada!” ketus wanita dengan blazer hitam dan inner satin berwarna gading, serta rok ketat dengan ukuran melebihi lutut.

“Bukannya hanya itu,” sambut seorang pria dengan setelan jas layaknya eksekutif muda. “Pak Kevin saja tidak mewawancarai, dia hanya duduk sambil memainkan ponsel!”

Gerutuan demi gerutuan hanya didengar oleh Leona, keningnya berkerut. Seingatnya, Pak Kevin-lah yang langsung mewawancarai para calon penerima beasiswa, secara langsung,.

Setelah itu, peserta sesi ke-tiga pun keluar. Tentu saja dengan keluhan yang sama. Penampilan mereka saat ini terasa sia-sia untuk mereka.

“Nona Leona Iris,” panggil panitia penyelenggara membuyarkan lamunannya.

“Ya, Bu.” Leona berdiri dan berjalan menuju ruangan.

Tepat, sesaat sebelum pintu ditutup, Leona mendengar sesuatu yang sangat tidak masuk akal untuknya.