Perawan Mahal sang Penggoda - Kontrak 30 hari - bab 15

21 December 2025

Queen memejamkan mata. Jari-jarinya menggenggam ponsel erat, layar masih menyala dengan satu nama yang membuat dadanya terasa sesak. Abang. Panggilan itu berdering cukup lama. Terlalu lama. Queen menimbang. Menarik napas. Menghembuskannya pelan. Ada terlalu banyak hal yang tidak tahu bagaimana cara ia jelaskan. Motor. Gar. Uang. Gedung tinggi. Dan kenyataan bahwa ia baik-baik saja, tapi juga tidak sepenuhnya. Akhirnya, layar itu menggelap. Panggilan tak terjawab. Di dalam mobil yang hening, Gar memperhatikan semuanya dari sudut matanya. Ia melihat keraguan itu. Melihat bagaimana senyum Queen tadi perlahan menghilang. “Kenapa?” tanya Gar akhirnya, suaranya rendah, tidak menghakimi. “Kenapa kamu nggak angkat telepon dari abangmu?” Queen membuka mata. Menatap lurus ke depan. Beberapa detik ia diam, lalu tertawa kecil tawa tipis yang tidak sampai ke matanya. “Bukan nggak mau,” jawabnya pelan. “Aku cuma belum siap ngomong.” Gar tidak langsung membalas. Mobil terus melaju, lampu jalan memantul di kaca depan. “Kamu ragu tentang apa?” tanyanya kemudian. Queen menghembuskan napas panjang, seperti sedang memutuskan sesuatu yang penting. Ia menoleh dan menatap Gar, kali ini serius tidak bercanda. “Kau beneran kaya, kan?” tanyanya yakin. Gar mengangkat alis, lalu tersenyum kecil. “Tentu saja. Aku super kaya.” Queen mengangguk sekali, seolah itu jawaban yang ia tunggu. “Kalau begitu,” katanya pelan tapi tegas, “belikan aku HP yang paling mahal, keluaran terbaru. Dan… buat kontrak kita sekarang.” Gar langsung menoleh ke Deko. “Tuan?” Deko sigap. “Map kosong itu,” ujar Gar singkat. “Tuan, saya lebihkan dua map. Jaga-jaga kalau rusak,” jawab Deko cepat sambil menurunkan sedikit kecepatan mobil. Ia mengambil map-map kosong dari samping kursinya dan menyerahkannya ke belakang. Gar menerima map itu. Di dalamnya sudah ada pena. “Apapun syarat kontraknya,” ucap Gar mantap sambil membuka map, “aku terima. Asal kau tetap bersamaku.” Queen menyipitkan mata, menguji. “Kalau aku kuras uangmu?” “Lakukan,” jawab Gar tanpa ragu. Jawaban itu membuat sudut bibir Queen terangkat. Ini kesempatan. Kesempatan jadi kaya dan aman. Setidaknya sementara. “Oke,” katanya sambil menarik map itu. “Pertama. Apa pun yang aku inginkan, hari itu juga harus terlaksana.” “Baik.” “Yang aku inginkan bisa uang, pakaian, make up, perawatan, terutama perhiasan dan emas.” Queen menatap Gar lurus. “Kau keberatan?” “Untuk urusan uang,” jawab Gar tenang, “kau tidak perlu khawatirkan aku. Aku beri segalanya.” “Bagus.” Queen mengangguk, lalu mengangkat satu jari lagi. “Kedua. Jangan sentuh aku.” Ia ragu sepersekian detik. “Berjabat tangan boleh. Tapi sentuhan lain yang bisa menodai aku, tidak.” Gar menatap Queen agak lama. Wajahnya serius, rahangnya mengeras sebentar, lalu ia mengangguk. “Oke.” Queen menarik napas lega. “Terakhir,” katanya pelan namun tegas, “kontrak ini cuma berlaku tiga puluh hari. Mulai besok.” Gar langsung menoleh tajam. “Tiga puluh hari?” Queen mengangguk santai, seolah itu hal kecil. “Dalam tiga puluh hari ini aku akan menguras hartamu,” katanya sambil tersenyum tipis. “Aku ujianmu, Tuan Gar. Siapa tahu dalam tiga puluh hari kau jatuh cinta padaku.” Gar menatap Queen dalam-dalam. “Kalau justru kamu yang jatuh cinta padaku?” tanyanya balik. Queen menyerahkan map itu ke Gar, bahunya terangkat santai. “Hidupku simpel,” katanya ringan. “Ada uang, abangku sayang. Nggak ada uang, abangku buang.” Ia tertawa kecil dengan ucapannya sendiri. Gar tidak tertawa. “Hartaku nggak akan habis tujuh turunan,” katanya pelan tapi penuh keyakinan. “Kalau begitu, kau akan terus bersamaku?” Queen mengangkat bahu. “Ah, sudahlah. Kontraknya kan cuma tiga puluh hari.” “Setelah itu?” tanya Gar lagi, nadanya lebih rendah. Ia tidak suka kata setelah. Queen tersenyum, kali ini senyum paling jujur yang ia punya. “Ya tetap hidup,” jawabnya sederhana. “Dengan kecantikan dan tabungan yang banyak.” Dan untuk pertama kalinya, Gar sadar: Queen tidak sedang menjual dirinya. Ia sedang menyelamatkan hidupnya sendiri.

Mall sudah tampak sepi. Lampu-lampu beberapa toko mulai diredupkan, tanda jam operasional hampir habis. Namun begitu pihak keamanan melihat Gar melangkah masuk dengan wibawa yang tak perlu diperkenalkan rencana penutupan mendadak ditunda. Beberapa pegawai bahkan buru-buru kembali ke posisi mereka. Gar, Queen, dan Deko berjalan menuju area penjualan handphone. Sebelum sampai, Queen berhenti mendadak. “Aku ke toilet sebentar, ya.” Nada suaranya ringan, senyumnya manis. Tanpa menunggu jawaban, Queen melangkah anggun menuju toilet wanita. Gaunnya bergoyang pelan, langkahnya tenang, seolah tidak ada beban apa pun di pikirannya. Gar berhenti. Ia langsung berdiri tepat di depan pintu toilet wanita, menyilangkan tangan, ekspresinya waspada. Deko yang berdiri di sampingnya melirik, heran setengah mati. Tuan Gar, yang biasanya dingin, rasional, dan penuh perhitungan, sekarang menjaga toilet wanita seolah Queen bisa menghilang lewat saluran pembuangan. Dan ini baru hari pertama. Masih ada 30 hari ke depan. Deko hanya bisa menghela napas panjang. Di dalam toilet, Queen masuk ke bilik paling ujung. Begitu pintu tertutup, wajahnya langsung berubah. Ia mengeluarkan ponselnya. Nama itu masih ada di layar. Abang. Queen menutup mata sebentar, lalu akhirnya menekan tombol panggil. “Hallo, Bang.” Suara di seberang langsung meledak. “La, kamu di mana sih?! Kamu diculik atau gimana? Kenapa HP kamu baru bisa dihubungi sekarang?!” Queen meringis kecil, menjauhkan ponsel dari telinga sesaat. “Bang, tenang dulu. Aku baik-baik aja. Aku sekarang lagi di mall.” “Mall mana?” suara Romeo tegang. “Sama siapa?” Queen menarik napas, lalu menjawab cepat. “Bang, ada cowok kaya. Kaya banget. Dia rela aku nguras uangnya sebanyak apa pun.” Hening sepersekian detik. Lalu suara Romeo meninggi. “Jadi gara-gara DIA kamu keluar dari rumah bordil itu?! Dia yang nebus kamu?! Tadi Mami nelpon abang!” “Iya, Bang… tapi dia,” “La, adikku yang cantik, yang abang sayang,” potong Romeo dengan nada panik. “Kamu kenapa gampang percaya sama cowok sih? Sekarang kamu di mall mana, biar abang jemput!” Queen langsung menggeleng, meski tahu abangnya tak bisa melihat. “Ih, jangan dong. Ela belum nguras hartanya,” katanya setengah bercanda. “Kami kontrak cuma 30 hari. Abis itu kita pindah ke kota lain. Aku janji.” “Kasih identitas cowok itu ke abang,” ujar Romeo tegas. “Hati-hati, sekarang banyak penipu. Jangan-jangan dia udah nikah.” Queen terdiam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar tersadar. Ia… tidak pernah bertanya apakah Gar sudah menikah atau belum. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Namun Queen menelan kegugupannya. “Enggak kok, Bang,” jawabnya cepat terlalu cepat. “Di KTP-nya dia belum nikah.” Sebuah kebohongan kecil. Yang terasa berat di dada. Romeo menghela napas panjang. “La, sebenarnya kamu di rumah bordil itu, dengan obat yang abang kasih, hidup kamu udah aman. Tinggal tunggu abang beberapa bulan lagi. Kita pasti bisa hidup enak.” Queen menunduk. Jemarinya meremas ujung bajunya. “Bang,” katanya pelan, “Ela juga mau berusaha.” Di seberang sana, suara Romeo melunak. “Oke… terserah kamu. Tapi abang mohon,” suaranya serius, “kalau ada yang nggak beres, sedikit pun, kamu kabari abang. Jangan sok kuat sendiri.” Queen tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca. “Iya, Bang.” Panggilan ditutup. Queen menatap pantulan dirinya di cermin toilet. Cantik. Rapi. Tersenyum. Tapi di balik itu, ia sedang berjalan di garis tipis antara kesempatan dan bahaya. Di luar, Gar masih berdiri di depan toilet, matanya tak lepas dari pintu. Dan tanpa mereka sadari di sudut mall yang hampir kosong, sepasang mata lain juga sedang mengawasi.