Cermin itu bergetar sekali lagi.
Getarannya pelan, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk Sarah berdiri sempurna. Pantulan gelap di permukaannya beriak, seolah ada cairan hitam yang bergerak di balik kaca, mencari celah untuk keluar.
Mia menarik selimut sampai menutupi bahunya. "Sar…" suaranya bergetar. "Gue gak mau lihat itu."
Sarah tidak bisa mengalihkan pandangan. Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek. Bayangan itu masih ada. Tidak bergerak mendekat, tidak menjauh, hanya menunggu.
Lalu… sesuatu berubah.
Udara dingin yang tadinya menusuk, tiba-tiba berhenti. Bukan menghangat, tapi seperti terputus. Seolah ada dinding tak kasatmata yang mendadak berdiri di antara mereka dan cermin itu.
Bayangan di kaca mendadak tersentak.
Getaran berhenti.
Cermin kembali diam.
Sarah berkedip, bingung. Tangannya refleks meraih kalung kecil yang tergantung di lehernya, jimat dari Ki Surya. Kantung hitam kecil yang diikat dengan benang merah itu terasa hangat di kulitnya, kontras dengan dinginnya udara barusan.
"Mi…" bisiknya. "Kalung ini…"
Mia mengangguk, ia juga merasakannya. "Iya. Tadi… dinginnya langsung hilang, kan?"
Sarah mengangguk pelan. Tatapannya kembali beralih ke cermin itu.
Bayangan di cermin terlihat bergerak sedikit, seperti menggeram tanpa suara.
Lalu perlahan… memudar.
Permukaan kaca kembali memantulkan kamar mandi kosong, wastafel kusam, dan dinding keramik yang retak di beberapa sudut. Tidak ada apa-apa lagi.
Hening jatuh begitu berat sampai telinga Sarah berdenging.
Beberapa detik berlalu sebelum Mia berani bernapas lega. "Makhluk itu… gak bisa nyentuh kita?"
Sarah menggeleng pelan. "Bukan gak bisa. Kayaknya… belum bisa."
Mia menoleh cepat. "Belum?"
"Ki Surya bilang jimat ini cuma nahan mereka untuk sementara," jawab Sarah lirih. "Kalau makhluk itu cukup kuat… atau waktu jimat ini habis…"
Sarah tidak melanjutkan. Atau lebih tepatnya, tidak sanggup melanjutkannya.
Mia mengusap wajahnya. "Oke. Berarti kita gak bisa nunggu lebih lama lagi. Besok hari terakhir jimat perlindungan ini."
"Iya," sahut Sarah. "Begitu matahari terbit, kita langsung berangkat."
Mia melirik jam dinding. Pukul 01.17.
"Masih tersisa beberapa jam," gumamnya. "Kita harus bertahan sampai pagi."
Sarah mengangguk ragu, lalu berbaring kembali meski tubuhnya terasa kaku. Setiap bunyi kecil seperti AC yang berderak, membuatnya menegang. Tangannya terus menggenggam jimat itu, seolah melepaskannya berarti memberi izin sesuatu masuk ke dalam dirinya.
Mia membelakangi cermin, sengaja. "Sar… kalau nanti lo ketiduran lagi dan mimpi aneh—"
"Bangunin gue," potong Sarah cepat. "Apa pun alasannya."
Mia mengangguk. "Janji."
Beberapa jam kemudian, pagi datang dengan lambat dan melelahkan.
Tidak ada mimpi kali ini. Tidak ada suara. Tidak ada bayangan. Tapi rasa diawasi itu tidak benar-benar pergi. Seolah hanya mundur, menunggu kesempatan.
Dan begitu cahaya matahari menyelinap melalui celah gorden, Sarah langsung duduk.
"Mi, udah pagi," ucapnya sambil menepuk lengan Mia.
Mia mengerang pelan. "Baru jam enam…"
"Justru itu," jawab Sarah. "Kita harus bergegas sebelum apa pun sempat kejadian lagi."
Mia yang masih mengusap matanya, perlahan mulai beranjak dari tempat tidur tanpa menjawab Sarah.
Mereka pun bergerak cepat. Tidak ada yang mandi pagi. Tidak ada yang sarapan. Barang-barang langsung dimasukkan ke dalam tas dengan gerakan terburu-buru.
Lalu, saat Sarah melewati kamar mandi, ia melirik cermin sekali lagi.
Tidak ada yang aneh. Cermin itu terlihat normal. Sepenuhnya normal.
Tapi ada satu hal yang membuat jantungnya berdenyut lebih kencang.
Di sudut bawah cermin itu… ada bekas retakan yang sangat tipis. Seperti goresan rambut. Nyaris tak terlihat, tapi nyata.
Sarah menelan ludah dan memalingkan wajah.
Mereka pun keluar kamar tanpa menoleh lagi.
Perjalanan menuju Desa Gunungsepi terasa terlalu sunyi.
Setelah berganti kendaraan dari angkot ke ojek, pemandangan kota Indahpura perlahan berganti dengan jalan menanjak dan hutan pinus yang rapat. Kabut pagi menggantung rendah, menelan sebagian besar jalan di depan mereka.
Pengemudi ojek melirik Sarah lewat kaca spion. "Ke atas, ya, Mbak? Jarang ada orang pagi-pagi ke Gunungsepi."
"Memang kenapa, Pak?" tanya Sarah balik.
Bapak pengemudi ojek itu tertawa kecil, tapi terdengar dipaksakan. "Desanya sepi. Orang-orangnya… tertutup. Banyak yang gak mau lama-lama di sana."
Sarah meremas tali tasnya. "Bapak sering ke sana?"
"Jarang," jawabnya singkat. "Kalau bisa, selama di sana jangan sendirian."
Sarah bertukar pandang dengan Mia yang naik ojek terpisah di belakangnya.
Sepanjang perjalanan, Sarah beberapa kali merasa pusing. Setiap kali ia melepas genggaman dari jimat itu, dadanya terasa berat, seolah ada tarikan halus dari arah belakang.
"Ada apa, Sar?" tanya Mia cemas.
"Kalau gue lepas ini," Sarah mengangkat sedikit jimatnya, "rasanya kayak… ada yang narik."
Mia bergidik. "Berarti makhluk itu masih ngikutin kita."
"Makhluk... apa, Mbak, maksudnya?" tanya pengemudi ojek sambil melirik Sarah lewat kaca spion. Tatapannya berubah ngeri seolah tahu makhluk yang mereka maksud.
Sarah menggeleng. "Bukan apa-apa, Pak. Ngomong-ngomong, apa masih jauh?" tanya Sarah berusaha mengalihkan perhatian.
"Sebentar lagi, Mbak."
Dan benar saja, beberapa menit kemudian, motor berhenti di mulut desa. Jalanan sempit berbatu terbentang di depan mereka, diapit rumah-rumah kayu tua dengan jendela tertutup rapat. Tidak ada suara ayam. Tidak ada anak-anak. Hanya angin yang berdesir pelan.
"Terima kasih banyak, Pak. Kira-kira Bapak berdua bisa tunggu kami sebentar gak ya? Biar nanti kami gak perlu cari ojek lagi," tanya Sarah sambil memberikan uang kepada pengemudi ojek itu.
"Duh, gak bisa, Mbak. Kami gak bisa lama-lama di sini. Maaf ya, kami permisi dulu."
Tanpa menunggu jawaban Sarah atau pun Mia, dua pengemudi ojek itu langsung pergi meninggalkan mereka begitu saja.
Mia menghela napas panjang. "Udah gak apa-apa, Sar. Nanti kita minta bantuan warga sini aja buat dianter ke kota lagi."
Sarah mengangguk pelan. "Rumah paling atas," gumamnya sambil melihat catatan. "Kita harus jalan kaki."
Langkah pertama mereka ke dalam desa terasa berat. Bukan karena tanjakan, tapi karena tatapan yang tidak nyaman.
Beberapa penduduk berdiri di teras rumah, diam, memperhatikan. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang tersenyum.
Sarah merasakan jimatnya kembali menghangat.
Dan baru setengah jalan menuju rumah tetua, Sarah tiba-tiba berhenti.
"Mi…"
"Hm? Ada apa?"
"Rasanya kayak…" Sarah menelan ludah, "batas."
"Hah? Maksud lo?"
Sarah menunjuk ke belakang. Kabut di jalan yang tadi mereka lalui tampak lebih tebal, menggumpal tidak wajar. Seolah desa itu memiliki garis tak terlihat yang tidak boleh dilewati sesuatu.
"Kayaknya makhluk itu gak bisa masuk sini," bisiknya.
Mia menatap sekeliling, wajahnya pucat. "Atau… dia kayak lagi nunggu di luar."
Mereka melanjutkan langkah, jantung berdetak tak sinkron.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah rumah kayu tua di posisi paling atas desa. Catnya mengelupas, pagar bambunya miring. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Udara di sekitarnya terasa… stabil. Tidak berat. Tidak menekan.
Sarah mengangkat tangan untuk mengetuk.
Namun, belum sempat ia menyentuh pintu, pintu itu terbuka sendiri.
Seorang pria tua berdiri di ambang pintu. Rambutnya putih seluruhnya, matanya keruh tapi tajam. Tatapannya langsung jatuh ke jimat di leher Sarah.
"Kalian memakainya," katanya pelan.
Sarah meneguk salivanya gugup.
"Masuk," lanjut tetua itu. "Sebelum batas itu hilang."
Sarah dan Mia mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah tetua itu masuk ke dalam rumah.
Sementara itu, di belakang mereka, kabut di ujung desa bergerak perlahan. Seperti ada sesuatu yang sedang menunggu izin untuk masuk.