Bab 1 – Pernikahan Semu
Hujan turun deras malam itu. Di rumah megah dua lantai yang berdiri angkuh di pusat kota, Nadira Evelyn menatap jendela kaca besar yang dipenuhi butiran air. Suara rintik hujan seolah menjadi musik pengiring kesepian yang sudah terlalu lama tinggal di rumah itu.
Jarum jam dinding bergerak lambat menuju angka sebelas malam. Dira duduk di tepi ranjang kecil, di kamar anaknya, Langit Biru. Cahaya lampu tidur berbentuk bintang memantulkan bayangan lembut di dinding, sementara aroma bedak bayi bercampur dengan wangi lembut selimut.
“…dan akhirnya sang pangeran berhasil mengalahkan naga besar itu,” suara Dira lirih, penuh kelembutan. Ia menutup buku dongeng bergambar warna-warni, lalu mengecup kening anaknya yang hampir terlelap. “Sekarang Langit harus tidur. Besok sekolah, kan? Nanti terlambat kalau tidur terlalu larut.”
Langit mengangguk pelan, matanya tinggal setengah terbuka. Namun sebelum benar-benar terpejam, ia bergumam lirih, “Kapan ya Papa bisa bacain dongeng juga buat Langit? Papa selalu pulang pas Langit udah tidur…”
Pertanyaan sederhana itu menghantam dada Dira seperti batu besar. Senyum samar terpaksa ia tarik di bibir, meski sudut matanya panas. Ia tahu betul, permintaan anaknya itu hampir mustahil untuk bisa ia kabulkan.
“Papa harus kerja, Nak. Supaya Langit bisa sekolah dan punya mainan yang banyak. Tidurlah, ya,” ucap Dira lembut sambil mengelus rambut anaknya.
“Hmm…” Langit menggumam setengah mengantuk, lalu tenggelam dalam mimpi.
Dira menepuk-nepuk pelan selimut bergambar mobil-mobilan itu sebelum bangkit. Ia berjalan ke ruang tengah. Suasana rumah megah itu terasa dingin, bukan karena udara malam, melainkan karena kehampaan yang begitu nyata.
Matanya jatuh pada meja makan. Di atasnya, hidangan yang sejak sore ia siapkan masih utuh, tak tersentuh sedikit pun. Sop iga kesukaan Rangga sudah dingin, nasi putih mengeras, dan tumisan sayur layu tanpa aroma. Semua sia-sia.
Rangga Atmaja, suaminya, belum pulang. Bukan hal baru. Laki-laki itu lebih sering pulang larut, dengan kemeja kusut dan aroma parfum wanita lain yang asing bagi Dira.
Dulu, ia pernah memberanikan diri bertanya. Jawaban Rangga masih membekas sampai sekarang.
“Aku laki-laki, Ra. Wajar kalau aku butuh variasi. Kamu tetap istriku, pengurus rumah, dan ibu anakku. Itu sudah cukup.”
Sejak saat itu, Dira belajar membungkam hatinya sendiri. Ia lebih memilih memeluk luka rapat-rapat, ketimbang menerima kenyataan bahwa rumah tangganya hanya berdiri di atas ilusi. Setiap kali ia mencoba meminta penjelasan, Rangga selalu menutupnya dengan dalih: seorang lelaki tak mungkin cukup dengan satu wanita.
Muak? Sudah tentu. Bahkan sejak awal pernikahan.
Tapi Dira tak pernah benar-benar punya pilihan. Pernikahan itu bukan hasil cintanya, melainkan hasil perjodohan demi melanggengkan relasi bisnis kedua keluarga.
Ia pernah, dengan sisa keberanian yang ada, mengajukan perpisahan. Namun Rangga selalu memutarbalikkan keadaan, bersikap kasar, menekan, bahkan mengancam. Hingga Dira terjebak dalam jerat yang sulit dilepaskan.
“Yang penting aku masih pulang. Mau ada berapa wanita pun di luar sana, cuma kamu istri sahku yang diakui semua orang. Jangan drama. Yang penting kita terlihat harmonis, jadi panutan. Langit tetap punya orang tua lengkap.”
Kalimat itu selalu jadi tameng Rangga. Dira tahu, bukan karena ia takut kehilangan dirinya, melainkan takut kehilangan citra sempurna di mata orang lain.
“Jangan pernah sebut kata pisah lagi, Ra. Kamu dan Langit sudah punya hidup terjamin. Itu cukup. Urusan bisnis keluarga juga aman dengan pernikahan ini. Jadi berhenti rewel!”
Kalimat pedas itu memaksa Dira bungkam. Tak ada pilihan selain bertahan, meski hatinya retak. Langit adalah satu-satunya alasan ia tetap berdiri di rumah itu.
Pintu depan tiba-tiba terbuka. Dira menegakkan tubuh. Rangga masuk dengan wajah lelah, kemeja kusut, dan aroma parfum tajam yang menusuk hidung. Aroma yang jelas bukan milik Dira.
“Langit sudah tidur?” tanyanya datar sambil melempar jas ke sofa.
“Sudah. Mau aku panaskan makan malam?”
“Enggak usah.” Jawabannya singkat. Tangannya langsung sibuk menyalakan ponsel, jemarinya cepat mengetik pesan. Senyum samar terbit di wajahnya. Senyum yang Dira tahu bukan untuknya.
“Tapi aku sudah siapkan makanan kesukaan kamu, Mas. Hari ini kan...”
“Dira, berapa kali aku harus bilang? Enggak perlu repot-repot ngelakuin hal yang enggak berguna. Kita cukup terlihat harmonis di luar saja. Di rumah, jalani peranmu jadi ibu untuk Langit. Itu saja.”
Ia berlalu menuju kamar tanpa sedikit pun menoleh.
Ada getir yang membakar tenggorokan Dira. Ia menelan bulat-bulat. Ia sudah terlalu sering jadi penonton dalam rumah tangganya sendiri. Baginya, Rangga bukan suami, tapi sutradara yang hanya ingin menjaga citra di panggung luar.
Pengusaha berlian muda, sukses, beristri cantik, punya anak lelaki pintar. Semua orang menilai hidup Rangga sempurna. Semua orang menilai keluarga mereka harmonis. Hanya Dira yang tahu betapa rapuhnya panggung itu.
Sudah enam tahun ia menjalani kepahitan yang sama. Enam tahun berharap setiap anniversary bisa mengubah Rangga. Nyatanya, setiap usaha hanya dianggap angin lalu.
Namun malam itu, sesuatu dalam dada Dira berontak. Ada suara kecil yang ingin marah, menuntut, berteriak. Tapi suara itu teredam oleh tangisan kecil Langit yang tiba-tiba terbangun.
Dira segera masuk ke kamar anaknya. Langit berlari kecil, memeluk pinggang mamanya.
“Mama…” suaranya serak, setengah menangis.
Dira menggendongnya, menenangkan dengan elusan lembut. Tapi kemudian mulut kecil itu melontarkan kalimat yang membuat Dira membeku.
“Ma… besok kalau aku besar, aku juga mau kayak Papa. Kata Papa, laki-laki harus kuat dan banyak uang biar bisa punya banyak pacar. Pacar itu apa, Ma? Kata Papa, pacar itu teman yang cantik-cantik. Seneng, ya, Ma, kalau punya banyak teman cantik?”
Darah Dira seakan berhenti mengalir. Ia menatap wajah anaknya dengan mata terbelalak. Dari balik pintu, Rangga terkekeh pelan, sama sekali tanpa rasa bersalah.
“Anak laki-laki memang harus jantan sejak kecil, Ra. Jangan terlalu khawatir,” ucapnya enteng.
Kata-kata itu lebih menampar daripada apa pun. Hati Dira menjerit. Tidak! Ia tidak akan membiarkan anaknya tumbuh jadi pria yang memperlakukan perempuan seperti barang mainan.
Malam itu, keberanian kecil tumbuh di dada Dira. Ia tahu langkah apa pun yang akan ia ambil nanti, akan mengubah segalanya.
Hujan di luar mulai reda. Dira berjalan ke ruang tamu, menyingkap tirai. Dari balik kaca, ia melihat seorang pria berdiri di bawah lampu dekat gerbang rumahnya.
Tatapan mereka bersinggungan sejenak.
Sekejap, jantung Dira berdegup lebih cepat. Ada sesuatu di sorot mata pria itu hangat, asing, tapi menenangkan.
Dira buru-buru menutup gorden. Namun dadanya bergetar aneh. Hatinya berbisik lirih, "Siapa dia… dan kenapa tatapannya terasa begitu berbeda?"