Bab 3 – Senandung yang Tersimpan
Hari itu hujan kembali turun. Dira baru saja menidurkan Langit setelah ia sampai menemani ibunya dari rumah sakit. Rumah terasa sunyi, hanya suara rintik di luar jendela yang menemani.
Ia duduk di ruang tamu, menatap kosong ke layar televisi yang tak benar-benar ia dengarkan. Pikirannya penuh dengan kalimat Rangga sebelum ia pergi.
“Aku akan pergi seminggu. Jangan macam-macam di rumah. Jaga nama baik keluarga. Urus Langit dengan baik!”
Kalimat itu terus terngiang, dingin dan menekan.
Dira juga teringat dengan nasihat ibunya saat di rumah sakit tadi.
"Ra, jangan sering mengeluh. Yang penting Rangga masih pulang ke rumah. Masih ada untuk kamu dan Langit. Mau seberapa banyak wanita di sekeliling Rangga di luar sana, tetap hanya kamu istri sah dia yang diakui seluruh rekan bisnis dan dunia. Cuma kamu, Nadira Eveline, istri sah Rangga Atmaja, pemilik King Diamond Group."
Nasihat itu selalu ibunya berikan saat Dira mulai mengeluh dan berkata tidak tahan dengan kehidupan rumah tangganya yang begitu hambar. Dira sangat mengerti dan sudah menduga kalau ibunya pasti akan selalu menuntutnya untuk tetap mempertahankan rumah tangganya dengan Rangga karena pernikahannya dengan Rangga adalah penyatuan dua bisnis keluarga. Meski sudah terlalu banyak bukti perselingkuhan Rangga dengan banyak wanita pun tetap tak akan bisa menjadi alasan kuat bagi Dira untuk meminta pisah. Apalagi, ayah dira pun memiliki tabiat yang sama dengan Rangga dan ibunya tetap menerima dengan dalih bahwa seorang pria sukses memang sudah sewajarnya memiliki beberapa wanita dalam hidupnya, tetapi hanya ada satu wanita yang sah di mata dunia untuk menjaga citra.
Tiba-tiba, suara gitar akustik terdengar samar dari luar jendela. Nada-nada lembut, penuh perasaan. Dira tergerak bangkit, menyingkap gorden.
Di beranda lantai dua rumah seberang, duduklah Abisena. Ia mengenakan kaus sederhana, gitar di pangkuan, mata terpejam menikmati tiap petikan nada.
Entah keberanian dari mana, Dira membuka pintu dan melangkah keluar, berdiri di balkon rumahnya sendiri. Hujan yang turun hanya gerimis, menambah syahdu suasana.
“Indah sekali,” ucapnya pelan.
Abisena tersentak kecil, lalu menoleh. Tatapannya bertemu dengan Dira, senyum tipis terbit di wajahnya. “Ah, maaf. Saya lupa kalau suara gitar saya bisa terdengar ke sana. Maaf jika saya jadi mengganggu istirahat, Anda,”
“Tidak usah minta maaf,” Dira menimpali cepat. “Justru… sudah lama saya tidak mendengar alunan seindah itu. Rasanya seperti… menenangkan. Anda bermain seolah benar-benar dari dalam hati,”
Sena menaruh gitarnya sebentar, lalu berdiri di ambang beranda yang menjadi batas pemisah antara rumahnya dengan rumah Dira. “Terima kasih. Saya rasa itu adalah pujian yang tulus. Mau mendekat? Tidak enak kalau kita bicara teriak-teriak begini.”
Dira ragu sejenak. Nalarnya berkata jangan, tapi hatinya justru mendorong langkahnya untuk semakin bergerak. Ia melangkah perlahan, tetapi pasti. Seketika ia sudah berdiri di beranda yang menjadi penghalang antara dirinya dan Abisena.
Aroma kopi hitam segar langsung menyapa.
“Saya baru saja membuat kopi. Mau saya buatkan juga? Pembatas rumah kita ini rasanya tak benar-benar bisa menjadi pembatas, bukan?” Sena tersenyum.
Dira menggeleng lembut. “Terima kasih. Saya sudah cukup hanya dengan… musiknya. Lagipula, saya punya asam lambung, tidak bisa keseringan minum kopi,”
Sena menatapnya dalam-dalam, lalu kembali meraih gitar. Jemarinya memetik senar, membentuk melodi yang lembut tapi sendu.
“Lagu apa itu?” tanya Dira, suaranya lirih.
“Lagu yang saya tulis sendiri,” jawab Sena. “Tentang rumah… yang sepi meski ada penghuninya. Tentang dua orang yang saling melihat, tapi tak bisa saling mendengar. Saling terikat, tapi tak bisa saling mengisi. Lagu ini menceritakan tentang kekosongan jiwa. Meski hidup dengan seseorang, tetapi jiwanya terasa sepi. ”
Dira tercekat. Kata-kata itu seperti pisau yang langsung menembus dadanya. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan sorot matanya yang mulai berkaca-kaca. Lagu itu seolah mengisahkan rumah tangganya dengan Rangga. Dua orang yang saling terikat pernikahan, sebuah janji suci. Tetapi entah mengapa, hal itu hanya seolah formalitas belaka. Tak ada saling mengisi di antara mereka. Bahkan, setelah ada Langit pun tak membuat keterikatan antara Dira dan Rangga semakin kuat.
Sena berhenti memetik gitar, menatap Dira dengan penuh pengertian. “Maaf, apakah saya salah bicara?”
Dira menggeleng cepat. “Tidak… hanya saja, rasanya… lagu itu terlalu jujur. Seperti menceritakan hidup saya sendiri.”
Untuk pertama kalinya, ia membiarkan air matanya jatuh di hadapan orang lain. Bukan Rangga, bukan teman, bukan keluarga—tapi seorang tetangga baru yang entah mengapa bisa membuat seluruh pertahanan dirinya yang coba ia jaga seolah runtuh seketika.
Sena tidak banyak bicara, tidak mencoba menghapus air mata yang mulai menggenangi pipi Dira. Ia hanya duduk, menemaninya dalam diam. Dan itu sudah cukup membuat Dira merasa tidak sendirian. Merasa jujur kepada dirinya sendiri. Merasa bahwa ia memang masih manusia biasa yang bisa dan boleh menumpahkan air mata.
Setelah beberapa saat, Sena berkata pelan, “Saya tahu rasanya. Hidup dengan seseorang, tapi merasa lebih sepi daripada ketika benar-benar sendiri. Ketika kita satu atap, tapi tak pernah satu hati.”
Dira mendongak, menatap wajah lelaki itu. Ada luka yang sama di matanya. Luka yang tidak pernah ia lihat di mata Rangga.
Mereka bertukar pandang lama. Hujan makin deras, seolah menutup dunia luar hanya untuk mereka berdua.
Sampai akhirnya, suara kecil memecah momen itu.
“Mama…”
Langit berdiri di pintu rumah, memeluk boneka kecilnya, matanya setengah mengantuk.
Dira segera bangkit, buru-buru mengusap pipinya. “Ya, Nak. Mama di sini.”
Ia menoleh sekilas pada Sena. Lelaki itu hanya tersenyum tipis, penuh pengertian, seakan berkata tanpa suara: Pergilah. Anakmu lebih penting.
Dira mengangguk pelan, lalu menggandeng Langit masuk. Tapi sebelum pintu tertutup, ia sempat mendengar suara gitar itu kembali. Senandung yang sama, kali ini terdengar lebih dalam, lebih jujur, seakan menjadi jembatan yang menghubungkan dua hati yang sama-sama kesepian. Sama-sama butuh ruang untuk jujur.
Dira menutup pintu, tapi ia tahu, untuk pertama kalinya, pintu hatinya tidak lagi terkunci rapat. Untuk pertama kalinya, ia berani menumpahkan air mata yang selama ini seolah ia tahan karena berbagai tuntutan. Dira sendiri tak mengerti mengapa ia begitu mudah berbagi luka dengan jujur apa adanya kepada seseorang yang baru saja hadir di dalam hidupnya. Orang asing, yang kini baru saja menjadi tetangga sebelah rumahnya. Hanya itu.
"Apa mungkin nanti kita akan bisa lebih dari sekadar tetangga?"
Dira langsung merutuki dirinya dan mencoba membuang pikiran itu di dalam hatinya. Ia tahu bahwa ia dan Sena akan selalu dan selamanya menjadi dua orang yang hanya sebatas tetangga. Tidak lebih.