Drama

BSB 6 - PERMATA YANG PALSU

23 December 2025

Bab 6 – Permata yang Palsu

Lampu-lampu neon Singapura menari di atas jalanan yang basah, memantulkan warna biru dan keemasan di dinding kaca restoran “La Voile D’or”. Malam masih muda, tapi bagi Rangga Atmaja, waktu tak lebih dari instrumen. Ia menciptakan tempo dan ritmenya sendiri—karena dalam dunia yang ia bangun, segalanya harus bergerak sesuai keinginannya.

Di meja sudut, pria itu duduk tegak dengan jas abu-abu armani yang disetrika sempurna, dasi biru laut yang sepadan, dan jam tangan Swiss yang mengilat di pergelangan. Wajahnya tanpa cela: rahang tegas, pandangan tajam, bibir yang selalu terlatih untuk tersenyum dengan kadar yang tepat—hangat tapi berjarak. Ia tampak seperti pria yang tahu apa yang ia mau, dan tahu bagaimana membuat dunia tunduk padanya.

Dari luar, ia bak potret sempurna seorang pengusaha muda sukses—elegan, karismatik, dan stabil.

Tapi di balik pantulan kaca, ada sesuatu yang dingin. Kekosongan yang tak pernah ia izinkan siapa pun lihat.

“Sayang, kamu itu terlalu serius,” suara perempuan di depannya memecah hening. Clara—seorang model muda yang baru saja menjadi wajah baru kampanye perusahaannya, Atmaja Diamonds. “Aku bahkan takut bicara kalau kamu sudah pasang ekspresi seperti itu. Seolah aku ini bawahanmu di ruang rapat.”

Rangga menatap Clara perlahan. Bibirnya melengkung, tapi matanya tetap dingin. “Kamu tahu, Clara, dunia tidak akan menghormati laki-laki yang santai. Dunia hanya menghormati mereka yang memegang kendali.”

Clara terkekeh, memainkan gelas anggurnya. “Kendali, hmm? Kamu pasti selalu memegangnya, ya?”

“Tentu.” Rangga menyesap anggur dengan gerak terukur. “Kendali adalah segalanya. Dalam bisnis, dalam hubungan, bahkan dalam cinta.”

“Termasuk dalam pernikahanmu?” goda Clara, dengan nada separuh bercanda, separuh menantang.

Rangga mengangkat alis, tak terganggu. “Aku tidak pernah kehilangan kendali. Bahkan dalam pernikahan sekalipun.”

Clara mencondongkan tubuhnya, bibir merahnya melengkung genit. “Kamu tidak takut istrimu tahu soal kita?”

Rangga menghela napas pelan, seolah pertanyaan itu terlalu sederhana untuk seorang pria seperti dia. “Dira tahu tempatnya. Ia istri yang baik, tidak banyak bicara. Tugasnya hanya menjaga rumah, membesarkan anak, dan memastikan semua tampak sempurna di mata publik.”

“Dan kamu?” tanya Clara dengan nada menggoda. “Apa tugasmu, Rangga?”

Ia tersenyum kecil, tapi tajam. “Aku yang membuat semua orang percaya dan mengakui bahwa aku adalah pria sempurna. Bisnis oke, rumah tangga harmonis. Itu seni, Clara. Orang tidak harus bahagia untuk terlihat bahagia. Mereka hanya harus cukup pintar untuk memainkan perannya.”

Clara tertawa, tapi tawa itu mengandung sedikit kegelisahan. Ada sesuatu pada cara Rangga berbicara—penuh keyakinan tapi tanpa empati—yang membuatnya merasa terpesona sekaligus takut.

Namun Rangga tidak peduli. Ia menikmati sensasi itu—rasa kagum bercampur takut. Ia terbiasa melihat tatapan semacam itu dari orang-orang di sekelilingnya: karyawan, rekan bisnis, bahkan dari istrinya sendiri.

Ketakutan adalah bentuk penghormatan yang paling jujur, begitu pikirnya.


Malam berlanjut. Setelah makan malam, mereka berjalan menuju lobi hotel. Clara menggandeng lengan Rangga, sementara langkahnya ringan di karpet marun yang tebal.

“Jadi, kamu tidak pernah menyesal menikah?” tanya Clara, suaranya lembut tapi penuh rasa ingin tahu. “Kamu bisa saja hidup bebas tanpa ikatan, Rangga.”

Rangga menatap pantulan wajahnya sendiri di dinding kaca lobi. “Menikah adalah keputusan strategis, bukan sekadar hal romantis. Dira anak tunggal dari keluarga Evelyn Group—salah satu investor utama di perusahaanku. Pernikahan itu mengikat dua bisnis besar, bukan dua hati.”

Ia menoleh pada Clara, menatapnya seperti menilai berlian di bawah lampu. “Dira itu stabil, patuh, dan tidak menimbulkan masalah. Semua pria sukses butuh wajah tenang di rumah. Itu simbol kedewasaan. Tapi kamu—” jemarinya menyentuh dagu Clara, lembut namun menguasai— “kamu adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang menyenangkan.”

Clara tersenyum samar. “Jadi aku hanya hiburan?”

“Bukan hanya,” jawabnya pelan. “Kamu pelarian. Tempat aku bisa merasa seperti manusia, meski cuma sebentar.”

Kalimat itu terdengar nyaris lembut, tapi sesungguhnya dingin. Rangga tidak benar-benar menganggapnya sebagai manusia lain—Clara hanyalah cermin kecil untuk menegaskan kuasanya. Ia mencintai pantulan dirinya sendiri di mata perempuan itu, bukan perempuan itu sendiri.

Begitulah cinta bagi Rangga Atmaja—bukan perasaan, melainkan pembuktian.


Lift berdenting, pintunya terbuka. Mereka masuk, dan suasana sunyi melingkupi. Lampu kuning redup menyoroti wajah Rangga, memantulkan bayangan sempurna di dinding logam.

“Pernahkah kamu mencintai Dira?” tanya Clara tiba-tiba.

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tapi membuat Rangga diam beberapa detik. Ia menatap bayangannya lagi di dinding lift, kali ini lebih lama. “Cinta itu konsep yang terlalu berlebihan,” ucapnya. “Yang aku tahu, cinta membuat orang lemah. Aku tidak pernah mau menjadi lemah.”

Clara menggigit bibir. “Jadi kamu tidak pernah mencintai siapa pun?”

Rangga tersenyum dingin. “Aku mencintai diriku sendiri, Clara. Dan itu sudah cukup.”

Lift berdenting lagi. Mereka melangkah keluar, menuju koridor kamar yang panjang dan sepi. Langkah sepatu mereka bergema seperti detak jam yang menegaskan sesuatu: bahwa di balik setiap kesempurnaan, ada kehampaan yang disembunyikan rapat.


Beberapa jam kemudian, ketika Clara sudah tertidur di ranjang hotel, Rangga duduk di kursi, memandangi lampu kota yang berpendar di luar jendela. Tangannya memegang ponsel. Di layar, ada beberapa pesan tak terbaca dari Dira.

Ia menatap pesan-pesan itu sebentar, membaca sekilas tanpa berniat membalasnya. Seperti biasa, Dira hanya memberi laporan tentang keadaan rumah dan kondisi Langit.

Ia tahu perempuan itu tidak akan bertanya ataupun membahas hal lain. Ia tak akan protes dan merajuk. Itulah kenapa ia memilih Dira—karena perempuan itu tidak pernah melawan.

Bagi Rangga, cinta bukan soal perasaan, tapi kepemilikan. Ia tidak butuh istri yang membuatnya nyaman. Ia butuh istri yang bisa dikendalikan.

Ia menatap jendela, melihat pantulan wajahnya sendiri yang dingin. “Kamu hebat, Rangga,” gumamnya pada bayangannya sendiri. “Kamu selalu menang.”

Lalu ia tertawa kecil. Sebuah tawa sepi yang hanya bisa dimengerti oleh orang yang sudah terlalu lama mencintai dirinya sendiri.


Keesokan paginya, di ruang rapat hotel bintang lima, Rangga sudah duduk dengan postur tegak, senyumnya lagi-lagi tampak ramah dan profesional. Seorang investor Jepang berbicara panjang lebar di depan, dan Rangga menyimak dengan tatapan fokus.

Tak seorang pun di ruangan itu tahu bahwa beberapa jam sebelumnya, pria itu menghabiskan malam dengan perempuan lain. Tak seorang pun tahu bahwa di dalam kepalanya, semua orang hanyalah bidak dalam permainan besar yang ia kendalikan.

Ketika presentasi selesai, Rangga menyalami para investor satu per satu, memuji, menenangkan, dan memastikan mereka percaya bahwa dirinya adalah pemimpin visioner yang penuh integritas.

Semua percaya. Karena semua ingin percaya.

Dan Rangga tahu cara memainkan keinginan itu.

Begitulah cara seorang narsistik bertahan: dengan memberi orang lain gambaran yang ingin mereka lihat, bukan kenyataan yang sebenarnya.


Malam hari, setelah pertemuan bisnis selesai, Rangga berjalan sendirian di tepi Marina Bay. Angin laut membawa aroma asin dan lampu-lampu kota memantul di permukaan air. Ia menatap cincin berlian di jarinya—cincin pernikahannya dengan Dira.

Ia tidak melepasnya, bahkan saat bersama perempuan lain. Bukan karena ia menghargai pernikahannya, tapi karena cincin itu adalah simbol status. Sebuah pernyataan bahwa ia mampu memiliki segalanya—istri, kekasih, kekuasaan, dan kekaguman publik—tanpa harus kehilangan satu pun.

Ia menggenggam cincin itu erat, lalu tersenyum miring.

“Semua orang ingin jadi aku,” katanya pelan pada dirinya sendiri. “Mereka hanya tidak tahu rasanya jadi aku.”

Senyumnya memudar, tapi hanya sekejap. Ia menegakkan bahu, menarik napas dalam, lalu berjalan lagi.

Dan di belakang kilau lampu-lampu kota yang sempurna, tersisa bayangan seorang pria yang tak pernah benar-benar mengenal cinta—karena baginya, dunia hanyalah cermin besar yang memantulkan satu hal:

Rangga Atmaja.