Bab 7 – Gejolak yang Tak Seharusnya
Suara hujan belum juga reda, hanya berubah dari deras menjadi rintik yang teratur. Udara sore itu terasa dingin dan lembap. Dira masih menatap layar ponsel yang menampilkan panggilan video dari Rangga Atmaja. Nama itu saja sudah cukup membuat jantungnya mencelos.
Ia menoleh cepat ke arah Sena yang masih duduk di sebelahnya. Wajah pria itu menatapnya tanpa banyak tanya, seolah mempersilakannya untuk menjawab panggilan itu.
“Aku harus angkat,” gumamnya gugup.
Sena hanya mengangguk, lalu menunduk, memberi ruang.
Dira beranjak ke depan dan menekan tombol hijau, namun hanya beberapa saat lalu panggilan itu berakhir.
[Aku hanya salah pencet.]
Pesan itu dikirimkan oleh Rangga. Rupanya panggilan video itu hanyalah salah pencet semata. Harusnya ia sudah bisa menduga hal itu. Sangat mustahil Rangga melakukan panggilan video hanya untuk dirinya. Selama ini, panggilan video yang dilakukan Rangga hanya kalau ia ingin berkomunikasi dengan Langit. Itu pun kalau ia pergi dalam waktu yang cukup lama.
Dira kembali duduk di sebelah Sena. Keheningan kembali turun bersama rintik hujan yang memantul di aspal.
Dira menatap layar ponselnya yang kini hitam. Matanya panas, tapi ia tak ingin menangis di depan Sena. Ia menarik napas panjang, menatap lurus ke depan. “Seharusnya aku sudah menduganya. Dia enggak mungkin melakukan panggilan video hanya untuk diriku,” gumamnya getir.
Sena menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kamu sepertinya selalu menutupi luka dengan senyuma getirmu itu, ya?”
Dira tersenyum tipis. “Aku sudah terbiasa. Lagipula, kalau aku mengeluh pun, siapa yang peduli?”
“Kadang, kita nggak butuh orang yang peduli,” balas Sena dengan nada datar tapi dalam. “Cukup seseorang yang mau mendengarkan. Mau hadir, meski belum tentu memberikan solusi.”
Kalimat itu menembus pertahanan Dira. Ia menoleh, menatap pria itu dengan mata yang mulai lembap. Ada sesuatu dalam diri Sena yang membuatnya merasa aman—tidak dihakimi, tidak dinasihati, hanya dimengerti juga diberi ruang untuk sekadar bernapas.
“Terima kasih, Sena,” ucapnya akhirnya. “Aku... nggak ingat kapan terakhir kali ada orang yang bilang hal seperti itu padaku. Rasanya hampir tidak ada.”
Sena menatapnya sebentar, lalu berdiri. “Ayo, aku antar pulang. Rumah kita kan sebelahan, kamu pasti kedinginan kalau lama di sini.”
Dira mengangguk pelan. Ia berdiri, menenteng tas belanja yang mulai kering. Mereka berjalan beriringan menembus gerimis, langkah mereka pelan di atas jalanan yang licin. Saat tiba di halaman rumah Dira, Sena sempat membuka gerbang kecil untuknya. Gerakannya sopan tapi lembut, membuat dada Dira bergetar halus tanpa alasan.
“Terima kasih sudah bantu tadi,” katanya, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap normal.
Sena tersenyum kecil. “Bukan apa-apa. Lagipula, sebagai tetangga memang harus saling tolong-menolong, kan?”
Dira membalas senyum itu, tapi dalam hati justru merasa tak tenang.
Senyum Sena terlalu hangat hingga membuat pipinya terasa panas. Tatapannya terlalu lama. Terlalu intens bagi seseorang yang baru saja ia kenal di dalam hidupnya. Dan ketika pria itu hendak berbalik, Dira mendapati dirinya ingin menahannya—ingin berbicara sedikit lebih lama, sekadar agar beban dan sesak di dadanya terlupakan untuk sejenak.
“Sena,” panggilnya pelan.
Pria itu berhenti. “Ya?”
“Kalau... kalau kamu nggak sibuk, mau minum teh dulu? Aku masih punya beberapa biskuit.”
Sena tampak ragu sejenak, lalu mengangguk. “Baiklah, sebentar saja.”
Aroma teh melati mengisi ruang tamu yang hangat. Dira menyeduh dua cangkir, lalu menaruhnya di meja kayu. Sena duduk dengan postur tegak, mencoba menjaga jarak aman, sementara Dira duduk di seberang.
Cahaya sore yang redup masuk dari jendela besar. Hujan sudah hampir berhenti, tapi udara lembap masih terasa di kulit. Dari lantai atas, suara jam dinding berdetak pelan.
“Menyenangkan juga, ya, kalau ada teman ngobrol sore-sore begini,” kata Dira, mencoba mencairkan suasana.
Sena menatap permukaan teh di cangkirnya. “Menyenangkan, kalau orangnya tahu cara mendengarkan.”
Dira terkekeh kecil. “Dan kamu merasa aku pendengar yang baik?”
“Mungkin,” jawab Sena sambil menatapnya. “Atau mungkin karena kamu juga sering merasa tidak didengar.”
Tatapan mereka bertemu.
Beberapa detik yang terlalu lama untuk disebut kebetulan.
Ada udara yang berubah—lebih berat, tapi tidak sesak.
Dira ingin mengalihkan pandangan, tapi matanya seolah terpaku. Di wajah Sena, ia melihat sesuatu yang asing tapi menenangkan. Seperti seseorang yang pernah ia kenal di kehidupan lain, tapi kini hadir kembali dalam wujud baru.
Sena perlahan memecah keheningan. “Kamu tahu, kadang yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan, tapi tetap tinggal meski tahu tidak pernah dicintai.”
Dira membeku. Kata-kata itu menusuk tanpa ampun. Ia menunduk, menatap cangkir teh yang kini dingin. “Aku... mengerti maksudmu.”
“Tidak semua orang bisa kuat untuk tetap bertahan, Dira.”
Nada suaranya menurun, lembut tapi dalam. “Kebanyakan orang akan memilih pergi.”
“Aku nggak tahu apakah itu kekuatan, atau justru kebodohan,” Dira tersenyum getir. “Mungkin aku cuma takut sendirian.”
Sena menatapnya lama. “Sendirian itu kadang bukan karena tidak ada siapa-siapa di sekitar, tapi karena orang yang kita harapkan tetap di sisi… justru paling jauh jaraknya.”
Hening.
Hujan benar-benar berhenti. Suara tetesan terakhir dari talang terdengar seperti detak pelan di antara mereka.
Dira meneguk teh yang tersisa, berusaha menstabilkan napas. Tapi semakin ia menahan diri, semakin ia sadar—kehadiran Sena memunculkan sesuatu yang selama ini hilang dari dirinya. Rasa hidup. Rasa dilihat. Rasa dianggap ada.
Ketika ia hendak berdiri untuk membereskan cangkir, ujung jarinya tanpa sengaja menyentuh punggung tangan Sena.
Sekilas. Ringan. Tapi cukup untuk membuat keduanya terpaku.
Sena tak menarik tangannya. Dira pun tak langsung melepaskan.
Waktu seolah berhenti di titik itu.
Udara sore, aroma teh, detak jantung—semuanya bercampur menjadi satu dalam diam.
Sena yang pertama kali memalingkan wajah, menarik napas panjang. “Aku... sebaiknya pulang. Hari sudah mulai gelap.”
Dira menunduk cepat, suaranya nyaris berbisik. “Iya, tentu. Terima kasih sudah mampir.”
Sena berdiri, melangkah menuju pintu. Tapi sebelum keluar, ia sempat menatapnya sekali lagi. “Kalau butuh apa-apa, panggil saja, Dira. Aku di sebelah.”
Dira mengangguk. “Baik.”
Begitu pintu tertutup, rumah kembali sunyi. Tapi kali ini, kesunyian itu berbeda. Ada sesuatu yang tertinggal di udara—panas, berdenyut, hidup.
Dira berjalan ke arah jendela, menatap rumah di sebelahnya. Lampu ruang tamu Sena baru saja menyala, siluet pria itu tampak samar dari balik tirai.
Ia menatap lama.
Entah apa yang berubah sore ini, tapi hatinya tak lagi tenang.
Bukan karena hujan.
Bukan karena panggilan dari Rangga.
Melainkan karena seseorang di sebelah rumah… yang perlahan membuatnya lupa bagaimana rasanya benar-benar sendiri.