Bab 8 – Nada dari Balkon
Sore itu, warna langit memudar perlahan, berubah dari oranye menjadi keemasan. Sisa hujan masih membentuk titik-titik air di daun ketapang yang tumbuh di halaman depan rumah Dira. Angin membawa aroma tanah basah, menenangkan, sekaligus memunculkan kenangan yang tak ingin ia ingat.
Dira berdiri di balkon lantai dua, menatap kosong ke arah taman kecil yang basah oleh hujan. Di tangannya secangkir teh melati yang sudah lama mendingin. Balkon itu bukan sekadar tempat melihat senja; baginya, tempat itu seperti ruang pengasingan—satu-satunya tempat di rumah besar itu yang terasa seperti miliknya sendiri.
“Kamu sering sekali melamun di balkon,” suara seorang laki-laki memecah keheningan.
Dira menoleh. Dari balik pagar besi yang memisahkan balkon rumahnya dengan rumah sebelah, tampak Sena, mengenakan kaus hitam polos dan celana kain abu-abu. Di tangannya ada cangkir kopi, dan di wajahnya ada senyum tenang yang seolah sudah terbiasa menembus dinding hati orang lain.
Balkon mereka memang berdempetan, hanya dibatasi pagar besi setinggi dada dengan jarak tak lebih dari setengah meter. Dari sana, mereka bisa berbicara tanpa perlu meninggikan suara—dan bagi Dira, kedekatan itu seperti anugerah kecil yang tidak ia sadari sebelumnya.
“Refleks saja, mungkin,” jawab Dira, berusaha tersenyum. “Tempat ini paling tenang buat berpikir.”
Sena menyandarkan siku di pagar besi. “Tenang, atau sepi?”
Dira tertawa kecil, meski suaranya terdengar lelah. “Mungkin dua-duanya.”
Sena ikut tersenyum, menatap arah yang sama dengan Dira—ke taman kecil di bawah sana yang masih meneteskan sisa air hujan. “Aku juga sering ke balkon kalau butuh diam. Kadang, diam lebih jujur daripada percakapan.”
“Bener juga,” sahut Dira pelan. “Diam memang nggak pernah bohong.”
Senyum tipis muncul di bibir Sena. “Tapi kalau terlalu sering diam, nanti malah nggak dengar musiknya.”
Dira menoleh, menatapnya bingung. “Musik?”
“Iya.” Sena mengangkat cangkir kopinya. “Hidup itu kayak lagu. Kadang pelan, kadang keras, kadang nggak enak didengar. Tapi selalu ada nada yang bisa bikin kita bertahan.”
Dira menatapnya sebentar sebelum tersenyum kecil. “Kamu selalu ngomong kayak lirik lagu, Sena.”
“Efek terlalu lama menjadi guru musik,” jawabnya sambil tertawa ringan.
Mereka terdiam sebentar. Angin sore membuat tirai balkon Dira bergoyang pelan. Suasana antara mereka tenang, tanpa canggung, seperti dua orang yang terbiasa diam bersama tanpa perlu alasan.
“Kamu nggak ngajar hari ini?” tanya Dira akhirnya.
“Enggak,” jawab Sena. “Hari ini cuma meeting internal. Asistenku yang handle. Aku lagi mau luangin waktu buat istirahat.”
Dira mengangguk. “Aku dengar kalau kamu punya sekolah musik sendiri? Itu luar biasa, Sena.”
Sena tersenyum. “Iya, hanya sekolah kecil, tapi lumayan berkembang. Aku bikin dari hasil main musik di kafe dulu. Sekarang udah ada tiga cabang.”
“Hebat banget,” puji Dira tulus. “Pasti bangga, ya?”
Sena menggeleng pelan. “Bukan soal bangga, tapi bersyukur. Karena aku bisa hidup dari hal yang aku cintai.”
Kalimat itu membuat Dira terdiam. Ada sedikit getir di dadanya—karena ia sadar, ia bahkan sudah lupa apa yang benar-benar ia cintai.
Suara langkah kecil terdengar dari dalam rumah.
“Mamaaa!”
Dira menoleh. Dari balik pintu kaca, muncul seorang anak laki-laki berusia lima tahun dengan rambut ikal halus, memakai piyama bergambar dinosaurus. Di tangannya, ia membawa gitar kecil yang hampir sebesar tubuhnya sendiri.
“Om Senaaa!” teriaknya girang begitu melihat ke arah balkon sebelah. “Om, lihat nih! Aku bisa chord C!”
Sena tertawa, menaruh kopinya di pagar. “Wah, hebat banget, Langit! Siapa yang ngajarin?”
Langit menepuk dadanya bangga. “Aku lihat di YouTube!”
“Anak zaman sekarang ya,” gumam Sena sambil tertawa. “Keren banget, tapi hati-hati, jarinya kecil, jangan terlalu ditekan.”
Dira tersenyum lembut. “Dia suka banget main musik. Di rumah ada piano juga, tapi belum pernah les.”
“Oh, jadi dia memang suka dua-duanya?” tanya Sena dengan minat.
“Piano dan gitar,” jawab Dira. “Tapi dia masih lima tahun, Sena. Masih terlalu kecil.”
Sena menggeleng ringan. “Nggak ada kata terlalu kecil buat musik. Kalau dia senang, itu artinya dia udah siap belajar.”
Langit menatap Sena dengan mata berbinar. “Om Sena punya gitar juga?”
Sena tersenyum. “Punya banyak. Kalau Langit mau, nanti Om ajak ke sekolah musik Om, ya? Di sana ada gitar, piano, drum, semuanya.”
“Beneran?!” Langit hampir melompat saking gembiranya.
“Beneran,” jawab Sena. “Tapi Langit harus janji, kalau nanti les, harus rajin dan nggak gampang menyerah.”
Langit mengangguk semangat. “Janji, Om!”
Dira tertawa kecil melihat interaksi keduanya. Ada sesuatu yang menenangkan setiap kali Sena berbicara dengan Langit—lembut, sabar, dan tanpa nada menggurui. Ia menatap mereka dari sisi balkon, seolah sedang melihat dua dunia yang berbeda dari kehidupannya yang kaku.
Sena memperhatikan cara Langit memegang gitar. “Boleh Om lihat sebentar?”
Langit mengangkat gitar kecilnya, memperlihatkan posisi jarinya.
“Telunjuknya kurang ke bawah sedikit,” ujar Sena. “Nah, kayak gitu. Sekarang petik pelan-pelan.”
Langit menurut, dan suara nada pelan terdengar samar.
Sena bertepuk tangan. “Bagus! Langit cepat banget belajarnya.”
Dira yang sedari tadi memperhatikan ikut tersenyum bangga. “Om Sena guru yang baik, ternyata.”
“Kalau muridnya lucu begini, siapa yang nggak semangat ngajarnya,” balas Sena sambil tersenyum pada Langit.
Langit akhirnya pamit masuk ke kamar, meninggalkan Dira dan Sena yang masih di balkon.
Cahaya matahari perlahan meredup, lampu taman mulai menyala. Dari kejauhan terdengar suara burung kembali ke sarang.
Sena meletakkan cangkirnya di pagar, lalu menatap Dira. “Langit anak yang cerdas. Tapi lebih dari itu—dia peka terhadap hal-hal yang berhubungan sama emosi.”
Dira menatapnya dengan bingung. “Maksudmu?”
“Dia cepat menangkap suasana hati orang. Mungkin karena dia sering denger hal-hal yang nggak seharusnya didengar,” ujar Sena pelan.
Dira terdiam.
Kalimat itu seperti menyentuh sisi yang paling ia hindari. Sejak Rangga semakin jarang di rumah, Langit memang sering memeluknya tanpa sebab, atau bertanya, “Mama kenapa sedih?” setiap kali ia diam terlalu lama.
Sena menatapnya lembut, tanpa menghakimi. “Kamu nggak harus jawab. Aku cuma bilang... anak-anak bisa merasakan lebih dari yang kita kira.”
Dira menarik napas pelan. “Aku berusaha jadi ibu yang baik, Sena. Kadang rasanya gagal.”
“Kalau kamu masih berusaha, kamu belum gagal,” jawab Sena tenang. “Gagal itu kalau kamu berhenti peduli.”
Dira menatap wajahnya lama. Ada sesuatu di dalam diri Sena yang berbeda—bukan sekadar ketenangan, tapi juga kedalaman. Ia bukan tipe pria yang bicara banyak, tapi setiap katanya seperti menembus sesuatu di dalam hati.
“Terima kasih, Sena,” ucap Dira akhirnya. “Udah mau dengerin aku tanpa tanya macam-macam.”
Sena tersenyum tipis. “Kadang, diam lebih menyembuhkan daripada nasihat.”
Mereka terdiam cukup lama. Hujan mulai turun lagi, kali ini gerimis lembut. Dira menatap air yang menetes dari atap balkon, sementara Sena tetap berdiri di sisi seberang pagar, tanpa beranjak.
“Kalau kamu mau, Langit bisa mulai belajar minggu depan,” kata Sena tiba-tiba. “Aku bisa atur jadwal sore, biar kamu bisa antar.”
“Boleh,” jawab Dira pelan. “Dia pasti senang.”
“Bukan cuma dia,” ujar Sena lirih. “Aku juga.”
Dira menoleh, tapi Sena sudah tersenyum samar, lalu meneguk kopinya lagi seolah tak mengatakan apa-apa.