Drama

BAB 9 - LANGIT YANG MENEMUKAN NADANYA

23 December 2025

Bab 9 – Langit yang Menemukan Nadanya

Sore itu langit mendung, tapi bukan mendung yang menakutkan seperti hujan deras di bulan lalu. Awan hanya menggantung malas, memberi cahaya yang redup dan lembut ke halaman belakang rumah Dira. Dari dapur, aroma kue pisang panggang tercium samar, bercampur dengan suara Langit yang sibuk menirukan melodi di tablet kecilnya.

“Ma, lihat! Aku bisa main ‘Twinkle Twinkle’ pakai keyboard mainanku!” seru Langit, menekan-nekan tuts kecil dengan ekspresi bangga.

Dira menoleh sambil tersenyum. “Iya, Mama dengar. Bagus banget. Tapi kayaknya kamu makin serius, ya?”

Langit mengangguk cepat. “Iya! Om Sena bilang aku bisa coba main piano beneran di sekolah musiknya. Aku mau, Ma!”

Nama itu—Om Sena—terdengar begitu mudah keluar dari mulut anaknya. Sudah beberapa kali Langit menyebutnya sejak mereka sering bertemu di balkon. Dira ingat betul sore itu, ketika Sena menawarinya untuk mencoba program anak usia dini di sekolah musik miliknya. Waktu itu Dira sempat ragu. Tapi melihat bagaimana Langit begitu bersemangat setiap kali bicara soal musik, keraguannya perlahan berubah menjadi tekad.

“Kalau begitu, kita daftar, ya?” kata Dira akhirnya, sambil mengelus kepala anaknya.

Langit langsung melonjak girang. “Serius, Ma? Hari ini?”

“Kalau Om Sena nggak sibuk, hari ini.”

Langit menjerit kecil lalu memeluk ibunya. “Aku cinta Mama!”

Dira tertawa, memeluk balik tubuh mungil itu. “Mama juga cinta kamu, Nak.”

Sekolah musik milik Sena terletak di ujung jalan besar, sekitar sepuluh menit dari kompleks perumahan mereka. Dari luar, bangunannya tampak modern dan hangat—berdinding kaca lebar dengan papan nama Senavoir Music Studio yang berkilau terkena pantulan sinar matahari sore.

Begitu Dira dan Langit masuk, aroma kayu bercampur wangi cat baru langsung menyambut. Di dinding, terpasang foto-foto konser dan pertunjukan murid-murid Sena. Ada juga beberapa piagam penghargaan yang menunjukkan reputasi sekolah itu memang bukan sembarangan.

“Selamat datang di Senavoir Music Studio,” sapa seorang resepsionis ramah. “Bisa saya bantu, Bu?”

Dira tersenyum sopan. “Saya ingin mendaftarkan anak saya. Katanya ada program usia dini.”

“Oh, baik, Bu. Bisa isi formulir dulu sebentar.”

Sebelum Dira sempat mengambil pulpen, suara yang sudah ia kenal muncul dari arah belakang lobi.

“Dira?”

Ia menoleh. Sena berdiri di sana, mengenakan kemeja biru tua dengan lengan tergulung dan celana bahan krem. Senyumnya lebar, tapi tidak dibuat-buat. “Kebetulan sekali. Aku baru mau menelepon kamu.”

Langit langsung berlari kecil ke arahnya. “Om Sena!”

Sena jongkok dan menepuk bahu Langit. “Hei, calon musisi kecil! Akhirnya datang juga, ya?”

Langit mengangguk penuh semangat. “Aku mau belajar hari ini! Aku udah latihan lagu ‘Twinkle’ di rumah!”

Sena tertawa kecil. “Wah, semangat banget. Tapi hari ini kita daftar dulu, baru nanti mulai pertemuan pertama, ya.” Ia berdiri, menatap Dira. “Kamu datang di waktu yang pas. Kelas anak-anak baru buka minggu ini.”

Dira membalas senyum itu. “Syukurlah. Aku sempat khawatir penuh.”

“Untuk Langit, pasti selalu ada tempat.” Ucapan itu membuat pipi Dira sedikit memanas, tapi ia pura-pura sibuk membaca formulir di tangannya.

Setelah semua data diisi, Sena sendiri yang mengantarkan mereka berkeliling. “Di lantai satu ini ruang tunggu dan ruang administrasi. Lantai dua khusus ruang latihan instrumen—piano, biola, gitar. Lantai tiga studio rekaman untuk siswa lanjut,” jelasnya sambil berjalan pelan.

Langit berjalan di depan mereka, matanya berkeliling penuh rasa ingin tahu. “Om Sena, ini piano asli?” tanyanya, menunjuk ke grand piano hitam di tengah aula.

“Iya, itu piano favoritku. Tapi yang kamu pakai nanti ukurannya lebih kecil, biar nyaman buat tanganmu.”

Langit mendekat, menekan satu tuts dengan hati-hati. Suara lembut terdengar, memenuhi ruangan. Ia tertawa kecil. “Aku suka suaranya, Om!”

Sena ikut tertawa. “Om juga suka lihat kamu semangat begini.”

Dira memperhatikan keduanya dari jarak beberapa langkah. Pemandangan itu—anaknya yang ceria dan pria di depannya yang begitu sabar dan tulus—membuat sesuatu bergetar dalam dadanya. Ia bahkan hampir lupa kapan terakhir kali melihat Langit tertawa setulus itu di depan sosok pria.

Setelah tur singkat, Sena mengantar mereka kembali ke ruang depan. “Kalau kamu mau, Langit bisa coba sesi trial besok sore. Nggak perlu bayar dulu. Aku akan ajar langsung.”

“Serius?” Dira memastikan.

“Serius,” jawab Sena dengan senyum kecil. “Lagipula aku ingin tahu sejauh mana dia bisa menangkap nada. Anak seperti Langit biasanya cepat berkembang kalau diajar dengan hati.”

Langit menatap ibunya dengan mata berbinar. “Ma, boleh ya? Besok aja, Ma, aku mau!”

Dira menatap anaknya, lalu menoleh ke Sena. “Baiklah. Besok sore, jam berapa?”

“Jam empat. Kamu datang aja agak santai. Aku kosong di jam itu.”

“Terima kasih, Sena,” ucap Dira pelan. “Kamu benar-benar baik.”

Sena hanya tersenyum samar. “Nggak perlu terima kasih. Kadang yang kita lakukan untuk anak kecil seperti Langit justru mengingatkan kita bagaimana rasanya tulus tanpa syarat.”

Kalimat itu sederhana, tapi bagi Dira, terdengar dalam.

Keesokan harinya, Langit sudah bangun sejak pagi, sibuk memilih baju yang ingin ia pakai untuk pertemuan pertamanya di kelas musik. Dira hanya bisa tersenyum melihat anaknya yang kini bahkan menolak makan tanpa sambil mendengarkan lagu dari tablet kecilnya.

Sore harinya mereka tiba di sekolah musik. Langit disambut oleh seorang asisten pengajar bernama Nala yang ramah. “Pak Sena sudah menunggu di ruang piano, Bu.”

Ketika Dira dan Langit masuk, Sena sedang duduk di depan piano, menyiapkan partitur sederhana. Ia menoleh dan tersenyum. “Halo, Langit. Siap belajar hari ini?”

“Siap, Om Sena!”

“Bagus. Yuk, duduk di sini.”

Dira berdiri di dekat jendela kaca besar, memperhatikan. Sena duduk di samping Langit, membimbing jemarinya dengan sabar. “Coba tekan yang ini... bagus... sekarang ini... dengar suaranya?”

Langit mengangguk, matanya berbinar. “Kayak bintang jatuh, Om!”

Sena tertawa kecil. “Nah, kalau kamu bisa dengar begitu, artinya kamu main dengan hati.”

Pelajaran berlangsung hampir satu jam, tapi terasa cepat. Di akhir sesi, Langit sudah bisa memainkan beberapa nada pendek dengan ritme yang lumayan. Ia berlari menghampiri ibunya dengan wajah berseri. “Ma! Aku bisa main lagu beneran!”

Dira menepuk tangannya. “Hebatnya anak Mama! Terima kasih, Sena.”

Sena berdiri, menatap mereka berdua dengan lembut. “Dia berbakat. Tapi yang lebih penting, dia punya rasa. Dan itu yang nggak bisa diajarkan di buku teori.”

Dira mengangguk. “Aku nggak tahu harus bilang apa. Aku nggak pernah lihat dia sesemangat ini.”

“Kalau begitu, biarkan dia terus bermain,” ujar Sena pelan. “Kadang anak hanya butuh ruang untuk menemukan bakatnya.”

Sore itu mereka duduk di lobi setelah pelajaran usai. Langit sedang bermain balok kayu di sudut, sementara Dira dan Sena berbicara perlahan.

“Kamu tahu,” kata Dira, “aku merasa hidupku baru berputar lagi. Aku lupa kapan terakhir kali melakukan sesuatu yang membuatku bahagia—bukan karena orang lain, tapi karena aku benar-benar ingin.”

Sena menatapnya dalam-dalam. “Mungkin kamu hanya perlu berhenti menunggu seseorang membahagiakanmu, Dira. Kadang, yang bisa melakukannya cuma diri sendiri.”

Dira terdiam. Kalimat itu menembus lebih dalam dari yang seharusnya. “Kamu bicara seperti tahu rasanya kehilangan arah.”

Sena tersenyum tipis. “Aku tahu. Dan aku tahu juga rasanya menemukan seseorang yang membuat arah itu muncul lagi, bahkan tanpa dia sadar.”

Dira menunduk, menahan debar yang tiba-tiba datang. Ia tidak menjawab apa pun, tapi diam-diam merasa sesuatu berubah di antara mereka.

Malamnya, setelah Langit tertidur, Dira duduk di balkon seperti biasa. Udara sejuk, langit gelap tapi tenang. Dari seberang pagar, terdengar samar suara piano. Dira menoleh—Sena sedang bermain gitar seperti biasa.

Nada-nada itu lembut, mengalun seperti percakapan rahasia di antara dua hati yang tak tahu harus sejauh apa menjaga jarak.

Dira menatap kosong ke arah rumah sebelah. Dalam bisu malam, ia tahu satu hal: hubungan antara dirinya dan Sena mulai melewati batas yang tak bisa ia jelaskan, tapi juga tak mampu ia hentikan.

Dan dari jendela rumah sebelah, Sena berhenti bermain gitar sejenak, menatap ke arah balkon tempat Dira duduk. Tatapan mereka bertemu. Tak ada kata, tak ada senyum—hanya keheningan yang terasa lebih bising daripada suara apa pun.

Sebuah keheningan yang berkata: kita berdua tahu, tapi pura-pura tidak menyadari.