Bab 10 – Irama yang Tak Seirama
Langit senja menumpahkan warna jingga di langit kompleks perumahan itu. Angin sore mengibaskan tirai ruang tamu ketika Dira baru saja menata meja makan. Aroma tumisan bawang putih dan ayam lada hitam masih menggantung di udara. Ia melirik jam dinding—pukul lima lewat empat puluh.
Suara mesin mobil terdengar berhenti di depan pagar. Dira terdiam sejenak. Hanya satu mobil yang mengenal ritme suara seperti itu.
Rangga akhirnya kembali.
Sudah hampir tiga minggu ia tidak melihat suaminya pulang. Bahkan, menurut jadwal seharusnya Rangga hari ini mendarat pukul sembilan pagi. Entah, ke mana dulu dirinya singgah. Mungkin ke kantor atau bisa juga ke persinggahan yang lain. Ia pun sudah tak mau ambil pusing karena sudah terlalu terbiasa dengan ketidakhadiran suaminya itu. Sudah terlalu lelah ia meratapi ketidakhadiran suaminya dalam enam tahun pernikahan mereka. Kini, ia hanya ingin menjalani peran sebagaimana ia ditakdirkan. Seorang istri Rangga Atmaja secara sah yang hanya bergelar istri di atas kertas.
Dira menegakkan tubuhnya, menyeka tangan di celemek, lalu melangkah ke pintu. Hari ini, Bi Sumi, pembantunya pulang lebih cepat sehingga ia cukup sibuk dengan urusan rumah.
Pintu terbuka sebelum sempat ia sentuh.
Rangga berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih yang masih rapi, jas hitam tersampir di lengannya. Senyumnya muncul sekilas—senyum yang masih sama. Senyuman penuh kekuasaan.
“Semua aman, Dira?” ucapnya datar sambil melepas sepatu.
Dira mencoba tersenyum dan menjawab dengan anggukan kepala. “Aku masak makanan favorit kamu. Udang saos tiram.”
“Hmm.” Rangga hanya mengangguk, suaranya nyaris tak terdengar. Ia berjalan masuk, menatap sekeliling seolah memastikan rumahnya masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan.
Langit berlari dari kamar, membawa gitar kecilnya. “Papa!”
Suara riang itu menggema, memecah udara hening. Rangga menunduk, lalu tersenyum kaku. Ia berjongkok dan meraih bahu putranya. “Hei, Nak. Kamu sekarang main gitar, ya?”
Langit mengangguk cepat. “Aku belajar, Pa! Om Sena bilang aku berbakat.”
Dira menatap anaknya—dan seperti yang ia duga, wajah Rangga langsung berubah. Tatapannya menyipit, alisnya terangkat sedikit.
“Om Sena?”
“Iya,” jawab Dira pelan, menyiapkan nada tenang. “Langit ikut les musik di sekolah milik Sena. Rumahnya sebelah kita. Kamu tahu, kan, yang baru pindah beberapa bulan lalu itu.”
Rangga menatapnya lama, seolah menilai apakah kalimat itu mengandung sesuatu yang disembunyikan. Lalu ia berdiri, meletakkan jas di sandaran kursi, dan berkata pelan, “Kamu tahu pendapatku soal hal-hal begini, kan?”
Dira menarik napas, berusaha menjaga suaranya agar tetap datar. “Aku tahu kamu tidak terlalu suka kegiatan yang dianggap tidak menghasilkan. Tapi Langit suka musik, Rangga. Aku cuma ingin dia punya kegiatan positif, daripada hanya nonton TV atau main game.”
Rangga tertawa pelan, sinis. “Kegiatan positif? Les musik untuk anak umur lima tahun? Dira, kamu tahu dunia seperti apa yang akan dia hadapi nanti. Dunia bisnis, bukan dunia panggung atau melodi.”
Langit menatap ayahnya dengan bingung. “Tapi Papa, aku suka bermain gitar dan piano,”
“Bukan soal suka, Langit.” Suara Rangga meninggi, membuat anak kecil itu terdiam. “Kamu harus belajar hal-hal yang berguna untuk masa depanmu. Musik itu tidak berguna."
Dira segera berjongkok dan memeluk Langit, menatap Rangga dengan tatapan yang jarang ia tunjukkan—tegas, tapi getir. “Tolong jangan keras ke dia. Dia hanya ingin mencoba hal baru.”
Dira melirik Langit, memberi isyarat untuknya segera pergi ke kamar. Langit terlalu peka untuk seusianya, ia pun menurut dan bergegas menuju kamarnya di lantai atas.
Rangga menatap Dira, lalu memalingkan wajahnya. “Kamu sudah berani menentang aku, ya, Dira?”
“Aku hanya ingin Langit tumbuh bahagia.”
“Bahagia tidak bisa membuat orang bertahan hidup,” potong Rangga dingin. “Kamu harusnya tahu itu.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Jam dinding berdetak seperti detak jantung yang canggung.
Dira mulai membuka suara. “Kenapa kamu selalu memandang semuanya dengan angka dan keuntungan, Rangga?”
Rangga duduk di kursi makan, menuang air putih, dan menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. “Karena dunia tidak memberi belas kasihan, Dira. Semua yang aku miliki sekarang tidak datang dari perasaan. Tapi dari disiplin, rencana, dan logika.”
“Dan perasaanmu padaku?” tanya Dira lirih.
Rangga diam sejenak. Kemudian ia tersenyum—senyum yang lebih mirip dengan ejekan lembut. “Kamu selalu membawa hal ke arah yang emosional.”
“Aku cuma ingin tahu apakah masih ada yang tersisa,” katanya pelan, hampir berbisik.
Rangga menegakkan tubuh. “Yang tersisa? Kita punya rumah mewah, anak yang sehat, kehidupan yang semua orang iri. Bukankah itu cukup?”
“Cukup di mata, tapi tidak di hati. Tidak ada cinta di keluarga ini.”
Rangga berdiri. “Cinta tidak bisa membayar tagihan, Dira. Tidak bisa membangun perusahaan. Tidak bisa menjaga reputasi.”
Kata-kata itu terasa seperti pisau yang dioles dengan madu. Dira hanya bisa menatapnya, tak tahu apakah ia lebih marah atau sedih.
Ia berbalik menuju dapur, mencoba mengatur napas, tapi suara Rangga menyusul dari belakang.
“Oh ya,” katanya ringan, “kalau bisa, jangan terlalu dekat dengan tetangga itu. Aku tidak suka orang luar ikut campur urusan keluarga kita.”
Dira menatap punggungnya. “Dia bukan orang luar. Sena membantu Langit menemukan sesuatu yang membuatnya bersemangat.”
Rangga menoleh setengah, menatapnya dengan tatapan dingin. “Aku tahu tipe orang seperti itu. Lelaki yang suka bermain baik agar terlihat istimewa. Aku tidak mau kamu atau Langit terlalu dekat dengannya.”
“Dia cuma guru musik.”
“Tidak ada yang cuma dalam hidup ini, Dira.”
Rangga melangkah ke arah tangga, tanpa menunggu balasan. “Aku mau mandi. Nanti malam kita lanjut bicara lagi.”
Begitu langkahnya menghilang di lantai atas, Dira terdiam lama di ruang makan yang kini terasa kosong. Ia menatap kursi Rangga yang masih hangat, gelas air yang belum habis, dan piring yang tak tersentuh.
Matanya mulai terasa panas, tapi ia menahan air mata. Ia sudah terlalu sering menghapus kesedihan dengan diam. Kini, hanya suara lembut gitar kecil Langit dari kamar yang menenangkan hatinya.
Dira menatap ke luar jendela—ke arah rumah sebelah, tempat lampu-lampu halaman milik Sena mulai menyala. Suara petikan gitar samar terdengar dari sana.
Nada-nada yang menenangkan, berbeda dari nada suara Rangga yang selalu memotong dan menghakimi.
Ia tidak tahu apakah itu pertanda baik atau justru berbahaya. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Dira membiarkan pikirannya diam di antara nada-nada itu—suara yang membuat dadanya hangat sekaligus bersalah.
Karena di ujung pikirannya, ia tahu satu hal yang semakin tak bisa ia sangkal:
Rangga mungkin suaminya, tapi hatinya perlahan mulai mencari arah lain.