Bab 11 – Sarapan yang Tak Lagi Sama
Aroma roti panggang dan telur dadar memenuhi ruang makan pagi itu. Dira duduk di seberang meja, memotong roti kecil untuk Langit sambil sesekali melirik jam dinding. Pukul tujuh kurang sepuluh. Bus sekolah akan datang lima belas menit lagi.
Rangga sudah duduk di kursinya, membaca koran sambil menyesap kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Kemejanya rapi, dasinya sudah terpasang, tapi matanya tampak lelah—atau mungkin sekadar dingin seperti biasa.
“Langit, cepat habiskan susunya,” kata Dira lembut.
“Baik, Ma.” Langit meneguk sisa susu coklatnya, meninggalkan kumis putih di atas bibirnya. Ia terkekeh kecil, lalu mengambil roti lagi.
Rangga menurunkan korannya, memandangi anak itu sejenak. “Nanti sore jangan lupa belajar, ya. Jangan terlalu lama main gitar.”
Langit mengangguk pelan. “Om Sena bilang aku boleh latihan dua lagu, Pa. Tapi cuma sepuluh menit, kok.”
Nada polos itu membuat Dira refleks melirik Rangga. Ia tahu ekspresi itu—senyum tipis, nyaris tak terlihat, tapi mengandung sesuatu yang tidak nyaman.
“Om Sena lagi?” gumam Rangga, nadanya datar tapi dingin. “Sepertinya nama itu makin sering terdengar di rumah ini.”
Dira meletakkan sendoknya dengan hati-hati. “Langit senang belajar musik, Rangga. Bukankah itu hal baik?”
Rangga menatapnya. “Aku bukan bilang itu buruk. Tapi seingatku, kita tidak pernah membicarakan soal les itu sebelumnya. Sejak kapan kamu mulai ambil keputusan sendiri untuk Langit tanpa bicara sama aku?”
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti asap kopi—tipis, tapi pekat. Dira tahu, percakapan ini tidak akan mudah.
“Sejak kamu terlalu sibuk untuk sempat ditanya,” jawabnya tenang. “Kamu bahkan tidak ada di rumah saat aku harus memilih les apa yang cocok untuk Langit.”
Rangga meletakkan koran di meja. “Jadi karena aku sibuk, kamu merasa bebas memutuskan segalanya?”
“Bukan bebas,” sahut Dira, menatap langsung matanya. “Aku hanya menjalankan apa yang sudah jadi tugasku. Kamu sendiri yang bilang, semua urusan rumah dan Langit kamu percayakan padaku.”
“Percaya bukan berarti kamu boleh seenaknya.”
“Dan sibuk bukan berarti kamu boleh abai,” balas Dira tanpa berpikir.
Rangga menatapnya lama. Kalimat itu, biasanya tidak akan keluar dari mulut Dira. Ia terbiasa lembut, menahan diri, mencoba menjaga suasana. Tapi pagi ini, nadanya berbeda—lebih tajam, tapi tetap tenang.
Langit yang duduk di antara mereka menatap bingung ke kiri dan kanan. “Pa, Ma... aku udah selesai makan. Busnya udah datang?”
Dira langsung berdiri, memeriksa ke luar jendela. “Sudah. Ayo, ambil tasmu, Nak.”
Anak itu berlari kecil ke pintu. Dira mengikutinya, membenarkan kerah baju seragamnya, lalu mengecup keningnya. “Hati-hati, ya. Jangan lupa bilang makasih ke bu guru.”
Langit tersenyum lebar. “Iya, Ma. Bye, Pa!”
Rangga menjawab dengan anggukan dan senyum kaku. Dira berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan sampai bus menghilang di tikungan. Begitu mobil besar itu benar-benar pergi, udara di ruang makan kembali berubah.
Hening.
Dira berbalik, kembali ke meja. Rangga masih duduk di tempatnya, kini menatap cangkir kopinya yang tinggal setengah.
“Dira,” katanya perlahan, “kamu sadar enggak, belakangan ini kamu terdengar beda?”
“Beda gimana?” Dira mengambil piring kotor satu per satu, tapi suaranya tetap tenang.
“Lebih keras. Lebih berani membantah.”
Nada suaranya bukan marah—lebih seperti orang yang sedang mencoba memahami sesuatu yang asing.
Dira berhenti di depan wastafel, membiarkan air mengalir di bawah telapak tangannya. “Mungkin karena aku sudah lelah harus selalu hati-hati.”
Rangga menegakkan tubuh. “Hati-hati?”
“Ya,” jawab Dira, menatap air yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri. “Hati-hati supaya tidak salah bicara, supaya tidak membuatmu kesal, supaya rumah ini tetap terlihat tenang.”
“Dan itu salah?” tanya Rangga.
“Tidak salah,” ujarnya pelan. “Hanya melelahkan.”
Suara air masih mengalir. Waktu berjalan lambat. Rangga berdiri, melangkah ke arah istrinya. “Kamu berubah, Dira.”
Dira mematikan kran, lalu menoleh. “Mungkin bukan aku yang berubah, Rangga. Mungkin waktu yang membuat segalanya berbeda.”
“Waktu?” Rangga mengulang kata itu, seperti menimbang maknanya.
“Ya. Dulu aku percaya kamu akan bisa berubah suatu saat. Kamu bisa jadi rumah untukku. Tapi sekarang aku mulai sadar, kadang rumah juga bisa membuat seseorang tersesat. Dan mungkin aku mulai lelah menanti.”
Rangga diam. Pandangannya turun ke meja, lalu kembali ke wajah Dira yang kini tampak jauh lebih kuat dari yang ia kenal.
“Aku enggak tahu maksud kamu apa,” katanya akhirnya. “Tapi aku enggak suka kalau percakapan kita berbelok ke arah yang aneh.”
Dira menghela napas. “Aku cuma bicara jujur.”
“Kejujuran kadang bisa terdengar seperti pemberontakan.”
“Kalau begitu, mungkin aku memang sedang memberontak,” balas Dira datar. “Bukan untuk melawan kamu, tapi untuk mengingatkan diriku sendiri kalau aku masih punya suara.”
Kata-kata itu menghantam dada Rangga lebih keras dari teriakan apa pun. Ia berdiri diam di tempat, tak tahu apakah ia sedang marah, tersinggung, atau sekadar tidak mengerti siapa perempuan di depannya sekarang.
Dira menatapnya sebentar, lalu mulai membereskan meja. Suara piring bertemu sendok jadi satu-satunya yang terdengar.
Rangga akhirnya berkata lebih lirih, “Aku cuma enggak mau Langit terlalu larut dengan hal-hal yang enggak penting. Les musik itu...”
“Bukan tentang musiknya, Rangga,” potong Dira lembut. “Tapi tentang memberi Langit sesuatu yang membuatnya bahagia. Kamu tahu, hal sederhana yang bisa dia tunggu setiap pulang sekolah.”
Rangga menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan berat. “Aku cuma enggak mau dia tumbuh lemah. Dunia di luar sana enggak peduli seberapa bahagia kita waktu kecil.”
“Kalau begitu, biarkan aku yang peduli.”
Suara Dira nyaris berbisik. Tapi di balik kelembutan itu ada keberanian yang baru.
Rangga menatapnya lagi—lama, seperti melihat seseorang yang tak lagi sepenuhnya ia kenal. Akhirnya ia berkata pelan, “Sudahlah. Aku mau ke kantor.”
Dira hanya mengangguk. Tak ada pelukan, tak ada ucapan hati-hati, hanya suara langkah kaki Rangga yang menjauh dan pintu depan yang menutup dengan bunyi yang terlalu nyaring untuk pagi yang tenang.
Setelah mobil Rangga menghilang, Dira duduk di kursi makan yang tadi diduduki suaminya. Sisa aroma kopi masih ada, tapi tak ada kehangatan. Ia menyandarkan kepala di kursi dan memandang ke luar jendela.
Langit biru cerah, seperti pagi yang sempurna dari luar. Tapi di dalam rumah itu, ada sesuatu yang sudah berubah—bukan hanya dalam suaranya, tapi dalam dirinya sendiri.
Dulu ia takut menyulut amarah Rangga dan kehilangan ketenangan. Kini, ia lebih takut kehilangan dirinya sendiri.
Ia tersenyum tipis, getir tapi nyata.
Perubahan kecil itu mungkin tak terdengar, tapi seperti retakan halus di kaca: pelan, tak terlihat, namun pasti menyebar ke seluruh permukaan.
Dan dalam diam, Dira tahu—waktu bukan hanya mengubah seseorang, tapi juga cara mereka melihat arti dari rumah dan kebersamaan.