Bab 12 – Malam yang Terlalu Panjang
Senja turun perlahan di langit kompleks itu, meninggalkan cahaya keemasan yang menempel di kaca jendela. Dari kejauhan, suara mobil mendekat pelan dan berhenti di depan rumah Dira. Langit berlari kecil keluar dari mobil, gitar kecilnya tersampir di bahu.
“Mama! Aku main lagu baru tadi!” katanya riang, wajahnya penuh semangat.
Dira tersenyum menyambut kedatangan Langit sembari membuka pintu gerbang “Nanti main lagi untuk mama, ya. Tapi sekarang kamu harus siap-siap karena sebentar lagi eyang akan jemput, ”
“Terima kasih banyak, Sena. Maaf harus repot mengantar.” Dira memandang Sena mempersilakan masuk.
Sena keluar dari mobil sambil menggeleng. “Tidak masalah. Aku memang lewat sekalian pulang, lagipula rumahku tepat di sebelah rumahmu, kan?” Ia melirik ke dalam rumah yang tampak sepi. “Sopirmu libur, ya?”
Dira menghela napas. “Iya, mendadak izin. Mbok Sumi juga pulang kampung, katanya ibunya sakit. Jadi aku benar-benar sendirian di rumah hari ini karena nanti Langit juga akan menginap di rumah mama dan papa.”
“Rangga?” tanya Sena pelan, tapi penuh kehati-hatian.
“Ke luar kota lagi. Katanya ada urusan kantor mendesak.” Dira menatap ke arah jalan yang sudah mulai gelap. “Padahal baru dua hari di rumah.”
Sena menunduk sejenak, lalu tersenyum tipis dan langsung mengarahkan pandangannya ke Langit. “Kamu pasti capek. Sini om gendong ke dalam."
"Yeaaay! Langit mau, om!" Sorak Langit kegirangan.
"Eh, kok jadi manja begitu sih kamu sama Om Sena. Kasihan lho, Om Senanya berat gendong kamu."
"Enggak apa-apa, Dira. Kasihan Langit pasti lelah sekali hari ini."
Dira menatap keakraban Langit dan Sena dengan hangat.
"Andai saja Mas Rangga bisa sehangat ini kepada Langit." Batin Dira.
“Duduk dulu, Sena,” kata Dira, berusaha terdengar tenang. “Aku bikinkan teh, ya.”
Sena hendak menjawab ketika suara klakson terdengar dari depan pagar. Dira menoleh cepat. “Ah, itu Mama.”
Tak lama kemudian, dua orang berusia lanjut masuk dengan senyum hangat. “Mana nih cucu ganteng eyang?” seru ibunya sambil membuka payung.
Langit berlari menghampiri nenek dan kakeknya, tertawa girang. “Eyangti! Eyangkung! Aku mau nginap, ya?”
“Iya dong, sayang. Besok dan lusa kan Langit libur." ucap nenek Langit seraya memeluk cucu kesayangannya itu.
"Eh, lagi ada tamu?" tanya kakek Langit serata melirik ke arah Sena.
Dira langsung memperkenalkan dengan cepat. “Ma, Pa. Ini Sena, guru les musiknya Langit yang juga tetangga sebelah. Dia baru pindah.”
Sena menjabat tangan orang tua Dira sopan. “Senang bertemu, Pak, Bu. Langit anak yang cerdas. Cepat sekali tangkapannya untuk musik.”
Wajah ibunya langsung berseri. “Wah, masa? Memang dari dulu dia suka bermain musik. Terima kasih sudah mau membimbing Langit.”
“Dengan senang hati,” jawab Sena singkat.
Sementara itu, Dira menyiapkan tas kecil berisi baju ganti dan jaket Langit. Ia menyerahkan tas itu ke ibunya, menatap anaknya yang kini sudah siap di pelukan sang kakek.
“Kamu istirahat, ya. Jangan begadang,” pesan ibunya.
Dira tersenyum. “Iya, Ma. Hati-hati di jalan.”
Langit melambai dari mobil sambil berseru, “Dadah, Mama! Dadah, Om Sena!”
Begitu mobil mereka menghilang di ujung jalan, suasana rumah tiba-tiba menjadi lengang. Sunyi yang terlalu cepat datang.
Dira berdiri di depan pagar, menatap hujan tipis yang turun di antara lampu jalan. Sena masih di sampingnya, kedua tangannya masuk ke saku celana.
“Rumahmu jadi sunyi sekali,” katanya pelan.
Dira tersenyum tipis. “Iya. Rasanya aneh. Biasanya selalu ada suara Langit, sekarang jadi terasa sunyi."
Sena tidak menimpali. Ia hanya menatap Dira yang berdiri di bawah cahaya lampu taman, wajahnya separuh diterangi jingga, separuh lagi disembunyikan bayangan.
“Masuklah dulu,” kata Dira akhirnya. “Kamu belum sempat minum teh.”
Sena menurut. Begitu masuk, aroma wangi teha melati menyambut mereka. Dira menyiapkan dua cangkir teh hangat, meletakkannya di meja ruang tamu.
“Malam begini, biasanya kamu sibuk di sekolah musik?” tanya Dira sambil menuang teh.
“Tidak juga. Kelas malam hanya untuk remaja. Sekarang sudah tutup.”
Dira mengangguk pelan. “Kalau begitu, kamu benar-benar punya waktu luang, ya.”
Sena menatapnya, lalu tersenyum samar. “Tidak sebanyak yang kamu kira. Tapi malam ini, sepertinya waktu memang ingin aku habiskan di sini.”
Dira tersentak kecil. Ia memalingkan wajah, menatap jendela kikuk. “Oh, ya. Selama kamu pindah, aku belum sempat bertegur sapa dengan istrimu.”
“Aqila memang sangat jarang berada di rumah. Dia seorang model dan jadwalnya sangat padat. Hmm, mirip seperti Rangga. Ia lebih sering tour ke luar kota.” suaranya tenang tapi dalam.
Keheningan mengambang di antara mereka. Hujan di luar menetes lembut, menciptakan ritme yang tak beraturan. Dira berusaha fokus pada teh di tangannya, tapi detak jantungnya justru semakin keras.
Sena mencondongkan tubuh sedikit, suaranya nyaris berbisik. “Kamu tahu apa yang kupikirkan tiap kali melihatmu, Dira?”
Dira tidak menjawab. Matanya tetap terpaku pada cangkir, tapi jemarinya gemetar halus.
“Aku selalu berpikir,” lanjut Sena, “bagaimana bisa seseorang tampak begitu kuat, tapi matanya sesepi itu.”
Dira meneguk teh dengan cepat, mencoba memutuskan kontak pandang. “Sena, kamu terlalu sering memperhatikan hal-hal yang tidak perlu.”
“Karena kamu selalu berusaha menyembunyikannya.”
Suara itu membuat dada Dira bergetar aneh—antara marah dan takut, tapi juga… tertarik. Ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin menyangkal, namun tidak punya kekuatan.
“Aku tidak menyembunyikan apa-apa.”
Sena tersenyum tipis. “Kalau begitu, kenapa kamu kelihatan seperti sedang menahan napas setiap kali aku di dekatmu?”
Kalimat itu menembus pertahanan terakhirnya. Ia menatap Sena—dan kali ini, tak bisa berpaling.
Ada jarak setipis udara di antara mereka. Wajah Sena hanya beberapa jengkal dari wajahnya.
Dira berdiri tiba-tiba. “Aku… aku harus membereskan dapur.”
Sena juga berdiri, langkahnya refleks mengikuti. “Dira.”
Suara itu membuat Dira berhenti di tengah langkah. Ia tidak berani menoleh.
“Kalau aku terlalu lancang, maaf,” kata Sena pelan. “Tapi aku tidak bisa pura-pura tidak merasakan apa pun lagi.”
Dira menarik napas dalam. “Kamu tidak tahu apa yang kamu katakan.”
“Justru karena tahu, aku mengatakannya.”
Keheningan kembali turun. Lalu guntur terdengar samar di kejauhan, seolah mengisi ruang di antara mereka.
Akhirnya Dira berkata lirih, hampir tak terdengar, “Sena, kamu harus pulang.”
Sena menatapnya lama. “Kamu ingin aku pulang, atau kamu hanya takut aku tidak pergi?”
Dira menggigit bibir bawahnya, matanya memanas. “Jangan buat aku menjawabnya.”
Sena tidak menekan lebih jauh. Ia hanya melangkah pelan menuju pintu, tapi sebelum keluar, ia berhenti. “Rumahku di sebelah. Tapi malam ini… entah kenapa, aku terlalu malas untuk melangkah ke sana.”
Dira tak menjawab. Ia hanya berdiri diam, menatap pintu tertutup perlahan di hadapannya.
Dan saat keheningan benar-benar kembali, barulah ia menyadari satu hal—
bukan hanya hujan yang menetes deras di luar, tapi juga aliran darah di tubuhnya yang seolah mengalir lebih cepat dari semestinya.