Drama

BAB 14-TJTH

23 December 2025

BAB 14

Dira dan Sena masih berdiri di balik tirai, napas mereka saling bersinggungan. Cahaya pagi merembes dari celah-celah jendela, menciptakan bayangan siluet dua tubuh yang berdiri terlalu rapat, terlalu dekat, seolah dunia di luar sana tidak lagi penting. Kedekatan yang mungkin tak seharusnya ada.

Di luar, sebuah mobil hitam yang sangat familiar di mata Sena berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Suara mesinnya lembut tapi tajam, mengiris keheningan seperti tamu yang tak diundang.

Dira merasakan tubuhnya menegang.

Sena berdiri persis di belakangnya, begitu dekat hingga dadanya nyaris menyentuh punggung Dira. “Dia turun,” bisik Dira, suaranya menggetar.

Aqila keluar dari mobil. Langkahnya cepat, efisien, tanpa keraguan ataupun ekspresi. Ia membuka gerbang rumah Sena, masuk ke dalam, kemudian kembali hanya beberapa menit kemudian—kurang dari lima menit. Tak ada tanda bahwa ia mencari seseorang. Tak menoleh. Tak bertanya.

Sena menghela napas panjang. “Dia cuma ambil barang. Ini biasa terjadi.” Suaranya pelan, hampir hambar. “Kalau aku tidak ada, dia tidak akan peduli. Tidak akan tanya.”

Dira menoleh sedikit. “Kamu yakin?”

Sena mengangguk samar. “Percayalah. Kami tidak lagi saling mencari. Kami hanya… menjalankan formalitas. Kami suami dan istri di mata orang lain, bukan berarti kami menunaikan peran itu di dalam rumah.”

Mobil itu keluar dari gerbang dan melaju menjauh. Tanpa ragu. Tanpa jeda. Tak ada pesan atau panggilan tertuju pada ponsel Sena juga. Itu sudah cukup membuktikan pernyataan Sena bahwa hubungan rumah tangganya memang hanya sekadar formalitas semata.

Dira menutup tirai perlahan.

Sebuah hening jatuh, dan kali ini bukan hening yang mencekam—melainkan hening yang hangat, padat, dan berat oleh kerinduan yang tidak lagi mereka sembunyikan.

Sena turun napas panjang, dan Dira merasakannya menyentuh tengkuknya.

“Dia sudah pergi,” kata Sena.

Dira mengangguk. “Syukurlah.”

Namun mereka tidak bergerak menjauh. Seolah tubuh mereka menolak dipisahkan. Ada magnet yang sudah bekerja sejak semalam, dan kini gaya tariknya terlalu kuat untuk diabaikan.


Dira berjalan menuju dapur, mencoba mengalihkan fokusnya pada hal lain. “Aku cuma punya nasi kemarin, telur, sama sosis,” katanya sambil membuka lemari.

“Cukup,” Sena menyusulnya. “Biar aku bantu.”

“Kamu tamu.” Dira berusaha tersenyum.

Sena tertawa lirih, mendekat hingga bahunya hampir menyentuh bahu Dira. “Semalam aku bukan tamu.”

Dira terpaku.

Sena menyentuh punggung tangannya—perlahan, lembut, hampir tidak terasa tapi cukup untuk membuat napas Dira melompat.

“Kita masak bareng.”

Mereka berdiri berdampingan. Dira mengocok telur, sementara Sena memotong sosis dengan gerakan yang tenang. Setiap kali jari mereka bersentuhan, dunia seolah berhenti sedetik.

Ketika Dira mulai mengaduk nasi di wajan, Sena bergerak ke belakangnya. Tangan Sena menahan gagang wajan, menutupi tangan Dira. Tubuh mereka nyaris menempel.

“Begini lebih enak,” katanya pelan. “Panasnya lebih rata.”

“Panasnya memang rata,” jawab Dira lirih. “Tapi kamu terlalu dekat.”

“Tapi kamu tidak menjauh.”

Dira menggigit bibirnya. “Kamu juga tidak.”

Sena mendekat sedikit lagi, napasnya menyentuh sisi pipi Dira.

Dan Dira tidak bisa memungkiri: tubuhnya merespons lebih cepat daripada pikirannya.


Mereka duduk berhadapan di meja makan kecil. Kaki mereka saling bersentuhan di bawah meja—bukan kebetulan, bukan kecelakaan, tetapi kebutuhan yang tak terucapkan.

Nasi goreng sederhana itu… entah kenapa terasa lebih nikmat. Lebih hidup. Mungkin karena seseorang yang duduk di hadapannya sembari memperhatikannya dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh siapa pun.

“Kupikir aku tidak akan pernah merasakan sarapan yang begitu hangat seperti sekarang,” kata Dira pelan.

Sena meletakkan sendoknya. “Aku juga. Sudah lama sekali aku ingin sarapan dengan seseorang yang benar-benar terasa seperti rumah.”

Ada sesuatu yang bergerak di dalam dada Dira. Sesuatu yang telah ia kubur dalam-dalam sejak lama.

“Semalam…” Dira mencoba bicara, tapi kata-katanya patah.

Sena menggeleng pelan. “Jangan merasa bersalah. Jangan takut.”

“Aku tidak takut.” Dira menatapnya. “Aku cuma tidak ingin pura-pura tidak merasakannya.”

Sena mencondongkan tubuh. “Dira…”

“Jangan panggil aku begitu…”

“Kenapa?”

“Karena suaramu… membuatku tidak bisa bernapas.”

Sena membeku.

Kemudian ia bangkit. Menggeser kursinya. Berjalan pelan ke arah Dira.

Ia berhenti di depan Dira dan menunggu. Tidak menyentuhnya. Tidak memaksa.

Dira menatapnya seperti seseorang yang telah terlalu lama menahan haus.

Sena mengangkat tangan, menyentuh pipi Dira dengan lembut. “Kalau kamu tidak mau… katakan. Kamu bisa menolak.”

Dira tidak berkata apa-apa.

Ia bangkit. Mendekat. Menyandarkan dahinya pada dada Sena.

Tubuh Sena menegang sejenak, lalu melunak. Ia merunduk, mengecup ubun-ubun Dira perlahan—sebuah kecupan yang penuh kerinduan yang selama ini ia sembunyikan dalam keheningan.

Dira tidak mundur. Ia justru melingkarkan kedua lengannya di pinggang Sena, memeluknya erat seolah takut momen itu akan hilang.

Sena menyentuh punggungnya, mengusap pelan, menahan Dira lebih rapat lagi. “Kau gemetar,” bisiknya.

“Karena kamu,” jawab Dira lemah.

Sena mendesah. “Kalau aku meneruskan ini… aku tidak akan mampu kembali lagi.”

Dira mengangkat wajahnya. Matanya bergetar, tak ada kebohongan di sana. “Aku tidak mau kamu kembali.”

Kalimat itu memecahkan sesuatu dalam diri Sena.

Ia meraih wajah Dira dengan kedua tangan, memandangnya lama—seolah memastikan bahwa perempuan di hadapannya benar-benar ada, benar-benar menginginkannya.

Sena mengecup pelipis Dira. Dalam. Pelan. Lama.

Dira merespons dengan menaikkan tangannya ke dada Sena, merasakan detak yang keras, cepat, jujur. Ia merapatkan tubuhnya, membenamkan wajahnya di leher Sena, mengendusi kulit di sana secara lembut namun sarat kerinduan.

Gerakan mereka tidak terburu-buru, tetapi intens—seperti dua jiwa yang saling menemukan pada waktu yang tepat, namun pada kehidupan yang salah.

Napas mereka bertemu. Tangan menyusuri punggung, pinggang, sisi wajah. Keintiman itu begitu tenang tetapi mendalam, seolah mereka sedang belajar kembali bagaimana mencintai setelah terlalu lama terluka.

Sena meraih pergelangan tangan Dira dan meletakkannya di dada kirinya—tepat di detak jantungnya.

“Ini bukan ilusi,” katanya, suaranya pecah. “Dengar.”

Dira menutup mata, mendengarkan degup itu—keras, cepat, nyata.

“Kau yang membuat detak ini seperti ini,” lanjut Sena. “Debar yang tidak pernah kurasakan dengan perempuan lain. Termasuk Aqila.”

Sena menatapnya, matanya jujur dan terbuka.

“Hanya kamu, Dira.”

Air mata menggenang di mata Dira, bukan sedih, bukan takut—melainkan lega. Seolah seseorang akhirnya melihatnya, mendengarnya, menerimanya, tanpa syarat.

Ia meraih wajah Sena, menyentuh pipinya dengan kedua tangan.

Dan di pagi yang sederhana itu, di dapur kecil dengan aroma nasi goreng yang belum sepenuhnya pergi, dua hati yang terlalu lama terabaikan akhirnya menemukan rumahnya.

Tanpa rencana.

Tanpa janji.

Tanpa perlu memaksa dunia untuk mengerti.

Dira menempelkan bibirnya ke dahi Sena, satu kecupan ringan namun penuh makna.

“Sena…” bisiknya.

Sena memejamkan mata. “Ya?”

“Untuk pertama kalinya sejak lama… aku merasa hidup.”

Dan tak ada yang ingin mengingkari perasaan itu.