Drama

BAB 15

23 December 2025

BAB 15

Sisa tawa dan rasa manis dari sarapan bersama masih menggantung di udara ruang tengah. Dira dan Sena duduk bersandar di sofa, saling menghadap, jarak mereka terlalu dekat untuk disebut wajar. Dira memainkan ujung rambutnya dengan gugup, sementara Sena memandangi wajah yang kini berada begitu dekat di depannya seolah sedang menghafal setiap detail yang ia takutkan akan hilang jika ia berkedip.

Tangan Sena perlahan menyusuri punggung tangan Dira, menaut jari-jari mereka bersama.

“Dira…” panggilnya pelan, suara yang terdengar seperti bisikan yang hanya tercipta untuk telinganya.

“Hm?” Dira menatapnya, pipinya masih terasa hangat sejak tadi.

“Aku suka lihat kamu hari ini.”

“Kenapa?”

“Karena kamu terlihat… hidup. Seperti seseorang yang baru saja bebas dari kurungan untuk waktu yang begitu lama. Kamu tersenyum dengan cara yang nggak pernah aku lihat sebelumnya. Senyummu hari ini begitu lepas. Begitu jujur.”

Dira menunduk, hatinya menghangat sekaligus berdebar.

“Kamu benar, Sena. Aku ngerasa berbeda juga dari diriku hari ini. Untuk pertama kalinya setelah lama sekali… aku merasa berarti. Aku merasa bahwa hari ini aku benar-benar dicintai. Selama pernikahanku dengan Mas Rangga, aku enggak pernah merasa dicintai olehnya. Aku hanya dijadikan pelengkap di dalam kesuksesannya. Hanya Langit, satu-satunya hal yang aku syukuri dari pernikahanku dengan Mas Rangga.”

Sena mengusap pipinya dengan punggung tangan. Sentuhan itu lembut, hati-hati, penuh rasa.

“Kamu memang berarti. Kamu berharga. Dan kamu sangat layak dicintai dengan benar. Hanya karena satu orang tak memberikan cinta itu, bukan berarti kamu tidak berharga, Dira. Kamu sangat berharga. Kamu ibu yang luar biasa untuk Langit. Meski kehidupan pernikahanmu banyak menorehkan luka, tapi kamu tak pernah membawa Langit ke dalam luka itu. Kamu hebat, Dira.”

Dira menelan ludah. Kata-kata itu seperti menghantam dinding kosong yang sudah lama tak terisi apa pun dalam hidupnya. Di antara mereka, ada sesuatu yang tumbuh cepat, liar, dan tidak bisa dihentikan.

Sena mendekat sedikit. “Boleh aku peluk kamu lagi?”

Dira tidak menjawab. Ia hanya membuka kedua lengannya.

Sena menariknya ke dalam dada, memeluknya erat seolah tubuh Dira adalah rumah yang selama ini ia cari. Dira memejamkan mata, menghirup aroma tubuh Sena—aroma yang dalam semalam sudah seperti candu untuknya.

Pelukan itu bukan sekadar rindu, bukan sekadar ketertarikan.

Itu adalah sebuah pernyataan tanpa kata bahwa keduanya sama-sama menemukan tempat pulang.


Di tengah kehangatan pelukan itu, ponsel Dira tiba-tiba bergetar.

Dira membuka mata.

Sena menjauh sedikit, menunduk menatap layar ponsel yang menyala.

Nama yang muncul di sana membuat jantung Dira langsung merosot.

Rangga Atmaja:

[Aku otw pulang.]

Dira mematung, wajahnya seketika pucat. Sena melihat perubahan itu dan langsung tahu tanpa perlu bertanya.

“Dia pulang?” suara Sena merendah.

Dira mengangguk, suaranya nyaris tak keluar. “Iya… dia sudah di jalan.”

Mereka tahu waktu mereka habis.

Sena menggenggam kedua tangan Dira. “Dira. Lihat aku.”

Dira menatapnya, matanya mulai berkaca.

“Aku takut, Sena. Takut semua ini hilang.”

“Nggak akan hilang.” Sena mengusap pipinya lagi, lembut namun pasti. “Apa yang kita rasakan nyata. Bukan khayalan. Kita saling mengisi. Kamu memberi aku alasan untuk hidup. Dan aku tahu aku memberi kamu alasan untuk merasa dicintai.”

Dira menggigit bibir, menahan air mata. “Aku… nggak mau jauh dari kamu.”

Sena memeluknya sekali lagi—erat, hampir putus napas.

“Aku juga nggak mau jauh dari kamu. Tapi aku harus pergi sebelum dia datang. Aku enggak mau membuat kamu dalam masalah.”

Dira menarik diri dengan berat hati. Bibir mereka hampir bersentuhan, tapi tidak benar-benar menyentuh—karena keduanya tahu itu akan menyulitkan perpisahan.

“Pergilah dari belakang,” ujar Dira. “Aku akan segera merapikan perlatan makan kita tadi.”

Sena mengangguk, meski hatinya ingin tinggal lebih lama.

“Sen…”

“Ya?”

“Jangan lupa aku.”

Sena tersenyum tipis. “Kalau bisa… aku ingin lupa segalanya, kecuali kamu.”


Begitu Sena pergi, Dira memandang pintu yang baru saja tertutup, dadanya sesak oleh rindu yang baru saja lahir dan sudah harus dipendam.

Dira mulai bergegas mencuci piring bekas sarapan, lalu naik untuk membersihkan diri, seolah ingin menghapus jejak Sena dari kulitnya—meskipun ia tahu itu mustahil. Setiap jejak yang ditinggalkan Sena akan terus membekas di tubuh dan hatinya.

Tak lama, pintu depan rumahnya terbuka.

Rangga masuk sambil menghela napas panjang.

“Langit mana? Pembantu mana? Sopir mana? Rumah sepi sekali,” tanyanya tanpa pandang.

“Mbok Sumi izin pulang kampung, ibunya sakit. Pak Rudi juga izin karena anaknya sakit.” jawab Dira singkat.

Rangga hanya mengangguk.

“Aku sudah makan di luar. Sabtu kita ada undangan kolega. Kamu harus siap.”

Dira mengangguk.

Rangga menambahkan, “Aku mau istirahat. Capek. Jangan ganggu.”

Lalu ia pergi ke kamar dan menutup pintu.

Tak ada “apa kabar”.

Tak ada “kamu sudah makan?”.

Tak ada pelukan.

Tak ada tatapan.

Kontras itu membuat dada Dira terasa asing—seolah tubuhnya baru saja sadar mana sentuhan yang selama ini ia butuhkan.


Dira duduk di sofa ruang tamu. Tempat di mana baru saja ia dan Sena saling melebur dalam rindu dan kesepian yang sama. Ingatan itu kembali menghangatkan kulitnya.

Ia mengambil ponsel dan mengetik:

“Aku kangen.”

Balasannya datang cepat:

“Aku juga kangen. Kita cuma terpisah dinding tipis, tapi keadaan kita memisahkan terlalu banyak.”

Dira mengetik lagi, tangannya gemetar:

“Aku nggak bisa jauh dari kamu, Sena.”

“Aku senang sekarang kamu jujur. Aku juga selalu ingin bersamamu."


Balkon yang Menyembunyikan Luka

Sore hari, Dira duduk di balkon lantai dua sambil meminum teh. Tempat biasa ia dan Sena saling melihat tanpa terlihat.

Sena tampak berdiri di balik jendela rumah sebelah. Ia jelas melihat Dira, namun ia menahan diri. Demi keamanan Dira. Demi rahasia mereka.

Dira menyandarkan tubuh di kursi, diam-diam berharap Sena muncul.

Namun yang muncul bukan Sena.

Rangga tiba-tiba keluar ke balkon dan berdiri di belakangnya.

Tangan Rangga melingkar di pinggangnya tanpa peringatan.

Dira terkejut. “ Mmaas R-Rangga—?”

“Kenapa kaget? Aku kan suamimu. Lupa?” Rangga mencium bibir Dira cepat, keras.

Dira tersentak.

Jantungnya berdebar… bukan karena cinta, tapi karena terkejut dan takut.

“Aku cuma kaget. Ini di luar… takut tetangga lihat,” katanya gugup.

“Kalau begitu, ayo kita lanjutkan di dalam.”

Rangga mencengkeram lengannya dan menariknya masuk dengan kasar, tanpa kelembutan. Hanya ada nafsu yang menguasai raganya.


Dari balik jendela rumah sebelah—

Sena melihat semuanya.

Bagaimana Rangga memeluk Dira.

Bagaimana bibir Rangga mendarat di bibir tipis wanita yang ia cintai dengan begitu agresif.

Bagaimana tangan lelaki itu menarik lengan Dira ke dalam rumah.

Mata Sena memanas.

Nafasnya tersengal.

Tubuhnya menegang penuh amarah.

Cemburu itu membakar.

Menyakitkan.

Membuatnya ingin menerobos masuk dan merebut Dira saat itu juga.

“Rangga…” gumamnya rendah, penuh ancaman.

“Kalau dia menyakitinya… aku tidak akan diam.”