BAB 16
Dira duduk di tepi ranjang, napasnya masih belum stabil. Rambutnya berantakan, lengannya gemetar. Kain selimut yang kusut di belakangnya menjadi saksi bisu apa yang baru saja terjadi—sebuah kewajiban, sesuatu yang dilakukan tanpa hati, tanpa makna, hanya sekadar memenuhi tuntutan peran sebagai istri.
Rangga tertidur pulas begitu saja setelah selesai. Tanpa menatap matanya. Tanpa memeluk. Tanpa menanyakan apakah Dira baik-baik saja. Begitu terlelap, seolah ia baru menyelesaikan tugas administratif yang sama sekali tak berhubungan dengan cinta.
Dira memandangnya sekilas. Ia tak merasakan apa pun selain kehampaan yang makin lama makin menusuk. Ada rasa dingin merayap di dadanya. Dinginnya bukan dari AC kamar, tapi dari kenyataan bahwa tubuhnya tidak lagi merasa nyaman disentuh oleh lelaki yang secara sah adalah suaminya.
Sena… sentuhan Sena sama sekali berbeda. Setiap cengkeraman, setiap geser jemari, setiap tarikan napas dekat telinga… semuanya membuat dirinya merasa ada, merasa dicintai, merasa diinginkan. Bukan sebagai kewajiban. Bukan sebagai pelengkap hidup laki-laki yang tak pernah benar-benar menatapnya.
Dira bergeser turun dari kasur. Telapak kakinya yang menyentuh lantai dingin membuat ia tersadar dari lamunannya. Ia melangkah cepat menuju kamar mandi. Membuang pandangan dari tubuh Rangga.
Ia mandi lama—amat lama—dan ketika air hangat mengalir di kulitnya, ia merasa seperti sedang berusaha menghapus jejak yang tak ia inginkan. Jejak yang membuat dadanya terasa sesak. Ketika air jatuh mengalir dari rambut hingga punggung, ingatannya justru membawa dirinya kepada hal yang lain. Pada bibir Sena yang menahan dirinya dengan lembut. Pada suara laki-laki itu yang selalu bergetar setiap kali menyebut namanya. Pada caranya memeluk seolah ia adalah rumah.
Bukan Rangga.
Bukan suaminya.
Melainkan Sena—tetangganya.
Begitu selesai, Dira berdiri di depan cermin. Lingerie satin maroon yang biasa ia kenakan untuk tidur kini melekat di tubuhnya. Tipis, lembut, dan terlalu jujur. Tanpa rencana apa pun, ia turun ke lantai bawah untuk sekadar menenangkan diri.
Rumah terasa sunyi. Hujan mulai turun di luar, menambah dinginnya udara malam.
Dira memandang dinding yang berbatasan tepat dengan rumah Sena. Dinding itu—penghalang tipis yang sejak lama menjadi batas antara mereka. Ia menyentuhnya dengan ujung jarinya, seolah berharap suara di balik tembok itu dapat ia rasakan.
“Aku rindu,” bisiknya lirih—tidak kepada siapa pun selain dirinya sendiri.
Dalam detik yang sama, ponselnya bergetar di tangan.
[ Dira, apa Rangga sudah tidur? ]
Hatinya langsung melonjak.
[ Sudah, Sena. ]
Balasannya cepat.
[ Ayo, kita bertemu lewat pintu belakang. ]
Napas Dira tercekat. Ada keraguan. Ada ketakutan. Tapi ada pula sesuatu yang jauh lebih kuat dari semua itu—kerinduan yang mendera, yang menguasainya sepenuhnya.
Jari-jarinya mengetik tanpa banyak berpikir.
[ Oke. ]
Saat pintu belakang terbuka, udara malam yang dingin masuk ke tubuh Dira. Ia menggigil sedikit, tak hanya karena cuaca, tapi juga karena degup jantungnya yang terlalu cepat.
Sena berdiri di ambang pintu, hoodie hitam, rambut sedikit basah oleh gerimis. Matanya langsung membeku melihat Dira berdiri di depannya—dengan lingerie maroon yang membalut tubuh rampingnya.
Sena tak berkata apa pun selama beberapa detik. Matanya menyapu perlahan, bukan dengan tatapan kasar, melainkan tatapan laki-laki yang sudah menahan diri terlalu lama.
“Kamu…” Suaranya serak. “Kamu terlihat begitu cantik, Dira.”
Dira spontan menutupi dadanya yang sedikit terbuka. “Maaf… aku lupa kalau… aku masih pakai pakaian seperti ini.”
Sena mendekat satu langkah. Hanya satu, tapi cukup untuk membuat napas mereka saling menyentuh.
“Aku suka maroon,” bisiknya. “Tapi aku lebih suka kamu.”
Pipi Dira memanas. Tanpa sadar, ia menunduk. Namun Sena meraih jemari Dira dengan perlahan, seolah meminta izin.
“Mari masuk. Lewat sini… aku mau kamu lihat ruang pribadiku.”
Dira menatapnya. “Ruang pribadi?”
Sena mengangguk. “Ruang yang Aqila saja tidak pernah boleh masuki.”
Dira terdiam. Pernyataan itu membuat sesuatu bergetar dalam dadanya—sesuatu yang hangat dan menakutkan sekaligus.
Tanpa berkata lagi, ia membiarkan dirinya dituntun masuk.
Ruangan itu terletak di belakang, terpencil, tertutup dari area lain. Dira langsung merasakan ketenangan saat masuk. Lampu-lampunya temaram, dinding berwarna abu lembut, tatanan alat musik rapi, beberapa perangkat komposer berjajar, dan sebuah sofa besar berwarna cream di tengah.
“Aku sering mencari inspirasi di sini,” ujar Sena pelan.
Dira berjalan masuk lebih dalam, menatap sekeliling. Ruangan itu terasa seperti dunia yang hanya dimiliki Sena. Privasi murni. Dan kini ia berada di dalamnya.
“Sini,” Sena menepuk sofa lembut. “Duduk dengan aku.”
Dira mengangguk pelan dan duduk. Jarak mereka sangat dekat. Suasana hujan di luar menambah dinginnya ruangan, membuat lengannya merinding.
“Kedinginan?” tanya Sena.
“Iya… mungkin karena bajuku terlalu tipis.”
Sena menghela napas panjang, seperti menahan sesuatu.
“Kamu tahu,” katanya pelan. “Aku sudah berusaha menahan diri sejak tadi. Sejak melihat bibir Rangga mendarat di bibir kamu dengan kasar seperti itu.” Tatapannya meredup, penuh rasa sakit yang ditahan. “Tapi sekarang… melihat kamu seperti ini… aku nggak bisa menahan diri lagi.”
Dira menoleh pelan.
Bibir mereka sudah terlalu dekat.
Dira tidak menolak. Tidak menghindar. Ia justru semakin ingin mendekat.
Sena menyentuh pipinya dengan ujung jari. “Aku cemburu, Dira… aku cemburu setiap kali membayangkan bibir ini…” Jemarinya menyentuh bibir Dira, lembut sekali. “…disentuh oleh lelaki lain.”
Dira memejamkan mata, tubuhnya bergetar.
“Sena…” desahnya.
“Aku egois,” lanjut Sena, suaranya menurun. “Aku ingin bibirku saja yang menyentuhmu.”
Dan tanpa memberikan ruang ragu, Sena mendekat. Bibir mereka bertemu. Sentuhan itu membuat lutut Dira melemas dan tubuhnya otomatis merapat.
Sena menarik pinggul Dira dengan perlahan, menempatkan tubuh perempuan itu di pangkuannya. Dira duduk di atasnya, kedua tangan memeluk bahu Sena. Kedekatan itu membuat dada mereka saling bersentuhan, membuat setiap napas terasa memanas.
Bibir mereka berulang kali beradu, kadang lembut, kadang dalam, kadang hanya berhenti dekat untuk menarik napas pendek sebelum kembali bertemu.
Dira merasa tubuhnya menyatu dengan napas laki-laki itu. Jantungnya memukul rusuk, keras sekali.
Sentuhan Sena berpindah ke punggungnya, menyusuri lekuk satin maroon yang begitu tipis. Dira merasakan kulitnya seolah terbakar oleh gesekan lembut itu. Jemarinya memegang tengkuk Sena, menariknya semakin dekat, semakin dalam.
“Kamu cantik sekali…” Sena berbisik di lehernya. “Setiap kali aku lihat kamu, aku merasa hidup lagi.”
Dira menggigit bibir bawahnya. Suara hujan di luar terdengar semakin deras, seolah memberi perlindungan pada keheningan mereka.
Sena menaikkan wajah Dira, menatapnya dari dekat. “Bilang sama aku… kamu juga menginginkan ini.”
Dira tidak ragu.
“Aku menginginkan kamu, Sena… lebih dari yang bisa aku jelaskan.”
Sena menarik napas seperti seseorang yang akhirnya mendapatkan udara setelah sekian lama tenggelam.
Kain satin di bahu Dira bergeser perlahan, bukan direnggut, melainkan diturunkan dengan kelembutan yang membuat jantungnya bergetar. Dira tidak menghentikan. Ia membiarkan. Bahkan ia sendiri yang melepas sedikit bagian lainnya.
Sena menangkup wajahnya dan kembali menciumnya—lebih dalam, lebih lama, lebih jujur daripada apa pun yang pernah ia rasakan dalam hidupnya.
Dira memeluknya erat, erat sekali. Seolah jika ia melepaskan, dunianya akan runtuh.
Sentuhan, desahan, kehangatan, dan kejujuran yang lama mereka tahan kini pecah menjadi satu. Tubuh mereka melebur dalam dinginnya malam.
Sena menatap Dira dengan napas terengah pelan, seolah berusaha menahan dirinya agar tidak terlalu cepat, tidak terlalu rakus, tidak melukai apa pun yang telah rapuh dalam diri mereka berdua.
Namun ketika Dira merapatkan tubuhnya lagi—membiarkan dirinya menyandar pada dada Sena dengan kejujuran penuh—pertahanan itu runtuh sedikit demi sedikit.
Sena menyentuh sisi pinggangnya, kemudian menariknya lebih dekat hingga dada mereka bertaut tanpa ruang. Lengan Dira melingkar di belakang leher Sena, dan saat bibirnya kembali menemukan bibir laki-laki itu, Sena menggeser tubuhnya, membuat Dira sedikit tenggelam dalam pelukannya.
Lalu dengan gerakan perlahan, tanpa terburu-buru, Sena melepaskan kaos birunya. Kaos itu terangkat melewati kepala, jatuh ke lantai tanpa suara. Dira memejamkan mata ketika kulit mereka akhirnya bersentuhan tanpa penghalang.
Bibir mereka kembali bertemu—lebih panas, lebih jujur—seolah tak ada lagi batas di antara keduanya.
Sena meraba pinggang Dira, memperbaiki posisi tubuhnya di pangkuannya, membuat kulit mereka menempel sempurna. Nafas Dira memburu saat ia merasakan geseran halus tubuh laki-laki itu yang kini bertelanjang dada, tanpa lapisan apa pun yang memisahkan kehangatan mereka.
Dira tersentak kecil ketika merasakan tangan Sena turun perlahan ke bagian pinggulnya. Ia tidak menolak. Justru tubuhnya bergerak sendiri, menyesuaikan, menerima.
Sena menarik napas panjang di telinga Dira, suaranya rendah dan bergetar.
“Aku ingin kamu tanpa menyembunyikan apa pun dari aku, Dira…”
Dira menelan napasnya. “Aku juga… aku nggak mau sembunyi lagi.”
Tatapan Sena menajam, lembut tapi dalam—seolah Dira baru saja mengucapkan kalimat yang membebaskan jiwanya.
Sena menggeser sedikit tubuhnya dan dengan satu gerakan pelan, ia menanggalkan celana pendek hitam yang membungkus pinggulnya. Gerakan itu tak tergesa, dilakukan sambil terus menatap mata Dira. Celana itu jatuh ke lantai, bergabung dengan kaos birunya.
Kini, mereka sama-sama terbuka. Sama-sama jujur. Sama-sama menghadirkan diri tanpa penghalang.
Dira merapatkan dahi ke dahi Sena, mengambil napas dalam-dalam. Hatinya berdetak begitu keras hingga ia merasa seluruh dadanya bergetar.
“Aku takut…” bisiknya lirih. “Tapi aku juga… ingin sekali dekat dengan kamu.”
Sena membenamkan jemari di rambut belakang Dira, memeluknya erat—erat sekali.
“Aku juga takut,” jawabnya, suaranya nyaris patah. “Tapi aku nggak mau mundur dari kamu. Biar kita takut sama-sama, Dira. Biar kita hadapi sama-sama.”
Dira menutup mata, merasakan hangatnya napas Sena di wajahnya.
Lengan Dira meraba punggung Sena, menariknya lebih dekat sampai tubuh mereka menyatu total. Tubuhnya melebur dalam dekapan itu, seolah semua ketidakbahagiaan rumahnya, sikap dingin yang ia dapat dari Rangga, semua ketidakberartian yang selama ini ia rasakan… sirna dalam satu sentuhan laki-laki ini.
Sena mendaratkan ciuman lembut di bahu Dira, kemudian naik perlahan di sepanjang lehernya. Setiap sentuhan seperti menggoreskan tinta hangat ke kulitnya, meninggalkan jejak rasa yang tak pernah ia terima dari siapa pun sebelumnya.
Dira menggigit bibir bawahnya, menahan suara yang hampir meluncur.
“Kamu boleh pegang aku, Dira,” ujar Sena lirih. “Aku milik kamu sekarang….”
Dira menaikkan wajahnya dan menatap Sena dari jarak yang sangat dekat.
“Aku juga… milik kamu sejak malam ini,” ucapnya pelan.
Sena memejamkan mata dan memeluk Dira erat—erat seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Dan pada malam itu, di ruang yang sangat pribadi, dua tubuh yang sama-sama hampa menemukan cara untuk saling bergelora lagi.