Drama

BAB 17

23 December 2025

BAB 17

Pagi itu, cahaya matahari menembus celah-celah gorden kamar Dira, jatuh lembut di lantai seperti garis-garis emas tipis. Dira membuka mata perlahan. Tubuhnya masih terasa lelah, tetapi lelah yang berbeda—lelah yang membawa detak hangat, bukan kosong. Lelah yang menyisakan senyum kecil tanpa ia minta.

Sena.

Nama itu muncul seperti bisikan yang merayap di antara sisa-sisa ingatan malam tadi. Sisa sentuhan. Nafas yang saling berkejaran. Kejujuran yang tidak pernah ia ucapkan kepada siapa pun selama ini.

Ia menarik selimut sampai ke dada, menyembunyikan pipinya yang memanas sendiri.

Namun suara dengkuran di sebelahnya segera menariknya kembali ke kenyataan.

Rangga masih tertidur pulas di sampingnya. Selepas bertemu Sena, Dira langsung kembali ke kamar. Beruntung Rangga masih tertidur pulas.

Dira bangkit, merapikan rambutnya sekadarnya, lalu berjalan ke dapur. Tanpa Mbok Sumi yang masih pulang kampung, dapur terasa lebih sepi. Biasanya suasana pagi Dira dimulai dengan nada-nada pendek Mbok Sumi yang selalu bertanya apakah Dira ingin teh atau susu. Sekarang, hanya suara peralatan masak yang ia dengar.

Dira membuka kulkas dan mengambil telur, margarin, serta roti. Tangannya bergerak lincah membuat scrambled egg dan roti panggang.

Rangga turun beberapa menit kemudian, rapi dengan kemeja biru muda dan jam tangan mahal di pergelangan tangan.

Dira menoleh. “Mas mau teh atau kopi?”

“Teh saja,” jawab Rangga tanpa melihat wajahnya. Ia duduk dan membuka ponselnya sambil menggulir layar cepat-cepat. Tatapannya tak pernah lepas dari alat digital itu.

Dira menyiapkan teh hangat untuknya, lalu menaruh piring sarapan di depan suaminya.

Rangga makan tanpa banyak bicara. Tanpa menatap mata Dira. Tanpa bertanya apakah Dira sudah makan. Semuanya berlangsung dingin dan mekanis—persis seperti bagaimana ia memeluk Dira semalam: tanpa hati, hanya kewajiban.

Namun pagi ini, sikap dingin Rangga sudah tidak menusuk Dira seperti dulu.

Pagi ini, ia merasa… pulih. Ada warna di pipinya. Ada cahaya kecil yang tidak ia sadari muncul di matanya.

Sambil menyeruput teh, Rangga meraih kunci mobil dan berdiri. “Aku berangkat dulu. Jangan lupa jemput dan langsung antar Langit ke sekolah. Pak Rudi hari ini udah masuk, kan?"

“Ya, Mas. Tadi aku udah konfirmasi ke Pak Rudi. Langit juga sudah bersiap-siap di rumah Mama. ” jawab Dira datar, sopan.

Rangga hanya mengangguk lalu berjalan keluar, menutup pintu tanpa pamit, tanpa mencium kening, tanpa sekadar menoleh.

Dulu, setiap kali hal seperti itu terjadi, dada Dira terasa nyeri. Kini, tidak lagi. Semua sikap dingin Rangga seolah tak berarti lagi. Hati Dira tetap hangat hanya dengan mengingat satu nama. Sena.

Dira sadar bahwa ini sebenarnya salah. Namun, ia sudah terlanjur masuk ke dalam kesalahan tersebut. Dan kini, rasanya begitu sulit untuk ia kembali. Hatinya pun tak bisa berbohong kalau ia memang menginginkan kesalahan ini.

Begitu suara mobil Rangga menjauh, Dira melepaskan napas panjang yang terasa seperti kebebasan kecil yang ia simpan diam-diam.


Pak Rudi, sopir keluarga yang baru kembali bekerja setelah beberapa hari libur, sudah menunggu di garasi belakang. Rambutnya yang mulai beruban terlihat rapi. Ia tersenyum sopan ketika melihat Dira keluar dengan tas kecil dan kunci rumah.

“Selamat pagi, Bu.”

“Pagi, Pak Rudi. Kita ke rumah Mama ya. Saya mau jemput Langit dan nanti kita langsung ke sekolah Langit.”

“Baik, Bu.”

Perjalanan berlangsung tenang. Angin pagi masuk dari celah jendela, membawa aroma hujan semalam. Dira bersandar sebentar, matanya terarah ke jalan tapi pikirannya jauh.

Pikirannya kembali pada Sena. Pada senyum hangat laki-laki itu ketika mereka berpisah subuh tadi. Pada cara Sena menaruh telapak tangannya di pipi Dira dan berbisik, “Tidurlah, Dira. Aku di sini. Aku nggak akan ke mana-mana.”

Dada Dira kembali menghangat.

Ia menutup mata sejenak.

Sena adalah hal pertama yang ia pikirkan saat bangun. Dan jadi hal terakhir yang ia ingat sebelum tidur.

Mobil berhenti di depan rumah Bu Sukma, mama Dira. Begitu turun, Dira langsung melihat ibunya sedang menyiram tanaman di teras.

Bu Sukma menoleh dan tersenyum lebar. “Eh, Dira? Kamu kelihatan bahagia banget. Ada apa ini?” Suaranya penuh keheranan, tapi juga kebahagiaan.

Dira mendekat. “Nggak apa-apa, Ma. Biasa aja.”

“Biasa aja gimana? Kamu itu kelihatan beda. Cerah. Sudah lama mama enggak lihat kamu seceria ini. Tapi sekarang, kamu kelihatan bersinar banget, Ra. Mama senang lihat kamu begini.” Bu Sukma tersenyum kecil sambil menepuk tangan Dira.

Dira hanya tersenyum. Ia tidak bisa menahan lengkungan kecil di bibirnya. Ada cahaya di matanya yang tak pernah ia sadari. Kilatan sinar di matanya itu nyatanya mampu terlihat oleh orang lain, tak terkecuali Bu Sukma.

Mama menghela napas lega. “Syukurlah kalau kamu sudah mulai terima keadaan rumah tanggamu. Namanya juga rumah tangga yang saling menguntungkan, kan? Rangga itu mungkin memang banyak perempuan di luar sana, tapi dia tetap pulang ke kamu. Kamu istri sahnya. Yang penting kamu tahu posisi.”

Dira tercekat sesaat.

Dulu, kata-kata itu menyayat. Meruntuhkan. Menyebabkan luka yang dalam.

Sekarang? Ia hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Seolah mengiyakan.

Bukan karena ia sepakat.

Tapi karena kini ia sudah tidak mau peduli. Dan hatinya pun sedang berada di tempat lain. Pada seseorang yang tidak pernah menyuruhnya untuk mengalah atau menerima segala hal sebagai keharusan, tetapi seseorang yang memberikan rasa aman dan memandang dirinya sebagai seorang wanita yang layak dicintai.

“Makasih, Ma,” jawab Dira pelan sambil mengelus tangan ibunya.

Bu Sukma memeluk Dira sebentar. “Langit baru selesai sarapan. Tuh, dia di dalam lagi main mobil-mobilan.”

Dira masuk rumah dan menemukan Langit duduk di karpet ruang keluarga, membuat jalur-jalur imajiner untuk mobil mainannya.

“Langit…” panggil Dira lembut.

Anak itu menoleh dan langsung bangkit, berlari kecil lalu memeluk pinggang Dira. “Mamaa!”

Dira membalas pelukan itu erat—erat sekali, seolah sedang memeluk hal paling berharga dalam hidupnya.

“Kita ke sekolah ya? Mama antar hari ini.”

Langit mengangguk bersemangat. “Iya, Ma!”

Dira menggandeng tangan Langit keluar rumah. Mama mengantar mereka sampai teras.

“Hati-hati di jalan, Ra. Jaga cucu kesayanyan mama.”

“Iya, Ma.”

Pak Rudi membuka pintu mobil. Langit naik dengan riang, sementara Dira mengikuti masuk setelahnya.

Begitu pintu tertutup, dunia seolah kembali sunyi. Dira tersenyum kecil, menatap keluar jendela.

Pikirannya kembali pada seseorang yang semalam mengucapkan namanya dengan getaran yang begitu tulus.

Sena.

Nama itu membuat jantungnya kembali berdesir—bukan karena ketakutan, tetapi karena membuat dunianya kembali hidup.

Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Dira merasa dirinya… ada.

Dan pagi ini, di mobil yang bergerak perlahan menuju sekolah, Dira menyadari sesuatu:

Ia semakin sulit—amat sulit—melepaskan laki-laki yang tinggal di sebelah rumahnya itu.