BAB 18 — Meminta Cucu
(POV Sena)
Pagi itu, Sena bangun dengan kepala yang masih penuh bayang-bayang tadi malam. Bukan dalam bentuk gambar yang jelas, tapi sensasi—hangatnya kulit Dira, cara perempuan itu menggigil kecil saat ia memeluknya, dan tatapan terakhir sebelum Dira pergi kembali ke rumahnya.
Sena menarik napas panjang. Ia merasa bahwa ada semangat baru yang tumbuh di dalam dirinya. Dira, istri dari tetangganya itu justru bisa membawa cinta yang selama ini belum pernah ia rasakan.
Dulu, awal pernikahannya dengan Aqila, Sena mencoba untuk menjadi suami yang bertanggung jawab dan ingin memulai kehidupan rumah tangga sungguhan meski pernikahan mereka dilandasi perjodohan yang menguntungkan kedua bisnis keluarga. Aqila, seorang wanita cantik, tak munafik bahwa Sena cukup tertarik padanya. Namun, semua impian dan harapan Sena musnah sejak malam pertama pernikahannya.
"Jangan harap lelaki culun yang hanya tau musik seperti kamu mau menyentuhku. Aku menikah sama kamu cuma karena ancaman papa. Papa mengancam akan memenjarakan Axel, kekasihku, kalau aku tidak menikah dengan kamu. Pernikahan kita hanya di atas kertas. Cintaku cuma untuk Axel sampai kapanpun. Aku enggak sudi untuk tidur satu ranjang denganmu."
Kata-kata yang terlontar dari mulut Aqila begitu tajam dan menusuk. Sampai saat ini pun, ia tak akan lupa dengan penghinaan itu.
Sena bisa saja memaksa Aqila untuk melakukan kewajibannya sebagai istri. Namun, Sena bukanlah tipe pria yang tega memaksakan kehendaknya kepada seorang wanita.
Sena sudah sering mencoba meluluhkan hati Aqila, berusaha membangun rumah tangga yang tak hanya di atas kertas. Namun, segala perhatian dan sikap manis Sena hanya membuahkan hinaan. Aqila bahkan terang-terangan masih menjalin hubungan dengan Axel, bahkan sampai menginap bersama.
Sena sempat mencoba untuk mengajak berdamai dengan Aqila dan memutuskan untuk berpisah agar mereka sama-sama bisa memilih hidup masing-masing. Namun, perpisahan tak semudah itu. Kedua orang tau mereka selalu menentang keras. Apalagi, kondisi kesehatan ibu Aqila tak bisa menerima tentangan. Ibu Aqila hanya mau Sena yang menjadi menantunya satu-satunya.
Sena duduk di meja makan, hanya dengan secangkir kopi hitam, ketika suara mobil Aqila terdengar dari halaman.
Suara pintu terbuka dan langkah kaki istrinya semakin dekat.
“Pagi.” Suara Aqila dingin dan datar. Begitulah nada bicaranya sejak awal pernikahan—seolah mereka hanya menjadi sepasanga partner yang tinggal dalam satu rumah, bukan pasangan suami istri.
“Pagi,” jawab Sena sambil menoleh sedikit.
Aqila duduk di seberangnya. Wajahnya pucat, rambut diikat asal, dan kantung mata terlihat jelas. Ia mengambil roti panggang lalu mengolesinya dengan selai kacang tanpa menatap Sena.
Hening menyelimuti ruang makan.
Hening yang bukan damai, tapi hening yang penuh jarak.
Lalu ponsel Sena bergetar.
Nama 'Mama' muncul di layar.
Sena merengut kecil. Jam segini?
Ia menjawab telepon itu.
“Iya, Ma?”
Suara ibunya terdengar riang, terlalu riang. “Nak, Mama sama Papa mau main nanti sore ke rumahmu, ya. Sudah lama nggak ketemu kalian berdua.”
Sena mengerjap. “Hari ini? Mendadak banget.”
“Loh, Ibu kan kangen sama kalian. Sekalian ngobrol-ngobrol soal… ya, masa depan.” Nada ibunya berubah menggoda.
Sena memejamkan mata sebentar. “Boleh. Tapi aku ada kerjaan sedikit.”
“Kerjaan bisa sebentar ditinggal. Kalian kan sudah dua tahun menikah, tapi belum ada tanda-tanda apa pun…” Ibunya berdeham. “ Mama sama Papa cuma pengin lihat kalian baik-baik saja.”
Sena menghindari tatapan Aqila yang tampak mulai kaku.
“Ya udah, Ma. Datang aja.”
Hampir bersamaan, ponsel Aqila berbunyi.
Aqila menjawab dan suaranya berubah tegang. “Iya, Mah… Hari ini? … Oh… iya, Mah. Silakan datang.”
Mereka saling menatap setelah sama-sama menutup telepon.
Aqila meletakkan ponselnya pelan, tapi jari-jarinya bergetar sedikit. “Orang tuaku mau datang sore ini.”
“Orang tuaku juga,” balas Sena dengan suara datar, mencoba menyembunyikan kejengkelan dan kekhawatirannya.
Aqila mengangguk.
"Oke. Kamu urus semua suguhannya, ya. Pesan makanan di langganan biasa aja," Aqila menggeser kursi, mencoba untuk beranjak pergi.
“Aku kan enggak tahu makanan apa saja yang disukai orang tuamu. Kita pesan sama-sama aja,” jawab Sena cepat.
"Aku itu baru datang, Sen. Aku capek. Hal sepele seperti ini aja pasti bisa kamu urus sendiri. Mama Papa enggak punya alergi apapun. Yang penting aman untuk jantung mama. Jadi, terserah mau pilih makanan apa aja. Aku capek!"
Aqila bergegas ke kamar tanpa menoleh sedikitpun kepada Sena.
Sena mengembuskan napas panjang. Ia selalu merasa tak berharga di hadapan istri sahnya itu. Seolah kehadirannya tak pernah dianggap ada dan hanya sebagai pelengkap formalitas semata.
Sore itu, rumah Sena dan Aqila lebih ramai dari biasanya. Meja makan sudah tertata rapi. Makanan yang Sena pesan tersusun dengan cantik—ayam bakar madu, udang saos tiram, sup bening, sambal tomat, dan tumis sayur. Tak lupa dengan aneka dessert yang menggugah selera. Semua dalam porsinya sempurna.
Orang tua Aqila datang duluan.
Ibu Aqila langsung memeluk putrinya erat. “Aqila… kamu kurusan, Nak.”
Aqila hanya tersenyum canggung. “Iya, Mah. Banyak kerjaan.”
Lalu giliran Sena dihampiri.
Ibu Aqila menepuk pundaknya sambil tersenyum lebar. “Sena… jaga istrimu itu, ya. Dia itu gampang kecapekan.”
Sena mengangguk.
Tak lama, orang tua Sena datang. Suara Ibunya langsung memenuhi rumah.
“Sena! Aqila! Kalian sehat? Aduh, rumahnya makin rapi aja!”
Sena menarik napas. Ia bisa merasakan hawa tegang Aqila di sampingnya.
Mereka duduk di meja makan.
Awalnya percakapan ringan. Lalu pelan-pelan, seperti yang Sena khawatirkan… pembicaraan itu mengarah ke sana.
Ibu Sena menatap Aqila dan tersenyum manis—senyum yang terlalu penuh harapan.
“Kalian gimana? Sudah ada rencana soal… ya, calon cucu kami?”
Aqila tersentak kecil. Sena bisa merasakan tangan istrinya gemetar di bawah meja.
Ibu Aqila menimpali dengan suara lembut tapi mengandung tekanan.
“Mama juga nunggu loh, Qila. Kamu itu sudah dua tahun menikah, Nak. Mama khawatir kalau kamu kecapekan terus… ya kamu berdua harus cari waktu. Komunikasi itu penting, loh.”
Sena merasa sesak. Ia mencengkeram sendok terlalu keras.
Aqila menunduk semakin rendah. Wajahnya memucat. “Kami… masih mencoba, Mah.”
Sena menatap Aqila. Perempuan itu pun balik menatapnya dengan suatu kode seolah ia ingin agar Sena yang berbicara.
“Aku sama Aqila… masih berproses,” jawab Sena cepat.
Ibunya Sena langsung memotong, “Iya, tapi kan harusnya sudah kelihatan perkembangan. Kalian ini masih muda. Jangan ditunda-tunda. Mama cuma kepengin lihat cucu sebelum tua banget. Kan mumpung mama masih kuat gendong,”
Ibu Aqila ikut menimpali. “Benar. Kamu itu dulu waktu remaja sehat, kuat. Nggak pernah ada masalah. Jadi Mama bingung… kok sampai sekarang belum ada kabar bahagia.”
Suasana meja makan menjadi tegang.
Sena merasakan napas Aqila mulai pendek—seperti menahan sesak.
Sena meletakkan sendoknya perlahan. “Ma, Pa… kita minta waktu dulu. Tolong jangan tekan kami soal ini.”
Semua mata langsung beralih ke Sena.
Ibu Sena mendesah. “Mama bukan mau menekan, Sena. Mama cuma sayang sama kalian.”
“Tapi tetap saja itu tekanan, Ma,” balas Sena tegas.
Ibu Aqila menatap Sena lekat-lekat. “Kamu juga, Sena. Kamu harusnya lebih peka. Kamu itu kepala keluarga.”
Aqila hanya diam, bahkan sesekali menyeruput jus jeruk di gelasnya. Ia sama sekali tak berusaha membela suaminya.
Ibunya Sena kembali membuka mulut, “Kalian kan sudah dua tahun menukah. Sudah sewajarnya dong kalau kami meminta cucu. Aqila, kamu juga sudah menjadi seorang istri. Apa enggak lebih baik kalau kamu berhenti jadi model. Mungkin ini efek kamu kecapekan juga. Mama rasa, penghasilan Sena sudah jauh lebih cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil kalian.”
PRENG.
Aqila meletakkan sendok terlalu keras hingga semua orang terdiam.
“Ma… kami akan punya anak kalau kami siap. Bukan karena orang lain yang meminta. Lagipula, kita semua sudah sepakat untuk tidak mengganggu pekerjaanku sebelum kalian menjodohkan kami.”
Ruangan mendadak sunyi.