BAB 19 — Meja Makan yang Pecah dan Rahasia yang Makin Dalam
(POV Sena)
Suara sendok yang dibanting Aqila tadi masih terasa menggantung di udara, menggema di antara empat pasang mata orang tua mereka yang kini membelalak lebar.
Ibu Aqila tampak kaget, sementara ayahnya mengerutkan dahi, jelas tak menyukai sikap putrinya yang dianggap kurang ajar.
“Aqila…” tegur Papa Aqila, suaranya rendah namun tegas.
Tapi Aqila hanya mengusap keningnya—gerakan kecil yang menunjukkan betapa lelahnya ia menghadapi semua ini.
Sena tahu. Ia bisa melihatnya.
Aqila bukan sekadar marah. Ia terlihat lelah. Cukup lelah menahan kepura-puraannya selama ini… ia kini juga terpojok.
Dan anehnya, untuk pertama kalinya, Sena justru merasakan empati yang halus menusuk dadanya.
Namun sebelum ia sempat membuka suara, ibu Sena lebih dulu angkat bicara.
“Sen, kamu kok diam saja? Istrimu itu butuh diarahkan. Istri kalau sudah menikah tuh ya prioritasnya keluarga. Kalau Aqila kecapekan terus, gimana mau punya anak?”
Napas Aqila tersengal kecil.
Sena mengetukkan jarinya pelan di meja—tanda ia menahan emosi.
“Mama…” ucapnya pelan, tetapi tegas. “Jangan salahkan Aqila. Ini bukan soal kerjaan. Ini… soal keputusan kami. Tolong hormati keputusan kami. Benar kata Aqila. Kami akan punya anak setelah kami siap. Lagipula, anak itu kan titipan Tuhan. Semua kembali lagi pada takdir yang sudah digariskan Tuhan.”
Ibu Sena menatapnya seperti menahan emosi atas kelancangan perkataan anaknya.
Sementara Ibu Aqila menatap Sena lembut, tapi tetap menyelipkan tekanan dalam suaranya.
“Kami ini bukan mau menekan, Nak… kami hanya ingin kalian bahagia. Kami ingin rumah tangga kalian baik-baik aja. Dan anak, salah satu pengikat untuk kerukunan rumah tangga.”
Bahagia? Sena hampir menertawakan kata itu.
Orang tua mereka tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini. Mereka tak pernah sadar bahwa perjodohan yang mereka paksakan justru mambuatnya dan Aqila sama-sama terluka.
Sena meraih gelas airnya dan meminumnya untuk menahan diri agar tidak menjawab dengan nada yang lebih keras.
Namun kemudian, sesuatu terjadi.
Aqila berdiri. Kursinya bergeser lalu menumbuk lantai.
“Aku… ke kamar dulu. Aku capek,” katanya singkat, tanpa meminta izin.
Kedua orang tuanya terkejut—terutama ibunya, yang tampak hendak berdiri mengejar.
“Aqila! Kamu itu—” teriak ibu Aqila.
“Biarkan dia dulu, Ma.” sela Sena cepat.
Semua orang menoleh ke arah Sena.
“Aqila lagi nggak baik-baik saja. Dia mungkin lagi banyak pikiran. Jangan ganggu dulu.”
Mama Sena membuka mulut, hendak protes, tapi Papa Sena menepuk lengannya sebagai sebuah kode agar diam.
Keheningan meregang, menebal, dan terasa seperti jerat.
Sena memutuskan untuk bangkit. “Aku cek dia dulu ke kamar.”
Ia berbalik dan meninggalkan ruang makan tanpa menunggu persetujuan siapapun.
Sena mengetuk pintu kamar.
“Aqilla? Boleh aku masuk?”
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk sekali lagi.
“Qill… aku cuma mau bicara.”
Tetap tidak ada suara.
Sena akhirnya membuka pintu perlahan.
Aqila duduk membelakangi pintu, di sisi ranjang. Bahunya bergetar halus—ia sedang menangis, meski ia berusaha keras menyembunyikan suaranya.
Sena menutup pintu pelan, menahan napas agar tidak membuatnya terkejut.
“Aqila…” panggilnya lembut.
Aqila mengusap mata cepat-cepat. “Kenapa kamu ke sini? Pergi! Aku nggak mau ngomong sama siapapun. Aku capek!”
Sena menggeleng. “Aku tahu kamu kesal. Kamu lelah dengan kepura-puraan ini. Tapi kamu nggak harus ngadepin ini sendirian. Aku juga sama. Aku capek. Aku lelah dengan ini semua.”
Aqila menoleh dengan mata merah. “Terus aku harus hadapin sama kamu, Sena? Kamu bisa apa? Sejak kita dijodohkan pun kamu juga enggak bisa berbuat apa-apa, kan? Terus sekarang kamu sok-sok an bilang kalau aku enggak harus hadapin ini sendirian. Omong kosong!"
Biasanya, kalimat seperti itu akan memicu amarah Sena. Tapi kali ini… tidak.
“Aku tahu… kamu nggak bahagia,” ujar Sena pelan. “Kita sama-sama terjebak. Kita sama-sama pengecut yang tidak berani melawan.”
Aqila tertawa—tawa pendek dan pedih. “Terjebak? Kamu masih lebih mending. Kamu laki-laki. Bisa jatuh cinta sama siapapun. Bisa menjalin hubungan dengan wanita mana saja, meski tanpa status resmi. Kamu bisa bahagia kapan pun. Sementara aku? Aku harus terjebak dalam status istri, meski hatiku milik orang lain. Dan kini, orang itu mau menyerah. Axel, dia mau menyerah dengan hubungan kami. Karena apa? Karena statusku yang masih istri sah kamu, Sena!"
Aqila menumpahkan segala amarah dan kekecewaannya.
Sena tertegun.
Untuk pertama kalinya… Aqila jujur tanpa hinaan.
Ia duduk di ujung ranjang. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
“Aqila… kalau kamu mau cerai, aku akan bantu,” ucap Sena lirih.
Mata Aqila melebar. “Jangan bilang sembarangan, Sena! Memangnya kita bisa apa?”
“Aku serius.”
Aqila memejamkan mata. Air mata mengalir perlahan melewati pipi tirusnya.
“Sena… aku nggak bisa cerai, meskipun ingin.” bisiknya, patah.
“Mama… bisa kena serangan lagi. Papa juga bakal anggap aku sebagai anak pembangkang apalagi dari awal mama dan papa sangat membenci Axel padahal aku cinta banget sama dia, Sena. Dan perusahaan keluarga… kamu tahu sendiri.”
Sena menunduk.
Benar. Ia tahu.
Tidak mudah mengambil keputusan untuk berpisah. Banyak pertimbangan yang harus mereka berdua pikirkan.
Sena menatap Aqila lama.
Begitu lama hingga suasana menjadi lembut—lembut yang tak pernah ada sebelumnya.
“Kita coba berjuang dengan cara kita sendiri,” kata Sena akhirnya.
Aqila mengedip, bingung.
“Berjuang… gimana maksudmu?”
“Aku bakal lindungi kamu dari tekanan mereka. Tapi kamu tolong… jangan serang aku lagi. Kita sudah cukup saling menyakiti.”
Aqila terdiam.
Untuk pertama kalinya… perempuan itu tampak seperti dirinya yang sebenarnya.
Bukan versi dingin, bukan versi menyakitkan.
Hanya… seorang wanita yang letih.
“Kalau kamu minta aku jadi istri yang baik… aku nggak bisa janji,” ucap Aqila jujur.
“Aku nggak minta itu,” balas Sena.
Aqila memandangi Sena, lama.
Lalu… ia mengangguk pelan.
“Baik… kalau itu pilihanmu.”
Sena berdiri. “Istirahatlah. Aku bakal jelasin ke orang tua kita.”
Saat ia hendak keluar, Aqila memanggilnya pelan.
“Sena…”
Sena menoleh.
“Terima kasih.”
Sena mengangguk kecil—tanpa kata.
Lalu keluar dari kamar.
Untuk pertama kalinya… ia merasa bukan hanya dirinya yang hancur selama ini.
Aqila pun tidak kalah remuk.
Mereka sama-sama tak bisa memilih dan terlalu pengecut untuk melawan. Sena pun merasa bersalah kepada Aqila. Kalau saja sejak awal perjodohan Sena bisa menolak, mungkin kini Aqila bisa memilih cinta sejatinya. Ia sebagai lelaki seharusnya lebih mampu melawan, bukan justru memilih diam dan hanya menurut.
Namun, dulu Sena juga berat untuk menolak. Papanya mengancam untuk menutup semua sekolah musik miliknya. Dengan kendali yang cukup besar dari papanya, tentu hal itu sangatlah mudah. Sementara sekolah musik itu, tak hanya mimpi Sena. Banyak mimpi-mimpi dan harapan di dalamnya. Teman-temannya banyak yang bergantung hidup di sekolah musik Sena.
Kini, melihat hancurnya tatapan Aqila, ia pun tak tega. Sena bertekad untuk bisa menemukan jalan keluar atas kerumitan hidup mereka ini.