Drama

BAB 20

23 December 2025

BAB 20 — Jejak yang Mengguncang dan Telepon yang Mengubah Segalanya

(POV Sena)

Suasana ruang makan masih terasa mencekam seperti habis dilanda badai.

Meja makan memang tidak pecah secara fisik, tetapi atmosfernya—hubungan, kepercayaan, topeng-topeng—semuanya retak.

Ketika Sena kembali turun dari lantai dua, empat pasang mata langsung menoleh padanya.

Mama, Papa, orang tua Aqila. Semuanya menunggu jawaban.

“Bagaimana keadaan Aqila?” tanya ibu Aqila cemas.

Sena menarik kursi dan duduk pelan. “Dia butuh istirahat.”

“Dia tadi itu tidak sopan, Sen,” gerutu ibu Sena. “Kamu harus tegas sebagai suami.” lanjutnya.

Sena mengusap wajahnya, menahan nada suaranya agar tetap stabil. “Mama, tolong jangan tekan dia dulu. Aqila… sedang banyak pikiran. Biarlah urusan ini, aku dan Aqila yang memutuskan.”

“Banyak pikiran apa?” PapaAqila ikut bicara. “Dia itu hidup sudah enak. Tinggal di rumah mewah, nggak kekurangan sejak kecil. Masa cuma minta cucu aja susah?”

Sena menahan diri dengan sangat keras. Kini ia paham kenapa Aqila bisa meledak.

“Mungkin cara bicara kita yang salah,” papa Sena tiba-tiba berkata, mengejutkan semua orang. “Aqila terlihat capek. Kita beri dia ruang dulu.”

Ibu Sena memprotes, “Tapi Pa—”

“Sudah, cukup.” Nada Papa tajam, tak memberi ruang untuk dibantah.

Keheningan kembali turun.

Sena bersyukur, meski tidak menampakkannya secara jelas.

“Kalau begitu,” ucapnya, bangkit dari kursi, “aku harus ke sekolah musik sebentar. Ada hal yang harus aku cek.”

Ibu Sena langsung berdiri. “Sekarang? Bukannya kamu sudah atur semua jadwal minggu ini? Mau apa lagi ke sana?”

“Cuma sebentar.”

Tidak ada yang perlu Mama tahu. Tidak sekarang.

Sena mengambil jaket dan kunci mobil, lalu keluar tanpa menunggu restu siapa pun.


Angin sore menuai debu ketika Sena tiba di sekolah musiknya. Tempat itu biasanya menenangkan—papan nama kayu, aroma cat, bunyi instrumen dari ruang kelas. Tapi hari ini, semuanya terasa lebih sendu.

Ia berjalan ke ruang kerjanya, menyalakan lampu, lalu duduk.

Kepalanya dipenuhi aroma mentah dari percakapan dengan Aqila.

Tentang Axel.

Tentang cinta mereka yang dipaksa kandas.

Tentang pernikahan yang tak pernah mereka pilih.

Sena menatap dinding yang penuh foto murid-muridnya. Senyum-senyum polos. Harapan-harapan yang ia perjuangkan.

Setelah kejadian tadi, ia makin yakin akan suatu hal:

Ia tidak bisa terus membiarkan dirinya terbelenggu.

Tidak bisa membiarkan Aqila terperangkap lebih dalam dan binasa di dalamnya.

“Aku harus cari jalan keluar…” gumam Sena lirih.

Mustahil mereka bertahan dalam rumah yang dibangun bukan dari cinta, melainkan rasa takut pada ancaman.

Pikiran itu membuatnya menyalakan laptop. Ia membuka dokumen-dokumen legal tentang sekolah musik. Kontrak. Kepemilikan. Celah-celah yang bisa ia manfaatkan agar tidak lagi tergantung pada kekuasaan Papanya.

Tapi baru beberapa menit ia membaca, ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar membuat jantungnya berhenti sepersekian detik.

Dira.

Sena menarik napas. Menatap layar itu lama.

Ia mengingat malam kemarin—sentuhan, napas, suara bisikannya. Lalu pagi ini yang terasa ringan… dan menyakitkan pada saat yang sama.

Ia jawab telepon itu.

“Sen?”

Suara Dira lembut, tapi sedikit gugup.

“Hm?” Sena menyandarkan tubuh pada kursi. “Kenapa?”

“A-aku… cuma mau bilang. Langit nanti sudah masuk sekolah. Dan…”

Ia terdengar ragu. “Makasih untuk semalam.”

Napasku tercekat.

Dira jarang mengucap terima kasih dengan nada yang begitu mesra.

Dan saat ia melakukannya, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang jauh lebih besar.

“Dira…” ujar Sena pelan. “Kamu nggak perlu bilang makasih.”

“Kamu baik padaku,” ucapnya. “Sangat baik. Terlalu baik, mungkin.”

Sena menutup mata. “Aku cuma melakukan apa yang harusnya kamu dapat.”

Di sisi sana, Dira diam. Hening yang memekakkan telinga—hening yang membuat Sena ingin menariknya ke dalam pelukan lagi.

“Sena…” suara Dira merendah, nyaris berbisik, “aku takut kalau aku terus seperti ini… aku nggak bisa melepaskan kamu.”

Kata-kata itu menghantam dada Sena.

Ia menelan suara yang ingin keluar—ingin mengatakan bahwa ia pun sama tak bisa lepas. Ia sudah terlalu dalam terperosok pasa perasaan ini. Perasaan yang tak bisa ia jelaskan harus ada pada seorang wanita yang masih menjadi istri orang lain. Namun satu yang Sena tahu, perasaan yang ia miliki ke Dira itu dalam. Teramat dalam sehingga sulit untuk ia bisa keluar.

Namun kenyataan hari ini terlalu keras.

“Dira… kita hati-hati dulu, ya?” katanya. “Aku sedang bereskan beberapa hal. Hidupku… agak berantakan saat ini.”

Hening.

Diam Dira bukan marah. Lebih seperti… memahami.

“Aku tunggu kamu,” ucapnya lirih, penuh keyakinan.

Dan itulah yang membuat Sena tambah hancur.

Ia hendak menjawab, tapi tiba-tiba…

Pintu ruang kerjanya diketuk keras.

Tok! Tok! Tok!

“Pak Sena!!”

Suara panik.

Itu suara Riko, staf administrasi sekolah musik.

Sena kaget. “Sebentar, Rik!”

Ia kembali ke telepon. “Dira, aku tutup dulu.”

“Baik. Jaga diri, Sen…”

Sena mengakhiri panggilan dan berdiri.

Riko langsung masuk tanpa menunggu dipersilakan.

“Pak Sena… ini gawat.”

“Ada apa?” tanya Sena cepat.

Riko menyerahkan sebuah map tebal. “Barusan kurir datang. Ini… surat dari kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

Darah Sena langsung mendingin.

Ia membuka map itu dan membaca sekilas.

Lalu tubuhnya menegang.

Mulutnya mengering.

Karena di halaman pertama tertulis dengan jelas:

PERINGATAN PENUTUPAN SEMENTARA

SENAVOIR MUSIC STUDIO.

Sena terperangah.

Ini bukan ancaman.

Ini eksekusi.

“Kok… bisa?” suaranya pecah.

Riko menggeleng cepat. “Kami juga baru tahu, Pak. Katanya… ada pemeriksaan mendadak menduga pengelolaan dana tidak sesuai standar. Tapi… Pak… ini terasa aneh. Semua laporan kita bersih. Tidak mungkin ada pelanggaran.”

Sena menatap map itu lama—lama sekali.

Ia tahu siapa yang melakukan ini.

Dan kenapa.

Sena tahu bahwa ini adalah sebuah ancaman. Dan hanya ada satu orang yang terlintas di pikiran Sena: papanya sendiri. Papanya telah mengguncang pondasi hidupnya…

lagi.

Tepat ketika ia dan Aqila bicara soal mencari jalan keluar.

Tepat ketika ia sedikit saja mendekat pada kebahagiaan—pada Dira.

Sena mengusap wajahnya kasar. Ia kemudian merapikan dokumen-dokumen penting dan memasukkannya ke dalam tas.

“Baik, Rik. Aku akan urus semuanya. Aku akan menemui seseorang yang bisa bantu kita.” ucap Sena sembari menjinjing tas berisi dokumen penting itu.

Riko menelan ludah. “Pak… bagaimana dengan karyawan lain? Peringatan ini pasti akan membuat mereka cemas juga para murid di sini."

"Rahasiakan hal ini dari semua orang. Tetap lakukan kelas seperti biasa. Jangan sampai hal ini bocor ke karyawan yang lain. Sekolah harus tetap kondusif. Aku akan segera cari cara untuk membereskan hal ini."

Sena menatap lurus ke depan.

Matanya dingin.

“Sekarang sudah waktunya. Aku enggak bisa terus takut dan bergantung dalam kekuasaan Papa. Aku dan Aqila punya jalan hidup masing-masing. Kalau kami terus bersama, kami akan terus saling menyakiti satu sama lain.” batin Sena.

Ia mengambil kunci mobil dan keluar ruangan.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Sena berniat melawan.

Apapun harga yang harus ia bayar.