Arden masih tertawa kecil, menikmati ekspresi kesal Sienna yang benar-benar lucu di matanya. Setelah beberapa saat, mereka pun memutuskan untuk berjalan menyusuri taman hiburan yang kini mulai diselimuti warna jingga sore. Langit Paris tampak menawan, matahari yang perlahan turun di balik gedung membuat cahaya keemasan menimpa wajah mereka.
Sienna berjalan di sisi Arden yang menggerakkan kursi rodanya perlahan. Udara sore yang lembut membuat suasana terasa hangat dan tenang, berbeda dengan siang tadi yang penuh teriakan dan tawa di wahana ekstrem.
Tiba-tiba Sienna berhenti dan menunjuk ke arah depan dengan mata berbinar. “Lihat! Ada bianglala! Ayo naik itu!” serunya antusias.
Arden menoleh ke arah yang ditunjuknya dan mendengus pelan. “Bianglala? Yang muter pelan gitu? Itu mah buat anak kecil, Sienna.”
Sienna langsung cemberut, menatap Arden dengan tatapan tak terima. “Siapa bilang? Aku suka bianglala! Dari atas, pemandangannya pasti indah banget.”
“Pemandangan bisa dilihat dari hotel juga,” balas Arden santai.
Sienna memutar bola matanya dan menatapnya kesal. “Kamu ini kenapa, sih? Sedikit aja nggak bisa nurutin aku? Tadi kamu nyuruh aku naik roller coaster aja aku mau, kok, sekarang giliranku ngajak malah nolak.”
Arden terdiam beberapa detik, lalu tersenyum miring melihat wajah Sienna yang cemberut sambil menyilangkan tangan di dada.
“Baiklah. Aku ikut. Tapi jangan nangis kalau bosan, ya.”
Sienna langsung tersenyum puas dan menarik tangan Arden pelan. “Bagus! Ayo sebelum antrinya makin panjang.”
Dengan bantuan petugas dan Lucas yang sigap, akhirnya Arden berhasil duduk di dalam salah satu gondola bianglala. Sienna duduk di sebelahnya, masih dengan wajah sumringah. Ketika gondola mulai naik perlahan, Sienna menatap ke luar dengan mata berbinar.
“Waaah … lihat, Arden! Dari sini kelihatan Menara Eiffel!” serunya girang sambil menunjuk ke arah jauh tempat menara itu berdiri megah diterpa cahaya senja.
Arden hanya mengamati ekspresinya, lalu menggeleng sambil tersenyum kecil. “Kamu benar-benar seperti anak kecil,” katanya, setengah menggoda.
“Kenapa?” tanya Sienna tanpa menoleh, masih terpesona dengan pemandangan.
“Lihat saja,” Arden menunjuk ke wajahnya. “Matamu berkilat kayak anak kecil yang baru dikasih permen. Padahal cuma naik bianglala.”
Sienna mendengus, lalu menatap Arden dengan tatapan pura-pura tajam. “Aku memang suka hal sederhana seperti ini. Nggak semua orang butuh kecepatan dan adrenalin buat merasa bahagia, tahu.”
Arden tertawa pelan. “Iya, iya … aku tahu. Dan wahana seperti ini memang cocok buat kamu. Kalau yang ekstrem, kamu malah teriak minta turun.”
Sienna memukul pelan bahu Arden sambil terkekeh malu. “Kamu jahat banget!”
“Bukan jahat,” balas Arden, menatapnya lembut. “Aku cuma jujur.”
Sienna akhirnya tertawa kecil, lalu kembali memandangi langit. Perlahan gondola mereka sampai di puncak tertinggi. Dari sana, seluruh Paris terlihat memukau sungai Seine berkilau di bawah, atap-atap bangunan klasik, dan Menara Eiffel yang berdiri megah diterpa cahaya jingga.
Tanpa sadar, Sienna menarik napas panjang, matanya sedikit berkaca-kaca. “Aku nggak pernah nyangka bisa ke sini … dan menikmati semua ini,” bisiknya lirih.
Arden menatapnya lama, lalu berkata lembut, “Kalau kamu terus tersenyum seperti itu, mungkin aku nggak butuh pemandangan lain.”
Sienna menoleh cepat, jantungnya berdebar. “Kamu ini ... bisa nggak sih, nggak bikin suasana jadi aneh?” katanya pelan, tetapi tak bisa menyembunyikan senyumnya.
Arden hanya terkekeh. “Nggak bisa. Karena melihat kamu bahagia itu rasanya … aneh, tapi menyenangkan.”
Bianglala itu akhirnya berhenti tepat di puncak. Gondola bergoyang lembut ditiup angin sore, dan pemandangan Paris terbentang begitu luas di bawah mereka.
Sienna menatap ke luar jendela, matanya berbinar seperti anak kecil yang menemukan dunia baru. “Lihat, Arden… cantik banget, ya. Aku nggak nyangka bisa lihat pemandangan seindah ini dari atas.” Suaranya lembut, nyaris seperti bisikan yang larut bersama hembusan angin.
Arden tidak langsung menjawab. Tatapannya tidak lagi tertuju pada panorama kota, melainkan pada gadis di sampingnya. Cahaya senja yang menimpa wajah Sienna membuat kulitnya tampak hangat berkilau, dan rambutnya sedikit tertiup angin, menambah kesan alami yang menawan. Dalam hati, Arden mendapati dirinya terpaku, ada sesuatu yang terasa berbeda saat ini.
“Kamu tahu?” ucap Arden pelan. “Paris memang indah … tapi entah kenapa, aku merasa pemandangan di sebelahku jauh lebih menarik.”
Sienna menoleh cepat, wajahnya memerah. “Kamu mulai lagi,” gumamnya pelan sambil berusaha menahan senyum. “Bisa nggak sih, nggak menggoda terus?”
Arden hanya tersenyum kecil, matanya tetap menatapnya tanpa berpaling. “Aku nggak menggoda. Aku cuma jujur. Cahaya sore ini bikin kamu kelihatan … berbeda.”
Sienna membuang pandangan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat.
“Kamu memang jago ngomong, ya,” ujarnya, setengah bercanda untuk menutupi rasa gugupnya.
Gondola terasa sunyi, hanya diisi dengan suara angin yang menyelinap lewat celah kaca dan detak jantung yang terdengar begitu nyata di dada masing-masing.
Sienna menatap Arden diam-diam, lelaki yang selama ini ia anggap dingin dan keras kepala, kini menatapnya dengan cara yang begitu hangat, nyaris membuatnya sulit bernapas.
Ada ketulusan di mata itu, sesuatu yang membuat dadanya terasa aneh, tetapi nyaman.
“Arden .…” Sienna memanggil namanya pelan, seolah takut memecah keheningan itu.
Arden mengangkat wajahnya, menatap balik dengan senyum tipis. “Ya?”
Sienna menggeleng cepat, pura-pura menatap ke luar jendela lagi. “Nggak, cuma … mau bilang terima kasih sudah ikut naik bianglala ini.”
Arden terkekeh pelan. “Nggak perlu berterima kasih. Aku justru yang harus berterima kasih, karena berkatmu meskipun kakiku ini nggak bisa digerakkan, tapi akhirnya aku masih bisa menikmati kesenangan seperti manusia biasa.”
Perlahan senyum Sienna menghilang. Dan di saat itulah, bianglala kembali bergerak perlahan turun.
Bianglala itu terus bergerak turun, tetapi di dalam gondola kecil itu waktu seolah berhenti. Tak ada lagi jarak di antara mereka. Hanya dua orang yang tanpa sadar mulai membuka hati satu sama lain, di bawah langit senja yang perlahan berganti malam.
Saat gondola akhirnya berhenti di bawah, Sienna menghela napas ringan. “Turunnya cepat banget, ya,” katanya pelan.
Arden menatapnya sekilas, lalu tersenyum kecil. “Kalau kamu mau, kita bisa naik lagi.”
Sienna tertegun, lalu tertawa kecil sambil menggeleng. “Nggak, nanti kamu bilang aku kekanak-kanakan lagi.”
Arden mengangkat alisnya dan menjawab dengan nada ringan, “Mungkin memang begitu. Tapi … justru itu yang bikin aku betah ngelihat kamu.”
Sienna menatapnya, terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil. Entah kenapa, ucapan itu terasa menenangkan.
Lucas datang menghampiri untuk membantu menurunkan Arden, saat mereka sibuk banyak mata yang melihat mereka.
Mungkin karena gelap, Lucas sedikit kesulitan memindahkan Arden hingga membuat antrian menjadi lebih lama.
Sampai salah seorang pengunjung menyindiri mereka. “Astaga, sudah tahu nggak bisa jalan. Nekat banget naik wahana di tempat seperti ini. Harusnya kalian pergi ke tempat rehabilitasi, bukan nyusahin orang-orang di sini!” serunya.
Sienna menoleh menatap tajam atas ucapan orang itu.