Sienna sudah bersiap melangkah maju, matanya menajam seperti bilah pisau. Napasnya memburu oleh amarah yang membara di dadanya. Akan tetapi, sebelum ia sempat mengatakan sepatah kata pun, tangan Arden terulur cepat, menahan pergelangan tangannya. Sentuhan itu tegas, membuat Sienna menoleh kaget.
“Jangan,” bisik Arden tegas. “Dia nggak sepadan buat kamu hadapi.”
“Tapi, Arden—” Sienna hampir membantah. Wajahnya memerah karena menahan emosi. “Dia sudah keterlaluan ngomongnya!”
“Aku tahu,” potong Arden. Ia menatapnya dalam, mata itu memantulkan cahaya lampu malam.
Sienna ingin tetap membela, tetapi ada sesuatu dalam tatapan Arden yang membuatnya berhenti. Tatapan itu dingin, tetapi tenang, seolah Arden sudah terlalu sering menghadapi hal seperti itu dan tidak mau membuat keributan lagi. Dengan berat hati, Sienna akhirnya mengangguk kecil, menahan kata-kata yang hampir meluncur.
Lucas selesai menurunkan Arden dengan hati-hati. Situasi di sekitar terasa canggung, beberapa orang masih menatap dengan kasihan, yang lain dengan rasa ingin tahu. Sienna berjalan di samping Arden, berusaha menenangkan diri meski jantungnya masih berdegup kencang oleh rasa kesal.
Begitu mereka melangkah melewati wanita yang tadi berkomentar kasar, Arden memperlambat laju kursi rodanya. Sienna sempat menatapnya curiga, tetapi sebelum sempat menanyakan apa-apa, Arden dengan sengaja sedikit memutar arah rodanya cukup untuk menyenggol kaki si wanita dengan roda depan kursinya.
Wanita itu tersentak dan hampir kehilangan keseimbangan. “Hei! Lihat dong kalau jalan!” serunya kesal.
Arden menatapnya datar, lalu tersenyum penuh sindiran. “Maaf, ya. Maklum, saya cuma orang ‘nekat’ yang harusnya di tempat rehabilitasi,” katanya. “Tapi seharusnya Anda yang menghindar bukan? Apa mata Anda nggak bisa lihat ada orang lumpuh mau lewat sini!”
Wanita itu langsung terdiam, wajahnya memerah karena malu disaksikan banyak orang. Beberapa pengunjung yang mendengar mulai berbisik dan memandangnya dengan tidak suka. Ia mencoba membuka mulut untuk membalas, tapi kata-katanya seolah tersangkut di tenggorokan.
Arden tidak menunggu tanggapan lebih lama. Ia mendorong kursi rodanya lagi, meninggalkan wanita itu bersama tatapan-tatapan heran orang-orang di sekitar.
Sienna yang berjalan di sebelahnya menatap Arden lama. Sekilas ia melihat senyum tipis di wajah pria itu.
“Kamu tahu, aku hampir lupa kalau kamu itu pria yang sangat kasar dan dingin,” ujar Sienna pelan sambil menatapnya.
Arden melirik, bibirnya terangkat sedikit. “Aku memang pria yang kasar dan dingin, tapi mungkin sudah nggak lagi di depan kamu.”
Sienna menatapnya bingung. “Maksudmu?”
Arden tersenyum tipis. “Kamu bukan orang yang pantas aku kasari.”
Sienna mendengus pelan, tetapi di sudut bibirnya muncul senyum samar. Meskipun hatinya masih panas oleh kejadian tadi, entah kenapa, cara Arden membalas dengan tenang justru membuatnya merasa bangga.
Mobil yang mereka tumpangi meluncur pelan di jalanan Paris yang mulai sepi. Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan lembut di wajah Sienna yang bersandar lelah. Tangannya terlipat di pangkuan, sementara mata setengah terpejam menatap ke luar jendela. Setelah seharian penuh bermain di taman hiburan, tubuhnya terasa remuk, tetapi hatinya, anehnya terasa ringan.
Arden duduk di sebelahnya, menatap ke luar jendela juga. Dari refleksi kaca, ia bisa melihat wajah Sienna yang tampak lelah, tetapi tenang. Ada sesuatu yang berubah di dalam diri perempuan itu, lebih lembut, lebih hidup. Entah karena tawa yang mereka bagi hari ini, atau karena semua momen kecil yang tanpa sadar mendekatkan mereka.
Lucas yang duduk di depan menatap keduanya dari kaca spion tengah dengan senyum kecil. Ia jarang melihat tuannya tertawa sebanyak ini. Biasanya, Arden selalu dingin, cepat marah, dan sulit didekati. Akan tetapi, bersama Sienna, bahkan kekakuan di bahunya tampak mengendur.
Setelah tiga puluh menit perjalanan, mereka akhirnya tiba di hotel. Lampu-lampu di lobi menyala lembut, menambah suasana hangat malam itu. Lucas segera turun lebih dulu untuk membuka pintu mobil. Sienna pun ikut turun, menghirup udara malam yang segar meski matanya terasa berat.
“Capek banget,” gumam Sienna sambil meregangkan tubuh. “Rasanya kakiku nggak bisa digerakkan lagi.”
Arden terkekeh kecil dari kursi rodanya. “Sekarang kamu tahu rasanya nggak bisa gerak?” ujarnya dengan nada jahil.
Sienna langsung mendelik. “Kamu itu bisa banget, ya, ngejek orang walaupun lagi lelah begini.”
“Aku cuma bercanda,” balas Arden datar, tetapi ujung bibirnya menahan tawa. “Tapi jujur, aku juga capek.”
Sienna menatapnya heran. “Kamu capek? Duduk aja dari tadi.”
“Capek lihat kamu teriak-teriak tiap naik wahana,” sindir Arden cepat.
Sienna menatapnya tak percaya, lalu mendengus keras sambil berjalan cepat masuk ke dalam hotel. “Ngomong sama kamu tuh, bikin stres.”
Arden tertawa pelan sambil memutar roda kursinya mengikuti langkah Sienna. Lucas membantu membukakan pintu lift, dan mereka pun naik ke lantai kamar mereka. Selama di dalam lift, keheningan menyelimuti.
Begitu sampai di lantai mereka, Lucas membantu Arden masuk ke kamar, lalu berpamitan untuk malam itu. Sienna mengucapkan terima kasih singkat sebelum menutup pintu.
Kamar hotel terasa hangat dan nyaman, lampu temaram membuat suasana begitu menenangkan. Sienna langsung melempar tubuhnya ke sofa, menarik napas panjang dengan lega.
“Akhirnya bisa duduk santai juga,” gumamnya.
Arden memandangi Sienna yang tampak benar-benar kelelahan. “Kamu kayak habis lari maraton,” katanya sambil mendorong kursi rodanya mendekat.
“Rasanya lebih parah dari itu,” jawab Sienna, menutup matanya. “Tapi seru juga.”
“Seru?” Arden mengangkat alis. “Kamu tadi hampir nangis di roller coaster.”
Sienna membuka satu matanya dan menatapnya tajam. “Itu namanya ekspresi, bukan takut.”
Arden tertawa kecil. “Ekspresi yang suaranya minta turun setengah mati?”
“Sudah, jangan bahas itu lagi!” Sienna melempar bantal kecil ke arah Arden, tetapi pria itu justru menangkapnya dengan mudah dan melempar balik ke pangkuannya. Mereka berdua sama-sama tertawa kecil setelahnya.
Suasana menjadi lebih tenang. Hanya suara lembut AC dan gemuruh jauh kendaraan di luar yang terdengar. Sienna akhirnya berdiri pelan, berjalan ke arah tempat tidurnya. “Aku mau tidur duluan, ya. Kalau kamu lapar, telepon aja layanan kamar.”
Arden mengangguk. “Kamu nggak mau nonton film dulu?”
Sienna menoleh sambil tersenyum samar. “Nanti aja. Sekarang aku cuma mau rebahan dan nggak mikir apa-apa.”
Arden menatap punggungnya saat perempuan itu naik ke tempat tidur. Ada perasaan aneh di dadanya, hangat dan menenangkan, tetapi juga membuatnya sedikit takut.
Saat lampu kamar dimatikan, hanya sisa cahaya dari menara Eiffel di luar jendela yang menerangi ruangan. Dalam diam itu, Sienna sudah tertidur pulas, sementara Arden masih terjaga, menatap langit Paris dari kursinya.
“Ini aneh, entah sejak kapan, tapi aku mulai nyaman melihat wajahnya di setiap hari. Apa yang membuatnya berbeda dengan orang lain? Apa yang membuatnya tampak ... lebih menyenangkan dibanding hal seru lainnya?” gumam Arden memilih untuk pindah ke atas ranjang samping Sienna dan membenarkan selimut gadis itu.
Tangannya terulur perlahan untuk menyisipkan rambut yang menutupi wajah Sienna. Akan tetapi ia terhenti, jantungnya terlalu cepat berdetak membuatnya bingung sendiri.