Drama

17. Main ke Pantai

23 December 2025

Matahari baru saja naik, sinarnya menembus tirai tipis kamar hotel dan menyapa dua orang yang duduk di meja makan kecil dekat jendela, Sienna dan Arden. Meja mereka dipenuhi roti panggang, omelet keju, dan secangkir kopi panas yang aromanya memenuhi ruangan. Namun, tak satu pun dari mereka tampak bersemangat seperti hari-hari sebelumnya.

Sienna meneguk jus jeruknya perlahan, lalu menghela napas panjang.

“Rasanya ... seluruh tubuhku remuk,” keluhnya sambil menunduk, bahunya lemas. “Aku bahkan nggak yakin bisa jalan jauh hari ini.”

Arden menatapnya sambil tersenyum kecil. “Kamu aja yang kebanyakan teriak di wahana kemarin.”

Sienna mendengus, malas menanggapi. “Aku cuma butuh satu hari tanpa kamu godain. Satu aja.”

Arden terkekeh pelan, kemudian menaruh sendoknya. “Sayang banget kalau kamu cuma mau istirahat di hotel. Besok pagi kita udah harus pulang, lho. Masa hari terakhir cuma dihabiskan buat tidur?”

Sienna menatap Arden, lalu mengerucutkan bibirnya pelan. “Aku tahu, tapi tubuhku rasanya berat banget. Kayak ... kalau jalan dikit aja bisa tumbang.”

“Berarti kamu perlu suasana santai,” sela Arden cepat, suaranya sedikit bersemangat. “Gimana kalau ke pantai?”

“Pantai?” Sienna menatapnya heran. “Di Paris?”

Arden mengangguk santai. “Nggak jauh dari sini, ada pantai buatan di pinggiran sungai Seine. Banyak turis yang ke sana buat sekadar berjemur atau jalan santai. Cuacanya juga lagi bagus. Anggap aja penutupan yang manis sebelum pulang.”

Sienna memiringkan kepala, tampak berpikir sejenak. “Pantai, ya?” gumamnya pelan. “Kedengarannya ... lumayan.”

Arden menaikkan satu alisnya, seolah menantang. “Cuma lumayan?”

Sienna tersenyum kecil, menyeruput kembali jus jeruknya. “Oke deh, bagus. Tapi dengan satu syarat.”

“Apalagi?”

“Kita nggak naik wahana ekstrem lagi hari ini. Aku serius, Arden. Nggak ada teriak-teriakan, nggak ada muntah-muntahan, nggak ada jantung copot.”

Arden tertawa pelan, mengangguk. “Tenang aja. Aku juga udah cukup trauma lihat kamu hampir pingsan di roller coaster.”

Sienna melotot tajam, tetapi tidak bisa menahan tawa. “Kamu itu benar-benar ....” Ia berhenti sejenak, lalu menggeleng dengan senyum. “Baiklah, aku ganti baju dulu. Tapi kamu yang tanggung jawab kalau nanti aku kecapekan lagi.”

“Setuju,” jawab Arden cepat. “Asal kamu nggak ngambek di tengah jalan.”

Sienna menatapnya sinis sambil berdiri, tetapi bibirnya tersenyum juga. Ia berjalan ke arah lemari dan membuka pintunya, memilih pakaian santai yang cocok untuk udara pantai, gaun putih tipis dengan topi lebar yang sudah lama tak ia pakai.

Sementara itu, Arden menunggu di kursi rodanya, memandangi Sienna dari kejauhan. Ada rasa aneh yang menyelinap dalam dadanya, perpaduan antara kagum dan tenang. Ia tak menyangka, perempuan yang awalnya ia pikir keras kepala dan terlalu serius, kini bisa membuatnya merasa ... hidup lagi.

Tak lama kemudian, Sienna kembali dengan tas kecil di tangan. “Ayo, sebelum aku berubah pikiran.”

Arden tersenyum lebar, memutar rodanya menuju pintu. “Kamu nggak akan nyesel.”

“Semoga aja,” balas Sienna pelan.

Dan saat mereka keluar dari kamar, cahaya pagi menyoroti langkah mereka. Hari terakhir di Paris baru saja dimulai bukan dengan kelelahan, tetapi dengan rasa yang hangat dan perlahan tumbuh di antara keduanya, seperti mentari yang naik perlahan di ufuk kota cinta itu.


Mereka pun tiba di sungai yang menyerupai lautan, di mana pantai buatan itu dipenuhi turis yang menikmati matahari. Pasir putih terhampar lembut, dan suara tawa bercampur dengan deburan ombak kecil di tepiannya.

Sienna segera melepas sandal dan berlari kecil ke arah air. Langkahnya meninggalkan jejak di pasir, dan begitu kaki menyentuh air yang dingin, ia menjerit kecil lalu tertawa.

“Dingin banget!” katanya sambil mundur cepat.

Arden yang berada tak jauh di belakang hanya tertawa melihat tingkahnya. “Katanya mau menikmati pantai, kok malah kabur?”

Sienna memutar badan, wajahnya berseri-seri. Rambutnya yang tergerai tertiup angin, dan ia merentangkan tangan lebar-lebar, menatap langit dengan mata terpejam.

“Nggak tahu kenapa, tapi ... rasanya segar banget. Kayak semua capekku langsung hilang.”

Arden tersenyum lebar tanpa sadar. Melihat Sienna seperti itu membuat dadanya terasa hangat. Ia lalu memutar kursi rodanya mendekat, roda sedikit menekan pasir.

“Eh, hati-hati kamu! Nanti nyemplung beneran,” ucap Arden saat Sienna sedikit kehilangan keseimbangan karena ombak kecil.

“Aku bisa jaga diri kok—” belum sempat Sienna menyelesaikan kalimatnya, Arden mendorong tubuh Sienna tiba-tiba.

Sienna menjerit kaget, hampir jatuh ke air. Ia segera berbalik menatap Arden dengan mulut terbuka lebar.

“Arden!”

Arden menahan tawa, pura-pura tak bersalah. “Ups. Refleks.”

“Refleks apaan?! Dasar menyebalkan!” seru Sienna sambil menunduk, menciduk air dengan tangannya lalu menyipratkannya ke arah Arden.

Air memercik ke wajah dan baju Arden, membuat pria itu menatapnya dengan terkejut sebelum tertawa keras. “Berani juga kamu, ya!” katanya sambil memutar kursi rodanya cepat untuk menghindar.

Sienna tertawa puas dan berlari mengejarnya, tapi pasir membuat langkahnya lambat. “Jangan kabur, pengecut!”

“Siapa yang kabur? Aku cuma jaga jarak aman!” balas Arden, tertawa sambil terus memutar roda. Namun, roda kursinya sedikit tersangkut pasir, membuatnya melambat.

Sienna melihat kesempatan itu. “Nah, kena kamu sekarang!” Ia menyipratkan air lagi, kali ini lebih banyak.

Air dingin membasahi wajah Arden, dan Sienna tertawa terbahak-bahak melihat ekspresinya. “Gimana? Segar kan?”

Arden menyipitkan mata, pura-pura marah. “Kamu minta perang, ya?” katanya sambil memutar kursinya ke arah Sienna, mengambil air dengan tangannya sendiri lalu menyiram balik ke arah perempuan itu.

Sienna berteriak kecil dan mundur, tapi tawa mereka pecah keras di udara. Beberapa turis yang lewat ikut tersenyum melihat tingkah mereka berdua, sepasang suami istri muda yang tampak benar-benar menikmati hari terakhirnya di Paris.

Setelah beberapa saat bermain air, Sienna akhirnya duduk di pasir, napasnya tersengal sambil tertawa.

“Astaga ... aku nggak ingat kapan terakhir kali ketawa kayak gini,” katanya pelan.

Arden berhenti di sampingnya, menatap laut lepas dengan senyum tenang. “Aku juga,” ujarnya jujur. “Rasanya ... aneh, tapi menyenangkan.”

Sienna menoleh, menatapnya dengan lembut. “Aneh tapi menyenangkan, ya? Mungkin itu juga yang aku rasain selama di sini.”

Arden menatap balik, mata mereka bertemu sejenak dalam diam. Angin meniup rambut Sienna, dan matahari sore memantul di matanya, membuatnya terlihat begitu hidup.

“Terima kasih udah mau ikut liburan ini,” ucap Arden pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara ombak.

Sienna tersenyum kecil. “Terima kasih juga udah ngajak aku. Kalau bukan kamu, mungkin aku nggak bakal ngerasain momen kayak gini.”

Keduanya terdiam sejenak, hanya menikmati hembusan angin dan suara tawa anak-anak di kejauhan. Ombak kecil berkejaran di tepi pasir, menyentuh kaki Sienna dengan lembut. Mereka saling diam menikmati suasana yang begitu tenang. Tanpa mengkhawatirkan apa yang mungkin menanti di depan mereka.

Hanya saat ini, biarkan waktu membawa mereka pada ketenangan yang mungkin tak akan mereka dapatkan lagi.