Drama

18. Senja Terakhir di Paris

23 December 2025

Restoran itu terletak di tepi pantai, dengan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke laut. Cahaya lampu temaram berpadu dengan pantulan warna oranye keemasan dari matahari yang mulai tenggelam di cakrawala. Suara debur ombak terdengar lembut di kejauhan, menciptakan suasana hangat dan romantis yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Sienna duduk di seberang Arden, rambutnya masih sedikit berantakan karena angin pantai. Meski begitu, justru itulah yang membuatnya tampak alami dan cantik. Ia memandangi meja di hadapannya yang sudah tertata sempurna, taplak putih bersih, lilin kecil di tengah, dan piring-piring berkilau yang seolah terlalu mewah untuk disentuh.

“Arden …” Sienna menatap sekeliling, sedikit tidak percaya. “Kamu yakin kita nggak salah tempat? Ini … kayak restoran kelas dunia.”

Arden terkekeh pelan, memutar kursi rodanya sedikit agar lebih dekat ke meja. “Yakin kok. Ini memang tempat yang katanya paling bagus di area pantai ini. Aku mau makan malam terakhir di Paris jadi sesuatu yang nggak terlupakan.”

Sienna menatapnya, sedikit terharu. “Kamu benar-benar sudah menyiapkan semuanya, ya?”

“Sedikit,” jawab Arden dengan nada santai. “Kan sayang, udah jauh-jauh ke sini cuma buat makan roti hotel.”

Ucapan itu membuat Sienna tertawa kecil, tetapi dalam tawa itu ada sesuatu yang lembut. Ia tahu Arden tidak sekadar ingin menikmati makanan, ia ingin menciptakan kenangan.

Kenangan yang bisa mereka simpan, bahkan saat nanti kehidupan kembali sibuk dan berat.

Tak lama kemudian, pelayan datang membawa hidangan pertama, sepiring kecil oysters gratinées dengan saus lemon dan keju parmesan yang menggoda aroma. Sienna memandangi piring itu dengan mata membulat.

“Uh, ini kerang beneran?” tanyanya pelan.

Arden menahan tawa. “Ya iyalah, seafood. Katanya kamu suka coba hal baru?”

Sienna menatapnya ragu, lalu menghela napas. “Baiklah, demi menghormati chef internasional ini.” Ia mengambil sendok kecil, mencicipi sedikit. Seketika matanya membesar.

“Astaga … ini enak banget.”

Arden tersenyum puas. “Tuh kan, aku nggak salah pilih.”

Hidangan berikutnya datang satu per satu, lobster thermidor yang disajikan dengan saus creamy, udang besar yang dipanggang sempurna dengan aroma mentega dan bawang putih, serta sup seafood yang lembut dengan sedikit rasa asam segar.

Sienna sampai terdiam beberapa kali, mencoba menelan rasa kagumnya. “Aku bahkan nggak pernah nyangka bakal makan makanan kayak gini seumur hidupku,” katanya dengan jujur.

“Biasanya aku cuma masak seadanya, terlalu sibuk bekerja hingga enggan membuang-buang uang.”

Arden menatapnya sambil tersenyum hangat. “Mungkin ini pertama kalinya, tapi semoga bukan terakhir.”

Sienna menggeleng, tersenyum malu. “Kalau tiap hari kayak gini, aku bisa bangkrut.”

Keduanya tertawa bersama. Suasana di antara mereka terasa ringan, tetapi juga akrab dan dalam. Pelayan datang lagi membawa hidangan penutup, creme brulee yang disajikan dengan potongan stroberi segar di atasnya. Sienna menatap lapisan karamel keemasan itu, lalu menatap Arden.

“Boleh aku yang buka permukaannya?” tanyanya dengan mata berbinar.

Arden mengangguk. “Silakan.”

Sienna menepuk lembut permukaan karamel dengan sendok, terdengar bunyi retak kecil. Ia mencicipinya, lalu matanya langsung berbinar lagi.

“Oh Tuhan, ini beneran surga dunia.”

Arden menatapnya dengan ekspresi lembut, memperhatikan caranya menikmati makanan, tawa kecilnya, dan cahaya lilin yang menari di matanya.

“Gimana rasanya?” tanyanya pelan.

Sienna menatapnya, menikmati hidangan penutup itu. “Hmm benar-benar manis?”

“Manis? Hanya manis?”

“Cobalah sendiri, kamu benar-benar akan merasakan paduan manis yang jarang sekali aku rasakan.”

“Enggak usah, kamu saja habiskan. Setelah ini kita harus segera pulang dan beristirahat,” tolak Arden tak ingin mengganggu kesenangan Sienna.

Dalam diam ia terus memandangi Sienna yang tenggelam dengan kenikmatan dari creme brulee.


Sienna berdiri di balkon kamar hotelnya, angin malam mengibaskan rambutnya perlahan. Di tangannya, secangkir teh hangat sudah hampir dingin. Tubuhnya lelah setelah seharian berkeliling dan makan malam panjang, tetapi pikirannya justru terlalu ramai untuk beristirahat. Pandangannya tak lepas dari menara yang menjulang itu, indah, menenangkan, dan entah kenapa membuat dadanya terasa sesak.

Langkah kursi roda terdengar lembut dari arah belakang. Arden keluar dari kamar, mengenakan kaus tipis dan jaket ringan. Ia berhenti di sisi Sienna, memiringkan kepala sambil menatap wajahnya.

“Masih belum tidur?” tanyanya pelan.

Sienna menggeleng tanpa menoleh. “Belum. Aku cuma ... ingin lihat Menara Eiffel untuk terakhir kalinya malam ini.”

Arden diam sejenak, menatap pemandangan yang sama. Angin malam berhembus pelan.

“Kamu kelihatan sedih,” katanya akhirnya. “Enggan pulang, ya?”

Sienna tertawa kecil, meski suaranya terdengar lemah. “Iya. Aku akui, aku nggak mau pulang. Hari-hari di sini rasanya ... terlalu menyenangkan. Terlalu bebas. Aku lupa rasanya hidup tanpa rasa takut atau beban.”

Arden menatapnya lama. “Kalau begitu, kita tinggal saja di sini,” ujarnya tiba-tiba.

Sienna menoleh cepat, menatapnya dengan heran. “Kamu serius?”

Arden mengangkat bahu. “Kenapa nggak? Kita bisa pindah ke sini. Nikmatin sisa kontrak kita di apartemen atau hotel. Kita bisa habiskan waktu, uang, dan hidup tanpa mikirin orang-orang yang bahkan nggak peduli sama kita.”

Sienna terdiam. Ucapan Arden terasa menggoda, seperti mimpi kecil yang entah kenapa terdengar masuk akal. Namun, kenyataan tetap menekan pikirannya. Ia menatap ke bawah, ke arah lampu-lampu kota yang berkelip lembut.

“Kamu dengar aku ngomong waktu di toko suvenir tadi?” tanyanya pelan.

Arden menatapnya dengan serius, lalu mengangguk. “Iya. Aku dengar kamu bilang mau beli oleh-oleh buat ayah dan adikmu.”

Nada suaranya berubah dingin. “Aku cuma nggak ngerti. Setelah semua yang mereka lakuin, membuangmu, memperlakukanmu kayak kamu nggak berarti kenapa kamu masih mikirin mereka? Kamu bahkan ingin bawain sesuatu buat mereka.”

Sienna menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. “Entahlah,” jawabnya jujur. “Mungkin karena aku nggak bisa seegois itu. Aku udah coba untuk berhenti peduli, tapi... tiap kali aku mau marah, yang muncul justru rasa kasihan.”

Arden menatapnya lama, matanya sedikit melembut, tetapi suaranya tetap tajam. “Kamu terlalu baik, Sienna.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih rendah, “Atau terlalu bodoh.”

Sienna tersenyum samar, tidak tersinggung. “Mungkin dua-duanya,” balasnya pelan.

Arden mencondongkan tubuhnya sedikit, menatapnya lebih dalam. “Mereka bukan orang yang tahu berterima kasih. Mereka nggak akan peduli seberapa keras kamu mencoba untuk tetap baik.”

Sienna menatap Menara Eiffel lagi, matanya berkilau dalam cahaya malam. “Aku tahu,” katanya lirih. “Tapi aku juga nggak mau jadi orang yang mereka bentuk. Kalau aku berhenti peduli, kalau aku jadi dingin kayak mereka ... maka mereka menang.”

Arden terdiam cukup lama. Ucapan itu entah kenapa membuat dadanya terasa aneh, antara kagum dan frustrasi.

Ia menghela napas panjang. “Kamu benar-benar aneh,” gumamnya akhirnya. “Tapi ... mungkin itu alasan kenapa aku nggak bisa marah lama-lama sama kamu.”

Sienna menoleh, tersenyum kecil. “Itu pujian atau ejekan?”

“Dua-duanya.”

Keduanya terdiam, menikmati sunyi malam yang hanya diiringi suara lembut angin.