Pagi yang cerah menyinari gedung PT. Ruswan Tekstil Indonesia (PT RSTI) dari ufuk barat hingga timur. Karyawan-karyawan berangkat ke tempat kerja sesuai aturan pemerintah, bekerja 7 jam dalam sehari. Mereka memulai pekerjaanya dimulai dari jam 6 pagi.
Sudarta, yang kini menggantikan posisi Alex di perusahaan cabang, duduk di ruangannya. PT RSTI, perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, hampir mengalami kebangkrutan akibat skandal yang melibatkan Alex. Namun, sekarang semua itu telah berubah. Sudarta memegang kendali perusahaan ini.
Seorang sekretaris menyapa Sudarta dengan ramah, "Selamat pagi, Pak Sudarta."
"Pagi," jawab Sudarta. "Apakah hari ini ada karyawan yang melamar pekerjaan?"
"Sudah ada, Pak. Dia sudah menunggu di depan," kata sekretaris tersebut.
Pagi yang cerah menyinari gedung PT. Ruswan Tekstil Indonesia (PT RSTI) dari ufuk barat hingga timur. Karyawan-karyawan berangkat ke tempat kerja sesuai aturan pemerintah, memulai hari kerja antara jam 6 hingga 7 pagi.
Sudarta, yang kini menggantikan posisi Alex di perusahaan cabang, duduk di ruangannya. PT RSTI, perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, hampir mengalami kebangkrutan akibat skandal yang melibatkan Alex. Namun, sekarang semua itu telah berubah. Sudarta memegang kendali perusahaan ini.
Seorang sekretaris menyapa Sudarta dengan ramah, "Selamat pagi, Pak Sudarta."
"Pagi," jawab Sudarta. "Apakah hari ini ada karyawan yang melamar pekerjaan?"
"Sudah ada, Pak. Dia sudah menunggu di depan," kata sekretaris tersebut.
Namun, di antara para pelamar, ada satu yang berbeda. Abidin, seorang pemuda dengan mata yang penuh tekad, berdiri di depan pintu. Dia telah mempersiapkan diri dengan baik, tetapi tujuannya tidak seperti yang terlihat. Abidin berpura-pura ingin menjadi karyawan, tetapi sebenarnya dia memiliki rencana terselubung.
Dia tahu bahwa PT RSTI membutuhkan orang yang berkomitmen untuk memperbaiki reputasi perusahaan. Abidin memutuskan untuk bermain peran. Dia akan membantu perusahaan ini, bukan hanya sebagai karyawan, tetapi juga sebagai mata-mata yang akan menghancurkan posisi Sudarta.
Abidin duduk di kursi wawancara, hatinya berdebar. Sudarta, dengan wajah yang tajam, menatapnya. Cahaya dari jendela memperlihatkan debu-debu terbang di udara, seolah-olah menggambarkan ketegangan yang mengisi ruangan.
"Selamat pagi, Pak Sudarta," ucap Abidin dengan senyum tipis.
Sudarta hanya mengangguk. "Mengapa Anda ingin bekerja di perusahaan kami?" tanyanya tajam.
Abidin memilih kata-kata dengan hati-hati. "Saya percaya PT RSTI memiliki potensi besar untuk memperbaiki reputasinya. Saya ingin berkontribusi dalam mengembalikan kepercayaan pelanggan dan memastikan perusahaan ini kembali berjalan dengan baik."
Sudarta mengamati Abidin. "Apa yang membuat Anda yakin bisa membantu kami?"
Abidin menatap mata Sudarta. "Saya memiliki pengalaman dalam analisis data dan manajemen risiko. Saya yakin bisa membantu mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan mengoptimalkan proses di perusahaan ini."
Sudarta mengangguk lagi. "Terakhir, apa yang Anda ketahui tentang skandal yang melibatkan perusahaan ini beberapa waktu lalu?"
Abidin berbicara dengan penuh perhatian. "Saya tahu bahwa perusahaan mengalami masa sulit karena skandal tersebut. Namun, saya juga percaya bahwa kita semua memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan memulai lembaran baru." Katanya dengan hati yang licik.
Abidin keluar dari ruangan dengan perasaan senang. Dendam untuk ayahnya masih tersembunyi, dan dia harus bermain peran dengan hati-hati. Sudarta tidak tahu bahwa di balik senyumnya, Abidin adalah mata-mata Mustafa yang bertekad mengungkap kebenaran.
Setelah dia berhasil melewati wawancara, tetapi sekarang tanggung jawabnya semakin berat. Ayahnya, Mustafa, berbicara dengan tegas melalui sambungan telepon.
“Halo nak ! Gimana kabarmu ?” Kata ayahnya
"Ayah! Akhirnya saya telah diterima di perusahaan ini," kata Abidin dengan suara bergetar.
"Bagus, Nak! Lanjutkan saja misi kita," jawab Mustafa. "Kamu tetap jadi mata-mata dan jangan pernah ada yang tahu rencana kita."
Dengan senyum liciknya, Abidin dan Mustafa memulai rancangan untuk menghancurkan Sudarta. Rasa dendam semakin terjalin, dan permainan mereka akan menentukan nasib PT RSTI.
Setelah kemenangan Sudarta melawan Alex, suasana di perusahaan pusat Ruswanda bersemangat. Ruswanda memutuskan untuk merayakannya dengan mengajak Sudarta dan karyawan lainnya untuk berpesta di sebuah hotel. Di sana, mereka akan merayakan prestasi Sudarta dan mengangkat gelar untuk keberhasilan PT RSTI dan perayaan ini menjadi momen penting dalam perjalanan perusahaan.
Nayla, sekretaris Ruswanda, berbicara dengan semangat, "Kita harus memberikan kejutan kepada Pak Sudarta."
"Ya," sahut salah satu karyawan lain. "Dia memang layak mendapatkan penghargaan ini karena berani melawan ketidakadilan."
Ruswanda mengangguk setuju. "Baiklah, kalau begitu. Besok kita semua kumpul di Hotel Prima. Dan kita berikan kejutan untuknya."
Matahari malam akhirnya terbenam, meninggalkan langit yang berwarna merah tua. Ruswanda duduk di dalam mobil pribadinya, hatinya berdebar. Besok adalah hari yang ditunggu-tunggu pesta perusahaan untuk merayakan keberhasilan Sudarta yang telah mengalahkan Alex. PT RSTI kini berada di jalur yang benar, dan Ruswanda ingin merayakannya dengan penuh semangat.
Namun, di tengah perasaan gembira itu, ada ketegangan yang menghantui pikirannya. Sudarta, yang kini menjadi pahlawan perusahaan, memiliki rahasia yang belum terungkap. Ruswanda tahu bahwa dia harus berhati-hati. Keberhasilan Sudarta membuka pintu bagi ambisi dan dendam yang lebih besar.
Saat mobil Ruswanda melaju di jalan sepi, tiba-tiba dia melihat segerombolan preman berdiri di tengah jalan. Wajah mereka kasar, mata tajam, dan senyum licik. Ruswanda menggenggam setir dengan erat. Dia tidak ingin terlibat dalam masalah apa pun, terutama menjelang pesta besok.
Namun, preman-preman itu mendekati mobilnya. Mereka menatap Ruswanda dengan penuh niat buruk. Ruswanda merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Apa yang mereka inginkan? Apakah ini ancaman terhadap keselamatan Ruswanda atau hanya kebetulan di tengah malam yang gelap?
Ruswanda memilih untuk tetap tenang. Dia menghela nafas dan membuka jendela mobil. "Ada apa?" tanyanya dengan suara tegas.
Salah satu preman menghampiri. "Kami butuh uangmu," katanya dengan nada mengancam. "Kami tahu Anda adalah CEO PT RSTI. Kami tahu Anda punya banyak harta."
Ruswanda menatap mereka dengan mata tajam. Dia harus memutuskan: apakah dia akan menyerah pada preman-preman ini atau akan mengambil tindakan lebih tegas?