Drama

Bab 7 Pengangkatan Jabatan

02 January 2026

Ruswanda berada dalam situasi yang mematikan. Di tengah kegelapan malam, preman-preman mengancamnya dengan pisau. Mereka tahu dia adalah CEO PT RSTI dengan harta melimpah. Ruswanda merasa tekanan berat, namun dia tidak akan menyerah begitu saja.

Dengan tenang, dia mengangkat tangannya. "Baiklah," ucapnya dengan suara mantap. "Saya akan memberikan apa yang kalian inginkan."

Preman-preman itu tersenyum, tetapi mata mereka tetap waspada. Mereka mengira Ruswanda akan menyerahkan uangnya tanpa perlawanan. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat mereka terkejut.

Ruswanda tiba-tiba menendang pisau dari tangan salah satu preman. Dalam sekejap, dia merebut pisau itu dan menghadap mereka dengan mata penuh tekad. "Kalian pikir saya akan menyerah begitu saja?" ucapnya tegas. "Saya CEO, dan saya tidak akan membiarkan diri saya diperdaya!"

Pemuda misterius itu tiba-tiba muncul, wajahnya yang rupawan dan motor gedenya menarik perhatian. Dia berdiri di antara Ruswanda dan para preman, dengan sikap tegas.

"Berhenti!" katanya dengan suara lantang. "Apa yang kalian lakukan?"

Salah satu preman menatap pemuda itu dengan sinis. "Apa yang ingin kamu lakukan? Jangan ikut campur dengan kami."

Namun, pemuda misterius tidak mundur. Dia memiliki keberanian yang sama seperti Ruswanda. Mereka bertarung dengan penuh semangat, dan meskipun Ruswanda terjatuh, dia melihat pemuda itu berjuang dengan tekad yang mengagumkan.

Akhirnya, para preman mengalah dan pergi meninggalkan mobil Ruswanda. Pemuda misterius menawarkan tangannya untuk membantu Ruswanda berdiri. "Saya Marcel," katanya dengan senyum.

"Apa Bapak baik-baik saja?" kata Marcel.

"Terima kasih, Nak. Kalau tidak ada kamu, aku sudah pasti dikalahkan oleh mereka," kata Ruswanda.

"Baiklah, Pak! Kalau begitu saya pamit akan pergi. Saya baru selesai dari rumah teman untuk mengerjakan skripsi," kata Marcel. "Hati-hati di jalan."

Malam semakin larut, dan Ruswanda akhirnya pulang dengan selamat. Sementara itu, para preman yang berusaha merampoknya ternyata gagal dalam aksinya. Salah satu dari mereka mengeluarkan ponsel dan menelepon bosnya untuk melaporkan kegagalan mereka.

"Boss," ucap preman tersebut dengan nada gugup, "kami gagal merampok Pak Ruswanda. Dia lebih tangguh daripada yang kami perkirakan."

Bosnya merespons dengan tegas, “Apa ! Kenapa bisa gagal ?"

“Soalnya tadi ada pemuda misterius yang menyerang kami boss” jawabnya.

“Dasar bdh terus untuk apa aku menyuruh kalian ?”

Preman itu menelan ludah. Kegagalan mereka bukan hanya mengancam nyawa Ruswanda, tetapi juga nyawa mereka sendiri. Dengan tekad baru, mereka berencana untuk mencari cara lain untuk menyelesaikan misi ini.

Malam telah berganti menjadi pagi hari, dan awal hari sudah dimulai. Hotel Prima yang sangat megah, kini penuh dengan hiasan dan bertuliskan "Selamat Keberhasilan Sudarta."

Semua karyawan berdatangan pada pesta keberhasilan Sudarta yang telah menyelamatkan perusahaan dari skandal yang dilakukan oleh Alex dan Mustafa. Ruangan dipenuhi dengan tawa, ucapan selamat, dan harapan baru. Sudarta, dengan senyum lebar, berbicara di depan para hadirin.

"Terima kasih kepada semua yang telah berkontribusi dalam mengungkap kebenaran dan membersihkan nama baik perusahaan kita," ucap Sudarta. "Kita telah melewati masa-masa sulit, tetapi kerja keras dan dedikasi kita bersama telah membuahkan hasil."

Para karyawan bertepuk tangan dan mengangguk setuju. Sudarta melanjutkan, "Alex dan Mustafa telah mencoba menghancurkan kita, tetapi kita tidak hanya bertahan, kita bangkit lebih kuat. Ini adalah bukti bahwa kejujuran dan integritas selalu menang."

Pesta berlanjut dengan makanan lezat, musik, dan tawa. Sudarta berbicara dengan banyak orang, mengucapkan terima kasih, dan merayakan kemenangan bersama.

Sementara itu, di luar hotel, Abidin sedang memata-matai mereka. "Aku harus menemukan cara lain untuk menghentikan Sudarta," kata Abidin dalam hati dengan nada marah. Dia menyusun rencana baru, mengumpulkan informasi, dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa permainan ini belum berakhir.

Abidin, dengan wajah yang penuh ketegangan, terus memantau perayaan dari kejauhan. Dia tahu bahwa Sudarta bukanlah musuh yang bisa dianggap remeh. Sudarta memiliki kecerdasan dan tekad yang luar biasa, dan Abidin harus berhati-hati dalam setiap langkahnya.

Sementara itu, Nayla, berusaha mencari celah untuk menguasai perusahaan. Dia juga ingin menggulingkan Sudarta dari posisinya dan menguasai perusahaan sepenuhnya. Dalam diam, dia berbicara dengan Mustafa, yang juga merasa terancam oleh keberhasilan Sudarta.

"Kita harus bekerja sama," bisik Nayla. "Kita punya satu kesempatan lagi untuk menghentikan Sudarta. Kita harus menemukan kelemahannya."

Mustafa mengangguk. "Dia memiliki satu titik lemah yaitu keluarganya. Kita bisa mengancam mereka."

Nayla tersenyum jahat. "Kita akan memaksa Sudarta untuk memilih antara perusahaannya atau keluarganya. Dia tidak akan bisa menyelamatkan keduanya."

Sementara itu, Abidin yang masih memantau dari kejauhan, merasa semakin tertantang. Dia tahu bahwa permainan ini semakin rumit, dan dia harus berpikir lebih cerdas.

Di dalam pesta, Sudarta tidak menyadari ancaman yang mengintai. Dia merayakan kemenangan bersama karyawan dan teman-temannya, tanpa tahu bahwa pertempuran sesungguhnya belum berakhir.

Ruswanda, dengan senyum tulus, berjabat tangan dengan Sudarta. "Pak Sudarta, saya sangat berterima kasih padamu," katanya. "Sebagai seorang teman sekaligus rekan kerja, saya akan mengangkatmu menjadi seorang manager di perusahaan cabang. Dengan ini, saya sahkan kamu menjadi orang penting di perusahaan cabang."

Para karyawan yang hadir merasa kagum dengan keberhasilan Sudarta. Beberapa dari mereka berfoto bersama, memperingati momen bersejarah ini. Sudarta, dengan rasa syukur, melihat wajah-wajah yang percaya padanya. Perjalanan panjangnya untuk membersihkan nama baik perusahaan akhirnya membuahkan hasil.

Di tengah perayaan, Abidin dan Nayla berpapasan di lorong yang sepi. Mata mereka saling bertemu, dan ketegangan terasa di udara. Abidin merasa konflik dalam dirinya semakin memuncak. Di satu sisi, dia ingin menghentikan Sudarta dan menguasai perusahaan.

Nayla, dengan tatapan tajam, berkata, "Kalau tidak salah, bukankah kamu itu anaknya Mustafa?"

Abidin menggigit bibirnya dan berpura-pura tidak tahu apa-apa, “Maaf, Anda siapa ya?”

Nayla menatapnya dingin. "Saya Nayla. Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”

Abidin menghela nafas. Dia tahu bahwa dia harus membuat keputusan sulit. Apakah Abidin akan mengungkapkan identitasnya sebagai anak Mustafa ataukah dia akan terus menyembunyikannya? Dan bagaimana Nayla akan bereaksi terhadap keputusan Abidin? Semua akan terungkap pada bab selanjutnya!