Abidin menatap Nayla dengan ragu. Dia tahu bahwa keputusannya akan mempengaruhi banyak hal. Dalam hatinya, dia berjuang antara kewajiban sebagai anak dan kebenaran yang harus diungkap.
Akhirnya, dengan suara lirih, Abidin menjawab, "Ya, saya anaknya Mustafa."
Nayla mengepalkan tangan. "Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
Abidin menghela nafas. "Saya belum tahu. Tapi satu hal pasti, aku akan merebut kembali kekuasaan di perusahaan ini demi ayahku.”
Dengan tatapan yang penuh teka-teki, Nayla berkata, "Kita akan lihat apa yang akan terjadi selanjutnya.” ucapnya dengan nada misterius. Dia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Abidin dengan pertanyaan yang belum terjawab. Di dalam hatinya, Nayla merencanakan langkah-langkah lebih lanjut.
Tiba-tiba Sudarta memanggil Abidin dan Nayla untuk berfoto bersama-sama dan keduanya kembali ke perayaan, masing-masing membawa beban rahasia yang tak terungkap.
Setelah pesta selesai, Sudarta merasa sangat berterimakasih atas jamuan yang dilakukan oleh Ruswanda dan seluruh karyawan. Hotel Prima yang sebelumnya dipenuhi dengan sorak-sorai dan tawa kini mulai sepi, dan Sudarta berjalan menuju pintu keluar. Di lorong yang redup, dia bertemu dengan Ruswanda.
“Pa Ruswanda, sekali lagi saya sangat berterimakasih padamu, Pak!” ucap Sudarta dengan tulus.
Ruswanda tersenyum. “Saya juga sangat berterima kasih. Tanpamu, mungkin perusahaan ini akan tutup. Tapi bagaimanapun, tetap kamu harus berhati-hati dengan Mustafa.”
Sudarta mengangguk. “Memangnya kenapa, Pak?” tanyanya penasaran.
Ruswanda menatap Sudarta dengan serius. “Kemarin malam, saya hampir dirampok. Ini pasti perbuatan anak buahnya Mustafa. Mereka tidak akan berhenti sampai mereka menghancurkan kita.”
Sudarta merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Dia tidak pernah menduga bahwa ancaman bisa datang sedekat ini. Dia tahu bahwa permainan belum berakhir. Dari kejauhan, Abidin, sebagai mata-mata ayahnya, memperhatikan gerak-gerik Sudarta. Kini, lebih dari sebelumnya, Sudarta harus berjaga-jaga.
Sudarta merenung sejenak, memikirkan langkah selanjutnya. Dia tahu bahwa ancaman dari anak buah Mustafa tidak boleh diabaikan. Dalam hatinya, tekad untuk mengungkap kebenaran semakin kuat. Dia akan memperkuat keamanan perusahaan dan mencari tahu siapa sebenarnya di balik semua ini.
Namun, dia juga menyadari bahwa dia tidak bisa melakukannya sendirian. Dia harus memutuskan untuk berbicara dengan Ruswanda dan beberapa karyawan yang bisa dipercaya. Bersama-sama, mereka akan membentuk tim investigasi internal yang akan menggali lebih dalam dan menghadapi ancaman dengan lebih siap.
Sudarta melangkah menuju pintu keluar, berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan berhenti sampai kebenaran terungkap. Di balik senyumnya yang tulus, ada tekad baja yang siap menghadapi segala rintangan.
Sementara itu, Ruswanda menutup pintu rumahnya dengan lembut, masih terbawa suasana perayaan di Hotel Prima. Dia tidak menyangka akan menemukan dua orang yang tidak asing baginya di ruang tamu. Dengan pakaian sederhana, seorang wanita yang sangat cantik berdiri disana, disambut oleh istrinya, Wati.
Sumarni, dialah wanita itu. Wajahnya tampak lelah, mata yang dulunya berkilau kini terlihat redup. Rambut hitamnya terurai, dan tangan yang dulu terbiasa menggenggam rencana bisnis kini hanya menggenggam tas kulit yang sudah usang. Dia telah lama berada di negeri Jiran, mendirikan perusahaan tekstil berjenis kaos. Namun, apa yang membawanya kembali ke tanah air?
Ruswanda merasa kebingungan. Dia dan Sumarni pernah bersama dalam perjalanan bisnis beberapa tahun lalu. Sumarni adalah wanita yang cerdas, ambisius, dan memiliki visi besar. Mereka berdua pernah berbicara tentang memperluas bisnis mereka, menggandeng perusahaan-perusahaan besar, dan menciptakan produk berkualitas tinggi. Namun, apa yang terjadi pada Sumarni?
"Dari mana kamu, Sumarni?" tanya Ruswanda dengan hati-hati.
Sumarni menghela nafas. "Dari negeri Jiran. Bisnis kami di sana mengalami kesulitan. Persaingan semakin ketat, dan kami hampir bangkrut. Aku datang ke sini mencari bantuan."
Ruswanda merasa terenyuh. Dia tahu betapa sulitnya menghadapi kegagalan dalam bisnis. Namun, ada sesuatu yang tidak beres. Sumarni tidak pernah terlihat begitu rapuh sebelumnya.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya?" tanya Ruswanda.
Sumarni menatapnya dengan mata yang penuh teka-teki. "Ada banyak rahasia, Kak Ruswanda. Dan aku membutuhkan bantuanmu untuk mengungkapnya."
Ruswanda merasa terkejut dan bingung. Dia tidak pernah mengira akan bertemu Sumarni lagi setelah sekian lama. Namun, ada sesuatu yang tidak beres. Sumarni yang dulunya begitu kuat dan percaya diri kini tampak rapuh dan terluka.
Setelah beberapa saat berpikir, Ruswanda memutuskan untuk membantu Sumarni. Dia tahu bahwa ada rahasia yang harus diungkap, dan dia merasa tanggung jawab untuk membantu adiknya.
Sumarni menatapnya dengan mata yang penuh teka-teki. "Ada banyak hal yang harus kamu ketahui, Kak Ruswanda. Bisnis kami di negeri Jiran mengalami kesulitan, tapi itu hanya permukaan dari masalah yang lebih dalam. Ada konflik, intrik, dan bahaya yang mengancam."
Ruswanda mengangguk. "Aku akan membantumu, Sumarni. Kita akan mengungkap kebenaran bersama-sama."
"Lalu apa yang harus aku lakukan padamu?" tanya Ruswanda.
Sumarni menatapnya dengan mata yang penuh teka-teki. "Saya mau meminjam uang, Kak."
Ruswanda mengangguk. "Baiklah, kalau begitu. Semoga ini membantu kamu dalam berbisnis."
Dengan senang hati, akhirnya Sumarni menerima pemberian kakaknya dan kembali ke negeri Jiran.
Hari semakin malam, dan suasana di rumah itu tampak lebih terang karena cahaya lampu yang memancar dari jendela. Di ruang tengah, Sudarta duduk di sofa, menunggu dengan sabar. Anak pertamanya, yang baru saja pulang dari kampus, menceritakan pengalaman kuliahnya dengan semangat.
Sudarta sangat menyayangi anak pertamanya dan merasa dekat dengannya. Mereka berbicara panjang lebar, tertawa, dan saling berbagi cerita. Di sudut ruangan, foto keluarga yang menggambarkan kebahagiaan mereka bersama tergantung di dinding.
Sudarta merasa beruntung memiliki keluarga yang begitu hangat dan penuh cinta. Cahaya lampu di ruang tengah memancar, menciptakan suasana yang semakin malam. Di sudut ruangan, foto keluarga menggambarkan kebahagiaan mereka bersama tergantung di dinding.
“Marcel, kemarilah nak!” sahut ayahnya dengan tegas.
Marcel menghampiri ayahnya, wajahnya tegang. “Apa pendapatmu kalau kamu bekerja di perusahaan ayah?” tanya ayahnya.
“Di perusahaan tekstil itu?” jawab Marcel dengan dingin.
“Ayah hanya ingin kamu bisa bekerja dengan baik. Ini kesempatan kita untuk memanfaatkan bisnis keluarga. Kamu kan jurusan tekstil,” kata ayahnya dengan penuh harapan.
Marcel menatap ayahnya, ragu-ragu. “Sebenarnya, saya hanya ingin bermain, ayah. Masih belum siap untuk beban memimpin perusahaan.” Suaranya penuh ketidakpastian.
Saat ayahnya membuka laptop, Marcel melihat foto Ruswanda bersama ayahnya di pesta tadi pagi. Wajah Ruswanda yang tersenyum terpampang di layar, dan Marcel merasa ada yang tidak beres.
“Sebentar, ayah,” kata Marcel, matanya fokus pada gambar. “Perasaan saya pernah melihat orang ini kemarin.”
Ayahnya mengernyitkan dahi. “Kamu kenal dengan orang ini?” tanyanya sambil menunjukkan kursor kepada kepala direktur utama di perusahaan itu.
“Iya, ayah,” jawab Marcel. “Kemarin dia dirampok, dan aku membantunya.”
Ayahnya merasa terkejut mendengar cerita anaknya. Apakah ini yang dimaksud Ruswanda untuk berhati-hati dengan Mustafa? Apa yang sebenarnya Mustafa inginkan? Ikuti terus kisah selanjutnya.