Pagi hari telah tiba. Ayam-ayam berkokok dengan semangat, menyambut matahari yang perlahan bangkit dari tidurnya. Di rumah Sudarta, dua dunia berbeda bersiap memulai hari.
Sudarta, seorang pria paruh baya dengan wajah yang penuh keriput, bangun dari tempat tidurnya. Ia mengenakan kemeja putih dan dasi, siap untuk pergi ke kantornya. Sudarta adalah seorang manajer di perusahaan Cabang milik Ruswanda, sebuah perusahaan tekstil yang telah berdiri puluhan tahun. Ia memiliki mimpi besar untuk mengembangkan perusahaan ini lebih jauh lagi.
Namun, di kamar sebelah, ada kegembiraan yang berbeda. Marcel, anak pertama Sudarta, sudah bersiap-siap untuk pergi kuliah. Marcel adalah anak tertua dari empat bersaudara. Sudarta selalu memberikan pendidikan terbaik untuk Marcel, hingga ia berhasil meraih gelar S2. Sudarta berharap Marcel bisa menggantikannya di perusahaan ayahnya.
Marcel memilih jurusan tekstil. Ia belajar dengan tekun, menguasai ilmu tentang serat, pola, dan warna. Ia bercita-cita menjadi pengusaha pabrik tekstil yang sukses. Sudarta melihat potensi besar dalam benak anaknya, dan ia berdoa agar Marcel bisa membawa perusahaan ke tingkat yang lebih tinggi.
Dua dunia, dua generasi, dan dua impian yang berbeda. Pagi ini, mereka berangkat dengan harapan dan semangat masing-masing. Sudarta menuju kantor, sementara Marcel berjalan menuju kampus dengan buku-buku tebal di tangannya.
Di tengah gemuruh kampus yang megah, Marcel menapaki lorong-lorong yang penuh dengan harapan dan mimpi. Ia mengambil beberapa SKS untuk mengikuti mata kuliahnya, berusaha keras mengejar ilmu yang akan membawanya ke masa depan yang lebih cerah.
Namun, di antara buku-buku tebal dan catatan kuliah, ada satu hal yang mengalihkan perhatiannya: Rihana. Mahasiswi yang duduk di depannya di kelas. Rihana memiliki wajah yang cantik, kulit putih yang mempesona, dan gerakan yang anggun. Setiap kali Rihana tersenyum, hati Marcel berdetak lebih cepat.
Marcel tidak pernah berani mendekati Rihana. Ia hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan. Namun, dalam hati, Marcel membayangkan bagaimana rasanya berbicara dengannya, mengenal lebih jauh tentang kehidupan Rihana di balik senyumnya yang menawan.
Setiap hari, Marcel mengikuti jejak Rihana di media sosial. Ia memeriksa foto-foto yang diunggahnya, membaca status-statusnya, dan mencari tahu lebih banyak tentang gadis itu. Rihana suka berbagi kutipan-kutipan dari novel favoritnya, dan Marcel mencatatnya.
Di kelas, Marcel sengaja memilih tempat duduk yang dekat dengan Rihana. Ia berharap bisa berbicara dengannya, mengenal lebih jauh tentang kehidupan Rihana di balik senyumnya yang menawan.
Suatu hari, saat matahari masih malu-malu menampakkan diri, Marcel melihat Rihana duduk di bawah pohon di halaman kampus. Wajahnya yang cerah terlihat begitu dekat. Marcel merasa seperti dalam film romantis.
Dia mengeluarkan ponselnya dan mencoba memotret wajah Rihana dari kejauhan. Namun, tanpa disadari, teman-temannya melihatnya.
"Marcel, apa yang sedang kamu lakukan?" Sahut salah satu temannya
Dengan perasaan gugup, Marcel menjawab "Oh, eh, hanya mengambil foto pemandangan kampus."
"Pemandangan? Itu Rihana, bukan pemandangan, bro !" Ejek satu kawannya lagi.
Marcel merasa pipinya memanas. Ia ketahuan. Teman-temannya tertawa, dan Rihana memandangnya dengan heran.
Marcel menyadari bahwa cintanya telah menjadi bahan guyonan di antara teman-temannya. Namun, dia tidak menyerah. Setiap hari, dia tetap mengikuti jejak Rihana, berharap suatu saat bisa berbicara dengannya tanpa gugup.
Suatu hari, saat kantin kampus sepi, Marcel berani mendekati Rihana. Ia menyapa dengan gugup, "Halo, aku Marcel. Kita satu kelas, kan?"
Rihana tersenyum, dan itu adalah senyum terindah yang pernah dilihat Marcel. "Iya, aku Rihana. Senang bertemu denganmu, Marcel."
Sejak saat itu, kantin kampus menjadi tempat istimewa bagi Marcel dan Rihana. Di sana, mereka berbicara tentang kuliah, mimpi, dan kehidupan. Marcel belajar tentang Rihana yang suka membaca novel dan senang bermain gitar.
Sementara itu, di kehidupan ayahnya Marcel, Sudarta telah berada di perusahaan. Ia berada di kantor cabang milik Ruswanda.
Di ruang kerja yang sunyi, Sudarta tengah asyik menyusun laporan keuangan. Angka-angka berderet, grafik-gambaran masa depan perusahaan terpampang di layar komputernya. Sudarta adalah seorang pria yang tekun, berdedikasi, dan selalu memegang kendali atas bisnis keluarganya.
Tiba-tiba, teleponnya berdering. Nomor yang muncul adalah tak lain dan tak bukan: Ruswanda, direktur utama di perusahaan pusat. Suara Ruswanda terdengar tegas dan berwibawa.
"Pa Sudarta." Sahut Ruswanda dengan nada tegas.
Sudarta dengan hati berdebar menjawab "Iya, Pak!"
"Kamu sudah baca email belum?" Tanyanya.
"Belum, Pak. Saya baru akan membukanya." Jawab Sudarta dalam keadaan gugup. Setelah dibuka, begini isi dari email itu.
Selamat pagi Pak Sudarta,
Kami dari agen tim dari Malaysia berencana untuk berkunjung ke perusahaan cabang PT. RSTI. Kami sangat berharap dapat bertemu dengan Anda dan memperoleh wawasan lebih lanjut tentang operasi dan kegiatan perusahaan.
Mohon informasikan kepada kami tanggal dan waktu yang sesuai untuk kunjungan kami. Kami berharap dapat berdiskusi lebih lanjut tentang potensi kerjasama di masa depan.
Terima kasih atas perhatian Anda, dan kami menantikan kesempatan untuk bertemu.
Salam hangat,
[Tim Agen dari Malaysia]
Setelah membaca email, di ruang rapat yang tenang, Sudarta duduk di ujung meja panjang. Karyawannya berkumpul, wajah-wajah serius memperhatikan presentasi yang diproyeksikan di layar.*
"Kita akan menyambut kedatangan agen tim dari Malaysia. Mereka mungkin membawa peluang kerjasama yang berarti bagi perusahaan kita." Ujar Sudarta.
Abidin, seorang karyawan yang selalu berada di latar belakang, mengamati Sudarta dengan mata tajam. Ada sesuatu di balik senyumnya yang mencurigakan.
"Sudarta, Sudarta. Kau pikir kau bisa selalu berjalan dengan mulus? Agen tim dari Malaysia, investor baru... Aku akan merubah semua ini." Katanya dalam hati dengan senyumnya yang jahat.
Abidin merencanakan sesuatu yang gelap. Ia tahu bahwa Sudarta terlalu percaya pada orang-orang di sekitarnya. Ia akan memanfaatkan momen ini untuk mengguncang fondasi perusahaan.
Tim lain merespons dengan campuran antara kegembiraan dan ketertarikan. Beberapa karyawan berbicara tentang peluang kerjasama yang mungkin terbuka, sementara yang lain mulai mencari tahu lebih banyak tentang profil investor baru tersebut. Ada juga yang merasa sedikit gugup, karena perubahan selalu membawa tantangan. Namun, secara keseluruhan, suasana di perusahaan menjadi lebih hidup dan penuh harapan.
Hari semakin sore dan malam pun mulai gelap. Sudarta merasa lelah setelah seharian bekerja di kantornya. Dia mengambil mantelnya dan bersiap-siap pulang. Namun, ketika dia melangkah menuju meja, sesuatu menarik perhatiannya: sebuah surat kaleng tergeletak di atasnya.
Sudarta mengambil surat itu dengan hati-hati. Kertasnya kusut dan berdebu. Ketika dia membukanya, huruf-huruf yang tercetak dengan tinta merah menyala membuatnya terkejut:
"Sudarta, Anda telah bermain dengan api. Kami tahu rahasia Anda. Jika Anda tidak menyerahkan semua saham perusahaan kepada kami, maka keluarga Anda akan membayar harga yang mahal."
Tulisan itu mengancam, dan Sudarta merasa jantungnya berdebar kencang. Siapa yang bisa mengetahui rahasia kelamnya? Dan apa yang mereka inginkan dari perusahaannya?
Rahasia kelam yang Sudarta simpan selama ini, kini menghantui dirinya. Dulu, dia menjadi seorang hidung belang bersama seorang perempuan seks komersial. Saat wanita itu hamil, Sudarta meninggalkannya tanpa jejak, tanpa tahu bagaimana nasib perempuan itu.
Sudarta berdiri di tengah ruangan yang gelap, surat kaleng di tangannya. Cahaya bulan masuk melalui jendela, menerangi wajahnya yang tegang. Dia tahu bahwa keputusannya akan mempengaruhi segalanya: keluarganya, perusahaannya, dan masa depannya.
Mustafa? Atau ada pihak lain yang ingin menghancurkannya? Sudarta merenung, menggali memori masa lalu, dan mencari petunjuk. Semua benang-benang ketidakadilan dan ketegangan semakin terjalin. Dia harus bertindak dengan hati-hati, mengungkap rahasia yang tersembunyi, dan menghadapi ancaman ini dengan kepala tegak.
Tiba-tiba, pintu terbuka perlahan. Di ambang pintu, sosok bayangan muncul. Sudarta menatapnya, jantungnya berdebar. Apakah ini jawaban dari semua pertanyaannya? Ataukah ini hanya awal dari petualangan yang lebih berbahaya?
Dan dengan itu, malam semakin dalam, dan cerita belum berakhir.